
"Jika begitu, biarkan aku bertiga yang akan menyelidikinya. Bahkan kalau ketemu aku tak akan segan-segan untuk membunuhnya..." Arya menjawab dengan berapi-api, sedikitpun tidak terlihat gentar.
"Lebih baik jangan raden, Paman percaya Raden mempunyai kanuragan tinggi tapi didalam hutan sana belum diketahui binatang apa sebenarnya yang sanggup memangsa harimau atau macan kumbang sebesar itu..."
"Sudahlah paman, jangan banyak bicara. Lebih baik kau antarkan saja aku kesebrang sana. Toh, jika ada apa-apa aku bisa berlari menyelamatkan diri..."
"Tapi jikalau terjadi sesuatu pada kalian bertiga pasti paman yang akan kena hukumanya..." mang Dinta sama keukeuhnya, hingga terus berdebat cukup lama dan alot. Tapi karena terus-terusan didesak melawan Arya bertiga, akhirnya kiDinta pun mengalah dan menyanggupi.
"Baiklan jika raden tidak bisa dilarang, namun izinkan paman untuk menunggu dipinggir sungai biar kalau ada apa-apa, raden bisa kembali menyebrang dengan cepat..."
"Nah begitu lebih baik paman, terimakasih..."
"Kalau begitu ayo naik, tapi sebaiknya biarkan kuda-kuda ini disini. Karena rakit ini tidak akan kuat membawa banyak beban.."
"Yaya... aku mengerti. Turangga, nyimas ayo..."
Lalu merekapun menambatkan kudanya masing-masing disebuah pohon besar. Tak lama merekapun sudah berlayar ditengah sungai.
"Turangga, bagaimapun juga kita harus berhasil berburu menjangan, setidaknya rusa atau kancil..."
"Iya kang, sudah lama aku pun tidak makan makanan yang enak. Mungkin semenjak kita berada didusun ini..." terdengar dua pemuda itu ngobrol, wajahnya terlihat semringah.
Karena sudah lama mereka tidak berburu dan makan daging yang enak. Bahkan beberapa bulan yang lalu mengurung diri dengan alasan mendalami ilmu pernapasan.
Tak lama setelah itu, akhirnya mereka tiba disebrang sungai. Lalu keduanya turun dan kembali terdengar kiDinta memperingati.
"Kalau ada apa-apa, segeralah kemari. Paman akan menunggu disini..."
"Iya terimakasih..." jawab Arya sambil tersenyum.
"Teman-teman, ayo kita masuk kedalam hutan..."
"Ya..."
Sahut keduanya serempak, lalu merekapun berjalan menyusuri jalan setapak yang kiri kananya dipenuhi semak belukar.
Udara siang itu terasa sejuk, burung terdengar bersahutan sesekali terdengar surili atau kera sambil berloncatan diatas pohon.
"Nyimas apa kau tau sebelahmana biasanya menjangan sering berkumpul?"
"Kalau beberapa tahun yang lalu, dipinggir hutanpun sering terlihat, kang. Entahlah kalau sekarang, namun dulu aku pernah diajak bermain satu kali oleh Ramaguru..."
"Kemana?"
"Kesuatu tempat yang banyak kijang dan menjanganya. Kalau tidak salah dibawah bukit besar itu! Ya, disana ada sebuah danau dan tegal dulu disana banyak binatang burunanya..."
"Oh iya, sungguh menarik. Kalau begitu, ayo.."
Maka tak ayal lagi, mereka pun berkelebat lari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Tak berselang lama, merekapun tiba ditempat yang dituju. Nampak sebuah danau yang airnya jernih terlihat tak jauh dari bukit yang menjulang tinggi.
Bukit itu tidak lain hanyalah sebuah batu cadas, yang sangat besar dan menjulang tinggi ke angkasa. Berbeda dengan bukit Kalapitung, yang berada disebrang sana. Yang dulu oleh nyimas Lirih dan Lingga Paksi kunjungi.
"Mana nyimas, kok tidak kelihatan apa-apa?" terdengar Arya berkata sambil mengedarkan pandanganya ke tegalan jukut dan danau sekitarnya.
"Iya sungguh aneh, kang. Disini kok jadi sepi begini, ya?"
"Mungkinkah mereka ketakutan oleh binatang buas yang disebut siPaman Dinta tadi?"
"Mungkin saja kang, itu bisa jadi..."
Karena disitu tidak ada binatang buruan maka mereka terus berjalan, anehnya mereka tidak melihat binatang tanah. Yang ada hanya burung dan binatang pohon seperti kera, kerud atau sejenisnya.
Hingga pada suatu tempat mereka merandek, tatkala terdengar suara rintihan dari seseorang. Arya, Turangga dan nyimas lirih saling berpandangan. Lalu memusatkan masing-masing pendengaranya dan setelah mendapatkan dari mana arah sumber suara lalu merekapun berjalan mendekatinya.
Tak lama terlihat disebrang jalan ada beberapa orang yang sedang duduk berkumpul sambil membungkukan badan. Sepintas lalu mereka terlihat sedang mengerubungi sesuatu. Dan terdengar suara bergemerutuk, seperti sedang makan dan mengunyah sesuatu. Setelah dihitung-hitung ternyata mereka ada sekitar lima orang.
"Hey, siapa disitu?" Arya bertanya penasaran.
"Grrgh..." orang itu hanya mengeluarkan suara mengerang. Lalu tanpa peringatan, satu diantaranya mendadak meraung dan menerjang Arya yang paling depan.
Sepintas terlihat, mata orang itu merah menyala. Mulutnya belepotan darah segar degan gigi-giginya yang hitam penuh dengan Jaram.
"Apa-apaan?"
Arya kaget namun dengen reflek, dia mengeluarkan tinjunya yang disertai tenaga dalam berbobot puluhan kati.
"Buk!" Dada orang itu terhantam, namun terlihat hanya terjengkang sesaat kemudian menerjang lagi.
"Busyet! Apa ini?" Serentak Arya mundur, sedangkan nyimas Lirih dan Turangga bersiap-siap.
"Graurgh..." Terdengar hampir kelima orang itu meraung dan langsung menerjang Arya, Turangga dan nyimas Lirih.
Arya, Turangga dan nyimas Lirih dengan cepat menghindar, dan langsung mengirim balasan berupa tinju dan tendangan. Namun ternyata kelima orang itu yang lebih mirip mayat hidup kuat bukan main, setiap kena tendangan ataupun pukulan hanya bergeming sedikit.
"Mundur...!"
Arya memberi perintah, dengan cepat dia pergi. Aneh, kelima Buganghapa itu tidak mengejar. Gerakan mereka memang berat serta kaku, namun jika dipukul seperti tidak merasakan apa-apa. Padahal bobot pukulanya mampuh menghancurkan batu besar.
"Nyimas, ternyata yang membunuhi hewan dihutan ini mahluk itu?"
"Iya kang, kulihat tadi mereka sedang makan menjangan yang kita cari..."
"Sebenarnya mahluk apa tadi? Tidak mungkin manusia seperti itu..." Turangga bertanya penuh keheranan.
"Entahlah, namun mereka lebih mirip mayat hidup. Dulu aku pernah melihat mahluk ini disuatu tempat..."
"Dimana?"
"Di... sudahlah nanti saja saya ceritakan. Sekarang lebih baik kita pulang dan melapor keRama Subali..."
"Ya, ya... begitu lebih baik. Ayo..."
Maka merekapun bergegas pergi, meninggalkan tempat itu. Namun betapa kagetnya, ketika dipinggir sungai mang Dinta sudah tidak terlihat bahkan rakitnya pun sudah raib.
Yang berada disitu hanyalah beberapa ekor serigala hitam yang langsung menyeringai kearahnya, memperlihatkan deretan gigi dan taringnya yang tajam. Terlihat air liur menetes-netes, dengan mata yang meyala-nyala penuh dengan nafsu membunuh.
"A... apa itu?"
"Serigala..."
"Iya tau, tapi mengapa begitu menyeramkan? Mungkinkan seriga-serigala itupun sama seperti manusia-masusia tadi?"
"Entahlah lebih baik kita harus berhati-hati dan waspada..."
"Iya kang..."
"Tapi kemanakah mang Dinta? Jangan-jangan sudah dimangsa?" mendadak Turangga bertanya.
"Tidak mungkin! Kalau sudah dimangsa, tentu mulut serigala-serigala itu masih mengeluarkan darah dan lihatlah.. rakitnya pun ikut raib. Ini menandakan mang dinta sudah pergi..."