Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Pion Kecil



"Bagaimana– Siapa kalian?!!‐ Bhueekgh!", Elizabeth langsung meramas mulut orang itu.


"Berhenti omong kosong, suaramu tidak berguna lagi, kami tau semuanya, Fedris", Ucap Elizabeth.


Marcus lalu mengeluarkan Tab milik Leon dan mulai menyebutkan daftar Kejahatan yang di buat oleh Mantan Letnan itu.


"Hm... Penyeludupan Senjata Militer, Mendonasikan Sejumlah Uang Untuk Penelitian Illegal, Pencucian Uang, Memanipulasi Kematian Diri Sendiri, dan masih banyak lagi", Jelas Marcus dengan nada ejekan.


Elizabeth lalu meremas kerah baju mantan letnan itu dan mendekatkan wajahnya.


"Kamu mungkin bisa selamat dari Militer, tapi tidak dengan kami", Ancam Elizabeth.


Mendengar Ancaman Elizabeth, bukannya Takut orang itu malah ketawa.


"Whuahahaha, Kalian pikir setelah menangkapku kalian akan selamat? Hmph! Sebaiknya kalian berhenti dasar anak-anak, kalian tidak tau siapa yang berada di belakangku", Balas Pria itu dengan senyuman egois.


"PFFTT- AHAHAHAA!!"


Elizabeth pun tertawa balik padanya yang membuat orang itu terkejut.


"Kau gila ya", Ujar pria itu.


Sekilas Elizabeth menonjok mukanya.


*Bluuuhk!!


"Woy! Siapa?, Maksudmu Quincen? CIA? Ataukah IM? Bwuahaha konyol sekali, bahkan jika 10 dari kalian mati pun, mereka tidak akan tau", Elizabeth melepaskan cengkramannya dan mundur kebelakang.


Kalimat2 yang Elizabeth bicarakan membuat Pria itu membisu, dia lalu seketika ketakutan.


"B-bagaimana bisa kalian mengetahui orang-orang itu?"


"!!"


"Apa jangan-jangan kalian adalah Aset Busuk yang kabur itu kah? Ahaha aku memang pernah di beritahu tapi untuk kalian menunjukan diri kalian di sini, Kalian tidak taukah, kaliaj itu sedang di buru—"


Seketika Tubuh Pria itu terbelah.


Lalu ruangan di sekitar mulai memunculkan efek siaran gangguang.


*Kssiiik~ *Kssiiik!


Pria itu seketika tersadar dan melihat Elizabeth yang masih menginjak kakinya.


Dia berkeringatan, kebingungan dan ketakutan saat menatap matanya Elizabeth.


"Itu baru satu kali~", Ujar Elizabeth.


Mata perak miliknya mulai berubah warna menjadi gelap ke hitaman.


"A-apa yang terjadi... Sebenarnya kalian itu siapa?!", Oria itu menarik tangannya dan langsung muncur kebelakang menjauhi Elizabeth.


"Mereka mengatakan kalian yang tersisa sebagai Kegagalan! Ba-Baghaimana kekuatan kalian sebesar ini!! Aku tidak mau mati! Jangan- Jangan bunuh aku, AKU! Aku Akan mwengatakan Semua To–".


Marcus memberikan tabnya Leon ke Tempest dan mulai berjalan mendekati pria itu, tak lama dia berjongkok dan tangannya mulai meraih wajah pria itu.


"Baguslah Kamu Mengatakannya", Seketika pandangan pria itu mulai gelap karena tertutup tangannya Marucs.


Lalu satu demi memorinya mulai di lihat oleh Marcus...


"Jika kamu bisa mengeluarkan 1 senjata saja, kita bisa memenangkan perang ini"


"Katakan padaku jawabanmu, bukankah penelitian ini menarik?, Jika ini berhasil, akan kujadikan dirimu sebagai pemimpin mereka"


"Sekali saja, tidak akan ada yang tau"


"Sayang, kamu mau kemana.. Jangan, Jangan membawa Putri Ku!! Kembaliii!!!"


"Ini gawat Quincen, Jendral Mulai mencurigaiku, apa yang harus aku lakukan?!"


"***Tenang saja, CIA akan membantumu..."


"Senjata Gagal?"


"Mereka adalah aset kecil yang sudah hancur, sedikit kemungkinan juga mereka masih hidup, tapi waspasa saja"


"Nouhuman Yang Terlahir di Tempat itu adalah Asetmu, ingat itu***.."


"Us.. Marcus!", Elizabeth menepuk bahunya Marcus sambil memanggil namanya.


"Ah! Maaf...", Pintanya dengan lembut.


"Apa yang kamu lihat sampe kayak orang kesurupan gitu", Ujar Elizabeth dengan khawatir.


Marcus lalu berdiri dan membersihkan lututnya.


"Kehidupannya kacau banget euy, lalu aku melihat Quincen, tapi kayaknya tuh orang cuman pakai nama Quincen, wajahnya beda amat kayak yang dulu", Jelas Marcus dengan nada mengejek.


Pria itu melihatnya dengan wajah terkejut, dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Marcus namun satu hal yang pasti Marcus telah membaca memorinya.


"Maaf aku memotong, tapi apa yang sebenarnya terjadi?", Tanya tempest dari tadi diam melihat mereka berdua, walaupun sudah pantau pun dia tidak paham.


Itu karena Ilusi Elizabeth tadi tidak bisa di lihat oleh orang lain yang bukan targetnya.


"Ahaha benar juga, daritadi kamu diam sih jadi aku lupa sama kamu", Jawab Elizabeth dengan canggung.


"Pria di sana itu, ibaratnya kayak Pion... CIA, mereka mencoba mengetahui siapa saja musuh mereka dengan membuat tempat ini", Jelas Elizabeth sambil menahan bahunya Tempest.


"Jadi kita kena jebakan?", Tanya Balik tempest.


"Enggak ada yang kena jebakan, Toh militer juga tau ini jebakan makanya ada permintaan seperti ini ke kita", Tambah Elizabeth.


Tempest lalu menoleh ke arah pria itu.


"Lalu dia.."


"Biarin aja, itu orang cuman pion kecil, informasi dari dia gak banyak Euy", Sela Marcus dengan kecewa.


"Lah terus tadi?", Elizabeth menatap Marcus dengan keheranan.


"Gak banyak, tapi mayan lah infonya, orang yang memakai nama Prof. Swis atau sekarang namanya Quincen, hanyalah perantara saja bukan asli alias kw palsu, tapi aku mengetahui satu hal yang pasti memorinya...", Ujar Marcus sambil melihat mantan militer itu dengan senyuman licik.


"Apa itu?", Tanya Tempest dan Elizabeth dengan Kompak.


"Kalian tau, petinggi IMObius yang dulu sering datang ke Sky Tower?", Tanya Marcus ke kedua temannya itu.


"Si Tua Janggutan itu?", Tanya Balik Tempest.


"Si botak yang datangnya pakai penjaga dulu yak?", Tanya Elizabeth.


"Hooh bener, Kakek Tua itu, tapi dari yang aku lihat darinya, Pemimpin IMObius sudah berubah, yang sekarang adalah Anaknya? Anak Angkatnya sih lebih bagus di sebutin", Jelas Marcus sejelas-jelasnya.


"Ohhhhh Pantesan IMObius kelakuannya kayak gini belakangan ini", Ujar Elizabeth dan Marcus mengakui pernyataan itu.


Mantan Letnan itu tidak bisa berkata apa-apa mendengar percakapan mereka.


"Tidak ku sangka kalian mengetahui semua itu hanya dalam 5 menit dariku, jika mereka tau habislah kalian", Ancamnya.


Namun Mereka bertiga tersenyum licik.


"Benarkah? Yakin bisa inget?", Tanya Marcus.


Pria itu seketika kaget dan ketakutan.


"A-apa yang ingin kalian la-lakukan?", Dia ketakutan dan perlahan mundur.


"Ayolah jangan begitu bang, Fhuhu~", Marcus tertawa sambil mendekati pria itu.


***


Di Luar Tempat itu..


Pasukan militer sudah mendapatkan pemberitahuan dari Leon melalui Reze, dan mereka telah sampai ke tempat itu sambil membawa beberapa truk kosong untuk menyelamatkan Korban yang masih bisa di selamatkan.


Ada beberapa dari mereka yang langsung masuk ke dalam tempat itu, lalu orang yang berstatus tinggi dari pasukan itu menghampiri Leon.


"Terima Kasih Atas Kerja Sama Anda, Pak", Ujarnya Kepada Leon dengan Hormat Militer.


"Anoo saya hanya temannya Reze saja, jangan berlebihan tolong", Balas Leon dengan ramah.


"Siap! Tetap saja anda membantu kami dalam kasus ini, saya mewakili sampaian Jendral berterimah kasih kepada kalian", Ujarnya dengan hormat dan tegas.


"Okey okey", Leon pun membalas dengan lemas.