
_’Oh.. apa sebenarnya yang terjadi pada diriku? Kenapa aku sering kehilangan kesadaran? Dan... dan bekas luka ini, Ogh... mengapa terkadang selalu bergerak-gerak! Sebaiknya aku menemui guruku dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada luka ku ini? Ya, mudah-mudahan guru ku dapat memberi petunjuk apa yang harus kuperbuat. Tapi...'__ kiBagas teringat kelelawar yang selalu mengawasinya, ya kelelawar itu adalah mata dan telinga jarak jauh siRaja Kelong. Tepat saat itu, terdengar diluar langkah-langkah kaki yang berlarian disusul yang berteriak-teriak memanggil Senapati Bagas.
"Ada apa?"
"Juragan ada berita buruk..."
"Seburuk apa?"
"Juragan Senapati Genta sedang mengamuk!"
"Mengamuk kenapa?"
"Entahlah, kini beberapa pendekar dan prajurit sedang berusaha menghentikanya..."
"Kalau begitu, ayo! Kau ikut aku, dan antar aku kesana..."
"Baik juragan..."
Lalu dengan menggunakan kuda pilihan mereka berdua langsung menuju ke kediaman rumah kiGenta yang berada disebelah utara kota. Orang-orang yang berada disekitar jalan tentu saja kaget bukan kepalang. Serta merta mereka berloncatan untuk menghindar dari terjangan kuda.
Namun mereka tidak berani apa-apa, karena tahu siapa yang sedang menaiki kuda tersebut. Tak lama kemudian akhirnya kiBagaspun tiba dikediaman kiGenta. Nampak dari jauhpun beberapa prajurit sedang berjaga-jaga. Samar-samar dari dalam terdengar dentingan suara senjata yang beradu dan disertai dengan teriakan-teriakan keras.
"Minggir! Beri aku jalan..." seru kiBagas lantang, beberapa prajurit yang berada disitu langsung minggir menuruti apa yang diminta senapati Bagas.
Benar saja dipelataran depan, terlihat kiGenta sedang dikepung oleh dua orang pendekar dan empat orang prajurit petingan. Tak beberapa jauh dari Pendopo ada beberapa mayat tergeletak dengan kondisi mengenaskan terkapar dengan genangan darah.
"Apa.. apa yang telah terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?"
"Di... dia juragan..." Seorang emban terdengar menjawab sambil menunjuk kearah kigenta.
"Apa?! Kenapa bisa begitu? Itu.. itu mustahil..." kiBagas membentak emban itu hingga kelengar. Lalu memindahkan tatapannya kearah kiGenta yang masih mengamuk dan dikepung.
"Trang! Trang!"
Terlihat pedang kiGenta terus menyambar-nyambar kearah para pengepungnya. Matanya merah, bibirnya kebiruan, begitu pula dari leher hingga dahi urat membiru dan tersembul mengingatkan pada kondisi dirinya beberapa saat yang lalu.
_'Celaka, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah jaram kelong akan bereaksi setelah 30 hari, itu pun jika tidak mendapat penawarnya...'__ Membatin kiBagas, lalu diapun ikut bertindak.
"Genta berhenti? Kau harus sadar?!"
Teriak kiBagas, menyusul badanya melayang keudara. Lalu berkelebat sambil melepaskan beberapa rangkaian serangan, menggunakan jurus-jurus pedangnya.
"Trang-trang!"
Dengan cepat dan sebat kiGentapun menyambut dengan permainan pedangnya hingga keduanya berkelebat saling tukar serangan. Ternyata, dalam keadaan kerasukan kiGenta tidak melupakan permainan ilmu pedangnya.
Benarkah rekanya itu kerasukan? Atau ada hal lain yang membuatnya jadi gila seperti itu.
"Genta hentikan! Apa yang telah terjadi kepadamu, benarkah kau telah membunuh anak dan istrimu?"
"Tidak! Aku tidak membunuhnya, dia... dia.. yang membunuhnya..."
"Dia... Dia siapa?"
"Kelelawar.. ya kelewar itu..."
KiGenta terus berteriak, namun dia terus bergerak menyerang tanpa belas kasihan.
__'Celaka, mungkinkah ada hubunganya dengan kelelawar pengikutnya? Hmm.. mungkin saja. Tadi pun aku begitu sempat ingin menyingkirkan kelelawar yang terus- menerus memata-mataiku. Beruntung aku belum melakukanya, kalau tidak.. tentu akan mengaktipkan jaram kelong dan menguasai ragaku seperti yang tejadi pada sahabatku...'__
"Prajurit, dengarkan perintah. Ambil tambang atau jala, gunakan untuk meringkusnya! Aku yakin dia kerasukan..."
Sahut kiBagas menurunkan perintah, sementara itu dia sendiri terus mendesak rekanya dengan mengeluarkan jurus simpananya dengan dialiri tenaga dalam hingga 80% yang ia miliki. Terlihat pedang ditanganya menyala-nyala, menerjang kearah kiGenta.
"Kurang Ajar! Kau ingin membunuhku, bagas? Hiyaahhh.." seru kiGenta murka, dan ia pun langsung mengeluarkan ilmu yang sama.
Lelatu api langsung berpijar-pijar, disertai dentingan senjata yang beradu sangat cepat.
"Trang-trang. Besss!"
Pertukaran serangan diahkhiri dengan benturan tenaga dalam melalui masing- masing tapaknya. Terlihat keduanya tersurut mundur, dan saat itulah tambang dan jala langsung merungkup kiGenta hingga dia tak berdaya.
"Kurang ajar, lepaskan. Lepaskan aku, lepaskan..." kiGenta berteriak-teriak sampai histeris.
"Tahan terus jangan diberi longgar..."
"Iya..." Sahut beberapa orang prajurit, sambil menahan tambang yang kebetulan mengikatnya.
Cukup lama kiGenta berjibaku dengan jala dan tambang. Beberapa kali dia meronta dan berhasil memutuskan jala serta tambang yang merangkapnya. Namun setelah itu, jala datang lagi dan makin lama makin menumpuk hingga akhirnya kiGenta tak berdaya dan kehabisan tenaga.
Setelah kiGenta tak berdaya, para pengepung mundur.. sebaliknya kiBagas maju mendekat. Terlihat wajah kiGenta sangat putih seperti mayat. Urat yang tersembul keluar semakin menjadi, dan sekarang berubah menjadi keunguan.
Melihat hal seperti itu bukan main terkejutnya hati kiBagas, ia benar-benar tidak menduga bahwa sahabat sekaligus adik seperguruanya akan berakhir seperti ini.
"Genta apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Aku... aku tak dapat mengendalikan diriku..."
“Tapi mengapa bisa seperti ini?”
“Itu ka.. karena... aku.. aku telah membunuh kelelawar, yang... yang te.. terus me.. mengawasiku. tak.. tak disangka.. justru.. kejadian itu telah mengaktikan jaram kelong dalam tubuhku, dan.. dan aku.. oh... telah membunuh anak dan istriku...”
"Bukan! Bukan kau yang melakukanya. Aku yakin, kau hanyalah korban pengendalian jarak jauh siKelelawar hitam..."
"Ya, meskipun begitu, tetap saja aku yang melakukanya..." sahut kiGenta penuh dengan penyesalan, "Kak bagas, bisakah a.. aku meminta to.. tolong untuk yang te.. terakhir kalinya?"
"Kau jangan banyak bicara, mungkin guru kita bisa memberikan petunjuk tentang masalah yang kita hadapi ini..."
"Tidak! A.. aku merasa umurku sudah tidak akan lama lagi. Dengarkan kang Bagas, aku mau minta tolong. Titip anaku siTurangga, jaga dia baik-baik. Hanya dia kini harapan ku satu.. satunya..."
"Aku berjanji..." Sahut kiBagas sambil menunduk.
"Satu lagi, jangan sekali-kali kau membinasakan kelelawar itu. Karena mahluk itulah penyebab semua ini..." sebelum menjawab, terlihat kiBagas mangggut-manggut.
“Ya, baiklah aku akan menurut semua yang kau ucapkan....”
“Te... terimakasih, kak. Ough....” Bicara sampai disitu, kiGentapun diam tak bergerak lagi.
"Auh... genta! Genta..." KiBagas hanya bisa meratapi nasib yang telah menimpa rekan nya itu.
Dalam hati dia merasa berdosa, padahal beberapa waktu yang lalu ki Gentas menyampaikan usulan untuk menitipkan anak-anaknya ke perguruanya dipuncak gunung dieng. Namun karena sesuatu hal, ia malah meminta untuk pergi menemui kiSubali dengan alasan lebih dekat kepusat kota Galuhgalunggung.
Melihat kejadian itu, semua yang berada disitu terdiam. Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi, meskipun mereka mendengar sebagian pembicaraan kedua Senapati tersebut. Namun mereka sulit mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Tepat saat itulah, mendadak kesitu muncul belasan para prajurit dari kepolisian istana. Meraka langsung mengamankan tempat kejadian perkara, lalu semua korban yang binasa dibawa untuk diteliti lebih lanjut. Bahkan para saksi mata pun, ikut dibawa untuk dimintai keteranganya.***