Ghanapurusa

Ghanapurusa
siTopeng Perak



Hingga akhirnya ketika tiba disuatu tempat, terdengar suara isak tangis yang sangat samar. Beberapakali pendengaranya dipertajam hingga beberapa kali lipat, dan akhirnya iapun tahu bahwa sumber suara itu berasal dari dalam hutan. Bahkan tidak mustahil berasal dari Bukit Kalapitung, dimana disitu ada satu bangunan kuno yang hampir seluruhnya ditumbuhi semak belukar. dan ia masih ingat betul dulu ia pun pernah pergi kesana dengan nyimas Lirih.


Maka dengan cepat ia pun memburu kearah datangnya suara itu, makin lama suara itu semakin jelas.. dan benar saja. Sumber suara itu berasal dari bangunan kuno.


Malam itu langit diterangi bintang dan bulan separo, nampak pagoda kuno itu menjulang tinggi diantara pekatnya malam yang berdingding kehitaman. Sesekali dikejauhan langit menyala-nyala tanda sedang hujan badai.


Sebentaran Lingga Paksi menatap Puncak Pagoda Kuno itu, ia lalu memindahkan pandanganya kearah dua mayat yang tergeletak tidak jauh dari pintu masuk. Meskipun terlihat remang-remang namun ia sudah dapat mengira-ngira, bahwa yang mati itu adalah para penjaga bangunan kuno itu. Dalam hati Lingga Paksi menyayangkan atas kejadian meninggalnya kedua jagabaya tersebut.


Lalu mendadak saja terdengar lamat-lamat seseorang sedang berbicara penuh permohonan.


"Lepaskan aku pak tuwa, lepaskan..."


"Hm, haha! Akan kulepaskan setelah yang kutunggu datang kemari..." jawab suara lainya, terdengar samar-samar diatas bangunan kuno itu.


"Tapi siapakah yang tuan maksud?"


"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya!"


Kembali keadaan keadaan sepi, dengan perlahan tapi pasti Lingga Paksi mulai memasuki pintu bangunan itu.


Didalam nampak sepi, hanya ruangan kosong berbentuk bundar. Tak jauh dari situ anak tangga melingkar terbuat dari batu kali menuju lantai berikutnya.


Lingga Paksi lalu menaiki tangga tersebut, sementara itu suara berat lelaki kembali terdengar.


"Nah, firasatku mengatakan, dia sudah tiba ditempat ini. Hey.. anak muda! Kemarilah, aku berada diatasmu. Dipagoda tingkat kelima..."


Lingga Paksi hanya mampu menghela napas, dalam hati ia memuji akan ketajaman pirasat orang yang berada diatas pagoda tersebut. Dengan langkah tetap Lingga Paksi terus menaiki tangga batu berikutnya.


Namun baru saja tiba dilantai ketiga, mendadak saja terdengar suara erangan saling bersahutan, dan seketika itu pula terlihat beberapa Buganghapa berhamburan ke arahnnya.


Meskipun kaget karena diserang secara tiba-tiba, namun dengan mudah Lingga Paksi meninju dan menendangnya hingga para Buganghapa itu terlempar kembali kebelakang dan langsung menabrak diding bangunan itu hingga bergetar-getar hebat.


"Hahaha! Bagus.. bagus. Nah, ayo kemari anak muda. Jika kau menginginkan apa yang kau cari. Haha..."


Kembali suara laki-laki itu terdengar, lalu dengan segera Lingga Paksi beranjak, menuju kearah datangnya suara.


Maka dengan kecepatanya, ia pun kini sudah berada dilantai lima. Bukan main terkejutnya Lingga Paksi saat tiba ditempat yang dituju, nampak diterangi beberapa obor yang tertancap didingding, seorang lelaki berjubah hitam sedang duduk disebuah batu besar dengan santai.


Lelaki itu mengenakan topeng yang terbuka dari perak, tak jauh dari situ mendekam beberapa binatang buas yang sudah patuh akan perintahnya.


Yang paling mengagetkan Lingga Paksi ialah, diantara binatang buas itu terikat seorang gadis yang pakaianya sudah compang-camping. Gadis itu tidak lain Rastiti, dengan belenggu dan rantai yang mengikatnya.


"Kang.. kang.. Aling..."


"Rastiti..."


"Tolong aku, kang..."


"Haha! Nah sekarang, kalian berdua sudah bisa bertemu. Dan kau gadis sekarang kau tau siapa yang kutunggu itu, dan sebaliknya anak muda kini kau sudah bertemu dengan wanita yang kau cari..."


"Siapa kau?! Dan mengapa kau lakukan semua ini kepadanya?"


"Haha! Aku adalah utusan ayah mu. Aku salah satu tiga pilar Sekte Kelelawar. Sebut saja aku siTopeng Perak..."


"Apa yang kau inginkan? Cepat lepaskan gadis itu..."


"Tenang! Kau tidak usah resah dan gelisah. Gadismu itu tidak aku apa-apain, hanya saja dia hampir celaka jadi mangsa Buganghapa milik ayahmu itu. Beruntung aku datang dan berhasil menyelamatkanya..."


"Lalu mengapa kau mengikatnya dengan belenggu rantai?"


"Tentu saja agar dia tidak kabur dariku. Karna kalau kabur, maka dia akan menjadi mangsa prajurit ayahmu ini..."


"Sudah jangan banyak bicara! Sekarang, katakan apa yang kau inginkan?"


"Hm.. rupanya kau tak sabaran juga, ya? Baik, akan ku katakan, aku datang kesini disuruh oleh Ayahmu untuk menguji kekuatanmu..."


"Kekuatan apa?"


"Haha! Tak usah mengelak, toh dihadapanku kau tak bisa berbohong..."


"Lebih baik lepaskan siRastiti..."


Kembali Lingga Paksi membentak, tak tega dia melihat badan nyiRastiti yang lunglay seperti tak bertulang, pakainya hampir lepas semua memperlihatkan sebagian *********** yang menonjol keluar.


"Baik! Akan lepaskanlah. Tapi sebelumnya kau hadapi dulu para Buganghapa ciptaan ayah mu itu. Haha..." siTopeng Perak tertawa gelak-gelak, lalu setelah itu diapun menurunkan perintah kepada para Buganghapa dan binatang buas lainya yang sudah dibawah kendali nya.


"Graurgh.. Rauurr..."


Sontak saja para Buganghapa itu menjawab dengan gegap gempita, mereka semua mengeluarkan suara-suara yang mengerikan berupa erangan-erangan keras hingga menggema keseluruh hutan dan sekitarnya.


Tak lama dari itu mereka semua langsung bergerak, dengan mata yang menyala-nyala. Yang paling cepat pergerakanya adalah para serigala dan harimau.


Terlihat hampir lima ekor langsung menyergap, dengan moncong gigi taring yang sangat tajam. Tapi...


"Buk! Buk!"


Dengan mudah binatang-binatang itu disambut oleh tendangan dan pukulan, hingga kepalanya pecah terceray beray.


Kekuatan Lingga Paksi memang dasyat, dulu pernah ia pukulkan kesebongkah batu sebesar rumah, maka batu itu lansung pecah berkeping-keping.


Sejak dulu, Lingga Paksi memang bukanlah orang sembarangan, sejak lahir dia sudah mempunyai kekuatan Ghanapurusa. Beruntung beberapa tahun terakhir, Lingga Paksi mulai dididik ilmu silat dan belajar mengendalikan kekuatanya oleh ibunya.


Kini meskipun jarang dipakai untuk bertarung, namun sudah terbukti kehebatanya.


"Buk! Buk!"


Terdengar kembali suara pukulan yang mengena, sekali ini beberapa harimau langsung terjungkal dengan kepala pecah.


Hanya beberapa geprakan saja, belasan Buganghapa itu sudah banyak yang mati tak bergerak. Hingga akhirnya tiba giliran siTopeng Perak yang maju.


"Hmm, ternyata kau hebat juga. Benar kata ayahmu, selama ini kau pandai menyembunyikan diri. Hiaah..."


Mendadak saja siTopeng Perak melompat dari kursi batunya, Cakarnya yang berubah putih langsung bergerak kearah muka Lingga Paksi.


Namun Lingga Paksi dengan sigap berhasil mengelak, dan balas menyerang dengan tinjunya.


"Wuss..."


Pukulan itu tentu saja tak mengena, sebab dengan cepat siTopeng Perakpun menghindar. Dan satu tendangan menghantam kepala Lingga Paksi hingga terhempas menabrak tihang Hingg hancur.


Namun betapa kagetnya siTopeng Perak ketika Lingga Paksi bangkit dengan keadaan sehat, bahkan disertai degan pukulan dasyat ia kembali menyerang.


"Blarrr!!!"


Terdengar suara ledakan hebat, sedangkan dingding pagoda langsung jebol terkena pukulan Lingga Paksi. Bahkan terlihat dari jauh, Pagoda itu bergetar-getar seperti akan runtuh.


"Haha, hebat-hebat! Tugasku sudah selesai anak muda. Nah.. selamat berpisah, kelak kita akan berjumpa lagi. Haha..."


"Jangan kabur kau pengecut..."


Lingga Paksi menantang, namun siTopeng Perak hanya tertawa gelak-gelak sedangkan badanya sudah melayang pergi keluar dari pagoda kuno melalui jendela yang tak berdaun.


"Kang Aling, tolong aku. Aku sudah lelah terikat seperti ini..." terdengar dengan suara yang serak Rastiti memohon pertolongan.


"Baik nyi..."


Seketika itu pula Lingga Paksi langsung mengahancurkan belenggu yang merantai kedua tangan nyiRastiti.


"Kang..."


"Bruk!"


nyiRastiti langsung memeluk tanpa basa-basi. Sebentaran Lingga Paksi hanya bisa terdiam sambil merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang, ada getaran aneh yang menelusup mengaliri darahnya. Bagaimanapun baru kali ini ia dipeluk seoramg wanita, meskipun dia sering berjalan bersama-sama.


Sebentaran Lingga Paksi tak tahu apa yang harus ia lakukan, hanya saja ada kehangatan tubuh dari badan nyiRastiti yang setangah bugil itu.


"Su.. sudah nyi, kini kau sudah selamat. Mari kita pulang, ayah dan ibumu sudah lama menunggu..."


"Aku.. aku takut, kang..."


"Kenapa mesti takut, lihatlah kini kau sudah aman..."


"Aku..."


Mendadak saja tubuh gadis itu seperti mengelepar, entahlah apa yang terjadi tiba-tiba saja dekapan nyiRatiti semakin kencang, bahkan mulutnya yang mungil mulai mencubui wajah dan bibirnya, sementara tanganya mulai melepaskan pakaian Lingga Paksi yang tak berdaya menahan hasrat birahi gadis tanggung tersebut. Entahlah apa yang dilakukan kepadanya oleh siTopeng Perak.


"Nyai, jangan..." ***