Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Berita Buruk



Swis dan Kevin terdiam menatapi satu sama lain.


 


“Aku memang sudah menduga keanehan ini sejak orang-orang itu datang mengunjungi kita.”, Ucap Kevin yang pusing.


 


“Aku menduga pemerintah? Tapi tunggu dulu, bisa juga dugaan mu benar, kita tau sendiri kan orang-orang seperti apa saja yang ada disana", Balas Swis dengan berpikir panjang.


"Tapi Kau ini pemimpin yang di pilihnya untuk menjalan proyek ini, kenapa tidak melakukan sesuatu jika memang kamu mengetahui ada hal yang aneh dan menduganya?! Hhhhhhaaaa!! Bodih sekali kamu"Marah Swis yang muak dengan perilaku Kevin.


 


Kevin lalu terdiam sebentar dan seketika...


 


Swoooosssshh!!!


 


Kevin menggunakan kekuatannya dan tekanan besar menyerang Swis.


 


“Ughh! B-baiklah aku mengerti, tolong jangan mengarahkannya padaku" Pintanya karena Pisau hitam dari kekuatan Kevin bisa menusuk kepalanya.


 


Dia dengan sopan pamit dan bergegas keluar dari ruangan Kevin dan berniat pergi ke taman untuk melihat anak-anak lain.


"Kalau begitu, selamat sore", Pamitnya dengan canggung.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi dia ingat kalaau di bawah Andrius akan melakukan "Pengumumannya" dan dia ingin berada disana untuk berwaspada menjaga anak-anak tersebut.


 


Saat menaiki lift di lorong, dia berhadapan dengan Julian namun menghiraukan keberadaan temannya itu.


 


Julian melihatnya dan sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Dan menggelengkan kepalanya sebagai respon akan sikap Swis dalam menangani sesuatu dengan tidak sabaran.


 


Setelah melihat swis masuk ke lift, Julian lalu mulai berjalan masuk ke ruangan Kevin dan melihat Kevin yang sedang bingung dengan sesuatu.


 


“Halooo~”, Sapanya.


 


Namun kevin tidak menyadari kedatangannya, dia lalu berjalan mendekati kevin dan duduk di depan mejanya sambil menunjukkan Tabletnya.


 


“Apa lagi ini? Bukankah kamu memiliki tugas di taman?”, Tanya Kevin yang lelah.


 


Julian lalu menunjukkan padanya sebuah video.


 


“Itu sudah selesai dari tadi, ngomong-ngomong lihatlah ini dulu”, Balas Julian.


 


Kevin lalu melihat Video itu, ternyata itu adalah rekaman yang terjadi di ruangan Cecil tadi siang.


 


Di dalam video itu terlihat dengan jelas, saat Cecil menyuntikan sebuah cairan putih seperti salju di tubuh Tempest, dengan cepat efek dari obat itu, NEPTO bereaksi...


Tak lama kemudian muncul beberapa gelembung yang keluar dari lantai.


 


Gelembung-gelembung kecil itu kemudian melewati para perawat dan berkumpul tepat di atas dada Tempest.


Seketika itu pula gelembung itu meledak dan melukai semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


 


Beruntungnya, Cecil berhasil melindungi orang-orang di ruangan itu dengan kekuatannya dan mengurangi korban jiwa.


Naasnya, akibat ledakan gelembung itu nyawa Tempest direngut dan inilah yang menyebabkan Penelitian Cecil gagal.


 


Kevin yang melihat video itu seketika terdiam dan merasa sesal.


 


“Jadi bagaimana dengan Nasib Tempest?”, Tanya Kevin.


 


Julian seketika tertawa licik saat mendengar pertanyaan Kevin.


 


“Pfff- Hahaha seperti biasa, menanyakan keadaan Anak-anak dulu baru temanmu yaa”, Tawa Julian yang terbahak-bahak.


 


Julian lalu menyadari tatapan Kevin yang serius, dia lalu mengelap air matanya dan mulai serius juga.


 


“Anak itu di bawa ke ruang pembuangan”, Balas Julian dengan nada dingin.


 


“Tapi Hahhh kekuatannya sangat kuat loh, dia bisa menjadi senjata yang laku, tapi sayang sekali gagal”, Sambung Julian.


 


Melihat sifat Julian yang dingin membuat kevin langsung marah sekaligus kecewa, namun apa yang bisa dia lakukan, kontraknya tetap harus di jalankan.


Dia lalu berdiri dari bangku mejanya, dan Julian pun menyadari apa yang akan Kevin lakukan dan mempersilahkannya.


 


“Heh~ Kirimkan salamku pada anak itu ya~”, Ujar Julian.


 


Sambil menghiraukan Julian, Kevin pun berjalan keluar dari ruangannya dan pergi ke lift untuk menuju ke basemen atau Lantai B4.


 


Dia lalu berjalan ke tempat lift dan menempelkan kartu namanya ke pemindai yang ada di samping tombol lift.


 


Sambil menunggu Liftnya sampai ke lantai yang di tempatinya, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan tentang Tempest ke Melina yang bertuliskan...


 


“#Y7235# Gagal”, Ketiknya.


 


Setelah pesan itu terkirim, Liftnya tak lama sampai dan Kevin pun masuk ke sana.


 


Saat pintu Lift tertutup dan mulai berjalan ke bawah, Kevin baru tersadar dengan keberadaan Asisten Swis yang ternyata juga berada di lift itu bersamanya.


 


“Wahhh! Bagaimana kamu di sini?”, Tanya Kevin kepadanya dengan canggung


 


Pria itu pun terkejut dan seketika menunduk.


 


“Saya dari lantai 6 prof”, Balasnya dengan sopan.


Kevin pun mengelus-elus dadanya, dan baru ingat kalau dia adalah assisten swis jadi sudah pasti dia yang membereskan pekerjaannya swis.


 


Kevin lalu melihat wajah pria itu kemudian bajunya, dia pun menyadari kalau ada sesuatu yang hilang dari sana.


 


“Ngomong-ngomong, di mana tanda pengenalmu Miine”, Tanya Kevin lagi.


 


 


“Tu- Tuan Lance menyuruh saya untuk tidak perlu memakainya lagi”, Balasnya dengan ketakutan.


 


Kevin mengesah dengan nafas yang panjang.


 


“Hhhhhhhh Dia itu... Jika kamu memang tersiksa bekerja dengan Swis, keluar saja”, Ujar Kevin.


 


Sontak Miine terkejut mendengar omongan Kevin.


 


“Ahh?! Maafkan saya Tetua... Bahkan jika saya keluar pun—“, Balasnya yang seketika terdiam.


 


Ternyata Lift sudah berhenti di lantai tujuan Miine, tanpa berkata apa-apa dia langsung membungkuk pamit dan keluar dari lift itu.


 


Setelah berada di luar, Miine menengok ke atas pintu lift dan melihat kemana arah yang di tuju Kevin.


 


Dia langsung terkejut dan bergegas mengirimkan pesan pada seseorang.


 


Disisi lain, Kevin masih berada di dalam Lift, dia terlihat sedang fokus membalas pesan dengan Melina.


 


Dia lalu teringat akan sesuatu dan menanyakannya kepada Melina.


 


“Ngomong-ngomong apa bisa seseorang naik turun lift tanpa membawa tanda pengenalnya?”, Ketik Kevin dalam pesan itu.


 


Dengan cepat Melina membalasnya.


 


“Kau bodoh atau apa? Alat pemindai bisa diakses bukan hanya dengan tanda pengenal kita tapi juga sidik jari”, Balas Melina sambil menambah emot marah.


 


Kevin lalu teringat kalau Julian memang pernah menjelaskan hal ini sejak dulu, hanya saja dia belum pernah membuka akses jalan keluar masuk dengan sidik jari.


 


Tak lama mengoceh dengan melina, dia pun sampai di lantai paling bawah dan pintu lift perlahan mulai terbuka.


 


Dia lalu keluar dari lift itu dan mencoba untuk menempelkan tanda pengenalnya di alat pemindai yang berada di sana, namun dia tidak melakukannya, dan melakukan pemindaian dengan sidik jarinya lalu Sraattt itu memang berhasil.


 


“Ohhhh ternyata memang benar”


 


Alat pemindai itu adalah salah satu keamanan untuk mengakses Ruang Inkubasi, Ruang Penyimpanan, dan Pembuangan.


 


Dan Itulah sebabnya saat memasuki Basemen, tidak ada orang sedikit pun di sana karena yang hanya bisa mengakses basemen adalah orang yang memiliki tingkat seperti Profesor, Doktor, dan Petinggi SK saja.


 


Setelah selesai melakukan pemindaian, Akses pun di berikan dan Kevin bisa masuk ke dalam Basemen.


 


Dia lalu menoleh ke kiri dan melihat lorong ke ruang pembuangan, namun dia tidak pergi ke sana.


 


Alasannya datang ke basemen bukanlah untuk melihat Subjek yang gagal, melainkan pergi ke ruang inkubasi untuk mengunjungi Vino.


 


“...”


 


Dia lalu berjalan lurus dan melawati lorong gelap untuk bisa mengakses gerbang masuk ruang Inkubasi.


 


Di lorong gelap itu tersembunyi beberapa rekaman dan senjata tersembunyi di balik kegelapannya.


 


Kedatangan Kevin ke ruang Inkubasi memang terpantau oleh kamera, dan bukan hanya ruang inkubasi saja tapi semua kamera yang ada di Tower, semua di jaga ketat oleh 500 tentara yang berada di bawah tanggung jawab Julian.


 


Setelah sampai di depan ruang inkubasi, Kevin sekali lagi menempelkan sidik jarinya ke alat pemindai.


 


Tiiiiiiiiit..... Tiiiiiiit...


 


Setelah itu dia mendekatkan kedua matanya di sebuah kamera kecil yang ada di dekat alat pemindai.


 


Tiiiiiiiit.... Tiiiiiiit... Tit! TIIIITT!,— Access Allowed!!


 


Pintu di ruang inkubasi pun terbuka, dan perlahan lampu mulai menyala di setiap kali Kevin melangkahkah kakinya.


 


Setelah dia berada di tengah-tengah ruang inkubasi , semua lampu pun tak lama menyala hingga ke sudut ruangan.


 


Bentuk asli dari ruang inkubasi pun terlihat, dan ternyata ruang inkubasi bukanlah ruang untuk merawat anak-anak, melainkan adalah ruangan yang di penuhi dengan tabung-tabung berukuran besar, dan di dalam tabung-tabung itulah di sana anak-anak yang menjalani proses hibernasi di bekukan.


 


Kevin lalu berjalan ke depan dan menyentuh sebuah tabung berukuran akuarium besar, dan di dalam tabung itulah Vino bersama Kelopak Bunga besarnya di bekukan...


 


“Tidurlah dengan tenang anak-anak, tak lama semuanya akan selesai, percayalah” Ucapnya dengan lembut.


 


Dia lalu melihat kelopak bunga itu lebih lama dan kemudian bersedih.


 


“Kami menyayangi kalian, itulah sebabnya kami melakukan hal ini kepada kalian”, Sambungnya dengan bergumam.


 


Kevin lalu meremas tangannya dan memukul lembut Tabung itu.


 


Bduuhk


 


“Tunggulah dengan sabar—Semua ini pasti akan selesai dan kalian akan keluar dari sini”, Jelasnya lagi.


 


Dia lalu menurunkan tangannya dan dengan wajah sedih dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.


 


Saat lampu-lampu mulai mati kembali, di salah satu tabung di sana menunjukkan seorang anak yang melihat kepergian Kevin dari belakang.


 


Dan anak itu sepertinya mendengar apa yang barusan Kevin bicarakan.