Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Semua Sudah Terencana



"NOLLA MENUNDUK!!"


BAAAM!!


Orang-orang itu langsung menyerang mereka berdua, beruntung Ajax bisa mengendalikan kekuatannya dengan lancar jadi dia bisa melindungi Amber dari serangan tadi.


Dengan Api miliknya, dia bisa menangkis serangan tersebut dengan Perisai Api miliknya.


"Apa itu tadi–", Tanya nya yang terkejut sambil melihat teringa kirinya.


Dia yakin kalau dia dia berhasil menangkis serangan barusan, namun kenapa bisa telinganya terluka.


Di sisi lain, orang-orang itu juga kaget melihat Ajax yang bisa mengendalikan kekuatanya dengan lancar.


Salah satu dari mereka pun tersenyum jahat melihat Ajax.


"Kita menemukan salah satunya", Ujar orang yang terlihat seperti pemimpin di antara mereka itu.


Dan orang-orang di sekitarnya pun mulai mengambil kuda-kuda dan bersiap menembakan serangan seperti tadi namun kali ini tepat ke arah Ajax.


"Hiii!!", Amber pun histeris ketakutan dalam pelukan Ajax.


Dan Ajax sendiri, Dirinya tidak yakin apakah dia bisa melindungi Amber sekali lagi atau tidak, karena Api di tangannya sudah mulai berkelap-kelip.


"Ini Bahaya..", Gumamnya.


Tanpa berlama-lama, Orang itu pun menunjuk ke arah Ajax dan menyuruh bawahan-bawahannya untuk mengeluarkan serangan penuh.


"Serangan Penuh ke mereka", Tunjuknua


Tak lama kemudian, senjata seperti meriam mini itu mulai bercahaya, menandakan kalau peluru akan di keluarkan–


Seketika, Kupu‐kupunya Victor yang menghilang menjadi Abu yang terbakar pun menarik perhatian orang-orang itu.


Merasa ada yang aneh, mereka dengan cepat mengubah target mereka ke arah kupu-kupu tersebut.


Salah satu dari bawahan orang itu pun menyadari sesuatu.


"Kapten, Kupu-kupu itu sesuai dengan apa yang di jelaskan oleh Unit 3 Di atas", Jelasnya.


Sang Kapten lalu menggigitkan bibirnya.


"Aku tau itu... Persiapkan Posisi Kalian!! Yang Kita Hadapi Bukanlah Dua Anak Kecil!!!", Jelasnya kepada seluruh bawahannya itu.


Tiba-tiba Percikan Api mulai muncul di tengah-tengah mereka, dan dari pandangan Ajax dan Amber, terdengar suara Victor yang memerintahkan mereka untuk segera keluar dari sana.


"Lari.. Sekarang..."


Serentak Ajax dan Amber langsung berpegangan tangan dan berlari mengikuti Arus Air, mereka tidak memikirkan Bau atau apapun lagi karena saat ini nyawa mereka adalah taruhannya.


"S-Sial- SESEORANG IKUT MEREKA!!", Perintah Kapten itu.


Namun mereka langsung di serang, oleh segerombolan kupu-kupu.


Kupu-kupu itu lalu meledak dan mengeluarkan serbut merah membuat pandangan mereka menjadi rancuan dan tidak bisa mengejar Ajax maupun Amber lebih jauh lagi.


*******


Dua Jam yang Lalu.


Setelah Pembagian Hadiah oleh para profesor...


Elizabeth dan Victor kembali ke tempat favorite mereka untuk duduk san menikmati jajan yang sdh mereka ambil.


"Mhau?" Tawar Eli yang ingin membagikan cemilan nya pada Victor.


"Lupakanlah Eli, Aku tidak ingin makan yang ma..nis manis dulu..", Balas Victor yang terlihat menghiraukan tawaran Eli.


Eli langsung heran dan melihat Victor yang fokus menatap ke atas.


Mata Eli agak buram jadi dia tidak bisa melihat apa yang di lihat oleh Victor, namun pandangan Victor sangatlah tajam.


Jadi dia bisa melihat dengan jelas keberadaan Million yang berada lantai 6 sambil, di sana Million memberikan Kode Jam padanya, menandakan kalau "Tdman-temannya" sudah mendekati wilayah Sky Tower, namun ada masalah, benar.


*Million menggunakan bahasa isyarat*


Million lalu menunjuk ke bawah, dan Victoria pun langsung mengetahui siapa yang di tunjuknya.


Dan ternyata pelayan baru yang berada di kantin tadi adalah mata-matanya CIA.


Berunrungnya Million dan Victor sudah menduga hal ini itulah sebabnya mereka bisa mengantisipasi apa yang terjadi nanti.


"Viiiiicttooooooooriiiiaaa~", Sahut Eli yang melambai-lambai tangannya.


"Maaf Eli aku agak melamun", Balas Victor dengan lembut.


"Kamu kenapa sih nengok2 ke atas kaya burung hantu aja", Ujar Eli dengan nada cemberut.


"Ahaha begitu lah, Ngomong-ngomong Aku ingin menunjukan sesuatu padamu". Ajak Victor sambil membawa Eli berdiri dan bersembunyi di belakang pohon.


Ini Victor lakukan agar mereka tidak di lihat oleh para penjaga yang berada di kantin.


"Eh!?", Eli yang saat itu sedang ngemil pun kaget dan menjatuhkan cemilannya.


Victor menariknya lalu dengan cepat dia memeluk Elizabeth dan menutup kedua mata dan mulutnya.


"Vi–"


Sebelum pandangannya tertutup, Dia sempat melihat segerombolan kupu-kupu merah mengelilingi mereka.


Dan itu adalah salah satu skill milik Victoria, Dia bisa berteleportasi dengan Kupu-kupunya karena Kupu-kupu milik Victoria terhubung antara satu dan lainnya.


Mereka pun menghilang seperti abu yang terbakar.


Elizabeth lalu membuka matanya dan terkejut melihat mereka yang sudah berada di Kamarnya Victoria.


"Bagaimana kita berada di sini?!", Tanya Eli yang sangat penasaran dengan kekuatannya Victor.


Mendengar pertanyaan itu, Victor langsung berhenti segenap dan berjalan mendekati Eli.


Eli sempat memundurkan langkah kakinya karena memang dia juga agak takut, tapi dia juga masih tetap mempercayai Victoria walaupun ada banyak kebenaran yang di sembunyikannya.


Victoria lalu menahan bahu kanannya.


"Menjelaskannya padamu akan sangat ribet.. Itu sudah pasti, jadi akan ku tunjukan saja walaupun tidak bisa semuanya", Ujar Victoria sambil mengejek sifatnya Eli.


Tak lama Victoria mulai memanggil salah satu kupu-kupu merahnya dan mendekatkan kupu-kupu itu ke depan wajahnya Eli.


"Setidaknya susananya jangan seserius ini loh Vi", Ujar Eli yang mulai merasa tertekan akan hawanya Victoria.


"Lihatlah dia", Balas Victoria dengan nada halus.


Dia lalu meratakan posisi kupu-kupu itu sejajar dengan pandangan Eli, kemudian dia meniup kupu-kupu tersebut...


Kupu-kupu itu pun menghilang menjadi serbukan merah dan masuk ke dalam matanya Eli.


"Sakiiit!!", Teriaknya.


Eli lalu memundurkan langkah kakinya dan mulai mengucek matanya, karena apa yang baru saja Victoria lalukan benar-benar membuat matanya kesakitan.


Namun rasa sakitnya tidak sampai di situ.


Dari dalam, sebut merah tadi menyatu dengan uratnya Eli, masuk ke sel-selnya dan berjalan sampai ke otaknya.


Dan di dalam kepala Elizabeth, terdapat sebuah segel berbentuk Mata yang merantai otaknya.


Dan Segel itu berasal dari Kekuatannya Dion.


Victoria tidak sekuat Prof. Dion dan kekuatannya yang sekarang tidak bisa menyelamatkan semua anak-anak dari cuci otaknya Prof. Dion, Jadi Victoria hanya bisa masuk sedikit dari celah-celah Kutukannya itu.


Hingga Akhirnya, Elizabeth mendapatkan serpihan dari ingatannya, dan itu adalah yang paling buruk—


"BRUEHEGHHHH!!"


Elizabeth langsung muntah akibat dari memori yang kembali itu.


Dia lalu menoleh ke atas dan melihat Victoria yang berbeda dari apa yang dia ingat selama ini.


"Ada apa dengan wajah mu, Vii?" Tanya Eli yang terkejut melihat temannya itu.


Victor pun menyentuh lehernya yang berbekas luka parah.


"Ini adalah hasil dari apa yang mereka lakukan kepada kita, apa yang selama ini kita lihat adalah Ilusi yang mereka buat", Jelas Victor sambil menunjuk ke arah Eli.


Yang mana membuat Eli langsung melihat sekujur tubuhnya.


Dan apa yang Victor katakan adalah benar, tubuhnya memiliki banyak sekali bekas luka yang belum pernah dia ketahui, dan yang paling banyak adalah bekas suntikan.


Lalu seketika Eli mengingat kembali memorinya yang kembali tadi.


"Serum Putih itu, jadi selama ini mereka menyuntikannya ke dalam tubuh kita?", Tanya Elizabeth sambil meremas kedua bahunya yamg gemetaran.


Victor lalu menahan tangan Eli dan mencium tangannya.


"Tenang saja, Akan aku keluarkan yang kalian dari sini", Jelas Victor kepadanya.


Eli langsung memeluk Victor dan mulai bersedih.


"Mereka– Apa selama ini kamu mengingatnya? Apa selama ini kamu selalu menahan rasa sakit itu?", Eli pun bersedih dan tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit tersebut.


Karena dari serpihan ingatan itu saja, dia sudah ngilu untuk mengingatnya lagi.


Mereka mengikatnya, menyuntiknya, mengurung mereka tapi dari semua yang dia ingat, dia tidak bisa merasakan rasa sakut itu lagi.


Victor lalu melepaskannya pelukan Eli.


"Bukan kamu yang seharusnya mengasihani aku, tapi akulah yang berperasaan seperti itu kepada kalian...", Ujarnya sambil berjalan ke belakang.


"Kalian secara terus-menerus di perlakukan seperti itu tapi kalian tidak bisa mengingat jati diri kalian, dan apa yang selama ini terjadi, dan malah di perlakukan seperti alat.. Di saat ada yang tidak berguna, mereka malah membuang kalian", Jelas Victor kepadanya.


Victor lalu berjalan mendekati laci yang sempat di kepoin Eli kemarin dan mengambil sebuah tas pinggang kecil, dan kemudian berjalan keluar dari kamarnya dan meninggalkan Eli.


Namun, dengan celat Eli langsung menahan lengan Victor.


"Kamu mau kemana?", Tanya nya dengan rasa khawatir.


"Aku sudah memberikanmu petunjuknya, cukup bantu saja yang lain keluar dari sini, biar kami yang akan mengatasi sisanya", Balas Victoria sambil menunjuk ke Kupu-kupu yang dia tinggalkan di samping Eli.


Namun Eli merasa ada sebuah ke janggalan dari perkataan victoria dan mencoba untuk menghentikannya.


"Tunggu dulu Victoriaa!, Kami? Siapa yang lainnya?", Teriaknya sambil mengejar Victor dan berhasil menahan pintu kamar tersebut sebelum tertutup oleh Victor.


"Elii... Waktu untuk menyelamatkan yang lain tidak banyak, terlebih lagi, orang-orang dari CIA sudah memasuk Tower...", Jelas Victoria dengan agak kasar ke Eli.


"Ka-kalau begitu jelaskan padaku di mana kita akan bertemu lagi!!", Marahnya yang merasa khawatir kalau Victor akan meninggalkannya.


"Ikuti saja Kupu-kupu itu", Jelasnya.


Victor lalu berjalan melewati lorong asrama, tak lebih dari sepuluh langkah dia lalu di tahan lagi oleh Elizabeth.


Victor pun menoleh kebelakan dengan ekspresi marah namun dia tidak menunjukannya secara langsung.


"Aku sudah bilang kuta tidak punya banyak waktu?", Tanya Victor dengan nada kasar sambil tersenyum.


"Itu... Aku tidak tau di mana yang lainnya berada, bukannya mereka semua di bawah?", Ujar Eli..


"Mereka akan menyusul, Kamu bersama Leon dan Nolla saja dulu..", Balas Victor sambil menunjuk ke earah Lift yang sedang naik dan menuju ke lantai mereka.