Ghanapurusa

Ghanapurusa
Gerombolan Kelelawar Hitam



Disebuah puncak gunung Manglayang. Terlihat beberapa bangunan tua menjulang diantara pepohonan yang tinggi besar.


Disuatu ruangan yang cukup besar, terlihat beberapa orang sedang duduk di kursi kebesaran, yang lainya duduk berbaris dengan cara bersila.


Maka tak lama seseorang berkata dengan nada dingin dan menakutkan, terutama bagi orang-orang yang berada disitu.


"Siapa orangnya yang berani ikut campur kedalam urusan kita ini? Bahkan menghajar pilar ketiga hingga seperti ini Cepat jawab?!"


Hening sejenak, nyali semua orang ciut seketika.


Mereka semua hanya mampuh menundukan kepala, terutama empat orang yang kini duduk bersimpuh dihadapan siPimpinan. Sedangkan tak jauh dari mereka sesosok tubuh tergeletak tak berdaya.


Dialah siTopengbatu yang berhasil dibawa pulang oleh anak buahnya, setelah mengalami kekalahan telak oleh musuhnya yang bernama kiSubali.


"Cepat jawab?!"


Kembali sipimpinan membentak, sepasang matanya menyorotkan kekejaman tak terkira.


Empat orang yang duduk paling depan seketika itu juga langsung menggigil ketakutan. Ia tahu pimpinannya sangat kejam dan tak berbelas kasihan.


"Tuan, dia... dia... bernama ki.. ki Subali...."


"KiSubali kamu bilang?"


"I.. iya tuan. Dia... Dia mengaku sebagai peteran senapati kerajaan Sunda..."


"Peteran senapati kerajaan Sunda?"


"Be... betul tuan..."


"Hmm... Lalu mengapa kau lantas melarikan diri?"


"Hamba... hamba tidak berani, tuan. hamba.. hamba hanya ingin menyelamatkan Pilar Ketiga yang terluka parah...”


"Hm, lalu apakah dengan tindakan mu itu siTopengbatu bisa terselamatkan?"


"Hamba... hamba tidak berani tuan. Hamba mohon kebijaksanaanya..."


"Hm, baiklah. Berapa orang yang tersisa?"


"Hanya... hanya... kami berempat..."


"Bagus. Kau ku beri kesempatan hidup, namun kau harus tetap menjalani hukuman sebagai Buganghapa..."


"Ta.. tapi..."


"Diam! Sekarang minumlah, atau kalian akan mati ditangan ku..."


"Ba.. baik..."


"Tidak! Lebih baik aku mati. Hup..."


"Iya, aku juga lebih baik binasa dari pada menjadi Buganghapa.."


Sahut ketiga rekanya, sambil menghantamkan telapak tangan kemasing-masing kepalanya hingga pecah. Tinggalah satu orang lagi yang tadi berbicara, yang kini dalam keragu-raguan.


Buganghapa adalah dimana suatu kondisi manusia yang bergerak sebagai  mayat hidup. Dia akan selalu lapar dan akan kenyang setelah menyantap daging segar, dan dia akan mati terbakar jika terkena sengatan matahari.


Makanya, tiga orang tadi lebih rela mati seketika daripada hidup menjadi bugang hapa.


"Bagaimana? Apakah kau tetap pada pendirianmu?"


"Aku... aku... masih ingin hidup, tuan. Biarlah takdirku menjadi Buganghapa..?"


"Hm, hahaha... bagus! Bagus...! Nah, sekarang minumlah air dalam batok itu..."


"I.. iya, tuan..."


Dengan tangan yang menggelepar, ia raih batok yang berisi air berbau busuk itu. Selain busuk, terlihat warnanyapun merah kebiru-biruan.


Ya, itu memang darah, namun darah orang yang sudah menjadi bugang hapa.


"Argh... argh..."


Terdengar orang itu meraung kesakitan, sesaat setelah menengak habis darah dalam batok itu. Terlihat badanya berguling-guling menahan sakit yang tak terhingga.. bahkan terlihat seluruh uratnya tersembul keluar hingga menghijau.


"Hahaha...!!"


"Aurrgg... Sa..  sakit, ke.. tuan, sakit..."


Teriak orang itu sambil mengejang, nampak wajahnya semakin pucat! Bibirnya pun kini berubah menjadi kebiru-biruan tanda ia sudah keracunan.


"Aku... aku haus... aku haus... aku lapar! Arrrggghhh..."


"Kalau begitu, minumlah makanlah mayat temanmu yang tak berguna itu..." Jawab siTopeng kelelawar dengan nada dingin tak berperasaan.


"Ba.. baik! Te.. terima kasih tu..tuan. Arrghhh..."


"Kau boleh makan mayat itu hingga kenyang, tapi jangan dihadapanku. Pergilah! Dan makanlah ditempat barumu yang sudah disediakan..."


"Ba.. baik..." Sahut siBuganghapa penuh dengan kepatuhan.


"Pengawal..."


"Siap..."


"Bawa orang ini ke tempat karantina..."


"Baik..."


Lalu dengan langkah yang berat


orang itu pun dibawa pergi oleh beberapa pengawal.


Setelah ruangan dibersihkan, dan keadaan hening seperti sediakala terdengar seseorang yang berada disamping siTopeng kelelawar berbicara. Ia mengenakan Topeng dari besi, ialah pilar kesatu gerombolan yang terkenal dengan sebutan siTopeng besi.


“Ketua, lalu bagaimana dengan nasib pilar ketiga yang sudah seperti ini?”


“HM, hahaha!” terdengar siTopeng Kelelawar tertawa gelak-gelak. “Keadaanya sudah payah, kemungkinan besar ia akan akan segera mati. Namun sebelumnya ia pun akan kuubah sebagai Sandekala...”


“Lalu apa bedanya dengan buganghapa?”


“Jika buganghapa hidup sebagai mayat hidup, sedangkan Sandekala lebih unik, sebab ia akan memiliki daya ingat dan kesaktian seperti sebelumnya. Namun tetap saja ia akan mati terbakar jika terkena sinar mentari...”


“Oh, kalau begitu selamat ketua...”


“Hmm...” mendadak saja sikelelawar hitam berbangkit dari kursi kebesaranya. Lalu menghampiri sitopengbatu yang sudah sekarat bahkan mungkin sebagian nyawanya sudah pindah ke alam baka.


Setelah bersimpuh dihadapan Si topeng batu, secara perlahan ia buka topeng orang itu.. terlihat wajah yang sangat pucat, dengan bibir tergetar seperti ingin berbicara.


“Bagaimana keadaan mu, Topeng batu? Apakah kau bisa mendengar ku?”


“Sss... argh! Ke.. ket....”


“Sudah jangan memaksakan diri, saat ini lebih baik kau ku jadikan Bugangsenja atau sandekala. Sebab hanya inilah satu-satunya untuk menyelamatkan jiwa mu yang sudah diujung tanduk. Hahaha..."


“Te.. terima ka.. kasih...”


“Sret!”


Mendadak saja Si topeng Kelelawar menyayat pergelangan tangannya, hingga mengucurkan darah segar. Lalu ia masukan kedalam mulut siTopeng batu.


Tak lama kemudian, "Orrrgh...”


Terdengar siTopengbatu mengerang kesakitan, suaranya pun berubah kasar menggeram bak monster.


"Aaarg... sakit! Sakit....!"


Si topeng batu lalu bergulingan, menahan rasa sakit yang tidak terkira. Dan terlihat oleh semua orang sekujur tubuh siTopeng batu, dipenuhi urat yang membiru dan membesar.


“Haha! Mulai saat ini, kau kuberi nama siSandekala. Kau akan binasa jika terkena sinar matahari. Jadi ingatlah akan hal itu. Apa kau mengerti..."


"Mengerti ketua..."


Sahut si topeng batu, yang kini sudah sembuh namun dengan kondisi tubuh yang menyeramkan.


“Nah sekarang pergilah! Balaskan dendamu kepada orang yang telah melukaimu, tapi kau harus ingat! Bahwa hidupmu hanya dalam kegelapan malam, jika tidak kau akan hangus terbakar...”


“Ba.. baik ketua....”


Maka setelah itu, siSandekala pun keluar dengan cepat secara terbang, kekuatannya pun kini jauh lebih hebat dari sebelum ia terluka.


Nampak diantara remangnya malam, sesosok manusia menyeramkan berlari cepat kearah timur. Dengan hasrat membunuh dan balas dendam yang membara.


Sementara itu, didalam ruangan gerombolan Kelelawar Hitam. Terdengar siTopeng besi bertkata.


“Ketua! Selamat, atas keberhasilan ilmu ketua....”


“Hmm... ya,ya. Terimakasih Topeng besi dan sekarang lihatlah apa yang akan ku pertontonkan kepada kalian semua...”


“Baik...”


Mendadak saja, mata siTopeng kelelawar menyorotkan Seuatu sinar kemerahan, dan menabrak diding besar dalam ruangan itu.


Maka sekonyong-konypong dalam diding besar itu nampak suatu gambar bergerak tak ubahnya seperti layar tancap. Yang diproyeksikan dari kedua mata siTopengkelelawar Hitam.


“Dengan ilmu sorot kelong ku, maka semua tindakan yang akan dilakukan oleh sisandekala akan terlihat disini....”


“Sungguh suatu ilmu yang sudah sangat langka, ketua....”


“Hahaha...!”***