Ghanapurusa

Ghanapurusa
Sekelumit Kisah Sang Bhatari Hyang Janapati/Dewi Citrawati



Dewi Citrawati atau Sang Hyang Bhatari Janapati sejatinya adalah cucu dari pendiri prasasti Cibadak sukabumi. Ayahnya bernama Sang Resiguru Batara Hiyang Purnawijaya penguasa Saunggalah kuningan.


Beberapa tahun yang lalu, sebelum Dewi  Citrawati atau Sang Bhatari Hyang Janapati naik tahta, sebenarnya dia nyaris dinikahi oleh sang Prabu Langlang-bumi dan menjadi pemaisurinya.


Namun entah apa yang terjadi, Sang Prabu Langlangbumi, malah menikahi Kakak kandungnya dari Sang Dewi Citrawati sendiri yakni Dewi Puspawati. Dari situlah timbul dendam dan hasrat untuk membunuh Dewi Puspawati. Namun sayang.. niatnya itu berhasil diketahui dan berhasil digagalkanya.


Melihat adanya perselisihan di antara kedua puterinya, Sang Rajaresi Purnawijaya segera bertindak, ia segera menihkahkan Dewi Citrawati kepada Resiguru Sudakarenawisesa seorang penguasa Kerajaan Galunggung.


Menurut sumber sejarah dari beberapa penelusuran.. dikarenakan ada kesenjangan umur yang terpaut begitu jauh, akhirnya Sang Resiguru Sudakarenawisesa menyerahkan tahtanya kepada isterinya yakni Dewi Citrawati.


Sang Resiguru Sudakarenawisesa lebih memilih jalan hidupnya mendalami keagamaan. Meskipun kini Dewi Citrawati sudah berkuasa sepenuhnya di Galunggung, namun beliau sangat membenci pada kekuasaan Prabu Langlangbumi di Kerajaan Sunda. Sekaligus resah dan khawatir jika sewaktu-waktu Prabu Langlangbumi, mengerahkan angkatan perangnya untuk menggempur kerajaannya.


Oleh sebab itu untuk mencegah adanya serangan dari Kerajaan Sunda, Dewi Citrawati membentuk angkatan perang, membangun parit pertahanan yang kuat.  Agar lebih menguatkan stabilitas pertahanan kota, maka “bentuk pemerintahan” Galunggung mengalami perubahan bentuk dari Kebataraan menjadi Kerajaan.


Dan pusat Kerajaan Galunggung dijadikan sebagai ibukota Kerajaan Galuh. Dengan demikian, saat itu kerajaan Galuh dan Kerajaan Galunggung bersatu untuk mengimbangi kekuasaan dari Kerajaan Sunda.


Pada tanggal  21  Agustus  1111,  tepat setelah membangun ibukota baru, Dewi Citrawati membuat sebuah prasasti di lereng Gunung Galunggung, tepatnya di bukit Geger Hanjuang / kabuyutanLinggawangi (sekarang Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya). Prasasti tersebut kemudian disebut sebagai Prasasti Geger Hanjuang. Pada prasasti tersebut, Dewi Citrawati / Batari Hiyang Janapati menuliskan :


tra ba i gune apuy na-


sta gomati sakakala rumata-


k disusu(k) ku batari hyang pun


“Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka, Rumatak disusuk oleh Batari Hyang”


Sebenarnya, Sang Maharaja Langlangbumi, tidak ada niat untuk menyerang Kerajaan Galunggung. Akan tetapi, kalau tidak segera diatasi, akan jadi duri dalam daging. la pun tidak menghendaki timbulnya perpecahan, di antara keturunan Sri Jayabhupati.


Maka pada suatu hari ia pun mengadakan perundingan dengan para tokoh kerajaan sunda maupun para tokoh kerajaan galuh galunggung. Dan akhirnya didapati dengan hasil perundingan dengan kesepakatan, membagi wilayah kekuasaan:


Sebelah barat sebagai Kerajaan Sunda, di bawah kekuasaan Prabu Langlangbumi. Sebelah timur sebagai Kerajaan Galuh, di bawah kekuasaan Ratu Batari Hiyang Janapati, dengan ibukotanya di Galunggung.


Rupanya perjanian ini mengulangi lagi peristiwa perdamaian pasca perang saudara antara Sanjaya, Sang Banga dan Ciung Wanara. Nama Batari Hiyang diabadikan dalam Naskah rajya-rajya i bhumi Jawadwipa. Bhatari Hyang Janawati (1033-1074) S/d (1111/2-1152/3) M sebagai ratu Galuh dengan ibukota Galunggung.***


 


Sore itu, terlihat dua kuda memasuki gerbang sebelah utara kota raja. Mereka tidak lain kiBagas dan kiGenta. Dua senapati Galuh yang baru pulang dengan niat menitipkan anak-anaknya kepada kiSubali.


Ada yang aneh, nampak penampilam mereka lebih kusut dan lusuh.. matanya seperti tak berdarah, begitupun mulutnya seperti kering hingga pecah-pecah.


Kepergian mereka memang tidak resmi, alias diluar tugas negara.. jadi pihak istanapun tentu tidak begitu mengetahuinya. Mereka pulang hanya berdua saja, sementara para pengawal dan kereta kudanya raib entah kemana.


"Tuan mana yang lainya?" bertanya seorang catrik kepada kibagas.


"Sudah jangan bicara, aku ingin beristirahat..."


"Oh.. i.. iya..."


siCatrik begitu terkejut mendapat jawaban seperti itu. Biasanya dalam keadaan bagaimana pun, tuanya selalu menjawab serius dan apa adanya.


__'Mungkin dia lelah..'__  berkata siCatrik dalam hati, sambil mengambil alih kekang kuda untuk diurus selanjutnya. Namun tanpa sadar sicatrik kembali bertanya terdorong rasa penasaran yang meledak.


"Tuan darimana mendapatkan kuda ini? siPaser dan siPetir kemana?"


"I.. iya, maafkan aku tuan..." Dengan penuh ketakutan siCatrikpun berlalu dan membawa pergi kuda itu.


_'Aneh, kenapa sikap Juragan Senapati jadi seperti itu? Biasanya dalam kondisi apapun dia selalu menjawab dengan penuh kebanggaan. Apa sekali ini dia menghadapi sesuatu masalah yang sangat besar? Oh tidak, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka?'__


Sorenya harinya atas saran istrinya untuk menghindari keresahan diantara para pekerja, kiBagas lalu menceritakan apa yang telah terjadi pada para pengawal termasuk kiAsnawi kusir kepercayaanya.


Dihapadan para pekerja KiBagas mengatakan, bahwa dirinya beserta rombonganya telah dihadang oleh segerombolan perampok sewaktu diperjalanan pulang. Hingga akhirnya, para pengawal beserta yang lainya gugur. Hanya dirinya beserta kiGenta yang berhasil lolos dari kekejaman para perampok itu.


"Jadi kuharap kalian semua memakluminya, dan aku menegaskan kembali. Bahwa bekerja kepadaku resikonya hanyalah kematian. Jadi bagi siapa saja yang merasa jeri dan takut bolehlah mengajukan diri untuk berhenti..."


Terdengar kiBagas menutup perkatanya sambil menatap belasan pekerja yang berkumpul dihalaman rumahnya.


"Tidak tuan Senapati, kami semua tetap akan setia melayani dan terus bekerja hingga akhir hayat..."


"Betul... betul..." seru yang lainya.


"Baguslah kalau begitu, dan aku mengucapkan terimakasih banyak! Satu lagi permintaanku, ku harap kejadian yang menimpa kepada para pengawal ku ini tidak terus diperpanjang dan disebar luaskan. Toh kejadian seperti ini dikalangan ke perwiraan sudah lumrah dan biasa..."


"Baik Juragan..."


"Kalau begitu, silahkan kalian semua bekerja kembali seperti biasanya..."


"Baik..."


Lantas saja semua pekerja bubar, dan kiBagaspun kembali keruang keluarga. Nampak disitu anak istrinya sedang bercengkrama, terlihat beberapa emban ikut mengawasi dan ikut pula bercanda.


Melihat ayahnya datang kedua anaknya langsung berdatangan dan diminta digendong, lalu dengan tangan kanan-kirinya maka kedua anaknyapun ia gendong sambil bernyanyi-nyanyi kecil.


“Nah, sekarang bermainlah dengan bibi emban...”


“Baik ayah...”


Kedua anaknya pun lalu kembali berlarian ke siBibi emban, sementara itu terdengar istrinya bertanya pula.


“Apakah sudah kau jelaskan, kakang?”


“Hm, tentu saja...”


“Dan apa reaksi mereka?”


“Meraka paham dan insyaf akan situasinya. Namun kelihatannya mereka tetap setia, dan tidak takut terus bekerja dirumah kita...”


“Kalau begitu, sukurlah...”


Keduanya lalu dudu-duduk sambil mengobrol, sementara malam kian larut dihiasi bintang gemintang.


Beberapa hari setlah kejadian itu, kiBagas merenung di kamar pribadinya. Dia merasa cemas dan terus merasakan sesuatu dalam dirinya, sebab setiap dirinya berkaca ia melihat mimik mukanya seperti tak berdarah. Disekitar bekas luka guratan, nampak urat yang berwarna kehijauan..  dan yang lebih mengejutkan kadang-kadang ia selalu bergerak tanpa disadarinya, bahkan suatu ketika ia bangun sudah berada diatas genting. Beruntung tidak ada orang yang mengetahuinya termasuk istrinya.


*****