
Di Taman Tower...
30 Menit Sebelumnya.
Setelah Melina selesai melihat keberadaan Kevin dari kamera pengintai di ruang keamanan.
Dia berniat untuk mengunjungi Kevin, namun dia melihat Dion, Cecil dan Swis sedang mengumpulkan anak-anak ke taman.
Lalu dia ingat kalau tadi siang Cecil dan Swis sudah selesai melakukan penelitian mereka.
Karena masih merasa sedih dengan kepergian anak itu, Melina pun memutuskan untuk membantu ketiga temannya itu dan pergi ke taman.
“Aku pergi dulu ya”, Sapa Melina yang menoleh ke Julian dan pergi meninggalkan ruang keamanan.
Setelah sampai di Taman, Dia melihat kalau Ketiga temannya itu sedang mengatur baris anak-anak di dekat pohon.
“Hey!”, Sapa Melina dari jauh.
Cecil, Dion dan Swis pun melihat kedatangannya, namun hanya Cecil yang melambai balik kepadanya.
Tak lama Melina pun sampai dan menahan bahu Cecil.
“Apa kalian-“, dengan cepat Cecil menutup mulut Melina.
“Diamlah dan biarkan kami yang melakukannya”, Ucap Cecil yang terlihat sibuk.
Lalu dari jauh swis menatapnya dengan dingin, Melina sontak terkejut namun dia membalas tatapan Swis dengan senyumannya.
Anak-anak yang ada di taman pun menyenangi kehadiran Melina.
“Halo Profesor Meliiiin~”, Sapa mereka dengan senang.
Melina lalu membalas dengan sapaan baik.
“Haloooo~”
“Sampai kapan kamu mau membuat mereka berisik”, Tegur Dion.
Melina seketika tertawa tipis, dia pun terpaksa mundur ke belakang dan membiarkan teman-temannya saja yang sibuk.
Selang 5 menit akhirnya anak-anak duduk dengan rapi.
Cecil, Dion dan Swis lalu berjalan ke depan. Namun Cecil dan Swis berdiri di samping Melina dan hanya Dion saja berdiri di tengah depan karena dia yang harus menjadi titik perhatiannya anak-anak.
Tak lama kemudian Dion menegur anak-anak itu, membuat pandangan mereka terfokus hanya pada dirinya.
“Baiklah anak-anak, kalian lihat aku di depan sini, dan hanya berfokus padaku saja, aku akan memberikan kalian hadiah nantinya”, Ucap Dion.
“Baik Pak!”, Jawab Mereka dengan kompak.
“Oke baiklah, Mataku adalah mata Kalian, Ingat Ini...”, Ucapnya.
Anak-anak pun seketika terdiam, tidak ada yang berbicara mau pun bergerak, semua pandangan mereka terfokus hanya pada Dion.
Jika di lihat dari sisi Melina, Cecil maupun Swis memang tidak ada yang aneh.
Namun jika di lihat dari pandangan anak-anak, mereka sedang melihat sebuah mata besar yang berada tepat di atas kepalanya Dion.
Mata itu menarik kesadaran mereka, dan membuat mereka semua terhipnotis.
Dan ini adalah kekuatannya Dion, sedikit berbeda dengan kekuatan Kevin, Swis ataupun Cecil yang memiliki Bentuk Fisiknya.
Tak lama Dion menepuk tangannya lagi, membuat anak-anak kembali sadar.
Di sisi lain...
Elizabeth merasa kalau dia melupakan sesuatu, dia lalu mempertanyakan hal ini kepada Victor yang duduk bersebelahan dengannya.
Perlahan Eli menyentuh tangan Victor.
“Vii apa kamu merasakan sesuatu?”, Bisik Eli.
Victor pun melihatnya dengan ekspresi kaget namun dia dengan cepat menertawai Eli.
“Hahaha Eli apa yang kamu bicarakan?”, Bisik balik Victor.
Elizabeth lalu menatap Victor dengan bingung.
“Ntalah, aku merasa ada sesuatu yang janggal, ssperti ada yang menghilang—“, dengan cepat Victor menutup mulut Eli.
Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Eli.
“Kamu seharusnya lupa, bodoh”, Bisik Victor dengan nada sedih.
Seketika Eli tersadar lagi, dia lalu menatap Victor dengan wajah aneh.
“Kenapa wajahmu sedekat ini?”, Tanya Eli sambil mencoba menjauhkan wajah victor dari dekatnya.
Victor pun tertawa, Nolla yang berada di belakang lalu mendekati mereka dan ikut berbisik.
“Apa yang sedang Kalian bicarakan?”, Tanya Nolla dengan nada Senang.
“Baiklah, Kalian bisa lanjut bermain, maafkan aku karena memanggil kalian ya”, Ucap Prof. Dion dengan lembut.
Sontak Eli terkejut karena tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia lalu menoleh sekitar dan kebingungan dengan keramaian itu.
Victor menyadari rasa bingung yang di alami Eli, dengan lembut melepaskan genggaman Eli dan mencium pipinya.
*Kiss
“Kita di panggil karena mendapatkan Jajan dari si pak tua loh”, Jawab Victor dengan nada lembut.
Eli lalu melihat Nolla dan Nolla mengangguk.
“Hum, kamu tidak dengar tadi ya”, Tambah Nolla.
“Kalian sudah bisa mengambil hadiahnya di kantin ya~”, Ucap Dion sambil menunjuk ke pintu kantin.
Prof. Melin dan Swis juga pergi meninggalkan mereka, sedangkan Cecil masih memantau anak-anak.
Anak-anak pun seketika bahagia dan mereka mulai berbondong-bondong mengambil jajan yang di katakan Prof. Dion di kantin.
Namun hanya sebagian anak yang mengambil jajan itu, sisanya melanjutkan permainan mereka.
Seperti Elizabeth dan Victor yang berjalan ke kembali ke pohon, Ajax dan Leo yang bermain kejar-kejaran, dan Amber (Anak baru) yang sedang tiduran di rumput
Prof. Cecil lalu kembali ke dalam, sebelum masuk dia sempat melihat ke arah taman dan menikmati tawa kebahagiaan dari anak-anak.
Dia terlihat senang dengan hasil yang sementara ini dan tersenyum tipis, walaupun akhirnya dia menyadari kalau ini semua hanyalah setingan belaka.