Ghanapurusa

Ghanapurusa
Arya Dan Turangga



"Bagaimana, paman? Apakah aku sudah bisa dibilang pandai?"


"Bagus ling, kau memang anak yang cerdas..."


"Kang Aling, ayo larikan lagi kuda ini yang kencang..." terdengar Rastiti yang duduk dibonceng dibelakangnya berteriak menyemangati.


"Baiklah, hep.. hep... hiahhh..."


"Horee..."


"Lingga hati-hati, jangan terlalu kencang..." terdengar mang Odon memperingati dipinggir tegal.


"Iya mang, jangan khawatir..."


Kuda terus berlari dengan kencang, berputar-putar mengelilingi tegal pengangonan nampak kegembiraan diwajah Lingga Paksi dan Rastiti bahkan semua orang yang berada di tegal itu pun ikut senang.


Hingga akhirnya, mendadak saja terdengar suara tepuk tangan dipinggir tegal pengangonan, disusul suara orang yang bicara.


"Bagus-bagus! Tukang Angon sudah pandai menunggang kuda, bagus. Benar-benar pemandangan yang luar biasa..."


Sontak saja semua pandangan yang berada disitu langsung tertuju kearah datangnya suara. Dan betapa terkejutnya semua orang, manakala disitu sudah berdiri dua orang pemuda tanggung yang berpakaian sangat mentereng dan mewah.


Dua pemuda tersebut bukan lain ialah Arya dan Turangga beserta nyimas Lirih, bahkan kacung barunya ikut berdiri dibelakang ketiga majikanya.


"Siapa kedua orang itu kang, kok aku baru melihat?" terdengar Rastiti bertanya pelan.


"Dia itu anak juragan Senapati yang baru datang dari kota raja..."


"Oh, lalu mau apa mereka datang kesini?"


"Entahlah..."


Dengan perlahan-lahan Lingga Paksi mendekati kedua pemuda tanggung tersebut dan menghentikan kudanya tepat dihadapan Arya dan yang lainya.


"Turun!" terdengar Arya membentak. "Kau ini sungguh lancang heh anak kampung! Kau berani-beraninya memakai kuda tanpa seijinnya. Jika ini terjadi dikota raja, sudah bisa dipastikan kau akan kehilangan nyawa..."


Lingga Paksi tidak langsung menjawab, melainkan turun dengan hati-hati. Sementara itu, terlihat raut wajah mang Odon sedikit gelisah dan penuh kekhawatiran. Dia tahu, orang-orang kota raja biasanya


sangat galak dan telengas.. selalu memegang teguh tata aturan yang berlaku dikeraton.


Sungguh pun demikian kedatangan mereka bertiga tidak terduga sama sekali. Beberapa tukang angon lainya yang berada disitupun ikut kaget dan sontak saja masing-masing perhatianya langsung tertuju pada anak muda yang terlihat menterang mewah.


"Maaf kan saya, den..." kata Lingga Paksi setelah berdiri saling berhadapan.


"Panggil saya tuan muda! Dan tundukan kepalamu saat berbicara..."


"Ba.. baik..."


"Dengar! Mulai saat ini kau dilarang memakai kuda guruku tanpa seijinya, apa kau mengerti?!"


"Iya den, eh tuan muda saya men.gerti..."


"Selain itu, kaupun harus mulai belajar sopan santun! Mengenal tatakrama, bagaimana seharusnya menghadapi orang yang berada diatasmu. Sebab yang aku lihat, sikap mu itu terlalu liar dan bertindak seenaknya! Sampai disini, apa kau mengerti?"


"Saya mengerti tuan muda..."


"Nah, baguslah. Dan bukan hanya untuk kau saja, tapi untuk semua  orang yang bekerja kepada Guruku Juragan Subali. Apa kalian semua mengerti?"


"Mengerti..." Sahut beberapa tukang angon meskipun dalam hati mereka sangat tidak setuju. Sebab selama ini, sikap juragan Subali tidak begitu menekankan akan aturan tata-titi seperti yang dikehendak Arya dan Turangga.


"Dan ini lagi, mengapa pita emas yang ayah saya berikan malah dipake orang lain?" Arya berkata sambil menatap tajam pita emas yang kini dipakai oleh Rastiti.


"Itu.. eu... maafkan saya tuan muda. Lebih baik pita itu dipakai adik saya ini, karena lebih cocok jika dia memakainya..."


"Hhh!" Arya mendengus.


"Benar kang aling, mengapa pemberianku kau berikan lagi kepada orang lain.." sekali ini nyimas Lirihpun ikut bicara dengan nada sedikit kesal. Matanya yang jeli ikut memandang pita yang saat ini sudah dipakai Rastiti anak perempuannya mang Odon.


"Maafkan saya, nyimas..."


"Suit.. Plak!"


"Sekali lagi kau bilang nyimas, maka kau akan kehilangan pekerjaan mu..."


"Aku harus menyebut apa, tuan muda?"


"Panggil dia, nden..."


"Oh, baiklah kalau begitu..."


"Nah sekarang, ayo ambil kembali pita emas mu itu..."


"Tidak! Tidak mau, ini milik nyai. Ini milik nyai..." Belum apa-apa Rastiti sudah menangis.


"Huh, dasar cengeng..."


"Rastiti, ayah mohon kembalikan pita itu ke nden Lirih..." dengan gemetar mang Odon merayu anaknya supaya mengembalikan pita emas milik nyimas lirih.


"Tidak! Sekali tidak tetap tidak..." Rastiti berisi keras.


"Tuan muda sekalian, pita emas ini sudah aku berikan. Sebagai lelaki mustahil aku memintanya kembali. Jadi dalam hal ini mohon maaf, permintaan tuan muda tak bisa kupenuhi..."


"Hhh! Dasar bandel. Nyimas, bagaimana?"


Arya tidak berani lagi main kasar, jari-jari tangannya masih terasa sakit dan pedas namun dihadapan nyimas Lirih dan lainya dia tidak berani menunjukan raut kesakitan.


Nyimas Lirih tidak langsung menjawab, ada sedikit kekecewaan terpancar dari sinar matanya. Namun setelah sekian lama akhirnya diapun menjawab.


"Baiklah, sekali ini aku memakluminya. Tapi lain kali, kang Aling jangan mengulanginya kembali..."


"Iya nden, terimakasih..." sahut Lingga Paksi sambil tertawa getir, hatinya heran akan sikap perubahan nyimas Lirih.


"Kalau begitu, ayo nyimas. Kita berkeliling lagi, sekaligus melihat-lihat apa masih ada para pekerja yang membandel dan kurang ajar..."


"Baik kang..."


Selesai berkata demikian maka Arya, Turangga dan nyimas Lirih berikut kacungnya yaitu siArsan meninggalkan tempat itu.


"Waduh, tak disangka tuan muda yang berguru pada juragan Subali itu galak..." terdengar seorang tukang angon langsung mengeluh.


"Ya kelihatanya, mulai hari ini dan kedepannya pekerjaan kita akan diperketat..."


"Itu anak mau berguru apa mau memandori, ya. Kok begitu-begitu amat..."


"Sudah-sudah jangan banyak bicara, lebih baik urus saja ternak kita masing-masing..."


"Iya.. iya..."


Lalu merekapun kembali bekerja merawat atau memotong rumput didaerah sekitarnya.


"Aling apakah kau baik-baik saja? Kulihat tamparan den Arya itu sangat keras sekali....”


“Tidak apa-apa mang, jamak saja seginimah...”


“Apa kira-kira mereka akan melapor pada juragan Subali?"


"Melapor tentu ia, tapi tidak perlu khawatir karena saya yakin juragan Subali tidak akan apa-apa. Toh semuanya yang terjadi hari ini sudah biasa..."


"Saya tidak suka sama anak laki-laki tadi, kang Aling. Saya benci dia..."


"Hus.. jangan bicara sembarangan, Rastiti. Lain kali kalau ketemu denganya, menunduklah jangan banyak bicara. Apa kau mengerti?"


"Tidak! Nyai tidak mau. Nyai benci dia..."


"Ini demi kebaikanmu, Rastiti..."


"Huhh!"


Rastiti hanya memberengutkan muka, namun pada akhirnya iapun mengiyakan apa yang disuruh Lingga Paksi dan ayahnya itu.***