
"Terimakasih, mak. Kalau begitu, saya pamit. Kebetulan masih ada pekerjaan..."
Sekali ini Ratnainten tidak menahannya, setelah nyimas Lirih pergi iapun mendatangi anaknya yang terus membereskan kayu bakar ketempat teduh.
"Apakah tadi kau menolaknya, aling?"
"Tidak juga, mak. Hanya saja saya ingin mengetahui kejujuran dari nyimas Lirih..."
"Jika kau kembali menjadi kacung, berhati-hatilah. Sebab kali ini tugasmu akan lebih berat..."
"Iya, mak..."
Hari berikutnya setelah berpamitan ke Mang Odon, maka pagi-pagi sekali Lingga Paksi pun mulai pergi bekerja. Ia berangkat dari rumah sebelum pajar menyingsing, ia tidak ingin tugas pertamanya terlambat dan kesiangan lalu kemudian menimbulkan suatu masalah yang tidak diinginkan khususnya yang datang dari den Arya ataupun den Turangga yang mungkin akan merasa kecewa.
"Kang aling..."
Tepat disebuah jalan desa terdengar seseorang menyapanya.
Udara begitu dingin, kabut pun mulai turun membungkus tubuh seseorang yang mengahadangnya.
"Kau..." siAling kaget ketika tahu siapa yang mengahadangnya itu.
"Iya kang, ini aku..."
"Ada apa? Kenapa jam segini kau sudah berada disini?"
"Aku..." gadis itu yang bukan lain Rastiti menundukan kepalanya.
"Aku kenapa?"
"Aku takut, kang. Setelah kejadian itu aku..."
"Sudahlah Rastiti, kau tidak usah khawatir. Aku berjaji, jika ada apa-apa aku akan bertanggung jawab. Dan aku berjanji akan menjaga rahasiah mu itu..."
"Tapi kejadian itu terus mengahantui ku, kang. Kini hampir setiap malam aku selalu bermimpi buruk..."
"Percayalah, lama kelamaan kau akan melupakanya, Rastiti..."
"Ya. akupun berharap begitu. Tapi..."
"Apalagi?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan..."
"Tentang apa?"
"Tentang...."
"Sudahlah, nyi. Lebih baik kau pulang, jangan sampai ayah dan ibumu mencemaskan dirimu kembali. Akukan sudah berjanji akan selalu mengunjungimu jika ada kesempatan..."
Rastiti hanya menundukan wajahnya, lalu tanpa berbicara lagi ia pun mulai melangkah pergi sambil berurai air mata .
Sejenak Lingga Paksi tercenung melihat sikap gadis itu, maka terbayanglah kejadian beberapa hari yang lalu didalam goa. Entah apa yang dilakukan oleh siTopeng perak kepada gadis belia itu, hingga anak gadis itu kehilangan kesadaranya dan mencumbuinya hingga terjadi hal yang tidak seharusnya terjadi.
__'Oh, apa yang telah aku lakukan? Jagad dewa brata semoga kau mengampuni ku...'__
Lingga Paksi menatap langit yang merah merona diujung timur sana.
Setelah anak gadis itu tidak kelihatan, Lingga Paksi pun lantas melanjutkan perjalananya.
Sesampainya dirumah juragan Subali, ia langsung menghampiri gubuk kecil. Disana terlihat bi Arum sudah bangun dan mulai menanak nasi.
"Oh, kau nak. Pagi bener datangnya?"
"Ia bi, aku tak ingin tugas pertamaku kesiangan..."
"Baguslah kalau begitu, dari dulu kau memang anak yang rajin..."
"Ya, dan berhati-hatilah semoga kau betah kembali..."
Lingga Paksi lalu mengambil tabong, tabong adalah sejenis bambu yang panjangnya kira-kira dua meter dan setiap ruas-ruasnya sudah dilubangi satu sama lainya hingga bambu tersebut menyerupai sebuah lodong.
Ada sepuluh tabong disitu, tapi Lingga Paksi sengaja tidak membawa semuanya agar tidak menjadi kejanggalan, sebab kalau ia mau sepuluh tabong sekaligus ia sanggup membawanya.
lalu dengan santai ia pun mulai berjalan sambil memikul empat tabong sekaligus.. dan keluar dari pinggir pawon.
Namun betapa kagetnya Lingga Paksi ketika melihat Arya, Turangga dan nyimas Lirih yang sudah terbangun dan kelihatannya sedang melakukan pemanasan untuk berlatih silat.
"Selamat pagi, den Arya, den Turangngga dan nyimas Lirih..."
"Hm, rupanya kau trengginas juga, Aling? Baguslah kalau begitu, jangan seperti siArsan ya! Temanmu itu..."
"Baiklah den, aku akan berusaha yang terbaik..."
"Hm..."
Setelah memberi hormat maka Lingga Paksi barlalu pergi sambil memikul tabong bambu untuk mengambil air dari hulu sungai.
"Kelihatanya meskipun hidup seenaknya tapi dia rajin..." terdengar Turangga berkata sambil menatap punggung Lingga Paksi yang baru saja berlalu.
"Huh, kita lihat saja nanti. Apakan dia akan tetap disiplin seperti ini?" jawab Arya sambil menyungging senyuman.
"Dari dulu kang Aling memang begitu..." nyimas Lirih menambahkan.
"Ya, ya,ya! Kita lihat saja nanti..." sontak senyuman Arya membias, ketika kacung barunya itu dipuji.
Sementara ketiga orang pemuda-pemudi mulai bersiap-siap untuk berlatih, sementara sialing sudah tiba dihulu sungai.
Hulu sungai itu merupakan induk dari sungai cimahpar, terlihat suasana disekitar tempat itu sepi.
Matahari mulai menampakan sinarnya, sementara Lingga Paksi mulai mengisi tabong dari bambu hingga penuh.
Setelah ketiga tabong terisi maka dengan cepat ia pun mulai meninggalkan tempat itu. Menaiki jalan setapak yang cukup curam, namun entahlah meskipun jalan setapak curam dan licin Lingga Paksi bisa melewatinya dengan mudah tanpa kendala. Berbeda dengan temanya siArsan yang sangat kesulitan, menuruni apalagi menaiki sambil membawa beban yang beratnya hampir ratusan kati.
Setelah tiba dirumah, terlihat ketiga pemuda-pemudi sudah mulai berlatih silat. Nampak ketiganya dengan serempak mengeluarkan jurus-jurus yang dipelajarinya.
Sedangkan Lingga Paksi mulai mengisi tong besar yang terbuat dari kayu besar untuk mandi nyimas Lirih.
Butuh beberapa tabong untuk mengisi tong besar itu hingga penuh. Dan begitu seterusnya, Lingga Paksi pulang pergi mengambil air kehulu sungai untuk memenuhi tong buat mandi berendamnya nyimas Lirih dan dua temanya. Setelah tong-tong besar terpenuhi, lalu Lingga Paksi mengisi tempayan didepan rumah.
Waktu mata poe mulai bersinar, maka pekerjaan Lingga Paksi selesai. Semua persediaan air sudah terpenuhi, nampak Lingga Paksi sudah mulai berkeringat.. namun tidak nampak kelelahan.
"Bagaimana aling, apakah pekerjaanmu sudah beres?" mendadak saja terdengar suara juragan Subali dari arah belakangnya.
"Oh, juragan, kebetulan sudah..."
"Cepat benar, apakah kau tidak mendapat kesulitan?"
"Tidak juragan, mungkin sudah terbiasa sejak dulu..."
"Hmm... baguslah. Aku puas akan kerja pertamamu itu..."
"Terimakasih juragan..."
"Nah, sekarang kau boleh beristirahat. Namun jangan terlalu jauh bila saja anak murid ku membutuhkan sesuatu..."
"Baik juragan..."
Lingga Paksi duduk disebuah bangku kecil, matanya terus menatap Arya, Turangga dan nyimas lirih yang saat itu masih sibuk dengan memperagakan ilmu silatnya.
Tak jauh dari situ, nampak juragan Subali duduk dari tepian bale bambu yang menempel didepan rumahnya.