Ghanapurusa

Ghanapurusa
Permintaan Rastiti.



Lalu Lingga Paksi pergi meninggalkan rumah mang Odon. Sesampainya dirumah, terlihat ibunya sedang mengangkat jemuran, karena hari sudah menjelang sore.


Melihat itu Ratnainten tersenyum dan berkata.


"Kau sudah pulang, nak?"


"Iya, mak..." jawab Lingga Paksi sambil menaiki gelodok rumah.


"Apa kau mau makan?"


"Nanti saja, mak..." Sahut Lingga Paksi sambil duduk dibalai bambu yang berada ditepas rumah. Matanya menerawang kearah kebun kaso yang tidak seberapa jauh didepan rumahnya.


"Aku beruntung mak, beberapa hari terakhir kekuatanku sudah mulai bisa kukendalikan sehingga dapat dengan tepat bisa kugunakan..."


"Oh iya, baguslah kalau begitu. Sebab emak yakin kaulah yang tadi menyalamatkan den Arya, Den Turangga dan nyimas Lirih, betul?" Tanya Ratnainten yang tadi ikut berkumpul diBaledesa.


Lingga Paksi hanya mengangguk, dan tak lama kemudian iapun menjawab.


"Iya mak, kebetulan tadi saat sedang mencari rumput, kulihat mang Dinta turun dari rakit dengan wajah yang pucat pasi sambil terburu-buru. Saat kutanya, mang Dinta malah memperingatkanku agar jangan bermain dekat aliran sungai. Aku curiga bahwa dia telah menyebrangkan seseorang kedalam hutan.


Maka tak lama setelah dia pergi, akupun langsung menyelidikinya dan ternyata memang benar. Dipinggir hutan sana ada tiga orang yang saat itu ada dalam bahaya. Ketiga orang itu ternyata den Arya, den Turangga dan nyimas Lirih. Yang kebetulan saat itu hampir tak berdaya oleh Buganghapa dan binatang lainya yang sudah kerasukan..."


"Apakah kau saat itu menyembunyikan identitasmu?"


"Tentu saja mak, saat itu aku mengenakan kain hitam untuk menutupi wajahku..."


"Baguslah kalau begitu, namun kendatipun demikian sepak terjangmu itu telah menggegerkan kampung kita ini, tak terkecuali juragan Subali dan kawan-kawanya. Bahkan kini mereka ingin mencari keberadaan orang yang telah menyelamatkan anak muridnya itu..." Kembali Lingga Paksi menganggukan kepalanya.


"Untuk kedepanya, kau harus pandai-pandai menjaga identitasmu..."


"Iya mak..."


"Sekarang beristirahatlah, jika kau mau makan didapur ada pais ikan dan sayur oyom..."


Lingga Paksi hanya mengangguk, lalu pergi kedapur dan makan.***


Malamnya terlihat siAling sedang duduk ditepas sambil memandangi bintang gemintang, tak lama Ratnainten datang mengampirinya.


"Kau belum tidur, anaku?"


"Aku belum ngantuk, mak. Aku selalu teringat akan ucapan mang Odon beberapa waktu yang lalu..."


"Memangnya mang Odon berkata apa?"


"Bahwa aku ini katanya bukan orang sembarangan, katanya aku dan emak terlihat berbeda dari kebanyakan orang disekitar sini..."


"Hm..." Ratnainten terlihat manggut-manggut, "Wajah dan sikap kita memang berbeda anaku, mungkin semua orangpun tahu dan merasakanya..."


"Silain itu mang Odon pun berpesan sampai beberapakali, bahwa saya harus menjaga jarak dengan siRastiti anaknya..."


"Memangnya kenapa, toh kaliankan hanya berteman?"


"Mungkin menurutku iya, tapi menurut mang Odon sikap saya ini suatu hari nanti akan membikin anaknya patah hati. Karena mang Odon beranggapan bahwa suatu hari nanti saya akan pergi meninggalkan desa ini..."


"Terus apa jawabanmu?"


"Aku menyanggupinya, maka sudah beberapa hari yang lalu aku mulai menjaga jarak. siRastiti tidak dimanjakan lagi..."


"Itu memang ada bagusnya, nak..."


"Apakah suatu hari nanti kita akan pergi lagi?"


"Tidak tahu anaku, tapi sementara ini emak belum ada rencana. Kita sudah mulai nyaman hidup didesa terpencil ini..."


"Akupun merasa begitu. Tapi menurut emak, apakah ayah akan mendatangi kita lagi?"


"Entahlah Lingga, semenjak siTopengbatu berhasil dihalau oleh juragan Subali. Kulihat ayahmu seperti tidak menghiraukan kita lagi. Mungkin dia sudah bosan..."


"Bukankah itu lebih baik, mak? Agar hidup kita bisa lebih tentram tanpa diganggu oleh dia dan para anak buahnya?"


Ratnainten hanya menarik napas dalam-dalam nampak seperti ada kesedihan yang mendalam dibalik wajahnya yang agak kurusan itu.


"Mengapa diam, mak? Bukankah lebih baik, jika dia tidak mengganggu kita lagi? Ataukah emak masih mencintainya?"


"Hhh! Bagaimanapun juga, kau masih hijau anaku kelak kaupun akan tahu seiring berlalunya waktu dan bertambahnya usiamu..."


Lingga Paksi hanya mengangguk, lalu setelah berpamitan ia pun pergi meninggalkan ibunya seorang diri. Maka terbayanglah kisah masa lalu Ratnainten saat-saat bersama suaminya ketika mengarungi dunia persilatan.


Ya, sebenarnya dia dan suaminya itu sudah hidup bersama sejak kecil dipatapan Lebur Raga.


Dulu suaminya diketemukan hampir terbunuh oleh para pengasuhnya yang berkhianat demi uang dan jabatan. Selama beberapa tahun, suaminya berguru pada ayahnya hingga timbulah perasaan cinta antara dia dan suaminya. Sampai pada akhirnya diapun menjadi sepasang suami istri. Namun belakangan, tidak lama ia resmi menjadi suami istri. Mendadak saja Patapan Lebur Raga diserbu oleh pihak kerajaan Sunda, mereka mengganggap bahwa ayahnya telah menyembunyikan pemberontak yakni Angkawijaya suaminya.


Sejak itulah dia terus berkelana, hingga pada suatu hari tanpa tidak disengaja suaminya menemukan sebuah kitab yang boleh dibilang mhikung atau sesat.


Dan ketika suaminya menjadi seorang yang sakti mandraguna, maka berubahlah segala-galanya. Suaminya yang dulu sangat sederhana dan jujur, pada akhirnya berubah menjadi pribadi yang ambisius dan sangat haus darah. Dan yang paling menyakitkan, suaminya selingkuh dengan seorang wanita bekas pimpinan gerombolan topeng iblis yang ditaklukanya itu. Pada akhirnya iapun pergi bersama anaknya yakni Linggapaksi.**


Keesokan harinya pagi-pagi sekali seorang gadis tanggung datang dengan tergesa-gesa kerumahnya Ratnainten.


Iya adalah Rastiti anaknya mang Odon, teman wanita anaknya.


"Ada apa nyi, kok kelihatanya terburu-buru?"


"Kang Aling ada, mak?" Rastiti menjawab dengan pertanyaan.


"Tentu saja ada..."


"Dimana dia sekarang?"


"Mungkin dia masih tidur, memangnya ada apa kok kelihatan tergesa-gesa begitu..."


"Celaka mak..."


"Celaka? Siapa yang cekaka?"


"Anu... mak, ter.. ternyata orang yang akan menggantikan kang Arsan itu ya, kang Aling..."


"Oh iya, kau tau dari mana?"


"Dari mereka sendiri, tadi malam mereka bertiga datang kerumah dan memberitahu ayah tentang siapa yang akan mengantikan kang Arsan..."


"Oh iya..."


"Iya mak, makanya saya harus segera memberi tahu kang Aling..."


Ratna inten manggut-manggut dan sebelum dia masuk Lingga Paksi sudah keluar duluan.


"Ada apa, nyi?"


"Kang Aling, celaka kang... ada rencana akang untuk disuruh menggantikan kang Arsan untuk mengacungi nden Lirih..."


"Lalu apanya yang celaka? Bukankah dari dulu juga akang sudah begitu?"


"Tapi kali ini berbeda kang..."


"Aling, lebih baik ajak nyiRastiti kedalam..."


"Tidak usah, mak. Toh hanya sebentar, aku kesini hanya ingin memberitahu saja..." Rastiti dengan cepat menjawab.


"Ya kalau begitu terserah kalian berdua saja bagaimana baiknya. Emak masih ada pekerjaan dipawon..."


"Iyah mak, terimakasih..."


Ratna inten masuk kedalam, sementara Lingga Paksi terus duduk diatas babalean yang berada ditepas rumah.


"Kang Aling bagaimana pendapatmu?"


"Pendapatku yang mana?"


"Tentu saja tentang penawaran itu, lebih baik menurutku akang jangan mau..."