Ghanapurusa

Ghanapurusa
Gempungan



Berita tentang pembunuhan yang dilakukan KiGenta atas keluarganya sendiri, tentu saja mengejutkan banyak orang terutama yang mengenal keluarga itu. Bahkan pihak istanapun merasa kaget atas kejadian tersebut. Mereka semua tahu, bagaimana sikap kiGenta selama ini terhadap anak dan istrinya. Meskipun kiGenta terkenal sosok yang tegas dan berdisiplin tinggi, tapi toh dia sangat penyayang dan mencintai terhadap keluarganya. Jadi mendengar apa yang dilaporkan beberapa prajuritnya, tentu saja membuat kalangan istana terkejut dan hampir tidak mempercayainya.


Maka dari itu, beberapa hari kemudian setelah situasi agak membaik akhirnya kiBagaspun dipanggil menghadap Sang Ratu Betari Hyang Janapati. Terlihat dibala irung, beberapa kasepuham keraton Galuh Galunggung sudah berkumpul dihadapan sang Ratu, yang duduk disitingkil kursi gading gilang kencana dengan baju dan mahkuta kebesaranya.


Meskipun sudah tidak muda lagi, namun aura dan wibawa yang terpancar dari wajah sang Betari sungguh membuat orang silau dan ingin menunduk. Termasuk kiBagas yang saat itu sedang duduk berhadapan. Tak lama terdengar Sang Dewi Hyang Janapati mulai bertanya kepada kibagas.


“Senapati Bagas, apa sebenarnya yang telah terjadi pada keluarga rekan mu itu? Sebab menurut penyelidikan, pembunuhan atas anak istrinya itu memang dilakukan secara murni oleh senapati Genta...”


“Hamba sendiri kurang jelas, gusti Ratu. Sebab saat hamba datang, semuanya sudah terjadi...” Sahut kiBagaspati sambil merapatkan kedua tanganya didepan dada.


"Benarkah kau yang melumpuhkan Senapati Genta tatkala ia mengamuk?”


"Benar gusti, itu pun dibantu oleh beberapa prajurit dan pendekar digedung kediamanya. Dia tak berkutik setalah belasan tambang dan jala berhasil meringkusnya..."


"Apakah kau berhasil melukainya?"


"Tidak, meskipun sempat bertarung dan bertukar serangan. Tapi hamba tidak bisa melukainya..."


"Namun menurut tabib istana, ada luka goresan cukup dalam tepat didada bagian kiri. Luka itu mengangga seperti bekas sayatan kuku harimau. Dan yang lebih mengherankan dia mati kelelahan dengan seluruh urat saraf dan pembuluh darahnya yang pecah. Menurut kabar beberapa waktu yang lalu, kau dan rekan mu itu telah mengadakan perjalanan keluar kota. Dan menurut rumor, kau juga telah kehilangan beberapa pengawal dan prajuritmu akibat sebuah bentrokan dengan kawanan penjahat. Benarkah...”


Mendengar perkataan Sang Betari begitu, maka kiBagaspun menundukan muka sambil menyembah.


“Sendika gusti...”


“Coba ceritakan kepadaku. Bagaimana perihal kejadian yang sesungguhnya?”


"Baik gusti, begini ceritanya..."


Maka seterusnya KiBagaspun menceritakan apa yang telah terjadi dan menimpa rombonganya ketika dirinya hendak pulang ke kota raja. Tentu saja yang diceritakan kiBagas tidak semuanya jujur, ada beberapa hal yang ia sembunyikan terutama tentang luka yang didapatkan dari si Raja Kelong. Kenapa ia sampai tidak jujur? Karena dia tahu, kini apa yang dilihat dan didengar sudah terkonek dengan mata dan telinga siTopeng kelelawar sendiri.


kiBagas hanya menceritakan, bahwa para penyerangnya memakai topeng kain hitam. yang dipimpin oleh seorang yang mengenakan topeng kelelawar dan mengaku sebagai siRajakelong.


"Terus terang saja, pada saat itu hamba sempat terpisah karena pertarungan terpecah hingga beberapa kelompok. Saat kembali lagi ketempat semula, seluruh pengawal dan pembantu hamba sudah tewas..."


"Baiklah, kalau kau tidak tahu. Sekarang dengarkan penuturan Nyai Durgandini Penasehat kita ini tentang apa yang terjadi pada kiGenta. Nyai silahkan dibahas..."


Mendadak saja terlihat seorang perempuan tua dengan tusuk konde emas dirambutnya menyembah dan berkata. Perempuan itu berusia sekitar 70 tahunan, namun matana tajam dan orang akan begidik jika kebetulan dipandang oleh perempuan tua itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada diri Senapati Genta aku masih sangsi. Sebab jika dugaan ku ini benar, maka dunia akan mengalami Bancang Pakewuh! Matinya kiGenta beberapa hari yang lalu mengingatkan ku pada suatu cerita tentang Rajakelong. Konon katanya dijaman Tarumanagara berdiri, ada sesosok mahluk setengah monster, dia berwujud manusia setengah kelelawar. Pada masa itu dia bernama siRajakelong. Dia nyaris tak terterkalahkan, setiap orang yang menjadi lawan-lawannya kalau tidak mati terbunuh akan menjadi budaknya sepanjang masa. Orang yang terluka oleh sayatan kukunya akan terjangkiti jaram kelong, dia akan mati jika tidak diberi penawarnya dalam waktu 30 hari.. dan jika kebetulan mati, ia akan bangkit menjadi Buganghapa atau mayat hidup.


Hingga pada suatu hari Raja Kelong bertemu dengan mahluk kuat lainya yang bernana Ganapurusa. Ghanapurusa itulah yang berhasil mengalahkanya, hingga beberapa abad kemudian tak terdengar lagi keberadaanya entah sudah binasa atau berhasil dikurung.


Namun sebelum menghilang, menurut rumor Raja Kelong sempat menuangkan seluruh ilmu kesaktianya kedalam sebuah Kitab yang bernama Kitab Raja Kelong. Dan sempat menjadi rebutan para pendekar beberapa abad kemudian hingga berjatuhan korban jiwa baik dari aliran sesat ataupun aliran lurus.


Hingga beberapa tahun yang lalu muncul sesosok mahluk yang hampir menyerupai Raja Kelong, ia terus menerus menteror warga dengan cara menculik bayi yang baru lahir. Bahkan kalau tidak salah, dia berhasil membunuh 4 senapati kerajaan Sunda.. pada saat hendak membasmi gerombolan Kelelawar Hitam Dipuncak Gunung Manglayang.


Nah, yang menjadi ke khawatiran ku saat ini.. kematian kiGenta hampir menuju kearah sana. Beberapa waktu yang lalu, Mayat kiGenta bangkit dan berhasil membunuh dua orang penjaga yang kebetulan mendekatinya karena penasaran..."


Mendengar apa yang diceritakan sang Durgandini, tentu saja kiBagas dan yang lainya kaget bukan kepalang. Cerita yang dituturkan sang Penasehat belum diketahui banyak orang, termasuk kiBagaspati.


"Jadi kalau begitu, dimanakah mayat kiGenta sekarang Gusti penasehat?"


"Tentu saja ia sudah disempurnakan dengan cara diperabukan. Dan sebelumnya terpaksa kepalanya dipenggal terlebih dahulu, karena jika tidak ia akan terus mengamuk dan akan memakan korban lebih banyak...”


“Oh... hamba tak menyangka, jika jasadnya kembali bangkit gusti...”


“Ya, dan konon katanya.. hanya dipenggal satu-satunya cara untuk membinasakan orang yang sudah menjadi Buganghapa. Dan ingat! Jika kau kebetulan menemukan bugang hapa, maka penggalah kepalanya. Apa kau mengerti, Senapati Bagas?”


"Sendika gusti penasehat..." Sahut kiBagas sambil sembah sungkem.


Sementara itu, diam-diam kiBagas membatin. Dia mengeluh atas apa yang terjadi pada diri dan sahabatnya itu. Bahkan dirinya sadar, jika suatu hari nanti ia akan senasib dengan kiGenta menjadi Buganghapa.***