Ghanapurusa

Ghanapurusa
Keluhan Sang Kacung



"Apa kalian bertiga baik-baik saja?" Terdengar gurunya bertanya.


"Saya baik-baik saja guru..." jawab Arya.


"Baguslah, kalau begitu. Sekarang ayo ikut aku, kita bicara dipendopo..."


"Iya guru..."


Juragan Subali lalu melangkah menuju tangga pendopo. Tak lama setelah mereka semua duduk, siArsan datang sambil membawa air beserta makanan. Terlihat siArsanpun sudah semakin dewasa, hanya saja badanya semakin kurus.. dan terlihat tak bergairah.


Sebenarnya ia sudah tidak kerasan menjadi kacung Nyimas Lirih, dan dua teman barunya itu. Sebab, bukan saja pekerjaanya yang sangat berat dan menguras tenaga, namun sikap Arya begitu keras dan kaku.


Tidak jarang siArsan dimarahi hanya karena alasan sepele, bahkan tidak jarang mendapat perlakuan kasar seperti kena tamparan atau tendangan. Terutama oleh Arya yang memang ringan tangan dari sejak dulu.


Namun karena tidak ada pilihan lain, terpaksa si Arsan terus bertahan meskipun harus mengalami luka fisik dan batin yang cukup menyakitkan.


"Dengarkan aku, anak-anak..." Terdengar juragan Subali berkata, "Kelihatanya apa yang aku ajarkan selama ini, cukup membuahkan hasil. Terbukti, beberapa minggu yang lalu kalian bertiga bisa menghalau para perampok yang mendatangi kampung kita ini. Namun meskipun begitu, perlu kalian ketahui.. para perampok kemarin hanyalah kelompok kecil yang mungkin tahap ilmu silatnya tidak seberapa. Ada banyak jago silat diluaran sana yang ilmunya lebih hebat dari para perampok bahkan lebih kuat dari gurumu ini. Jadi aku berharap, kalian tidak puas begitu saja dalam mendalami ilmu silat..."


"Saya mengerti, guru. Dan saya pun sadar, apa yang barusan guru katakan. Tapi apakah yang harus saya lakukan agar ilmu silat kita bertiga terus berkembang?"


"Ada banyak cara untuk meningkatkan ilmu silat, salah satunya ialah mengonsumsi buah atau ginseng atau sejenis mustika yang terdapat dalam hewan ajaib. Hanya saja, saat ini sudah terlalu sulit karena sering diburu oleh pendekar lainya yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa akibat konflik yang ditimbulkan. Namun meskipun begitu, aku punya ilmu yang dapat meningkatkan tenaga dalam dengan cepat. Hingga dalam beberapa bulan saja bisa bertambah sampai beberapa puluh kati..."


"Saya siap mempelajarinya, guru. Apapun sarat dan bagaimana caranya akan saya lakukan..." Turangga langsung menyanggah dan menyangggupi.


"Betul guru, kapan kita bertiga bisa mulai mempelajarinya..."


"Kalau tidak ada aral melintang kemungkinan beberapa hari lagi..."


"Iya guru, baiklah..."


"Sekarang ada beberapa hal yang ingin ku tekankan kembali kepada kalian bertiga, terutama tentang sikap kalian akhir-akhir ini. Terus terang saja, aku sering mendengar perbincangan orang-orang desa tentang sikap kalian yang dimata mereka mungkin dirasa sombong dan jumawa. Jadi jika benar sikap kalian begitu, segeralah rubah mulai dari sekarang..." Mendengar perkataan gurunya tersebut, sekali ini Arya, Turangga dan nyimas Lirih tidak menjawab.


Namun dalam hati dia mendelu, dianggapnya orang-orang kampung berlebihan dan tidak tahu balas budi. Padahal dirinya sudah berhasil menghalau perampok beberapa minggu yang lalu yang hendak mencelakai mereka.


Hari itu, Arya, Turangga dan nyimas Lirih hanya diberi petunjuk yang lebih menitik beratkan akan sikap kepada sesama. Tentang sopan santun dan etika.**


Sorenya, setelah mereka selesai berlatih seperti biasa mereka bertiga lalu berjalan-jalan mengelilingi desa. Setiap orang yang bertemu langsung minggir, dan menunduk. Namun setelah mereka bertiga lewat langsung berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikan.


"Aneh, orang kampung sini makin lama makin menjengkelkan..." kata Arya yang memang temberang.


"Mungkin mereka takut, kang Arya..." jawab nyimas Lirih.


"Hh! Memangnya kita bertiga ini harimau apa? Mungkin mereka itu penakut, sama seperti mu Arsan. Kacung jelek!"


"I.. iya den..." Belum apa-apa siArsan sudah langsung tegang, dia tahu jika hati Arya sedang tidak senang ia sering memaki-maki tidak keruan.


"Dulu.. kalau tahu akan begini, maka akan kubiarkan saja para perampok itu menyatroni rumah mereka..."


"Hus, jangan bicara sembarangan, kang. Siapa tahu disini ada cecak putih, lalu terdengar sama guru kita..."


Arya tidak bicara lagi, mereka lalu duduk dibaledesa.


"Oh iya, aku haus. Mana air minumnya, Arsan?"


"Oh, aduh..."


"Bu.. bukan begitu, den. Tadi saya lupa mengisinya. Jadi yang saya bawa isinya hanya sedikit..."


"Sialan, kau memang kacung tak berguna. Kemari..."


"I.. iya..."


Dengan muka yang putih karena ketakutan, siArsan mendekati. Dan, "plak!" Satu tamparan langsung hinggap dipipinya, meskipun tamparan biasa namun cukup membuat siArsan mengaduh.


"Ingat, lain kali jangan sampai lupa mengisi nya lagi..."


"I.. iya den, maaf..." Sahut siArsan sambil meringis.


"Nyimas, apakah kau mau minum?" Arya bertanya kepada nyimas Lirih.


"Tidak kang, akang saja yang minum..." Arya meneguk air yang berada diwadah kukuk. Sejenis labu yang sudah dibersihkan dan dikeringkan sehingga bisa dipakai menyimpan air dan berbentuk guci.


"Turangga, aku ingin mendengar pendapat mu. Apa benar sikapku selama ini berlebihan?"


"Kurasa biasa saja, kang. Mungkin penduduk sini tidak terbiasa dengan sikap kita. Dan dianggapnya sikap kita ini sombong..." Arya manggut-manggut.


"Dan bagaimana menurutmu nyimas?"


"Kang Arya, selama ini aku belum pernah merasakan hidup dikota raja. Jadi aku tidak tahu bagaimana kehidupan disana, namun tentang etika dan tatakrama aku sudah diajarkan oleh ibuku..."


"Yayaya... mungkin orang sini memang tidak tahu adat istiadat bagaimana hidup dengan tata aturan yang berlaku. Tapi menurutku, belajar dan tahu sedikit-sedikitkan tidak rugi. Bukankah begitu, Arsan?"


"I.. iya, den..." jawab siArsan masih meringis, nampak pipi kirinya memerah bekas tamparan tadi.


"Bagaimanapun juga, kau sudah cukup lama melayaniku. Mungkin dalam hal ini, kau sudah mulai tahu tentang cara menghadapi seseorang yang berbeda kasta..."


"I.. iya den, berkat aden saya mulai tahu, meskipun sedikit-sedikit..."


"Kelak jika kau ke kota raja, maka pengetahuan mu itu akan menyelamatkan hidup mu..."


"I.. iya den, terimakasih..."


"Hm..."


"Tapi kang, ngomong-ngomong dari siapa guru kita mendapat laporan tentang sikap kita selama ini?" Turangga bertanya karena penasaran.


"Entahlah, mungkin guru kita punya banyak mata dan telinga. Persis apa yang telah dilakukan beberapa tahun yang lalu terhadap sinyimas dan siAling. Bukankah begitu, nyimas?" nyimas lirih mengangguk sambil menjawab.


"Itu... memang betul, kang. Dulu akupun pernah ketahuan, dan tak lama dari itu kang Alingpun dipindah tugaskan oleh Ramaguru..."


"Dan apakah penggantinya itu siArsan ini?"


"Iya kang..."


"Sesungguhnya aku masih penasaran akan sikap anak itu..."


Arya menerawang kemasa lalu, saat itu ia pernah menampar siAling namun betapa dia kagetnya ketika lenganya itu sakit sebab seolah-olah ia menampar benda yang sangat keras. Namum sampai detik ini, perasaan itu ia pendam dan dirahasiahkanya.