
"Bagus! Nah, pulanglah jika ada bahaya yang mengancam pukul kentongan jangan ragu-ragu..."
"Baik juragan, kalau begitu saya permisi..."
"Hm...."
"Den Arya, den Turangga dan nden lirih saya mohon pamit..."
"Pergilah..." Sahut Arya sambil tersenyum.
Maka Lingga Paksi pun, akhirnya pulang kerumah. Kali ini, hatinya benar-benar sudah tidak enak. Setibanya dirumah, terlihat ibunya sudah menunggu. Namun terlihat wajahnya tenang seperti tak menunjukan expresi ke takutan.
"Bu, kenapa tidak menunggu didalam saja?"
"Memangnya kenapa? toh, disini emak sudah biasa..."
"Tapi kali ini berbeda..."
"Berbeda? berbeda bagaimana?"
"Lebih baik kita bicara didalam..."
"Baik lah..."
Maka mereka berdua pun langsung masuk kedalam rumah. Setelah duduk, lalu terdengar Ibunya bertanya.
"Lingga, memangnya ada apa diluar sana? wajah mu kelihatan sangat cemas?"
"Begini bu..."
Lalu lingga Paksi pun mulai menceritakan apa-apa yang sudah dialaminya tadi siang. Yang mana dia bersama-sama dengan juragan Subali dan warga lainya ikut memasang pagar kayu kokoh disekeliling desa sebagai benteng pertahanan. Namun sebelum pekerjaan selesai seluruhnya, mendadak saja terdengar suara lolongan serigala didalam hutan kala jongrang.
"Menurut juragan Subali, serigala itu melolong bukan sembarang melolong, namun sebuah isyarat seperti sedang menabuh genderang perang..."
"Genderang perang?"
"Ya, begitulah kata juragan Subali. Bahkan ia mengimbau agar semua warga desa berkemas kalau-kalau ada sesuatu yang akan terjadi bisa cepat meninggalkan desa..."
Ratna inten mengerenyitkan keningnya, lalu terlihat seperti sedang berpikir.
"Apakah harus secepat ini?" gumam Ratnainten
"Secepat ini bagaimana, bu?"
"Lingga, kelihatanya ayah mu sekarang sudah benar-benar keterlaluan..."
"Maksud ibu?"
"Ia telah memerintakan seluruh peliharaanya yang berada di hutan kalajongrang, untuk menghancurkan desa kita ini. Benar kata juragan, seluruh warga desa harus berkemas kala-kalau ada bancang pakewu..."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Tentu saja kau harus melawanya,, bunuh semua bugang hapa dan mahluk lainya yang ingin menghancurkan desa kita ini. Sekarang waktunya kekuatanmu harus kau gunakan..."
"Baik bu, semua yang ibu katakan akan saya lakukan..."
"Baguslah, namun musti diingat, jati diri mu harus tetap aman. belum saatnya kau menampakan diri..."
"Baik..."
"Nah, sekarang beristirahatlah dahulu..."
Laingga Paksi pun mengangguk, lalu pergi kekamar untuk beritirahat.***
Ditempat lain, disepanjang sungai Cikahuripan. Setelah lolongan serigala terdengar beberapa kali, terlihat beberapa mahluk mengerikan mendadak keluar dari dalam sungai.
Ada buhaya sebesar sapi, ular sanca sebesar tong anggur, bahkan ada landak dan musang sebesar harimau dalam jumlah yang cukup banyak.
Bukan hanya itu, dipinggir hutan kalajongrang terlihat bugang hapa sedang mendatangi desa Cikahuripan. Uniknya, mereka mampuh bekerja sama dengan buhaya atau komodo untuk menyebrangi sungai.
Semakin lama, mahluk mengerikan itu semakin mendekat ke arah desa. Bahkan kini jaraknya, tidak sampai 200 meter. Para tugur yang menjaga diatas garduh tentu saja kaget bukan kepalang. Ketika melihat makhluk-makhluk mengerikan itu.
Seketika itu juga, kentongan langsung dipukul secara berkala. Memberi tanda kepada para penduduk, bahwa ada bahaya yang sedang mengancam.
"Ada pakewuh..."
"Ada pakewuh..."
Diantara langit yang disinari lembayung, makin lama para mahluk itu semakin mendekati perkampungan.
"Celaka! Mahluk macam apa itu?" seru tugur sambil mendelikan bola matanya.
"Itu ular dan buhaya, masak kamu tidak tahu..." jawab rekanya.
"Itu aku tau, tapi mengapa ukuranya jumbo begitu.Lain dari yang lain..."
"Sudah lebih baik kau pukul terus kentungan yang keras..."
"Iya, ini kan sedang aku lakukan. Apa kau tidak melihat..."
Makin lama, suara keuntungan makin ramai. Beberapa orang warga, yang mempunyai keberanian sontak saja keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Sesaat para mahluk itu tiba, empat bayangan melesat kearah tugur yang sedang berjaga. Dan ternyata, juragan Subali beserta ketiga muridnya.
"Tugur ada apa?"
"Juragan lihat...'
jawab tugur sambil menunjuk kebawah.
"Hem, meraka para buganghapa dengan kekuatan tingkat menengah. Aku yakin, kalian bertiga bisa mengatasinya. Ingat yang aku pesan kan tadi, penggal kepalanya agar mereka tak bisa bangkit lagi..."
"Baik, rama guru..."
"Dan kau, kumpulkan semua warga desa agar berkumpul dibagian utara. Beritahukan semuanya, agar siap-siap jika keadaan tak bisa dikendalikan.."
Terdengar juragan Subali mengeluarkan perintah ke para tetua kampung yang berada disitu.
"Baik..." jawab beberapa tetua kampung, lalu pergi untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh juragan Subali.
Sementara itu, dirumahnya Ratnainten, terlihat Lingga Paksi sudah siaga. Kain merah sudah ia siapkan untuk menyembunyikan identitasnya.
Saat ini kentungan sudah terdengar ramai ditabuh para tugur, bahkan beberapa warga yang punya keberanian dan memiliki tubuh kuat sudah berkumpul didepan pos gugur.
"Pergilah nak, jangan risaukan ibu. Ibu akan baik-baik saja bersama warga lainya..."
"Baik..."
"Sudahlah, lebih baik kalian berdua ikut saja dengan kami. biarkan orang yang kuat saja ikut bertempur..." sahut ulu-ulu sambil melambaikan tangan.
"Tidak. lebih baik aku pergi dengan juragan Subali, kau jaga saja ibuku..."
"Hhh, kalau begitu baiklah nak. Sejak kecil kau memang pemberani. Nyai Ratna ayo kita pergi..."
"Baik..."
Setelah rombongan warga tidak terlihat, Lingga Paksipun beranjak. Ia berlari cepat menuju ke lawang Kori.
Sementara itu, terlihat juragan Subali dan beberapa jagabayanya sudah berdiri diambang pintu Lawang Kori. Pun tak ketinggalan ketiga muridnya yakni; Arya, Turangga dan nyimas Lirih. Bahkan mereka bertiga sudah mengeluarkan masing-masing senjatanya yang berupa pedang, dan segera mengalirkan tenaga dalam hingga pedang itu berkeredepan.
"Kalian bertiga jangan gugup, tetap tenang dan waspada..."
Terdengar juragan Subali, memperingati ketiga muridnya. Sedangkan para jagabaya desa, sedikit keder karena baru kali ini ia akan bertarung dengan binatang yang sudah menjadi monster.
Hingga akhirnya, mendadak saja seekor buaya besar, hendak menyergap Arya. Namun dengan cepat, arya melompat mundur lalu melepaskan sebuah serangan kearah kepala buaya itu.
"Cras...!"
Kepala buaya itu kena bacok, namun ternyata hanya meninggalkan luka berat tidak sampai membunuhnya. Padahal Arya sudah mengerahkan tenaga dalam hingga seperdelapan bagian. Baru setelah mengerahkan tenaga sepenuhnya, kepala buaya itu berhasil dipenggal.
Begitupun Turangga dan nyimas Lirih, mereka berdua pun mengeluarkan tenaga dalam hingga sepenuhnya. Maka tak ayal lagi, pertarungan pun terjadi.
Hanya beberapa saat saja, bangkai binatang buas sudah berserakan, sedangkan jagabaya desa butuh bertiga untuk membunuh satu mahluk.
Yang hebat Juragan Subali. Goloknya berkelebatan kian-kemari, membinasakan semua binatang yang datang ketempat itu.
Namun sayang, makin lama binatang buas makin banyak.. bahkan bugang hapa yang berwujud mayat hidup sudah datang.
Untuk beberapa saat, juragan Subali beserta ketiga muridnya masih bisa bertahan. Namun tidak dengan jagabaya desa, mereka tak sempat menghindarkan diri hingga akhirnya mereka berempat menjadi santapan binatang buas.
#Bersambung