
Untuk beberapa saat, juragan Subali beserta ketiga muridnya masih bisa bertahan. Namun tidak dengan jagabaya desa, mereka hanya mampu bertahan beberapa saat saja. Kekuatan binatang buas itu memang sangat hebat, hingga mereka tak sempat menghindarkan diri lagi akhirnya mereka berempat menjadi santapan binatang buas.
Melihat keadaan seperti itu, bukan main kaget nya juragan Subali. Ia benar-benar tak menyangka, bahwa musuhnya bisa sebanyak dan sekuat itu. Bahkan sekelebatan terlihat, ketiga muridnya mulai kelelahan, dan mulai terpojok.
Bahkan anaknya sudah terlihat pucat saking ketakutan, seranganya pun sudah semakin lemah. Saat ini terlihat mereka bertiga tengah di serang bugang hapa berwujud mayat hidup yang memiliki kekebalan kulit dan daging diatas binatang buas.
Maka setelah menjejak, kepala harimau hingga terpelanting ia berputar keatas dan mendarat persis didepan mereka.
Sambil memutarkan goloknya kedepan, ia berkata.
"Kalian mundurlah, biar aku yang hadapi..."
"Baik..."
Sontak saja, ketiganya mundur dan langsung masuk kedalam desa. Sementara itu, lawang Kori ditutup kembali dan dikunci dari dalam.
Kini yang bertarung tinggalah juragan Subali sendiri. Meskipun masih gesit dan kuat, namun membuatnya sangat sibuk dan kerepotan.
Bahkan beberapa kali, ia terkena tamparan ekor ular dan buaya. Namun berkat tenaga dalamnya yang kuat, ia berhasil bertahan hingga saat ini.
"Rama guru, cepat naik kemari. Mereka semakin banyak..."
"Hmm..."
Juragan Subali mengangguk, ia sadar jika bertarung terus seperti ini lambat laun ia akan kehabisan tenaga.
Ia berpikir lebih baik mundur dulu, dari pada harus semua binasa mati konyol oleh para bugang hapa yang dikendalikan dari jarak jauh oleh siRajakelong.
Maka setelah memukul dan menendang yang diakhiri dengan sebuah tebasan, ia meloncat ke udara bermaksud naik keatas pagar kayu. Namun sayang, sebelum ia berhasil sebuah lilitan ular berhasil melilit pinggangnya.
"Rama..."
"Guru..."
Sontak saja Nyimas lirih dan Arya beserta Turangga berteriak histeris. Bahkan para tugur yang melihat kejadian itu dibuat bengong tak berdaya.
Kendatipun demikian, Juragan Subali tidak cepat menyerah. Sambil mengempos tenaga dalam, ia putar pergelangan tanganya. Maka belitan ular pun lepas, bahkan ia dapat motong ular itu hingga beberapa bagian.
Namun karena sangat banyak, kembali ia terlilit lagi sekarang seluruh badanya hampir tidak nampak.
Nyimas Lirih semakin histeris melihat kondisi ayah nya seperti itu, namun ia tak berdaya saat Arya dan Turangga memeganginya karena keadaan sangatlah berbahaya.
"Rama..."
Nyimas Lirih menjerit-jerit, sambil berurai air mata. Namun saat itulah, secara tiba-tiba suatu bayangan berkelebat keluar dari lawang kori. Bayangan hitam yang langsung memukul kepala ular hingga terpental bahkan saat pukulan kedua kepala ular itu langsung hancur.
"Grrrgh..."
Saat ini seorang bugang bapa menghampiri, sambil menyerang dengan sebuah gigitan. Terlihat matanya menyala, giginya menghitam penuh jaram hendak menerkam siBayangan yang mengenakan topeng merah. Namun dengan kecepatan supernya, siTopeng merah sudah menghilang lalu meninju muka orang itu hingga pecah dan langsung ambruk seketika.
"Blug!" Mendadak sebuah sabetan ekor ular menghantam siTopeng merah, namun bukanya ambruk malah ekor ular itu ditangkap lalu diputar dengan kecepatan tinggi. Lalu ular itu di jadikan sebuah cambuk raksasa, dipakai menghajar bugang hapa dan binatang buas lainya hingga hancur berantakan.
Malihat kekuatan siTopemg merah yang sangat dahsyat, tentu saja membuat semangat juragan Subali terpompa. Lalu ia pun ke.bali maju ke medan pertempuran, kali ini goloknya benar-benar menggila. Semua musuh yang berada dihadapanya langsung dibabat habis.
Dilain sisi meskipun si topeng merah bertangan kosong, namun tendangan dan tinjunya benar-benar kuat. Bahkan ada beberapa ekor buaya dan ular kembali ia lempar hingga jauh entah kemana.
"Si.. siapa itu?" Terdengar Arya bergumam.
"Kakang, bukankah orang itu yang menolong kita tempo hari..." sedangkan mulut bicara, justru perhatianya terus tertuju pada si bayangan hitam tersebut.
"Ya, betul. Aku baru ingat..." jawab Arya sambil menyipitkan kedua matanya, ia ingin jelas melihat pada orang yang telah menolong gurunya.
"Bahkan ia tak bersenjata..." seru gugur lainya.
"Siapa dia sesungguhnya?"
"Aku tidak tahu..."
"Lebih baik kita lihat saja..."
"Ya..." sahut para tugur,
Pertarungan selanjutnya sungguh menakjubkan, hanya mengandalkan tangan kosong si bayangan itu terus mengamuk membinasakan semua mahluk hingga habis tak bersisa.
Hanya dalam setengah jam, akhirnya semua mahluk bisa dibinasakan.
Tepat malam tiba, semua bugang hapa berhasil ia binasakan.
Tentu saja semua bersorak kegirangan, namun tak lama berselang orang itu sudah melesat pergi entah kemana.
Yang tersisa hanyalah berserakanya ratusan bangkai binatang buas dan bugang hapa disepanjang sungai.
"Benar-benar menakjubkan..."
"Ia pasti Ghanapurusa yang diutus para dewa untuk menolong kita semua..."
"Ya, betul..." Sahut para warga beramai-ramai.
Kini semua mata warga menatap kearah bangkai bugang hapa yang berserakan, jumlahnya mungkin puluhan bahkan mungkin ratusan termasuk kadal dan anjing hutan.
Udara terasa bau menyeruak di antara pekatnya malam. Setelah hening beberapa saat, terdengar salah satu warga bertanya.
"Juragan, bagaimana langkah kita selanjutnya? Apakah perlu kita membersihkan para bugang hapa ini?"
"Tidak perlu, besok pun tatkala terkena sinar mentari semua akan musnah..."
"Musnah bagaimana, juragan?" tanya seorang warga.
"Besok saja kita lihat..."
"Kalau begitu, baiklah juragan..."
"Nah sekarang pulang dan beristirahatlah..."
"Baik juragan..." jawab warga serempak, namun ada juga warga yang masih bertanya.
"Juragan, apa desa kita sekarang sudah aman?"
"Tentu saja, toh sudah kita lihat semua sudah binasa..."
"Kalau. begitu baiklah juragan..."
Maka semua bubar, pulang kerumahnya masing-masing. Kini nama siBayangan hitam yang menolong juragan Subali kembali menjadi buah bibir warga.
Keesokan harinya, disaksikan semua warga. Para bugang bapa yang tersinar mata hari, benar saja langsung hangus terbakar tak ada yang bersisa.
Semua warga terheran-heran, namun setelah diterangkan oleh juragan Subali Akhirnya mereka pun mengerti. Kendatipun demikian, mereka tidak menyangka bahwa tak jauh dari desanya ada sarang binatang buas yang begitu menakutkan. Pantas saja hutan kala Jongkrang selama ini dipamalikan untuk didatangi.
Akhirnya, berkat sibayangan hitam desa Cikahuripan menjadi aman kembali. Namun demikian sampai sekarang tak seorangpun tahu siapa si bayangan hitam tersebut sebenarnya.***