Ghanapurusa

Ghanapurusa
Pencarian.



"Oh ya, memangnya kenapa aku harus tidak mau?"


"Pokoknya akang jangan mau..." Berbicara sampai disitu, terlihat Rastiti cemberut sambil


duduk disamping siAling.


"Apa kau takut tak bertemu dengan ku lagi?"


"Apa...? Huh! Tidak usah, ya..." Sahut Rastiti sambil membanting kaki.


"Lalu kenapa kau melarangku?"


"Aku... aku hanya ingin memberi tahu saja, bahwa mengacungi nden Lirih sangatlah berbeda dengan yang dulu..."


"Oh iya? Akang kira nyai takut tidak dapat bertemu dengan akang lagi..."


"Huh! Enak saja..."


siAling tertawa, sebaliknya Rastiti semakin cemberut dan beberapa kali ia membanting-bantingkan kakinya.


"Dengarkan aku kang, bukanya nyai melarang-larang. Namun lihatlah, ditubuh kang Arsan banyak luka bekas cambukan. Itu mengapa kang Arsan ingin berhenti bekerja. Karena dia sudah tidak kuat akan hinaan dan siksaan yang kerap kali dilakukan oleh ketiga orang itu. Terutama den Arya..." Lingga Paksi tidak menjawab, matanya berkedap-kedip melihat dan mendengar anak perempuan itu nyerocos berbicara.


"Bukankah Akang sendiri pernah melihat dan ikut mengobati luka yang diderita oleh kakak saya? Dengar kang, terus terang saja aku takut jika hal yang sama terjadi lagi pada diri akang..."


"Terus menurutmu akang harus bagaimana?"


"Tolak saja..."


"Terus apakah orang lain yang harus menjadi korban berikutnya?" Rastiti terdiam. Wajahnya mulai terlihat muram.


"Jika kelakuan den Arya begitu, akang yakin semua orang tidak ada yang kuat bertahan lama. Dan pada akhirnya, kemungkinan besar kakak mu itu akan disuruh kembali sebagai kacung. Mungkin kali ini ia akan lebih berat dan menderita lagi. Nah, bagaimana menurutmu?" Rastiti terdiam dan mulai berpikir. Terlihat raut wajahnya makin muram, dan terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


"Dengarkan aku, nyi. Mereka bertiga itu butuh kacung untuk melayani kebutuhan mereka sehari-hari. Kalau akang tidak mau, mungkin akan ada korban berikutnya yang akan dialami seperti kakak mu itu..."


"Apa... apa kang aling mau mengorbankan diri?"


"Percayalah sama akang, akang tidak akan apa-apa. Toh akang sudah terbiasa..."


"Tapi aku takut..."


"Sudahlah, lebih baik kau pulang. Kasian orang tuamu, mungkin sekarang sedang mencari mu..."


Sekali ini Rastiti tidak menjawab, hanya saja sepasang bola matanya yang tadi berkaca-kaca kini sudah mulai pecah.


Lalu tanpa sepatah kata, Rastiti bangkit dan pergi tanpa pamit. Terdengar dari jarak cukup jauh isak tangis menyertai langkah kakinya.


Ya, begitulah Lingga Paksi yang merupakan turunan Gahanapurusa (Manusia Setengah Dewa). Meskipun rastiti sudah jauh dan tak terlihat, namun Lingga Paksi mampuh mendengar langkah kaki hingga detak jantungnya sampai beberapa ratus meter jauhnya.


Sejak kecil Lingga Paksi sudah mempunyai kemampuan mendengar, melihat dari jarak yang cukup jauh. Namun meskipun begitu, bukan suatu yang mudah untuk bisa mengendalikanya.


Beberapa tahun yang lalu, disuatu hari entah apa yang menjadi penyebabnya. Mendadak saja Lingga Paksi mendengar berbagai macam suara dikejauhan, suara-suara aneh. Suara-suara beribu-ribu orang yang berbicara, beratus-ratus serangga yang sedang terbang. Berpuluh-puluh suara binatang yang berbunyi didalam lubang-lubang cacing dan semut hingga membuatnya sakit sampai beberapa hari. Dan mulai sembuh setelah Ratnainten memberi petunjuk tentang cara dan bagai mana mengendalikanya.


Kini setelah dapat mengendalikanya, dengan mudah Lingga Paksi dapat mendengar langkah kaki hingga isak tangis gadis tanggung itu. Meskipun, ya.. dengan jarak yang mungkin orang biasa atau pendekar kelas satupun bisa mendengar.


Ia teringat akan pembicaraanya dengan mang Odon (ayahnya Rastiti) beberapa waktu yang lalu, agar supaya dirinya tidak terus memanjakan anaknya dan harus mulai menjaga jarak. Mang Odon takut, pada suatu hari nanti Rastiti akan patah hati dan sekarang seperti sudah terjadi.


Kini, sedikit demi sedikit Lingga Paksi mulai memahami dan menyadarinya. Jika dibiarkan berlarut-larut, maka Rastiti akan semakin lengket dan akan sulit untuk melepaskanya.


Meskipun dirinya belum dewasa benar, namun dia mulai bisa meraba-rana dalam hati tentang perasaan anak gadis tanggung itu terhadapnya.


"Maafkan akang, nyi. Mungkin inilah cara yang terbaik agar semuanya baik-baik saja..."


"Hey.. kemana siRastiti, Aling?" Mendadak saja terdengar ibunya berbicara dan sudah berdiri diambang pintu sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Loh, mengapa tergesa-gesa? Kan bisa berangkat bareng-bareng bersamamu, toh nanti juga kau akan kerumahnya..."


"Entahlah, mak..."


"Apakah kau yang menyuruhnya pergi duluan?" Lingga Paksi hanya menunduk tidak berkata apa-apa.


"Sudahlah jangan terlalu keras, bagaimanapun dia masih terlalu kecil untuk memahami maksud baikmu itu..."


"Iya mak..."


"Sekarang makanlah, sebelum pergi bekerja..."


"Iya mak terimakasih..."


Maka Lingga Paksi mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh ibunya, yakni beberapa umbi-umbian dan jagung rebus yang masih hangat.


"Oh iya, apa benar kau akan menerima apa yang akan dipinta juragan Subali?"


"Entahlah lah, mak. Sebenarnya akupun malas. Namun jika aku menolak, aku takut ada orang lain yang akan menjadi korban ketelengasan den Arya. Aku berpikir jika aku yang melakukanya, mungkin aku akan dapat mengatasi kesulitan yang diperintahkanya. Karena salah satunya, mungkin aku sudah terbiasa bekerja seperti itu..."


Ratnainten manggut-manggut, wajahnya terlihat berseri bangga akan sikap anaknya itu.


"Bagaimana menurutmu, mak? Apakah emak setuju jika aku kembali menjadi kacung?"


"Itu terserah kau saja, anaku. Hanya saja emak memperingatkan, selalulah berhati-hati..."


"Iya mak, terimakasih..."


Lalu setelah sarapan Lingga Paksi pun segera bergegas pergi keistal, untuk bekerja seperti biasanya yakni mengurus dan menggembala kuda ditegal siawat-awat.***


"Apa? Jadi sejak dari tadi dia belum kembali?"


"Iya aling. Apakah kau melihatnya? Sejak bangun tidur dia sudah tidak ada..."


"Oh iya..."


Lingga Paksi lalu menjelaskan tentang apa yang terjadi tadi pagi. Saat kedatangan Rastiti dan tentang apa yang menjadi permintaanya.


"Hhh! Dasar anak itu bikin susah saja..."


"Biarkan aku yang mencarinya, mang..."


"Kita cari sama-sama saja, bagaimana?"


"Mm... baiklahh..."


"Kita akan cari kemana, Ling?" siArsan langsung bertanya.


"Kita cari ke ngarai. Dekat hutan seribu bunga. Biasanya dia suka ke kesitu untuk mengambil beberapa tangkai bunga untuk dipetik..."


"Baiklah kalau begitu, ayo..."


Setelah berpesan kepada istrinya, akhirnya mang Odon pergi bersama ketempat yang dimaksud. Yakni diatas bukit, dimana biasanya Rastiti dan Lingga Paksi sering bermain disana kalau lagi banyak waktu.


Sesampainya disana langit sudah mulai memerah, Mang Odon dan siArsan mulai cemas apalagi disitu nampak sepi tidak ada siapa-siapa. Disitu hanyalah hamparan tanah yang berombak luas dengan beribu-ribu tanaman namun sayang saat itu belum saatnya berbunga.


"Rastiti..."


"Rastiti..."


Mang Odon dan siArsan mulai berteriak-teriak memanggil Rastiti. Begitu pun Lingga Paksi, beberapa kali pendengaranya dipasang untuk menangkap napas atau detak jantung manusia disekitar lembah seribu bunga.