
"Iya iya, tau begitu bantu kek", Ucap Leon sambil menutup wajahnya, agar panic atknya tidak muncul.
"Yaudah berdiri dulu", Balas Marcus.
Dia lalu berjalan ke sisi lain meja dan mulai membuka satu persatu laci di sana.
"Kamu naruhnya di mana? Bentuknya kayak gimana?", Tanya Marcus sambil membuka satu persatu berkas2 di sana.
"Aku naruhnya di situ, di laci paling atas, bentuknya kayak kertas berwarna sama ada jepitan rambut kecil", Jawab Leon sambil menggaruk2 belakang telinganya.
"..."
"Ahhh Anying Depan Mata!!", Marahnya sambil menunjuk2 ke arah laci kedua.
"Lah masa?", Bingung Leon yang tidak percaya.
Marcus lalu mengambil kertas itu dan menempelkannya ke wajah Leon.
"Ini apa? Ayooooeee~ Udah buta ini namanya", Hinanya.
"Yahaha tapi aku yakin gak taruh di laci ke dua loh, maaf maaf", Pintanya dengan canggung.
Marcus pun memaafkan Leon, toh masalah kecil juga.
Leon lalu duduk di bangku dan mulai membaca surat tersebut, tulisan di surat agak typo dan berantakan tapi mereka memahami apa yang anak ini coba katakan:
"*Selamat siang tante/om, namaku Weisten, anak tunggal dari mama dan papa, aku menyulis ini karema tidak tau lagi mau mintya manbuan siapa lagi.
Agak aneh anjing kecil di amping ku seperti memahami bahasa manusia, dan ntah menapa akku menuliskan curat ini lagih, tapi papa sudah gila di rumah, mama tiba-tiba hilang... Kami cudah minta bantuan pulisi tapi tidak ada yang bisa membantu kami, sudah 5 jari sejak mama hilang, kata papa mama seharusnya tidak bisa berjalan jauh karena sedang menggandung?
aku tidak tau apa itu tapi papa khawatir dan sampai sakit juga, tolong temukan mama jika paman/tante tau di mana, bawa pulang mama kata papa tembar? Apa itu tembar?
Aku tytip cepiitan rambut mamah di curat, tolong bawa pulang mama dengan cepat.
Dari Weisten*-
***
Suratnya selesai di sana.
"Ahaha Ini beneran tulis anak kecil loh", tawa Marcus dengan canggung.
" Sepertinya kita harus ngasah otak, menurutmu apa kita mencari hanya dengan jepitan ini? Atau kerumah mereka dan minta foto? Kalau dari bau sih aku juga enggak yakin", Tanya Leon sambil menunjukan jepitan ungu kecil di surat itu.
"Harus sama foto lah, plis jangan nyusahin", Balas Marcus dengan nada mau nangis.
"Yaudah, Ayo", Ujar Leon.
"Eh? Sekarang?", Tanya Balik Marcus.
"Tahun depan", Leon langsung mengambil Hoodienya dan berjalan ke luar.
"Tapi ini jam 11 loh, Hey tunggu~", Marcus mengambil Hpnya yang ada di meja tv lalu mengikuti Leon.
***
"Haachuu!, Kalau tau gini aku pakai jaket juga", Ujar Marcus yang menggigil kedinginan.
Mereka berdua sepertinya sudah sampai di rumah anak yang bernama Weinsten, dan dari tadi menekan tombol bell di depan pagar mereka namun belum ada jawaban.
*Ting! *Ting!
Setelah menekan berulang-ulang kali, seseorang terlihat memantau mereka dari cctv, dan tak lama pria itu membuka pintu rumahnya dan keluar menghampiri mereka.
Dia mengambil senter dan berjalan melewati halaman.
Pintu pagar pun dia buka sedikit.
"Siapa kalian? mengganggu orang malam2".
***
Di sisi lain.
Elizabeth dan Tempest terlihat berada di pegunungan yang cuacanya Ekstrim banget, badai salju seperti memakam mereka.
"Ehehe Kak million juga mengatakan begitu", Tempest tersipu malu.
Gelembungnya Tempest memiliki tekstur yang keras, ntar dari dalam maupun luar, karena air bisa menuri segala bentuk.
"Oke aku liat infonya dulu, dari spekulasi ku sih seharusnya tempat itu berjarak 500meter lagi, kita bisa melihatnya dari sini", Ucap Eli.
Dari puncak gunung itu, dia melihat sebuah bangunan kecil, seketika raut wajahnya berubah.
"Ugh- kayak mau muntah", Ujarnya sambil menutup mulutnya.
Dan Tempest juga seperti itu, walaupun tempat yang mereka lihat kecil tapi vibenya sekitarannya kayak Sky Tower dulu.
Di tambah dengan badai salju yang dibuat oleh Red Zone ini, suasanya serasa seperti mereka sedang berada di sekitaran Sky Tower.
"Apa kita kembali saja Eli? Feeling ku gak enak", Tempest merinding saat melihat bangunan itu.
Elizabeth melangkahkan kakinya dan menghiraukan saran Tempest.
"Kita tidak bisa mundur, bayarannya lumayan", Jawab Elizabeth.
Walaupun tangannya sendiri juga bergetaran.
Setelah mendekat ke bangunan itu, mereka melihat beberapa monster yang mengelilingi tempat tersebut.
"Mereka menjinakan Beast?", Ujar Eli dengan nada kecil, karena beberapa monster2 di sana memiliki telinga yang tajam.
Seperti Snow Lion, Black Bear dan East Rabbit, dan para penjaga yang ada di sana menggunakan semacam tongkat listrik, lalu semua monster itu menggunakan kalung besi, seperti alat pengekang.
"Mereka juga membudakin monster, jika dunia tau tentang ini, apa yang akan pemerintah lakukan?", Gumam tempestdan Eli mendengar hal itu.
"Palingan bakal di seting sedemikian rupa... Btw Penjaganya jangan kita habisi dulu", Jawab Eli dan tempest memahaminya.
Elizabeth lalu mulai menggunakan kekuatannya, dia membuka telapak tangannya, dalam hitungan detik, asap-asap kecil mulai keluar dari sana.
Lalu asap itu berubah bentuknya menjadi gumpalan hitam, dan berkumpul di tangan Elizaneth.
Gumpalam asap hitam itu mulai meniru bentuk dari seekor tikus dan fisiknya pun berubah menjadi tikus beneran.
Pandangan Elizabeth mulai terhubung dengan tikus itu, dan jika di lihat oleh orang lain, mata Elizabeth seperti di tutup oleh asap hitam.
Tikus itu lalu turun dari tangan Elizabeth dan mulai berjalan menuruni gunung dan masuk ke dalam tempat tersebut dengan lincah.
Gerakannya yang cepat membuat para penjaga tidak menyadari keberadaannya.
Bangunan di dalam tempat itu sederhana, lorong-lorongnya tidak banyak orang, dan hanya ada 5 kamar kayak rumah bekas orang tinggal.
Tapi tempat ini aneh karena berada di Red Zone, jadi Tikusnya Elizabeth berdiam di sana saja dan menunggu.
Tanpa hitungan detik, 3 penjaga keluar dari salah satu kamar dan dengan cepat Tikus itu berlari masuk ke sana.
"..." Elizabeth terkejut melihat isi dari kamar itu.
Kamar itu ternyata adalah dapur normal, yang gak normal palingan kulkas 2 pintu yang ukurannya gede aja disi—
Melihat kulkas itu Elizabeth langsung tau bentuk luarnya saja yang kulkas.
Tikusnya mulai mengambil kuda-kuda dan langsung berlari menerjang kulkas itu dengan kepalanya dan Bufff...
Dugaan Elizabeth benar, kulkas itu adalah Liftnya.
Tikusnya pun terjun bebas ke bawah.
"CHHIIIIIIII!!!!"
*Gluk!
Dan langsung menjadi asap saat menyentuh tanah.
Tak lama kemudian asap itu merubah kembali bentuknya seperti tikus, dan melanjutkan perjalanannya.
Baru juga mau jalan, dia sudah mencium bau darah dari jauh.