Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Komunikasi



“Kamu yakin?” Tanya Eli yang canggung melihat ekspresi Victor yang tadi.


Dia memang sudah lama mengenal Victor dan dia tahu kalau Victor adalah tipe orang yang kalem.


Jadi sangat jarang baginya melihat Victor menunjukkan emosi aslinya seperti itu.


“Aku sudah katakan tidak ada apa-apa Eli”, Balas Victor sambil tersenyum.


Namun sekali lagi, Eli menanyakan keadaannya.


“Tidak maksudku, Kamu sangat jarang menunjukkan ekspresi di wajahmu dan itu  membuatku merasa aneh di dalam dadaku... Maksudku biasa saat anak-anak lain di panggil oleh profesor kamu selalu tersenyum dan melambaikan kepergian mereka—“


“Eli~ Bagaimana kalau kita ke taman saja?”, Tanya Victor yang mengubah alur pembicaraan lagi.


Eli langsung merasakan kalau Victor ingin menghindar alur percakapan seperti ini, jadi dia menuruti kata-kata Victor saja dan mereka pun berjalan ke taman.


“Oh.. ouhm, baiklah”, Jawab Eli sambil khawatir..


Namun rasa takutnya tak bertahan lama, setelah menginjak rumput2 di taman taman, hatinya mulai ringan dan dia langsung berlari ke pohon yang selalu mereka hinggapi.


“Mffhuuuuhaaaaa~ Angin segar memang yang terbaik”, Ujarnya setelah menghirup udara segar dengan santai.


Tak lama Eli mengubah posisi duduknya dan mulai berbaring di rumput-rumput segar tersebut sambil menatap ke langit.


“Mfffhuuuuhhaaaa~ Langitnya hari ini juga cerah”, Sambungnya.


 


Victor yang tadinya tertinggal jauh akhirnya sampai di tempat itu.


“Huffhh Huuffh, Anak ini larinya macam kadal saja” Hina Victor sambil ngos-ngosan.


 


Dia lalu mendekati Eli dan berbaring di sampingnya.


“Yang ngomong juga lemot kaya ubur-ubur”, hina balik Elizabeth.


“Hmmph-“


Victor hanya bisa ngambek, karena kata-kata Eli seperti biasa sakit sekali.


Dia lalu melihat Eli yang fokus menatap langit di atas mereka, dan mulai berbasa-basi akan hal itu.


“Kamu tau... Aku rasa posisi taman ini agak membingungkan loh”, Ujar Victor.


“Hmm bener sih”, Dan Elizabeth menyetujui hal itu.


“Iya kan, kok bisa Tower ngambilnya depan ama di tengah sedangkan Taman cuman menguasai halaman belakang” Lanjut Victor.


“Iya emang sih, designernya kurang pengalaman kali, padahal bagus kalau taman yang mengelilingi towerz biar lebih Hijau dan alami lagi, eh malah setengah aja”, Balas Eli yang tambah setuju dengan hal itu.


“Lalu atap kaca yang di atas sana juga menutup angin segar masuk ke sini  gak ada burung2 yang lewat juga..."


"..."


Mereka berdua langsung terdiam karena sepertinya elizabeth baru saja menanyakan sssuatu yang masuk akal.


"..."


"Iya juga!, bener, menurutmu dari mana angin segar yang kita hirup ini berasal Kalau memang atapnya aja ketutup”, Ujar Eli dengan antusias


Namun Victor langsung melihatnya dengan sinis.


“Really? Elllll kamu gak tau?” Tanya Victor sambil mengejek nama Elizabeth.


Eli lalu terdiam namun akhirnya melihatnya victor sambil tertawa canggung karena jawabannya baru saja masuk ke otaknya.


“Ahahahaha Pohon ya, Ehe. Lupa aku, padahal ada satu di atas kepala kita”, Balasnya sambil menertawai diri sendiri.


Mereka berdua lalu berdiam cukup lama di sana sambil menatap langit, tak lama Elizabeth mengingat sesuatu, dia lalu bangun dan bersandar di badan pohon dan mengeluarkan buku yang di bawanya tadi.


 


“Jadi Cerita apa lagi yang akan kamu ceritakan padaku hari ini?”, Tanya Eli yang terlihat berantusias sambil menatap Victor bersandar di pahanya.


Victor lalu bangun dan ikut bersandar di pohon itu, bahunya dan bahu Eli saling berdekatan.


 


“Ehhhh?!! HANTUUU!!!?”.


Eli benar-benar terkejut saat mendengarnya, namun dia tidak takut dan malah makin penasaran dan bersiap-siap mendengar cerita yang akan di dongengkan oleh Victor lagi


“Khukhukhu~ Katakan! KATAKAN PADAKU!!!”, Jawabnya yang antusias seperti biasanya.


Victor pun tertawa karena memang inilah sifat Eli, tidak seperti anak-anak lain yang biasanya akan takut dengan sesuatu yang asing.


Eli adalah kebalikannya, dia sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan memiliki rasa penasaran yang besar.


“Haha baiklah... Oh aku akan menceritakan padamu kisah ini dari seseorang yang pernah aku kenal”


 


***


Kisah ini bercerita tentang seorang anak yang terlahir dari seorang wanita yang licik.


 


Sebelum Wanita itu melahirkannya, dia menjalani kehidupan biasa dan dikenal baik oleh teman-temannya.


Dia memiliki paras wajah yang sangat cantik, dan diincar oleh beberapa lelaki. Namun karena memiliki tipe yang tinggi dan di luar akal, dia menolak semua lelaki yang melamarnya...


Lalu ada teman dari wanita itu yang sangat iri padanya.


“Padahal kami sama-sama cantik, kenapa selalu dia yang di kejar”, Gumamnya.


 


Temannya itu lalu mengajaknya ke sebuah pesta dan berencana menjebaknya.


Dia menaruh sebuah obat di dalam minuman yang akan di berikan kepada wanita itu.


Dan menghampirinya lalu membiarkan wanita itu meminumnya, namun tiba-tiba seorang pria tampan datang menghampiri wanita itu dan mengajaknya, meninggalkan temannya itu sendirian di pesta sana.


Temannya itu pun menjadi iri dan rasa dendamnya semakin besar, dia lalu menetap di pesta itu dan melampiaskan amarahnya ke alkohol.


Tak lama dia bangun dan menyadari kalau dirinya sudah berada di sebuah hotel sendirian.


 


Dia menjadi ketakutan dan seketika dia sadar. Saat dirinya sedang asik-asik minum, Wanita itu kembali menemui dirinya dan memperkenalkan dia pada seorang pria asing.


Ohhh kasian, ternyata dia baru sadar kalau dialah yang di jebak oleh temannya sendiri.


Bukannya menjebak temannya tapi dia sendiri yang malah terjebak.


Dia pun menjadi ketakutan dan mengurung dirinya dari semua orang, menjadi introvet sampai akhirnya gejala yang dia tak ingin terjadi pun datang.


Selang 8 bulan, anak yang tak diinginkan pun lahir tanpa sadar sat dia berada di dalam kamar mandi, dan wanita itu, dia langsung menjadi gila.


Karena masih di penuhi rasa marah, kesal, sedih dan iri, wanita itu melampiaskan semuanya kepada alkohol dan anaknya sendiri.


Dia tidak berhenti melakukannya dan malah sering bertambah, awalnya itu hanya sebuah cubitan kecil, namun hari demi hari itu beralih ke tamparan, tendangan dan botol bekas.


Selama 8 tahun Dia tidak pernah merawat anaknya, anaknya di tinggalkan, dan menunjukkan hal tak wajar sambil pulang dengan pria lain yang berbeda-beda setiap malamnya.


Perlahan tubuh Anaknya menjadi kurus, dan tidak bertenaga apalagi luka-luka di tubuhnya mulai memburuk.


Setiap kali dia selesai tidur dengar pria lain, dia selalu memukuli anaknya, darah selalu bertumpahan, dan membuatnya hampir mati setiap malam.


Dan akhirnya anaknya itu tumbuh menjadi tipe yang pendiam, dia jarang berbicara dan akhirnya menjadi bahan ejekan, gosipan dan di jauhi, apalagi selalu di ganggu oleh anak-anak di sekitar perumahannya.


Karena mendapatkan tekanan dari dua sisi, hubungan di dalam rumah itu pun jadi di luar dugaan.


Suatu malam, pria yang di bawah ibunya saat itu terbangun ke kamar mandi dan mencoba untuk buang air.


Namun saat membuka pintu kamar mandi, bukannya E*k yang keluar tapi jantung, itu karena dia terkejut melihat darah yang sudah kering memenuhi tempat tersebut.


Dan tak lama dari itu, dia ditusuk oleh sang gadis dari belakang.


“!!!”