Ghanapurusa

Ghanapurusa
kiSubali



Sebelum Ratnainten dan anaknya sadar, siTopengbatu langsung melemparkan benda tersebut kearah sianak. Batu mustika berwarna hijau langsung mengeluarkan cahaya ketika berdekatan dengan tubuh sianak tersebut.


"Ah, aduh... tolong...!!"


Seketika itu juga siAnak langsung menjerit, ketika tubuhnya terpapar cahaya yang keluar dari benda tersebut.


"Haha!" terdengar siTobeng batu tertawa gelak-gelak, dengan kecepatan tinggi badanya sudah bergerak berada dekat sianak. Yang pada saat itu badanya langsung lunglai bak tak bertulang.


"Jangan...!"


"Diam...!!!" Bentak siTopengbatu, sambil memanggul sianak yang sudah tak berdaya. "Kalian semua, dengarkan. Laksanakan apa yang kalian mau..."


"Horeee...!!!" seperti belasan anak mendapat hadiah permen, orang-orang bertopeng itu bersorak kegirangan.


"Bedebah... Biadab kau Topengbatu! Toloongg..."


"Haha! Aku sudah baik terhadap mu..." jawab siTopengbatu dingin lalu melangkahkan kakinya beranjak pergi dati tempat itu.


"Jangan... jangan... tolong! Tolong...!!"


Terdengar Ratnainten menjerit-jerit, sambil meronta-ronta dari sergapan dua orang lelaki sekaligus. Namun apa daya, Ratnainten tak bisa berkutik saat tubuhnya terus diseret ke dalam semak-semak belukar.


"Toloonggg...!" Untuk terakhir kalinya, Ratnainten berteriak hingga suaranya putus-putus.


"Haha... Diam!  Jangan brisik, lebih baik merintih. Haha... dan nikmati saja. Toh gak bakalan lama..."***


"Buk! Buk! Deuss...!!!"


Belum juga jauh siTopengBatu melangkah, terdengar didalam semak-semak belukar suara gedebukan seperti orang yang terkena pukul.


"Apa! Ada apa ini?"


SiTopengbatu berseru kaget, karena suara gedebukan itu disusul dengan berterbanganya para anggota gerombolan dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Ini... ini..."


siTopengbatu membalikan badanya, terlihat dalam semak seseorang sedang bergerak cepat menghajar para anak buahnya.


"Kurang ajar. Pendekar sakti darimana, keluar. Hiaahhh!!!"


Setelah menurunkan anak yang dibopongnya, sitopeng Batu berseru disusul dengan badanya yang beregerak meloncat keudara. Lalu dengan suatu gerakan aneh, ia menukik ke arah semak-semak.


Pukulan Batu Gunungnya, yang berbobot ribuan kati langsung dihantamkan ke tubuh seseorang didalam semak.


"Wut, wuss... Bum!"


Terdengar suara ledakan hebat, manakala sebuah tangan yang memancarkan sinar kebiruan menyambut seranganya.


"Ahh, huph..." siTopengbatu tersedak darah yang keluar dari mulutnya, sedangkan tubuhnya sudah terhempas keudara akibat bentrok kekuatan dengan lawan.


"Jlig... sret!"


siTopéngbatu berhasil mendaratkan kedua kakinya, dengan mata berkunang-kunang dan dada sesak. Yang pertama-tama ia lakukan mengatur napas dan mengerahkan hawa murni untuk menekan serangkum hawa aneh yang menelusup melalui tangan kananya.


Sementara itu dari dalam semak-semak keluar seorang lelaki tegap dengan ikat kepala warna coklat. Wajahnya keren, dengan dagu yang agak belah serta kumis tipis menghiasi bibirnya.


"Huh, huh, huh... Si.. siapa kau? Be.. berani benar ikut campur dalam urusan ku?"


SiTopengbatu langsung bertanya dengan napas yang masih terengah-engah, sedang sisa rekanya langsung mengepung siPria tersebut.


"Apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?"


"Aku tahu, kau adalah pilar ketiga dari gerombolan Kelelawar Hitam yang baru-baru ini merejalela..."


"Hm, uhukh-uhukh! Kalau begitu menyingkirlah, sebelum aku melumatkan tubuhmu..."


"Bisa saja, tapi dengan sarat perempuan dan anaknya akan kubawa!"


"Asu kirik! Rupanya kau benar-benar cari mati. Anak-anak, serang! Binasakan Pahlawan kesiangan ini..."


Seketika itu juga hampir lima orang langsung menerjang, dengan mengayunkan masing-masing golok ditanganya. Namun dengan gesit, siPria gagah itu meloncat kian kemari menghindari semua serangan dengan gampangnya.


Namun dari arah belakang secara bersamaan datang pula serangan lainya, dengan menggunakan bermacam-macam senjata. Membuat siLelaki itu terus bergerak, tanpa celah dan ketakukutan.


Hanya dalam sekejap saja, siLelaki itu langsung dikeroyok oleh musuhnya yang bersenjatakan golok. Setelah badannya bergerak kian kemari untuk menghindar, terdengar ia berseru kencang.


"Jurus Kincir Maruta, heup..."


Sekonyong-konyong tubuh lelaki itu berputar kencang dengan kecepatan tinggi. Nampak tubuh siLelaki itu berputar kencang disertai angin beliung yang sangat keras berputar-putar menghantam para penyerangnya.


"Wuss... Buk! Buk! Buk!"


"Aaah..."


"Uuh..."


"Aduhh..."


Tak ayal lagi, para penyerangnya langsung menjerit dengan kondisi golok patah beserta masing-masing tumbuhnya yang terhempas hingga belasan depa jauhna. Melihat itu, sisa sipenyerang dibuat kaget.. namun sebelum sadar serangkum angin sudah menyambar masing-masing badanya.


"Wuss... Buk! Buk! Buk!"


"Aaah..."


"Uuh..."


Kembali terdengar para anggota gerombolan Kelelawar Hitam menjerit, mereka tak sanggup menghidar dari serangan siPria yang berputar aneh seperti angin beliung.


"Jahanam, pantes kau berani unjuk gigi dihadapan ku! Rupanya kau anak perguruan Pancatunggal dari Sanggabuana yang tersohor itu!"


"Kalau begitu, mengapa masih berdiri di hadapan ku. Apa kau ingin kutendang jauh dari tempat ini?!"


"Asu kirik! Jaga mulut mu. Jangan kau kira aku seperti yang lainya. Heup..."


Sekonyong-konyong terdengar suara mengerotok, perlahan tapi pasti seluruh tubuh siTopengbatu berubah hitam menyeramkan, dilain saat tubuh siTopengbatu telah berubah seutuhnya jadi batu.


"Hm, kudengar kau berasal dari perguruan Batu Hitam yang rekrut masuk kegerombolan Kelelawar Hitam. Baiklah hari ini aku akan menjajal ilmu mu..."


"Jangan banyak cakap, aku tahu siapa kau sebenarnya. Kau adalah kiSubali, salah satu pendekar dari Gunung Sanggabuana sekaligus veteran senapati kerajaan Sunda, benarkah?"


"Kalau iya, apakah kau akan bertekuk lutut?!"


"Asuk Kirik! Kau benar-benar Jumawa. Baik akan ku lihat seberapa dasyat sesunggunghya kehebatan Pamupul bayu milik perguruan Pancatunggal mu itu? Nah, terimalah. Hiyaatt..."


Mendadak saja siTopengbatu melompat, dengan satu serangan dia langsung melontarkan tenaga dalam hingga Seribu kati. Terdengar suara bergemuruh, saat serangan siTopengbatu dihujamkan. Namun dengan lincah, si Pria yang berumur 45 taunan itu menghidarinya.


Bum! Meskipum serangan itu tidak kena sasaran, namun angin gempuran yang ditimbulkan sempat menghantam tanah hingga berlubang sampai dalam.


Selanjutna, terlihat dua bayangan saling berkelebat kesana kemari sambil bertukar pukulan. Beberapa saat kemudian, terlihat  tubuh siTopengbatu terkena pukulan hingga bertubi-tubi. Namun kelihatanya, siTopengbatu tidak merasakan apa-apa. Itu mungkin dikarenakan seluruh tubuhnya yang telah berubah menjadi batu.


Hingga suatu ketika, kembali dua kekuatan bertemu diudara.


"Siut, wuss... duaarr!"


Terdengar suara ledakan hebat, disertai pecahnya angin beliung akibat bentrokan tersebut.


"Huph, ukh..."


Terlihat siTopengbatu jatuh terduduk, dengan tubuh lunglai.. samar-samar dari lubang hidung, mulut bahkan telinga mengeluarkan darah hitam. Tak lama dari itu siTopengbatu rubuh tak sadarkan diri. Seluruh urat syarafnya pecah hingga tak berdaya.


Namun begitu kiSubalipun tak luput dari hebatnya bentrokan tersebut, beberapakali ieu berjumpalikan diatas tanah hingga akhirnya duduk tertahan sebuah pohon.


Dengan cepat ia bangkit dan duduk, lalu dengan cepat ia memulihkan kekuatannya kembali. Iya khawatir, sisa anak buah siTopengbatu datang menyerang dan memanfaatkan kesempatan yang berbahaya seperti saat itu.


Beruntunglah, nyali para anggota gorombolan Kelelawar Hitam itu telah ciut. Dan terlihat, daripada untuk menyerang beberapa orang diantaranya lebih memilih menolong siTopengbatu dan segera dibawa pergi dengan tergesa-gesa.***