Ghanapurusa

Ghanapurusa
Kebo Mulih Pakandangan



"Juragan, terimakasih..." terdengar Ratna Inten mengucapkan terimakasih.


"Tidak perlu sungkan, apa kau tidak apa-apa?"


"Berkat juragan, kami ibu dan anak tidak apa-apa. Kalau boleh tahu siapa nama juragan, biar dilain hari aku dapat membalas budi kebaikan juragan..."


"Panggil saja Aku Subali. Tentang balas budi, tak perlu kau risaukan. Oh iya, siapa kalian berdua? Dan mengapa berada ditempat seperti ini?"


"Namaku Ratnainten juragan, dan ini anakku namanya Linggapaksi. Lingga, ucapkan terimakasih kepada juragan..."


"Juragan, terimakasih banyak..." sahut Lingga Paksi, sembari merapatkan kedua tanganya didepan dada.


"Hm, yaya. Ucapan terima kasihmu saya terima nak..." Berkata kiSubali sambil tersenyum ke arah siBocah.


"Berapa umur mu, nak?


"Aku.. Aku tidak tahu..." sahut anak itu sambil berpaling kearah ibunya.


"Dia hampir 6 tahun juragan..."


"Oh begitu, ya?"


"Betul juragan..."


"Lalu dari mana asalmu? Dan mau kemana?"


"Juragan, kami berdua korban banjir bandang dipantai selatan. Seluruh desa kami hancur, dan hanya kami berdua yang selamat. Berhari-hari kami berjalan, hingga tadi siang dikaki bukit sana kami bertemu gerombolan bertopeng. Dan... Dan kami dikejar-kejar hingga hampir celaka. Beruntunglah juragan datang tepat pada waktunya..."


"Mereka memang kejam dan telengas..."


"Siapa mereka itu sebenarnya, juragan?"


"Mereka itu adalah satu gerombolan bertopeng yang akhir-akhir ini namanya sedang naik daun. Sudah banyak yang menjadi korban ketelangasanya, bahkan beberapa pedepokan dan perguruan silat berhasil ia taklukan. Yang tunduk dan mau bekerja sama salamat, yang menolak dibinasakan..."


“Apakah juragan tahu siapa yang menjadi pimpinya?"


"Itu..." mendadak saja tatapan lelaki itu menjadi tajam, sehingga Ratna Inten cepat-cepat mengalihkan pandanganya.


"Mengapa engkau ingin tau tentang gerombolan itu?”


"Hanya ingin tahu saja juragan, untuk sekedar berjaga-jaga..."


"Hm, baiklah kalau begitu. Menurut cerita yang saya dengar, gerombolan Kelelawar Hitam adalah suatu gorombolan kecil yang biasa-biasa saja. Namun semenjak pimpinanya terbunuh dan diganti, gerombolan itu menjelma menjadi gerombolan yang sangat kuat dan ditakuti oleh dunia persilatan. Konon katanya..." Juragan Subali menambahkan pula, " Ketua mereka salah satu pendekar misterius yang tidak pernah diketahui identitasnya, namun disebut-sebut telah menguasai ilmu Hitam Yang disebut Raja Kelong. Ilmu ini sempat menjadi momok yang menakutkan dijaman kerajaan Taruma nagara. Ilmu ini sanggup menguraikan tubuh menjadi ribuan Kelelawar yang berbahaya bagi lawanya..."


"Benarkan begitu, juragan?"


"Hhh! Tentu saja benar. Kau orang biasa, tentu tidak akan percaya akan ceritaku ini..."


"Saya percaya, juragan..."


"Baguslah kalau begitu..." Sahut kiSubali sambil membolak-balikan panggang ikan diatas bara api.


"Kenapa gerombolan kejam seperti itu tidak ditindak oleh pemerintah kerajaan? Bukanlah juragan sendiri berasal dari pemerintahan..."


"Masalahnya tidak segampang itu, nyai. Dulu, sewaktu aku masih jadi prajurit aku sempat bergabung dengan sebuah pasukan yang cukup besar. Dengan maksud untuk menghancurkan gerombolan tersebut. Yang kabar, konon katanya berada dipuncak gunung malanglayang. Namun sayang, sebelum pasukan kami tiba, disebuah lembah yang berada dikaki gunung manglayang dihadang sesosok mahluk menyeremkan. Kami semua diserang dan semua tidak ada yang selamat, termasuk senapati perang atasanku. Semuanya, binasa. Hanya aku yang selamat, entahlah mahluk itu membiarkan aku lolos..."


kiSubali tersenyum getir, tangan nya dengan cekatan terus membolak-balikan beberapa ekor ikan agar tidak gosong dan matang dengan merata.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Yang jelas mahluk itu biasanya bergerak tanpa pandang bulu..."


"Atau mungkin juragan bisa melawan mahluk itu?"


"Terus terang saja mahluk itu terlalu kuat untuk dilawan oleh manusia biasa..."


"Seperti apa penampakan mahluk itu, saya betul-betul baru mendengar..."


"Mahluk itu berwujud seekor kelelawar yang sangat besar, dengan setiap kukunya yang panjang dan tajam tak ubahnya seperti mata pisau. Kulit dan dagingnya sangat keras, hingga sulit dilukai oleh senjata pusaka apapun..."


"Semoga saja aku dan anak ku tidak sampai bertemu dengan mahluk seperti itu, juragan..."


"Ya, semoga saja. Nah, sekarang makanlah kelihatanya ikan bakar ini sudah matang. Nak, ayo makan yang kenyang..."


"Baik. Dan terimakasih, juragan. Aku memang sudah sangat lapar..." sahut Lingga paksi tanpa ragu, lalu memakan ikan bakar segar itu dengan lahap. Yang memang sejak dari tadi harumnya sudah sangat menggoda.


Hanya selang beberapa saat, semua ikan bakar sudah habis, mereka bertiga sangat menikmati. Terutama siBocah yang memang sudah beberapa hari tidak mendapatkan makanan yang lezat dan begizi. Tak heran ikan besar yang hampir sebesar paha orang dewasa dilahapnya dengan cepat.


Sementara itu malam semakin larut, dilangit bintang bertebaran.. suara angin bergemuruh, diantara suara binatang malam yang terdengar bersahutan.


Selang berapa saat, setelah makanan habis terdengar kiSubali bertanya.


"Oh iya, selanjutnya kau mau kemana?"


"Saya tidak tahu, juragan. Saya tidak punya arah tujuan.."


"Bagaimana kalau kalian berdua ikut bersama ku?"


"Itu.. itu... saya tidak berani, juragan..."


"Nak, apakah kau mau ikut bersamaku? Kebetulan dirumah aku mempunyai seorang anak yang baru berusia tiga tahun, mungkin kau bisa jadi temanya nanti..."


"Itu... itu bagaimana juragan, saja..."


"Kalau begitu baguslah, besok kita berangkat. Sekarang beristirahatlah..."


"Iya juragan, dan terimakasih banyak. Semoga kebaikan juragan dibalas oleh sang hyang widhi dengan yang lebih besar..."


"Hmm..."


Maka Ratnainten pun mulai merabahkan diri diatas rumput kering yang sudah disiapkan sebelumnya.


Seiring dengan malam yang kian larut, Ratnainten beserta anak nya pun mulai tertidur lelap.


Sementara itu, kiSubali hanya duduk bersila tak jauh dari perapian. Ia bermeditasi sepanjang malam, sambil berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang akan terjadi.


Singkat cerita, keesokan harinya, setelah semuanya berkemas barulah mereka meninggalkan pinggiran hutan genggaong.


Tujuan mereka tidak lain, yakni menuju tempat yang menjadi tempat tinggalnya kiSubali yang konon katanya berada disuatu desa sebelah utara kerajaan galuh.***