Ghanapurusa

Ghanapurusa
pencarian 3



__'Duh, kemanakah kau Rastiti? Semua orang mencemaskanmu?'__ terdengar Lingga Paksi mulai mengeluh, sebab hingga tengah malam ia belum berhasil menemukan nyiRastiti.


Saat itulah tiba-tiba dari dalam sungai melompat buaya sebesar sapi. Karena Lingga Paksi sedang melamun, seketika itu pula badanya langsung disergap dan mulai dibawa masuk kedalam air.


Bukan main kagetnya Lingga Paksi manakala ia merasakan hampir separo badanya mulai masuk kedalam mulut buaya itu, ia merasakan tekanan yang sangat kuat dari rahang dengan gigi tajamnya. Bahkan sebelum ia sadar apa yang terjadi, terasa napasnya sesak oleh bau amis yang menyeruak keluar dari kerongkongan mahluk itu.


"Berekbek... berekbek..."


Air sungai terlihat bergejolak, ketika badanya mulai dibanting-banting didalam air bahkan sampai dipuntir dan diputar berharap tubuh mangsanya itu tercerai beray.


"Hh! Kau tidak tau bahwa aku adalah ghanapurusa. Jadi mustahil kau dapat melukaiku, apalagi menjadikanku sebagai santapanmu..." Lingga Paksi yang mulai menyadari apa yang terjadi bergumam didalam hati.


Meskipun badanya terus dikunyah, namun siAling percaya akan kekebalan tubuhnya. Yang ia tetap lakukan ialah bertahan agar tak tertelan serta mengatur napas agar tidak ikut tenggelam didalam air.


"Brebek... brekbek..."


Air sungai terus bergejolak, kadang terlihat buaya itu tersembul dipermukaan sungai dengan posisi melintir. Terlihat permukaan air sungai menguning tertimpa cahaya obor dari penduduk desa yang kebetulan melewati sungai itu.


"Den lihat, seseorang sedang dilahap buaya..."


"Jangan-jangan siRastiti yang kita cari..." seru yang lainya.


"Ayo kita tolong! Kita tumbak buaya besar itu dari sini..."


"Kalian jangan sembarangan bergerak, tempat ini sangat berbahaya. Pukul kentungan agar yang lain datang kemari..." terdengar Arya berkata, dan menyuruh orang untuk memukul kentungan yang tak berdosa.😁


Meskipun dalam air dan dalam keadaan terhimpit mulut buaya, namun dengan ketajaman pendengaranya Lingga Paksi bisa mendengar perkataan penduduk desa dengan jelas. Bahkan meskipun hanya sekilas terlihat ditepian sungai Arya, Turangga dan nyimas Lirih sedang berdiri sambil mengacungkan masing-masing obornya untuk menerangi tempat itu.


"Bukan! Orang itu sepertinya bukan siRastiti, lihat seperti laki-laki..." Terdengar penduduk desa lainya berkata.


"Tapi siapakah dia?"


"Sudah cepat bunyikan kentungan..."


Maka tak lama berselang terdengarlah suara bunyi kentungan. Makin lama makin ramai dan terlihat dari jauh beberapa orang mendatangi tempat itu.


__'Celaka! Akan berbahaya jika orang-orang tahu akan keberadaanku. Apalagi juragan Subali..'__


Lingga Paksi mulai berpikir, karena kesadaranya sudah pulih maka dengan cepat Lingga Paksi mulai menggerakan kedua tanganya.


Perlahan tapi pasti, badanya mulai keluar dari himpitan mulut besar buaya itu. Bau amis makin pekat ketika mulut buaya mulai terbuka paksa oleh kedua leunganya. Bahkan perlahan tapi pasti buaya itu mulai terlihat merasakan sakit ketika mulutnya mulai menganga. Rahangnya yang besar dan kuat mencoba bertahan agar tetap tertutup namun tetap saja tidak bisa. Dan...


"Krak!"


Tiba-tiba saja terdengar sesuatu yang patah, keluar dari mulut buaya besar itu. Terdengar erangan hebat, disusul memerahnya air sungai keluar diantara mulut besarnya itu. Sedangkan Lingga Paksi terus menyelam kedalam sungai, lalu muncul dari tempat yang cukup jauh.


Tak lama kemudian, buaya itupun diam dan mulai mengambang dipermukaan air sungai yang memerah.


"Ada apa Turangga?" Terdengar juragan Subali bertanya, ketika tiba ditempat itu.


"Juragan... ada orang dimangsa buaya?" jawab jagabaya lembur.


"Apa?"


"Lihatlah! Tapi orang itu malah berhasil membunuhnya..."


Juragan Subali dan semua orang yang berada disitu terlonggong-longgong sambil memperhatikan bangkai buaya besar itu.


"Benarkah yang kau lihat, jagabaya?"


"Tanyakan saja kepada orang yang menyaksikan..."


"Turangga, apa benar yang diceritakan jagabaya lembur?"


"I.. iya guru..."


"Entahlah guru, orang itu tidak jelas. Dan sekarangpun tidak kelihatan lagi, mungkin sama-sama mati tertelan buaya besar itu..."


"Aneh..."


"Apa sebaliknya kita periksa, guru?"


"Jika memang benar ada orang yang dimangsa, sebaiknya begitu. Kita harus yakinkan, siapa sebenarnya yang menjadi mangsanya..."


"Yang saya takutkan anak saya, juragan..." mang Odon ikut bicara dengan nada khawatir.


"Hus, jangan berprasangka jelek. Lebih baik, kau berdoa agar siRastiti baik-baik saja..."


"I.. iya juragan..."


"Coba Arya dan kau Turangga, bawa bangkai buaya itu kesini. Kita belah perutnya, agar tahu siapa sesungguhnya yang menjadi korban buaya itu..."


'Iya guru..."


Maka Arya dan Turangga pun segera mendekati bangkai buaya itu, namun belum juga sampai dari dalam sungai sudah muncul buaya lainya dan tidak kalah besarnya.


Beruntung dengan sigap mereka berdua bisa menghindarinya, Arya menjatuhkan diri kesamping sementara Turangga melambung keudara.


"Celaka, sejak kapan buaya-buaya disini tambah besar ukuranya..." juragan Subali mengeluh. Sebaiknya, semua mundur jauhi pinggiran sungai..."


"Iya..."


"Arya, Turangga coba sekali lagi. Biar aku akan melindungimu..."


"Ya..."


Lalu Arya dan Turanggapun mulai mendekati bangkai buaya itu, seperti tadi mendadak dari dalam sungai melompat buaya besar dan hendak menerjang Arya. Namun dengan sigap juragan Subali bergerak, ia melompat memukul moncong Buaya itu dengan telapak tanganya yang sudah mengandung tenaga dalam.


"Grrrr...! Byurr...!"


Terdengar erangan hebat disusul dengan muncratnya air sungai, ketika buaya besar itu terjatuh kembali kedalam sungai.


Sementara itu, Arya dan Turangga sudah berhasil menyeret bangkai buaya jauh dari sungai. Dengan tenaga dalam mereka yang sudah terlatih, buaya yang sebesar sapi yang seharusnya diseret 10 orang oleh mereka berdua berhasil dibawa kedaratan tengah.


"Coba sekalian kau belek perut buaya itu..."


Terdengar juragan Subali memerintah. Arya, Turangga mengiyakan, lalu disaksikan oleh orang banyak perut buaya itu mulai dibelah dan ternyata, didalam perut buaya itu kosong. Yang ada hanyalah bangkai binatang lainya yang sudah membusuk memuakan.


"Tidak ada, guru. Mungkin orang itu berhasil selamat dan meloloskan diri..."


"Sebenarnya aku tidak yakin, ada orang biasa yang sanggup lolos dari sergapan binatang sebesar ini apalagi membunuhnya. Tapi mengingat yang melihat bukan seorang-dua orang mau tidak mau aku harus percaya..."


"Tapi siapakah orang itu guru?"


"Entahlah..."


"Juragan, bagaimana selanjutnya? Apakah kita teruskan mencari siRastiti?"


"Tentu saja. Ayo, kita terus telusuri sungai ini. Namun jaga jarak, jangan terlalu dekat kepinggiran sungai..."


"Ya..."


Selanjutnya merekapun terus melanjutkan pencarianya. Menyusuri pinggiran sungai, sesekali mereka memeriksa goa-goa persis seperti yang siAling lakukan.


***Pembaca yang budiman, jangan lupa vote dan likenya ya. Agar saya semangat terus menulis dan melanjutkan cerita ini**"


Sementara itu ditempat lain Lingga Paksi melanjutkan perjalanaya, ia terus mencari dan mencari. Beberapa kali dia dihadang binatang aneh yang sudah kerasukan sesuatu, namun dengan menggunakan kekuatanya ia berhasil mengahalau binatang-binatang ganas itu.