Ghanapurusa

Ghanapurusa
Mencari Kacung Pengganti



"Tidak perlu dipikirkan, lebih baik ayo kita pergi ke tegal siawat-awat untuk menggembala..."


"Aling.. kau pergilah dulu menggembala. Aku akan menghadap ke juragan Subali, untuk minta izin bahwasanya siArsan lagi sakit..."


"Hm, kalau begitu, baiklah mamang tak usah khawatir. Biar aku sendiri yang mengembala kuda..."


"Biar nyai temanin ya kang Aling..." mendadak Rastiti ikut bicara.


"Ya, terserah kau saja. Asal jangan terus mengganggu ku.. "


"Huh, kapan aku mengganggumu?"


"Kemaren..."


"Kemaren kapan? Akang yang lebih dulu menggangguku..."


"Sudah-sudah kalian berdua selalu ribut. Rastiti kau boleh ikut, tapi ingat jangan bercanda terus..."


"Baiklah ayah, kang Aling ayo..." Jawab Rastiti penuh semangat.


Lingga Paksi hanya tersenyum, lalu keduanya pun beranjak pergi dari hadapan Mang Odon. Setelah siAling pergi, lalu diapun berpamitan kepada istrinya dan bergegas pergi kerumah juragan Subali untuk melapor.. bahwa anaknya tidak bisa bekerja hari itu.


Namun setelah beberapa hari siArsan benar-benar tak mau bekerja lagi, dan akhirnya mang Odon menghadap kembali kepada juragan Subali dan kebetulan saat itu juragan Subali telah kembali.


"Tapi mengapa dia ingin berhenti? Mungkin kau tahu alasanya, Odon..."


"Entahlah, mungkin dia sudah tidak kerasan..." mang Odon tidak berani berterus terang, mengingat ketelengasan Arya dan Turangga.


Mendengar jawaban seperti itu akhirnya juragan Subalipun mengerti.


"Baiklah kalau siArsan sudah tidak kerasan lagi, aku tidak bisa memaksakannya. Mungkin beberapa hari kedepan aku akan mencari penggantinya, bagaimanapun juga anak dan muridku itu butuh pembantu..."


"Apakah juragan ingin saya carikan penggantinya?"


"Mungkin aku akan bicarakan dulu dengan ketiga muridku. Tapi tidak sekarang, karena ketiga muridku sedang berlatih khusus dan tidak boleh diganggu..."


"Kalau begitu baiklah juragan, saya pamit pulang..."


Juragan Subali hanya mengangguk, sedengkan mang Odon berlalu pergi untuk kembali keistal untuk mengurus kuda. Selang beberapa bulan kemudian, ketika Arya, Turangga dan nyimas Lirih menyelesaikan ilmu pernapasan. Terlihat raut wajah mereka semakin bugar, dan kelihatan semakin percaya diri saja. Karena setelah berlatih pernapasan, kekuatan tenaga dalam mereka bertambah hingga beberapa tingkat. Itu terlihat dari batang pohon besar yang biasa dipakai berlatih angkat beban dengan mudahnya dapat mereka angkat. Padahal batang pohon besar itu berbobot hampir satu ton, kini batang pohon besar yang jika diangkat oleh oleh tiga orang dapat mereka mereka angkat sendirian.


Ilmu Pernapasan ini disebut Ilmu Dewa Semadi, suatu ilmu yang sebetulnya bersumber dari perguruan Pancatunggal yang berada diPuncak Gunung Sanggabuana. Suatu ilmu yang menitik beratkan tentang cara menghimpun hawa murni dan mengolahnya menjadi tenaga dalam.


"Bagus... baguslah, kalian bertiga sudah bisa meyakinkan ilmu pernapasan ini..." sahut juragan Subali, sambil memperhatikan anak muridnya yang sedang menguji kekuatan tenaga dalamnya.


"Terimakasih guru..."


"Nah sekarang, kalian bertiga kemarilah..."


Lalu dengan serempak mereka bertiga menghampiri gurunya yang yang duduk dipendopo dihalaman belakang rumah.


Sementara itu, terlihat siBibi datang menghampiri sambil membawa air dan makanan kecil diatas nampan.


"Kemana siArsan, bibi?" nyimas Lirih Langsung bertanya keheranan.


"Inilah yang sebentar lagi akan kita bicarakan..." yang menjawab justru gurunya.


Melihat itu, Arya dan Turangga tentu saja langsung curiga, mengingat apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu sebelum masing-masing dirinya mengurung diri.


"Begini..." terdengar juragan Subali melanjutkan pembicaraanya, setelah siBibi pergi. "Beberapa bulan yang lalu. Mang odon datang menghadap, bahwasanya siArsan sudah tidak mau lagi bekerja sebagai kacung..."


"Oh, begitukah?"


"Ya, dan ketika ditanya alasanya mang Odon hanya menjawab anaknya sudah tidak kerasan lagi. Mungkin pekerjaanya selama ini terlalu berat! Atau memang ada alasan lain yang siArsan tidak mau berterus terang. Untuk itu kemungkinan dalam beberapa waktu, kalian bertiga tidak ada yang melayani..." berkata sampai disitu, juragan Subali mengedarkan pandanganya keArya dan Turangga berikut anaknya.


Kau takan ada yang mengurusi


"Nah, menurut kalian bertiga, apa perlu mencari kacung pengganti?"


"Itu memang perlu Ramaguru, bagaimanapun juga aku butuh kacung. Ya. contohnya disaat sekarang ini, tidak mungkin sibibi yang melayani kita bertiga terus-menerus..." juragan Subali terlihat manggut-manggut.


"Baiklah, beberapa hari lagi kita akan cari siapa yang cocok sebagai penggantinya..."


"Ya, guru bagaimana baiknya saja..."


"Hm... dan sekarang dengarkanlah. Kita akan bahas lebih jauh tentang Ilmu pernapasan yang baru saja kalian dalami. Dengarkan Ilmu Pernapasan Dewa Semadi adalah..."


Selanjutnya juragan Subali membahas lebih detail tentang apa yang disebut ilmu pernapasan Dewa Samadi.


Yang menurut keterangan beliau, inti Ilmu ini ialah bagaimana cara mengubah unsur alam yang berada disekitarnya menjadi hawa murni yang kemudian dirobah menjadi tenaga dalam tingkat tinggi.


Dengan teknik-teknik ajaib yang langka, akhirnya ketiga muridnya berhasil menguasai ilmu pernapasan dewa samadi tersebut, itu terbukti saat latihan mengangkat beban yang ia lakukan.


Sementara itu, langit sudah mulai gelap dan dari arah barat terlihat lembayung mulai menerangi pegunungan.***


Disuatu perbukitan yang landai terlihat tiga orang pemuda dan pemudi sedang melarikan kudanya dipinggir sebelah utara desa, nampak tiga orang pemuda-pemudi tersebut tidak lain adalah Arya, Turangga dan nyimas Lirih.


Beberapa petani dan penduduk desa, yang berpapasan atau terlewati oleh tiga pemuda-pemudi tersebut langsung menundukan kepala.


"Turangga! Mau kemana kita hari ini?"


"Bagaimana kalau kita berburu kedalam hutan, kang?"


"Hm, ide yang bagus. Nyimas, bagaimana menurutmu?"


"Aku sih menurut saja, sambil sekalian kita berlatih ilmu..."


"Baiklah kalau begitu, ayo..."


Mereka pun lalu pergi kearah hulu sungai, dan berhenti disebuah dermaga kecil. Disitu nampak seorang lelaki paruh baya yang tidak lain kiDinta.


Empat tahun berlalu wajah kiDinta terlihat semakin menua. KiDinta adalah kepercayaan jurag Subali yang tugasnya menyebrang penduduk jika ingin berburu atau sekedar mencari kayu bakar.


"Mau kemakah kalian bertiga, Raden?" katanya sambil menatap Arya satu persatu.


"Aku mau berburu kedalam hutan, paman..."


"Berburu kedalam hutan?"


"Iya, kenapa?" Arya sedikit menaikan alisnya tanda tidak senang.


"Mm.. saat ini, dihutan sering terjadi kejadian aneh. Lebih baik, aden dan nden bermain dirumah saja..."


"Sudah kubilang aku kesini bukan untuk bermain namun untuk berburu. Lagian kejadian aneh bagaimana, yang terjadi dihutan sana?"


"Raden, apakah gurumu tidak bilang apa-apa?"


"Sama sekali tidak..."


"Hhh..." Terlihat mang Dinta menarik napas, "Begini raden beberapa minggu yang lalu, dihutan itu sering terlihat banyak binatang yang mati mengenaskan..."


"Mati mengenaskan bagaimana?"


"Mereka seperti dimangsa sesuatu yang sangat buas. Binatang yang mati tersebut hanya menyisakan tulang belulang yang berserakan dan dibiarkan begitu saja..."


"Lalu anehnya dimana? Itukan hal wajar yang biasa terjadi didalam hutan..."


"Tapi ada beberapa kejanggalan, Raden. Pertama kejadiannya sangat sering dan terjadi hampir setiap hari. Kesatu itu, kedua binatang yang mati tersebut diantaranya ada harimau dan serigala. Taruh kata, jika binatang biasa dimangsa binatang buas itu biasa. Namun jika harimau sirajahutan yang mati, binatang apa lagi yang sanggup membinasakan dan memangsanya?" Arya terdiam sejenak, "Jadi pada akhirnya, para inohong desa sepakat bahwa didalam hutan sana ada sesuatu yang sangat mengerikan. Dan warga dilarang untuk bermain kehutan Kalajongrang apalagi bukit kalapitung..."