
"Jika iya sedang apa?"
"Sudahlah nyimas, ayo. Lebih baik kita lihat. Siapa tahu itu memang mang Dinta yang sedang mengerjakan sesuatu..."
"Iya kang..."
Lalu mereka bertigapun berjalan mendekati arah datangnya suara, semakin dekat langkah kakinya semakin diperingan dan akhirnya merekapun tiba.
Terlihat seseorang sedang membungkuk dan membelakangi. Sedangkan tanganya lagi asik memotong rumput, dan langsung dimasukan kedalam salang.
"Hey, siapa disitu?"
Terlihat orang yang sedang membungkuk itu terkejut, lalu dengan perlahan berdiri dan membalikan badan.
"Kang Aling? Kau rupanya, lagi mengerjakan apa?" terdengar nyimas Lirih langsung bertanya.
"Aku.. sedang memotong rumput nden, di tegal sana kebetulan sudah tinggal sedikit..." Jawab siPemuda itu sambil membungkukan badanya memberi hormat.
"Tegal sebegitu luasnya, masakan bisa kehabisan rumput?" sahut nyimas Lirih penuh keheranan.
"Itu... anu... nden..."
"Sudahlah nyimas, jangan bertele-tele. Heh, Aling, apa kau melihat mang Dinta?"
"Mang Dinta?"
"Ya! Apa tadi kau melihatnya..."
"Kalau tidak salah, tadi dia turun dari rakit lalu pergi dengan tergesa-gesa..."
"Oh iya? Lalu kemana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu..."
"Baguslah kalau begitu! Turangga, nyimas ayo, kita harus bergegas..."
"Iya kang..."
"Oh iya, aling. Dengarkan aku, jika kau masih menyayangi nyawamu menjauhlah dari aliran sungai apa lagi yang menuju kehutan Kalajongrang..."
"Kenapa? Memangnya ada apa dengan aliran sungai?"
"Sudah jangan banyak bicara! Ikuti saja perkataanku..."
"Baiklah..."
"Nyimas, Turangga ayo kita pergi..."
"Hm-gh..."
Lalu mereka bertigapun pergi dengan cepat, sementara Lingga Paksi hanya menatap ketiga pemuda-pemudi tersebut.
Tidak lama setelah Arya, Turangga, dan nyimas Lirih pergi. Terdengar dibaledesa suara kentungan dibunyikan, suaranya ditihtirkan tanda ada sesuatu yang tidak beres.
Lingga Paksi dengan cepat membereskan pekerjaanya, nampak sepasang tangannya seperti berbayang saking cepatnya pergerakan pemuda tersebut. Hanya beberapa menit saja, salang sudah penuh oleh rumput hijau. Dan setelah itu, iapun lalu bergegas pulang ke istal sambil memikul salang yang sudah penuh dengan rumput.
"Aling, kau dengar suara kentungan itu?" terdengar mang Odon langsung bertanya.
"Tentu saja dengar mang, memangnya kenapa?"
"Itu tanda bahaya, kira-kira menurutmu ada apalagi, ya?"
"Mana ku tahu, mang. Akukan baru tiba..."
"Aling, kau jagalah istal ini. Aku mau kesana untuk menyelidiki, ada apa sebenarnya..."
"Baiklah..."
Tepat setelah mang Odon pergi, biIting dan Rastiti ikut keluar. Bahkan siArsanpun turut pula, dan langsung berdiri ditepas rumah.
"Aling ada apakah diluar sana?"
"Tidak tahu bi, namun mungkin ada sesuatu yang tidak beres. Kata mang odon, lebih baik bibi sekeluarga diam disini dan saya disuruh menjaga istal..." Jawab Lingga Paksi seadanya.
Sedangkan mulutnya menjawab, sementara tanganya terus bekerja membereskan rumput dipindahkan dari salang ke penampungan rumput.
"Mungkinkah ada perampokan lagi, kang Aling?"
"Entahlah nyi, yang jelas mungkin ada bahaya..."
"Nyai jadi takut, kang..."
"Kalu begitu diam disitu..."
Melihat kejadian tersebut Biiting hanya menggelengkan kepala, begitu pula dengan siArsan yang menjadi kakaknya tidak bisa mencegah. Mereka tahu benar bagaimana sikap Rastiti yang semakin lama semakin lengket terhadap pemuda tanggung itu.
__'Jangan terlalu baik terhadap siRastiti, Aling.'__ Terdengar suatu ketika mang Odon menasihati kepada Lingga Paksi
. __'Bagaimanapun juga kau dan siRastiti berlainan jenis dan bertambah besar pula. Aku takut suatu hari nanti dia akan patah hati...'__
__'Ah, mamang ini bicara apa? Aku tidak mengerti...'-- jawab Lingga Paksi sambil memandangi kuda yang saat itu sedang berlarian dipadang rumput yang berada diujung desa.
__'Hhh...'__ mang Odon menghela napas, __'Kulihat kau bukan orang biasa, Aling. Wajah serta kepribadianmu sungguh berbeda dari rakyat kebanyakan. Aku merasakan sesuatu yang istimewa terhadap dirimu beserta ibumu itu. Dan aku yakin, suatu hari nanti kau akan pergi meninggalkan desa ini. Oleh karena itu mamang khawatir nantinya kepergian mu itu akan mengakibatkan patah hati terhadap siRastiti...'__
__'Terus apa yang harus kulakukan, mamang?'__
__'Jagalah jarak dengan siRastiti, jangan terlalu dekat apa lagi memanjakanya. Karena sipat baik mu itu akan berdampak kurang baik buat siRastiti..'__
__'Baiklah paman, aku mengerti...'__ kata Lingga Paksi ketika itu sambil tersenyum.
Meskipun Lingga Paksi berusaha menjaga jarak, dan menuruti apa yang mang Odon katakan, namun nyiRastiti tetap aja kolokan. Seperti hari itu dengan sangat manja Rastiti menggoda.
"Sini biar nyai bantu, kang aling..."
"Sudah nyi tidak usah, lebih baik diam disitu biar akang yang bekerja. Arsan kemarilah bantu aku merapihkan rumput.."
"Huh! Kang Aling ini aneh, kenapa belakangan ini sering menghindar dari ku. Apa kang aling masih marah terhadap ku?"
"Marah? Tidak nyi, hanya saja kau perempuan lebih baik menunggu disana, sementara aku dan kakakmu akan bekerja..."
"Iya Rastiti, ayo kembali kesana. Biar akang dan siAling yang yang mengerjakannya..." terdengar siArsan ikut bicara, sambil mengambil rumput yang sudah dipegang oleh adiknya.
"Huh! Kalian berdua sungguh menyebalkan! Baiklah jika tidak ingin nyai bantu..."
Lalu setelah membanting kaki, Rastiti pun pergi menemui ibunya kembali. Tentu saja sambil mencak-mencak panjang pendek.
Sementara siAling dan siArsan bekerja, suara kentungan yang tadi dibunyikan sudah berhenti. Mungkin dibaledesa orang-orang sudah berkumpul untuk mendengarkan pengumuman.
"Sudahlah Rastiti, jangan terus cemberut begitu. Lebih baik, kau duduk disini..." ibunya terdengar menghibur anak gadisnya itu.
"Tapi aku sebal mak, sudah beberapa hari ini kang aling seperti sedang menjauhi ku..."
"Mungkin dia sedang ada masalah, anaku..."
"Tapi biasanya dia selalu terbuka, mak. Entahlah aku juga jadi heran. Ataukah ada hubunganya dengan kang Arsan yang berhenti menjadi kacung?"
"Entahlah Rastiti, mungkin hanya dia sendiri yang tahu alasanya..."
"Iya ma..."
Selang beberapa waktu terlihat mang odon pulang. Terlihat wajahnya muram seperti sedang ada yang dipikirkan.
"Kenapa muram begitu, Abahna?"
"Hh! Celaka, kau tahu mengapa dibaledesa kentungan dipukuli hingga babak belur?"☺
"Tidak tahu..."
"Kata tuwa kampung, saat ini desa kita sedang dalam bahaya..."
"Apakah akan diserang oleh para perampok lagi?"
"Lebih dari itu..."
"Lebih dari itu bagaimana?"
"Kata tuwa kampung, meskipun desa kita masih dalam tahap aman tapi dari mulai sekarang orang kampung sudah tidak diperkenankan pergi kehutan..."
"Memangnya ada apa?"
"Katanya sih, dihutan ada binatang buas yang berkeliaran. Terutama kau Rastiti, meskipun kau perempuan tapi kau terlalu berani sehingga sering membahayakan jiwa mu sendiri..."
"Ah, abah ini selalu saja aku yang jadi sasaran..."
"Lebih baik kau dengarkan perkataan abah mu itu, nyi..." terdengar Lingga Paksi ikut bicara.
"Iya deh, mulai saat ini aku tidak akan kemana-mana..." kembali Rastiti cemberut.
"Oh iya, mang. Hari sudah sore, aku mau pulang..."
"Iya baikklah, tapi kau harus berhati-hati dijalan..."
"Iya mang, terimakasih..."