
"Apakah mereka kesini untuk mengantarkan anak-anaknya?"
"Betul. Seperti kubilang beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa orang Galuh yang ingin menitipkan anaknya disini. Dan kebetulan, sinyimas butuh teman. Jadi mengapa tidak mereka ku biarkan bergabung ditempat ku ini..."
"Salah sendiri, kenapa kang Aling terus-terusan menolak berlatih ilmu silat untuk menemani nyai.. " Terdengar nyimas Lirih ikut bicara, ditepas rumah.
"Ya, maafkan saya nyimas..."
Sementara itu terlihat kereta kuda semakin mendekati halaman rumah, beberapa orang pekacar langsung memburu.. bahkan Juragan Subali sekeluarga pun ikut turun menyambut.
Nampak beberapa orang turun melalui pintu samping kereta kuda berukirkan ular Naga. Dua orang lelaki tegap dan gagah, berseragam perwira dengan kelat bahu dimasing-masing spir lenganya.
Dua diantaranya masih anak-anak berperawakan tinggi ramping dengan umur antara 12 hingga 13 tahunan. Setelah saling menyapa dan memperkenalkan satu sama lain, terlihat para tamu menaiki tangga rumah. Namun sebelum masuk, terdengar lingga Paksi berkata.
"Juragan senapati, apakah juragan tidak melupakan sesuatu?"
"Oh iya, aku hampir lupa karena terlalu gembira. Nak, siapa namamu?"
"Aku Linggapaksi juragan, panggil saja lingga..."
"Bagus! Aku suka akan keberanian mu. Nah.. ini terimalah, cendiramata yang kukanjikan tadi..."
"Terimakasih juragan, tapi... apa ini, kok seperti ikat rambut?"
pita berwarna emas?"
"Ya, itu memang ikat rambut. Tepatnya pita emas..."
"Mmm..." terlihat lingga Paksi tercenung, ada kekecewaan terlintas di raut wajah nya.
"Itu... Memang kurang cocok buat seorang anak lelaki, tapi setidaknya kau bisa berikan buat ibumu.."
"Tidak.. tidak... ini lebih cocok buat nyimas lirih. Nyimas, ini ku berikan kepadamu..." Sahut lingga Paksi sambil melangkah dan memberikan pita ke nyimas Lirih.
"Pita itu tadinya memang buat nyimas Lirih, Lingga. Begini saja, jika kau tidak berkenan lain kali kau akan ku bawakan hadiah yang bagus, bagaimana?"
"Terimakasih juragan, toh juragan sudah menepati janji. Kalau begitu, aku pamit..."
"Kang aling, lebih baik pita ini bawa saja. Anggap saja ini pemberian dari ku..."
"Tapi Ini tidak cocok laki-laki, nyimas..."
"Berikan saja buat ibumu, mak Ratna. Atau simpan saja, anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku.."
"Mmm... kalau begitu, baiklah. Pita ini akan saya simpan..." Sahut Lingga Paksi sambil membereskan bungkusan itu kembali. "Nah, juragan semua kalau begitu aku pamit pulang..."
"Hm, kau berhati-hatilah dijalan Aling.."
"Ya.. terimakasih, juragan..." Dan setelah membungkukan badan Lingga Paksipun pergi meninggalkan rumah juragan Subali.
"Siapa anak itu, kang. Kelihatanya akrab benar dengan anak mu..."
"Dulu dia itu kacungnya anaku ini, tapi karna ada sesuatu hal aku memindahkanya..."
"Aku suka akan keberanianya..."
"Justru itulah, makanya dia ku pindahkan. Aku khawatir karena keberanianya itu bisa membahayakan jiwa nya sendiri bahkan orang terdekatnya seperti putriku..."
"Hm, kau benar. Kadangkala anak-anak kurang perhitungan..." sahut kiBagas sambil manggut-manggut.
Didalam ruangan besar nampak rupa-rupa hidangan hangat sudah tersedia, termasuk nasi dan lauk pauknya. Tak ayal lagi, setelah semua duduk bersama merekapun langsung menyantap hidangan dengan lahapnya. Sedang kusir dan para pengawal kiBagas dijamu diruangan yang berbeda.
"Nyimas... kau ajaklah den Arya dan Turangga jalan-jalan berkeliling dikampung kita ini..." Terdengar juragan Subali berkata kepada nyimas Lirih setelah beres di perjamuan makan.
"Iya baiklah, ayah. Kang Arya, kang Turangga, ayo kita berkeliling dikampungku ini..." Arya dan Turangga mengiyakan, dan tak perlu diajak dua kali merekapun langsung bergegas meninggalkan rumah.
Arya dan Turangga adalah dua anak yang mempunyai wajah cukup tampan, keduanya merupakan anak kandung kiBagas dan kiGenta dua senapati kerajaan Galuh Galunggung.***
"Kok lama, kang Aling?" Tanya Rastiti bocah perempuan yang sudah menunggu lama sejak tadi.
"Maafkan akang, nyi. Tidak kusangka mereka itu hampir melupakan janjinya..."
"Oh ya! Terus apa yang mereka berikan?"
"Ini nyi, kau lihatlah. Mungkin ini cocok untukmu..."
"Kau bukalah sendiri..." sahut Lingga Paksi seraya memberikan bungkusan kecil kepada Rastiti.
"Oh... pita emas?" seru Rastiti penuh antusias, "Sungguh bagus sekali kang Aling. Ini mungkin harganya sangat mahal..."
"Itu memang bagus dan mahal. Tapi tidak cocok sama sekali buat akang. Masakan lelaki memakai pita emas? Haha..."
"Kalau begitu buat nyai saja, ya kang..."
"Kau ambilah. Tapi... mana salang wadah rumput akang tadi?"
"Sudah dibawa sejak tadi oleh ayah, sekarang dia berada ditegal pangangonan..."
"Kenapa kau tidak ikut?"
"Aku kan sedang menunggu, akang..."
"Huh, kau ini.. lain kali kalau ayahmu yang menyusul lebih baik kau ikut. Sekarang, ayo... kita ke sana..."
"Iya kang..." Selesai berkata begitu, maka mereka pun pergi ke tegal yang tidak seberapa jauh ditempat itu.
Tidak lama berselang, mereka pun sudah tiba di suatu lapangan yang cukup luas, dan dipenuhi rumput menghijau. Lapangan itulah yang disebut dengan tegal pangangonan, dimana semua binatang ternak berkumpul dan mencari makan disana.
Ada sebuah danau kecil dilapangan itu, yang airnya mengalir dari cimahpar disebelah utara tegal pangangonan.
Lapangan yang luasnya hampir seukuran lapangan bola itu nampak dipenuhi kuda-kuda pilihan juragan Subali. Nampak kuda berlarian kesana kemari, sedang sebelah selatan yang dekat ke pinggir hutan, terlihat ternak lainya seperti kambing, domba dan kerbau milik beberapa orang warga yang mempunyai rajakaya.
"Nah, kau sudah kembali, aling. Sudah darimana?"
"Saya diminta mengantar orang-orang galuh menemui juragan Subali, mang. Apakah Rastiti tadi tidak bilang apa-apa?"
"Tentu bilang, cuman kurang jelas karena menjawab dengan bersungut-sungut kesal..."
"Oh iya..." sahut siAling sambil melirik ke Rastiti.
"Siapa suruh kang Aling kelamaan dirumahnya juragan Subali?"
"Yayaya.. akang salah deh. Tapi apakah nyai sekarang masih marah?"
"Tentu tidak, karena aku sudah mendapatkan ini..." jawab Rastiti sambil memintal-mintal pita dirambutnya.
"Apa itu Rastiti?
"Pita ayah, masakan ayah tidak tahu?"
"Bukan begitu maksud ku, kau mendapatkanya darimana?"
"Tentu saja hadiah dari orang galuh, yang dihadiahkan ke kang Aling dan diberikan lagi pada saya..."
"Oh ya...?"
"Benar mang, karena kurang cocok saya berikan saja ke siRastiti..."
"Tapi apakah tidak akan menjadi masalah, Aling? Pemberian orang diberikan lagi keorang lain?"
"Tentu tidak paman, itu kan sudah menjadi milik saya. Jadi mau diapakan juga ya terserah saya..." Mang odon hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Linggga Paksi tersebut. "Oh iya mang, aku ingin naik kuda lagi, hitung-hitung melancarkan..."
“Hm, bolehlah. Tapi hat-hati...”
“Itu sudah pasti, mang...”
"Nyai ikut ya, kang..." sahut Rastiti sambil merengek.
"Iya.. iya..."
Lalu mereka berdua segera pergi dan mendekati salah satu kuda yang sedang memakan rumput, dan dengan cekatan Linggga Paksi naik bersama Rastiti.
Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berada diatas punggung kuda. Dan terus berjalan mengelilingi tegal pangangonan. Meskipun baru berlatih hampir satu bulan namun Linggga Paksi sudah bisa disebut pandai, ia sudah terlihat lancar bisa mengendalikan kuda sesuai keinginan.
Sementara mang Odon memperhatikan dari pinggir lapangan sambil manggut-manggut. Dia senang Linggga Paksi sudah pandai mengendarai kuda dengan benar, bahkan terlihat Linggga Paksi sudah berani melarikan kuda dengan cekatan.
Bersambung**