Hopes In The Deadly Winter

Hopes In The Deadly Winter
Sebuah Tanda



“FYI, kembang api memiliki bahan piroteknik di dalamnya, jadi kalian mulai paham kan”, Ujar Vii sambil menongkah pinggangnya dan mengintimidasi anak lain dengan hawa dinginnya.


 


Anak-anak itu tidak merasa takut atau pun tertekan dengan Vii, itu karena kepenasaran mereka akhirnya sudah terjawab.


Mereka lalu memuji Vii, dan mengakui, mengangguk bahkan memuji kepintaran yang di milikinya dalam mengetahui segala sesuatu.


 


“Ohh jadi itu mengandung Piroteknik ya?, Itu berarti Ajax adalah bom berjalan ?!”, Jawab Nolla yang terlihat iri sengan kekuatannya Ajax.


 


“Memangnya kau pikir aku ini apa?”, Sela Ajax yang merasa dihina.


 


“Ajax adalah manusia jadi dia tidak bisa menghasilkan piroteknik secara langsung, dan juga itu termasuk dalam bahan kimia, jadi Ajax tentu tidak bisa menghasilkannya, untuk sekarang sih... lagipula aku hanya mencontohkannya ke sana”, Jelas Vii yang mengoreksi kata-kata Nolla.


 


“Benar, Aku setuju dengan apa yang Vii katakan~”, Tambah anak lain.


“T-tapi Vii bilang untuk sekarang, apa kedepanny—“ Ucap seorang gadis lain yang berambut putih namun kalimatmya itu langsung terpotong oleh anak lain yang suaranya lebih tinggi darinya.


“Kamu sangat Jenius Vii~ bisa mengetahui segala hal”, Tambah anak lain sambil memeluk Vii.


 


Vii yang mendengar pujian mereka hanya bisa tersipu malu dan tersenyum ke arah mereka.


 


Saat mendengar kalimat Vii, Tempest yang tadinya menutupi wajahnya dengan cepat lalu menunjuk ke wajah Vii dan membenarkan perkataannya yang tadi.


 


“Naaahhh Kan, sudah kubilang itu namanya kembang api”, Jawabnya dengan bangga.


 


“Tapi kau sendiri tidak tau apa itu kembang api”, Balas telak  anak lain yang berambut ungu panjang.


 


“Tapi Vino, aku yang pertama kali bilang kalau itu namanya kembang api”, Sela Tempest.


 


“Tapi K.A.M.U R.A.G.U DENGAN JAWABANMU!!”, Balas Vino dengan bentakan.


 


“Ahghhhh mereka mulai lagi”, Ujar Nolla.


 


Tempest dan Vino mulai menatapi satu sama lain dan berkelahi di dalam keramaian itu.


Di saat Nolla dan yang lain sedang sibuk menenangkan Kedua kucing itu, Leo dan Ajax menanyakan kepada Vii bagaimana dia tahu kembang api itu padahal tidak diajarkan oleh Profesor Willy ataupun yang lainnya sama sekali.


 


“Tapi bagaimana kamu tau? Profesor Kevin atau profesor yang lainnya tidak mengajarkan hal ini loh?”, Tanya Ajax.


 


“Hum Hum, Aku tidak ingat Kakak Melina pernah menjelaskannya”, Jelas Leo yang juga yakin akan hal itu.


 


“Itu karena kalian tidak pernah belajar sendiri”, Jawab Vii dengan santai.


 


Dia lalu mengulurkan tangannya dan secara perlahan keluar seekor kupu-kupu yang berwarna merah dari telapak tangannya.


Leo dan Ajax yang melihat hal itu langsung terkejut, namun mereka juga penasaran akan kekuatan Vii yang bisa mengeluarkan serangga dari tubuhnya.


 


“Apa ini kekuatanmu?”, Tanya Leo.


 


“Iya, Aku bisa memanggil- tidak. Mengeluarkan? Kurasa, Serangga dari tubuhku mungkin”, Jawab Vii dengan berat dan ragu.


 


“Eh? Kenapa kamu sendiri tidak tahu?”, Tanya Ajax.


 


“Itu karena aku tidak tahu... Ngomong-ngomong, apa kamu ingin percikan yang lebih besar, Ajax?”, Vii lalu mengubah alur pembicaraan dengan dengan cepat.


 


Leo dan Ajax langsung menatap Vii dengan kebingungan namun ada rasa semangatnya.


 


“Maksudmu?”, Tanya mereka berdua dengan kompak.


 


Vii mulai menggenggam tangan Ajax dan menekan bagian tengah telapak tangannya.


 


“Coba bayangkan, bagaimana bila Percikan tadi muncul di tanganmu, tapi tanpa harus mengangkat kedua tanganmu ke langit”, Kata Vii dengan serius.


 


Leo hanya bisa memantau apa yang dia lakukan, sedangkan Ajax seketika merasa ragu sekaligus bingung dengan perkataan Vii.


 


“Maksudmu bagaimana?”, Ujarnya.


 


Ajax pun menutup matanya dengan lembut dan mengikuti panduan Vii.


 


Saat mereka berdua sedang berfokus, Leo berdiri sendirian menatapi Nolla, dia lalu melihat Eli dan temannya2 yang lain juga dan mereka masih sibuk dengan menenangkan dua kucing yang sedang berkelahi di sana.


 


“Maju sini lo** Nk****”, Umpat Vino ke Tempest.


 


Tempest pun tak tinggal diam dan melemparkan pukulan ke Vino.


 


*BLAAAK!!


 


Vino juga tidak mau kalah dan menendang Tempest.


 


*DEBUKH!!


Kedua anak itu pun berantem kuat, bahkan sampai salah satu dari mereka terluka.


 


“Ghahaaaaaa berhenti berkelahi”, Marah Eli yang mencoba menenangkan mereka.


 


“Kita tidak bisa menenangkan mereka!!, siapa saja panggil profesor kesini!!”, Histeris salah seorang anak yang juga ikut menenangkan dua kucing harimau itu.


 


Anak yang lain dengan bergegas berlari ke dalam dan mencoba memanggil seorang profesor yang paling dekat dari sana.


 


Saat anak itu pergi, Leo langsung menyadari keberadaan beberapa kupu-kupu yang mengelilingi mereka.


Namun dia melihat kalau teman-temannya yang lain, dan mereka tidak menyadari keberadaan sekelompok kupu-kupu bedwarna merah ini.


Dia lalu melihat kemana kupu-kupu tersebut berasal dan menyadari keberadaan seekor kupu-kupu yang warnanya lebih terang hinggap di antara tangan Vii dan Ajax, lalu seketika-


 


KABOOOOMMMMM!!!


 


Sebuah ledakan besar terjadi tepat di atas telapak tangannya Ajax, dan melahap Ajax bersama Vii.


Semua anak-anak yang berada di taman tersebut terkejut dan takut akan hal itu membuat dan mereka semua terjatuh ke tanah.


 


Beruntung tidak ada anak lain yang terluka akibat ledakan itu.


Para profesor yang berada di lantai atas sempat mendengarkan ledakan kuat itu dan beberapa dari mereka langsung bergegas menuju ke taman.


Setelah asap dari ledakan itu memudar, baru di ketahuilah kalau Ajax dan Vii baik-baik saja, bahkan mereka tidak hangus dan pakaian mereka juga tidak ada yang terbakar.


Anak-anak yang melihat keadaan Ajax dan vii pun kebingungan dan ketakutan.


Api dari ledakan tadi serasa tidak pernah terjadi


Namun berbeda dengan mereka Ajax merasakan kalau sesuatu telah terbangkit dari dalam tubuhnya dan dia pun tersenyum bahagia ke arah Vii...


 


“Itu Keren Sekali Victor!!”, Ujarnya dengan bahagia.


 


Namun dengan sigap, Vii langsung menutup mulut Ajax, dan menarik kerah bajunya membuat mereka berdua terjatuh dan berposisi seperti anak2 yang lain.


 


Sedangkan anak-anak yang lain, mereka semua terdiam melihat Victor yang tersenyum sambil memberikan kode ‘Sssssstt” kepada mereka.


***


Tak lama para profesor datang bersama dengan anak yang tadi memanggil mereka, dengan rasa khawatir mereka memanggil semua anak-anak, memeriksa kembali keadaan mereka dan memulangkan mereka ke kamar masing2.


Rasa lega pun terdampak di wajah mereka setelah mengetahui tidak ada anak-anak yang terluka.


 


“Kalian semua! Ya tuhaan, beruntung tidak terjadi apa-apa dengan kalian”, Ujar salah satu profesor bernama Dion dengan rasa khawatir.


"Bawa saja mereka kembali ke asrama", Ujar profesor itu kepada para penjaga.


 


Dalam perjalanan anak-anak di kembalikan ke kamar mereka masing-masing, Mereka melihat wajah Victor dan mengingat kembali kode yang dia berikan tadi.


 


Nolla lalu menjadi orang tengah dan mendekati Victor dan berbisik padanya.


 


“Pssst, Victor Apa itu tadi?!”, Tanya Nolla dengan rasa takut.


 


“Pembangkitan Ulang Ajax mungkin? Tapi rahasiakan saja”, Jelas Victor kepada Nolla.


 


Nolla lalu mengangguk dan melihat ke arah teman-temannya yang lain dan mereka mengangguk balik padanya dengan hati-hati agar tidak terdeteksi oleh para profesor.