Ghanapurusa

Ghanapurusa
Caping Hitam



Waktu berlalu bagaikan kilat, meninggalkan kebiasaan kita sehari-hari tanpa terasa. Dari hitungan detik kemenit, dari menit ke jam bahkan dari minggu kebulan, berputar terus.. dari waktu kewaktu dari masa kemasa.


Tidak terasa, sudah hampir empat tahun Arya dan Turangga berguru dirumah juragan Subali. Berita duka dari kota raja, tentang kematian keluarganya sungguh memukul hati dan batin Turangga hingga dia hampir berputus asa.


Beruntung, Arya dan nyimas Lirih berhasil membujuk dan menghiburnya hingga dia tidak terus larut dan tenggelam dalam kesedihan hati. Namun sejak itu, kepribadian Turangga semakin pendiam dan tertutup.. dia lebih sering menghabiskan waktunya sendirian. Kalau tidak berlatih silat, dia selalu merenung dan berfikir membayangkan atas apa yang terjadi pada keluarganya.


Hingga saat ini, dia belum paham mengapa ayahnya tega melakukan hal sekeji itu terhadap kakak, adik beserta ibunya. Dia sedikitpun tidak percaya apa yang telah dilakukan Ayahhandanya. Dalam hati dia berjanji, sepulangnya berguru dari juragan Subali dia akan menyelidiki, atas apa yang telah menimpa dikeluarganya.


Empat tahun memang bukanlah waktu yang lama buat belajar ilmu silat, namun berkat kegigihan dan dengan cara belajar yang tepat dari juragan Subali. Mereka bertiga sudah menjadi pendekar yang bisa diandalkan, baik dalam hal kanuragan maupun dalam hal tenaga dalam. Mereka bertiga, bisa disebut sudah mencapai pendekar silat kelas dua.


Pernah suatu waktu, kampung mereka disatroni perampok hingga puluhan orang. Namun dengan gigih, mereka bertiga berhasil mengahalau kawanan perampok itu hingga kocar-kacir. Dari situlah terlihat, betapa hebatnya hasil didikan juragan Subali sehingga mampuh menciptakan pendekar muda seperti Arya, Turangga dan nyimas Lirih.


Umur arya dan Turangga memang tidak terpaut jauh, selisihnya hanya beberapa bulan saja. Dan sekarang umur meraka hampir 17 tahun. Badan mereka terlihat kekar dan kuat berkat tempaan dan latihan fisik dari juragan Subali. Sebaliknya nyimas lirih, dia menjadi seorang gadis yang cantik jelita dengan mata yang indah dan bertubuhkan sintal dengan payudara yang membuat jantung orang berdegup kencang.


Nampak hari itu ketiganya sedang berlatih silat menggunakan ilmu pedang. Seperti biasa, mereka berlatih dihalaman belakang rumah. Terlihat gerakan mereka bertiga sangat cepat, berirama dan bergerak bersama-sama. Suara angin yang terbelah atau tertusuk menimbulkan suara yang berdesing tajam disertai gelombang dingin yang mampuh merusak konsentrasi lawan.


Hingga pada suatu, saat mendadak terdengar suara orang tertawa... menggema keseluruh halaman belakang rumah juragan Subali.


Sebelum mereka bertiga sempat sadar, sesosok bayangan berkelebat diudara dan langsung menyerang mereka bertiga.


Karena serangan sibayangan hitam itu mendadak dan cepat, tentu saja ketiganya kaget bukan kepalang. Namun tetap saja dengan sigap dan replek, mereka berhasil menghindar dan menakis serangkaian serangan sibayangan hitam itu.


"Trang-trang-trang! Cringgg... trang!"


Terdengar suara dentangan senjata tajam yang saling beradu. Bunga api berpijar-pijar, mengisaratkan bahwa benturan senjata mengandung tenaga yang sangat kuat.


Terlihat Arya, Turangga dan nyimas Lirih mundur beberapa langkah kebelakang. Begitupun sebaliknya, musuhnyapun ikut mundur setelah mendapatkan seranganya gagal semua. Terus berdiri dengan golok dilanggar.


"Siapaka kau?"


Arya membentak dengan penuh kemarahan, namun kewaspadaannyapun ikut ditingkatkan, matanya menatap tajam.. kearah orang yang barusan menyerang.


Dia sadar, kekuatan orang itu berada beberapa tingkat diatasnya.. mungkin sudah berada ditingkat kelas satu atau tingkat Wiguna.


Nampak jelas, kini dihadapan mereka berdiri seorang gagah, dengan muka tertutup caping bambu yang lebar


.


Dengan suara mendesis, orang tersebut langsung menjawab.


"Beberapa minggu yang lalu, kau membuat anak buah ku kocar-kacir dan beberapa orang terluka hingga binasa..."


"Oh, jadi kau pimpinan perampok itu? Bagus! Ada pepatah mengatakan, bagai ular mendatangi penggebuk!"


"Justru sebaliknya, hari ini kau akan ku kirim keneraka untuk menemui anak buah ku. Haha..."


"Hh! Kita lihat saja, siapa sebenarnya yang akan menyusul anak buahmu itu. Aku beriga atau Kau?"


Orang itu hanya menyeringai, lalu memasang kuda-kuda yang kokoh. Sedang golok ditanganya berdengung-dengung entah kekuatan apa yang dikeluarkanya.


Setelah mengeluarkan peringatan, siCaping hitam lalu kembali menyerang dengan sambaran golok ditanganya. Terdengar suara mengaum ketika golong membelah angin mengarah Arya.


"Jurus, Harimau Mengaum..."


Arya yang sadar kalah dalam tenaga dalam, sontak saja berkelit. Dia tidak mau beradu tenaga dalam melalui pedang untuk yang kedua kalinya.


Setelah dia berhasil berkelit, dengan satu tusukan cepat dia berhasil membalas serangan.


"Haha... bagus! Jurus yang sempurna, tapi sayang gerakanmu terlalu lemah dan lambat..."


"Hhh!"


Arya hanya mendengus, namun tak sempat menjawab sebab golok lawan sudah berkelebatan menyerang beberapa bagian tubuh, yang jikalau kena tentu saja akan mengundang kematian.


Dengan cepat ia menghindar, kekiri dan kekanan badanya dengan lentur seperti Pohon Bambu Tertiup Angin.


"Jurus Daun Berguguran, ya? Bagus! Aku salut, tapi sayang jurus Jurus Daun Berguguran tidak akan berguna jika mengahadapi serangan ini. Hayya..."


Mendadak saja gerakan siCaping hitam melambat penuh dengan tenaga dalam, golok ditanganya semakin mendengung.. dan seketika itu pula, ada gelombang kuat menekan gerakan Arya.


Hingga pada akhirnya gerakan Arya terasa berat, sampai pada akhirnya mendadak saja pergelangan Arya berhasil ditepuk oleh pinggir golok siCaping Hitam. Namun sudah cukup membuat pedang Arya terjatuh dari genggamanya.


Beruntung, sebelum siCaping Hitam kembali menyerang Turangga dan nyimas Lirih, dengan cepat memberikan pertolongan.. bahkan keduanya langsung menyerang lawan dengan beberapa serangan.


"Haha... bagus-bagus! Rupanya kalian setia kawan juga..." Seru siCaping Hitam sambil memutarkan golok menyambuti serangan-serangan Turangga dan nyimas Lirih. Kembali terdengan suara berkerontangan sangat cepat ketika sejata meraka beradu.


"Harimau Kelaparan..."


Terdengar suara mengaum-ngaum, ketika siCaping hitam membalas serangan. Goloknya kembali berkelebatan, menyerang balik Turangga dan nyimas Lirih hingga keduanya terdesak mundur kebelakang.


Sebelum mereka berhasil keluar dari tekanan, pedang mereka sudah terlempar keudara dengan masing-masing tanganya kesemutan.


"Nah, sudah saatnya kalian berdua menyusul anak buahku kealam baka. Haha..."


"Jurus Harimau Memamangsa..." Kembali sicaping Hitam berteriak, sedangkan goloknya mendadak berkilauan mengurung tubuh kedua pemuda-pemudi itu.


Yang bisa mereka lakukan adalah memejamkan matanya, karena sadar akan datangnya kematian. Namun mendadak saja, tekanan hawa yang dasyat mehilang begitu saja. Ketika keduanya membukakan mata, terlihat siCaping hitam sudah menyarungkan goloknya, dan Caping yang menutupinya sudah dibuka.


"Ramaguru..."


"Guru..."


Arya, Turangga dan nyimas Lirih berseru, saat melihat siapa yang menyerangnya barusan.


Yang ternyata bukan lain adalah gurunya sendiri, pantas saja kekuatanya sangat hebat dan dapat mengenali semua jurus yang dikeluarkan mereka bertiga.