
“Heah! Heaahh! Heaahh…!”
Terdengar teriakan-teriakan orang yang sedang memacu kuda dikaki gunung dipinggir hutan Genggaong. Suara ladam yang ditimbulkan terdengar bergemuruh disertai debu yang berterbangan laksana awan pekat.
Nampak beberapa orang sedang melarikan masing-masing kudanya dengan kencang. Satu diantaranya yang paling depan sebagai pimpinanya mengenakan jubah dan pakean serba hitam dengan sebuah golok terselip dipinggangnya.
Sukar diukur berapa usia orang tersebut, karena wajahnya mengenakan topeng yang terbuat dari batu hitam. Namun jika melihat perawakanya yang tegap, usianya mungkin belum terlalu tua.
Sedangkan yang lainya tak kalah angker, bahkan terlihat bengis dan menakutkan dengan senjata sebuah golok besar yang terselip di masing-masing pinggangnya. Namun diantaranya ada pula yang membawa tombak dan pedang.
"Hia-hia!"
SiTopeng batu berteriak-teriak lagi, matanya yang tajam menatap semak belukar yang bergoyang-goyang seperti tesebak binatang atau mungkin seseorang yang sedang berlari.
"Haha! Mau lari kemana, kau Ratnainten?! Meskipun berlari keatas langit menyelam kedasar segara tak mungkin luput dari penglihatan ku. Haha..! Ayo.. lebih baik kau menyerah, lalu ikut aku pulang kemarkas...” selang beberapa saat setelah tiba disuatu jalan sekonyong-konyong SiTopengbatu mengenjotkan tubuhnya keudara, ia melompat dari punggung kuda yang masih berlari.
"Plak-plak-plak..." Wuss... “Heup! Hiaahh..."
Beberapa kali ujung kakinya, menyentuh semak dan dedaunan yang berada disekitarnya.. membuat badanya membal lagi dan seperti terlontar keudara. Dalam beberarapa lompatan, sitopeng batu sudah jauh meninggalkan rekan-rekanya.
"Bligh!" "Set!"
Dilain waktu, dengan gerakan enteng, sitopeng batu sudah mendaratkan kedua kakinya ditempat rimbun dari pepohonan tinggi besar. Lalu selang tak seberapa lama, mendadak semak terkuak dan munculah seorang perempuan muda sekitar 30 tahunan sambil menggendong seorang anak lelaki yang berusia lima taun.
"Aih, Kau.. kau..." Siperempuan muda tampak terkejut, ekspresi wajahnya menyiratkan rasa ketakutan.
"Hahaha.. Lama tak berjumpa, kau semakin cantik Ratnainten. Haha..."
"Jangan kurang ajar kau Topeng batu. Jika ketuamu tahu, nyawa mu pasti melayang..."
"Hahaha!" Disambut gelak tawa sitopeng batu. "Jika kau mendengar perintah ketua, kau mungkin tidak akan percaya...."
"Memangnya apa yang diperintahkan ketuamu itu?"
"Aku disuruh menangkapmu hidup atau mati. Jadi nasibmu itu sudah diserahkan sepenuhnya kepadaku. Hahaha!"
"Huh! Ketuamu itu memang iblis..."
"Ibu aku takut..." siAnak dalam gendongan meronta dan berteriak ketakutan.
"Tenang anaku, mereka tidak mungkin menyakiti kita..."
"Betul raden, paman tidak akan menyakitimu. Hanya saja, kelakuan ibumu itu sungguh tidak patut dicontoh. Meninggalkan bapakmu dipuncak gunung..."
"Kau jangan bicara sembarangan, Topeng Batu!"
"Bukti dan paktanya memang begitu, kau meninggalkan ketua dipuncak gunung Manglayang..."
"Tentu saja aku pergi karena muak dengan kelakuanya itu yang penuh dengan ambisi dan haus akan darah..."
"Jangan berkata begitu, sebenarnya semua yang dilakukan ketua hanya untuk membahagiakan anak dan istrinya. Tapi ada apa dengan pemikiran mu itu, kau malah pergi sambil membawa kabur siraden..."
"Cuih! Membahagiakan apa? Yang jelas dia itu bukan manusia..."
"Hhh! Benar kata ketua, kau perempuan yang tidak tahu diuntung dan keras kepala. Dengarkan saat ini Tiga Pilar Gerombolan lainya sedang mencari keberadaanmu. Jika kau bertemu dengan mereka, belum tentu nasibmu sebaik ini. Sekarang ayo! Kau ikut aku pulang, dengan begitu mungkin ketua akan mengampunimu. Setidaknya kau tidak akan dihukum mati..."
"Hhh! Sudah kukatakan, lebih baik aku mati daripada harus pulang kePuncak gunung Manglayang! Katakan kepada ketuamu itu, jangan berharap siRatnainten bisa kembali sebelum dia menginsafi apa yang dilakukanya selama ini..."
"Hhh! Kau benar-benar keras kepala! Baiklah kalau itu yang kau inginkan..."
Sebelum kata-kata siTopeng batu selesai, sekonyong-konyong dari pelbagai arah muncul beberapa orang lainya. Mereka adalah orang-orang bawahanya yang dibawa tadi oleh sitopeng batu.
"Saehu! Kenapa kau masih berbasa-basi?"
"Betul, sudah berbulan-bulan kita mencarinya, lalu mengapa masih dibiarkan hidup?"
"Tidak, lebih baik kita nikmati dulu kehangatan tubuhnya yang molek itu. Setelah itu kita bunuh. Haha!"
"Setuju... setuju..." Seru pengikutnya beramai-ramai.
"Diam!"
Bentak siTopengbatu mengandung tenaga dalam. "Biar aku coba sekali lagi membujuknya, jika kekeh tidak mau pulang ke markas maka nasibnya kuserahkan pada kalian semua..."
"Siap!" Sahut beberapa pengikutnya bersemangat.
"Bagaimana menurutmu, Ratnainten? Apakah kau tetap pada pendirianmu itu atau binasa ditangan mereka setelah diperkosa beramai-ramai?"
"Bedebah kau topengbatu" Lebih baik aku mati bersama-sama siRaden..."
"Hm. Kalau begitu jangan salahkan aku bertindak kasar terhadapmu. Anak-anak, bawa siRaden kemari setelah itu lakukan apa yang kau mau..."
"Horee...!!"
Beberapa orang langsung berkelebat, serta merta mengambil anak yang baru berusia lima tahun itu.
"Jangan, kau ganggu aku!" SiAnak berteriak marah, sambil memukul dua orang yang menyergapnya.
"Buk! Buk!"
"Ah..."
"Aduh!"
Dua orang itu langsung berteriak kesakitan, mana kala iga dan tulang dadanya langsung remuk terkena pukulan sianak.
Terlihat masing-masing badanyapun mental kebelakang hingga hilang diantara semak belukar. Hanya lamat-lamat terdengar rintihanya menahan sakit.
"A.. apa? Kau.. ternyata..?"
"Lebih baik, tinggalkan kami berdua. Katakan kepada ketua kalian, jangan lagi pedulikan kami ibu dan anak..." kata Ratnainten sambil menatap tajam siTopengbatu.
"Haha!"
siTopengbatu hanya tertawa dingin, sedangkan yang lainya terdiam baru sadar jika anak yang dibawa oleh perempuan itu bukan anak sembarangan. Melainkan ghanapurusa alias manusia setengah dewa. Suatu ras mahluk yang tersisa dan hampir punah. Derajatnya paling tinggi, diantara semua mahluk yang berada diatas muka bumi. Bahkan, Kalamercu (manusi setengah siluman) pun tidak berani main-main jika berhadapan dengan Ghapurusa seperti ini.
"Benar kata ketua, jika berhadapan dengan anak ini kita semua harus berhati-hati. Hei, kalian semua!! Kenapa masih, bengong? Apakah kau sudah lupa perintah ketua?! Jika melawan bunuh mereka berdua, cepat!"
"I.. iya..."
Tiga orang langsung berkelebat, dengan senjata yang dihunus dan langsung dilayangkan kearah kepala dan tubuh siAnak.
"Siut... gurilap..."
"Trang! Trang! Trang!!"
Tidak ayal lagi, tiga golok langsung kena tepat pada sasaran, menghantam kepala dan tubuh sianak, namun bukan main kagetnya sipara penyerang. Ternyata masing-masing goloknya tidak sanggup melukai sianak, seolah-olah seranganya itu meghantam benda keras sekeras besi.
"Buk! buk!"
Sebelum sadar apa yang terjadi, lagi-lagi sianak memukul sembarangan dan karena belum siap akibat kaget pukulan itu tentu saja langsung bersarang dimasing-masing tubuh mereka.
Akibatnya seperti tadi rekanya, tubuh mereka langsung terhempas ketanah, satu diantaranya dalam keadaan pecah batok kepalanya. Tenaga anak itu sungguh besar, meskipun sebatas kekuatan pisik belaka.
Melihat kejadian sepeti itu, para anggota Kelelawar Hitam menjadi pucat. Namun tidak dengan diTopengbatu, medadak saja dia mengeluarkan sesuatu dibalik jubahnya dan langsung berkata.
"Benar kata ketua, kau adalah anak titisan Gahapurusa! yang hanya akan lumpuh terhadap benda seperti ini. Haha..."