
“Hey.. nak, kemarilah...”
Seru seorang kusir kereta kuda ke anak yang sedang mengambil rumput dipinggir kebun sebuah desa.
Sianak pungak-pinguk, menoleh kian kemari dan akhirnya bertanya.
"Paman memangil, saya?"
"Ya, tentu saja.. disini toh tidak ada lagi manusia selain kau. Kemari..." Sahut siKusir sambil melambaikan tanganya untuk yang kedua kali.
"Kata siapa tidak ada manusia lain? Bukankah didalam kereta juga manusia? Dan saya pun membawa teman..." jawab siBocah polos dan seenaknya, sesaat kemudian dari dalam kebun keluar seorang anak perempuan sambil menenteng dua ikat daun singkong.
"Nah ini dia teman ku..."
"Ada apa kang Aling?"
"Ada orang yang memanggil akang..."
"Akang kenal?"
"Tidak!"
"Hey... kalian! Kemarilah, malah ngobrol disitu, aku ingin menanyakan sesuatu..." seru sikusir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, paman mau nanyakan sesuatu?"
"Iya, kemarilah...." kata sikusir mulai kesal.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Huh, dasar kau bocah..."
"Jangan marah paman, kata ibu saya orang yang suka marah cepat tua..."
"Aku ini sudah tua, tahu..."
"Memang siapa yang bilang paman masih muda? Hahaha..." siBocah benar-benar tak mengenal rasa takut, dengan riang malah menertawakan sikusir kuda.
"Huh, dasar bocah kampung! Berani benar kau menertawaiku..."
"Iya, iya... maaf paman. Kami hanya bercanda. Rastiti, kau tunggu disini akang mau menghampiri siPak Tua..."
"I.. iya, kang..."
Maka terlihat siBocah pun berjalan kearah siPak kusir. Dan setelah tiba dia pun langsung bertanya.
"Paman mau menanyakan apa?"
Setelah menilik wajah dan perawakan siBocah dengan seksama, barulah sikusir berkata.
"Ternyata kau cukup tampan, dan perawakanmu tegap pula. Siapa kau sesungguh nya?"
"Aku ya aku, bocah kampung ciKahuripan. Paman mau menanyakan apa?"
"Rupanya kau tak suka dipuji! Tapi baiklah, aku tidak perduli. Dengar nak, aku mau bertanya apakah kau mengenal kiSubali? Kepala desa kampung ini?"
"Maksud Paman Juragan Subali?"
"Ya..."
"Itu adalah juragan kami..."
"Nah, kebetulan sekali. Ayo, antar aku menemuinya..."
"Sekarang?"
"Besok!" siKusir membentak, "Tentu saja sekarang, anak bodoh!"
"Waduh maaf paman, pekerjaan saya belum selesai. Salang tempat rumput kami belum penuh. Begini saja, tunggu saya memotong rumput hingga salang saya penuh. Nah setelah penuh, barulah saya antar..." siKusir terlihat kesal, kesabaranya mulai habis dan hatinya mulai gusar.
"Bocah apakah kau tidak tahu siapa kami?"
"Tentu saja saya tahu, pamankan tamu dari desa lain..."
"Bukan begitu, anak bodoh! Kami ini orang penting dari kota Galuh galunggung, sahabat baik juraganmu itu. Nah, jika kau berani bermain gila dihadapanku. Bisa-bisa kau mendapat hukuman dari juraganmu itu..."
"Saya tidak takut Paman!"
"Hah! Kau rupanya bernyali harimau..."
"Bukan begitu, paman. Bukan saya tidak takut, tapi saya tahu, bahwa juragan kami sangat baik..."
"Kau... kau..." siKusir bener-benar habis kesabaranya. Terlihat tanganya diangkat, seketika itu juga pecut siKusir sudah meledak-ledak diudara siap digitikan.
"Asnawi, kau jangan setali tiga uang. Bicaralah baik-baik, kalau perlu kasih dia hadiah jika mau mengantar kita..."
"Nah, kalau ada imbalannya aku mau..." sanggah siBocah dengan suara lantang dan gembira.
"Huh, dasar bocah matre!" terdengar siKusir menggerutu. "Bocah, kau akan dapat imbalannya setelah tiba dirumah juraganmu itu. Nah.. sekarang ayo kita pergi, tunggu apa lagi?"
"Baik paman..." sahut siBocah, lalu melirik kearah temanya dan berkata.
"Nyai. Tunggu sebentar disini, akang mau mengantar paman ini menemui juragan Subali..."
"Tapi nyai takut ditinggal sendirian..."
"Gak usah takut, tidak bakalan terjadi apa-apa. Nanti setelah akang pulang, kau juga akan mendapat hadiah..."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar, kapan kang aling berbohong?" jawab sibocah yang tidak lain Lingga Paksi dan Rastiti.
"Kalau begitu baiklah, akan nyai tunggu disini. Malah akan nyai bantu memotong rumputnya..."
"Bagus. Anak baik..."
"Huhh! dasar bocah-bocah kampung..."
"Paman, ayo..." Dan seketika itu pula Lingga Paksi langsung berjalan dengan cepat.
"Hey, kau tunggu jangan tergesa-gesa..."
"Ayolah, jangan lamban begitu..."
"Dasar!" Kata siKusir kembali kesal.
"Tar! Tar! Tar!"
Terdengar bunyi ledakan ketika siPak kusir mulai menggitik bokong kuda agar cepat berjalan. Seketika itu pula, kereta mulai berjalan melalui jalan berbatu yang kiei kananya terhampar luas saqah dan ladang.
"Hey, nak tunggu. Kau berjalan terlalu cepat..." Kembali sikusir berteriak, ketika kereta hampir kehilangan arah.
"Ayolah, kudamu terlalu lamban, paman. Lagi pula, aku tidak banyak waktu, kau lihat tadi kan teman ku menunggu sedirian dipinggir desa..." raut muka siPaman memburuk, dan kedua matanyapun mendelik tanda gusar.
"Dasar kau bocah kampung! Kau tidak tahu, kuda-kuda ini sudah berjalan hampir tiga hari tiga malam. Jadi wajarlah berjalanya agak lambat karena kelelahan, lagi pula jalan kampung ini sangat buruk.."
Lingga Paksi tidak menjawab, namun terlihat ia menghentikan langkah kakinya. Matanya yang tajam menatap dua kuda, yang terlihat kesulitan karena jalan yang bergelombang dan berbatu.
Setelah kereta berhasil mendekati, lalu Lingga Paksi berjalan kembali bahkan sambil bersiul membuat siKusir berdecak kesal karena dianggap tidak sopan.
"Sudah biarkan saja, toh namanya juga anak-anak..." Terdengar suara berat perlahan didalam kereta.
"Iya.. baiklah juragan senapati..."
"Ayah, tapi anak itu sungguh kurang ajar dan membuatku kesal sejak dari tadi..." terdengar suara lainya dari dalam kereta kuda dan sekali ini suaranya cempreng seperti anak-anak belasan tahun.
"Kau harus belajar membuka mata anaku, disini bukanlah dikotaraja yang semuanya harus tunduk dan patuh akan aturan..."
"I.. iya ayah, saya mengerti..." sahut sianak mengiyakan penuh kepatuhan.
Sementara setelah menelusuri beberapa kelokan dan kebun yang tak terawat, ahirnya rombongan tiba ditempat yang dituju.
"Juragan, ada rombongan kereta yang meminta saya untuk menemui, juragan..." Lingga Paksi langsung berseru ketika sudah sampai di hadapan juragan Subali.
"Ya.. saya sudah tahu, Aling. Makanya saya sekeluarga sudah menunggu untuk menyambutnya..."
"Oh iya, tapi dari mana juragan tahu?"
"Langlayang (surat) yang dikirim melalui burung merpati..."
"Oh..." Terlihat mulut Lingga Paksi melongo, lalu manggut-manggut tanda mengerti.
Selain keluarga juragan Subali, dihalaman sudah berjejer para centeng dan pakacar yang ikut serta menyambut kedatangan tamu dari kota raja. Bahkan kacung baru nyimas Lirihpun ikut berdiri tidak jauh dari nyimas lirih, dan ternyata kacung baru tersebut tidak lain siArsan sobat sialing sendiri.
Ya, begitulah.. beberapa minggu yang lalu, setelah kembali dari bukit kalapitung.. tanpa alasan yang jelas, Lingga Paksi dipindah tugaskan oleh juragan Subali dan kali ini, ia hanya menjadi seorang tukang kuda itupun membantu mang Odon.
Siang itu, berita kedatangan orang Penting dari Galuh Galunggung sudah sentar, terutama dikalangan orang-orangnya juragan Subali.
"Juragan, benarkah mereka itu orang-orang galuh galunggung?"
"Tentu saja benar, memangnya kenapa?"
#Bersambung