Ghanapurusa

Ghanapurusa
siRajakelong



Malamnya...


Disuatu rumah besar yang berada ditengah kampung, nampak ada beberapa orang yang sedang duduk dilantai kayu saling berhadap-hadapan. Orang itu tidak lain adalah juragan Subali beserta dua tamunya Kibagas dan KiGenta, dua senapati kerajaan galuh galunggung yang sedang bertamu dirumah itu.


Sedang masing-masing anaknya, Arya dan Turangga sudah tidur dikamarnya masing-masing. Diantara suara jangkrik dan binatang malam lainya, terdengar kiBagas bercerita.


"Semenjak Purabasa dipindah dari Karang Kamulyan ke Rumantak, dan keBataraan diganti dengan kedatuan. Sang Rajaresi Dang Hyang Sudakarmawisesa lebih memilih menyepi dipuncak gunung Galunggung. Sedang kedatuan secara otomatis dikendalikan oleh Kanjeng Bhatari Sang hyang Janapati..." terdengar kiBagas berkata sambil duduk bersila.


"Aku mendengar, ahir-akhir ini dia terus membangun Purabasa Galuh, benarkah?" juragan Subali yang menjadi lawan bicaranya langsung menjawab dengan sebuah pertanyaan.


"Ya, setelah dia menobatkan diri sebagai Bhatari dan membuat Prasasti Geger Hanjuang. Dia tidak berhenti sampai disitu, belakangan dia membangun parigi yang melingkari purabasa. Seolah-olah, esok pagi musuh akan datang menyerang..."


"Kekhawatiran dia memang cukup beralasan, sahabat ku. Sebab bukan lagi rahasia umum bahwa dulu dia hampir berhasil membunuh kakak kandungnya sendiri karena cinta buta. Meskipun berhasil didamaikan oleh karesian Saunggalah, namun tetap saja bara dalam sekam belum tentu padam sepenuhnya..."


"Betul itu kang, sampai hari ini pun sang Bhatari tidak percaya kalau Sang Prabu Langlangbumi memaafkanya. Makanya dia terus-terusan membangun parigi dan sungai yang nyusuk disekeliling Rumantak..."


"Aku mendengar, beberapa kali purabasa diserang oleh orang yang tidak dikenal. Benarkah?" Juragan Subali kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"Itulah permasalahanya, meskipun penyerang gelapnya bukan dari utusan kerajaan Sunda, namun dengan keukeuh ia menuduh utusan sang Prabulanglangbumilah pelakunya. Sayang ketika penyerangnya berhasil ditangkap dan hendak dikorek keteranganya para penyerangnya itu sudah mati duluan setelah menelan racun yang disimpan dibalik lidahnya..."


"Tentu mereka orang-orang terlatih dan tersumpah atas apa yang mejadi rahasiahnya..."


"Ya begitulah...”


Sementara didalam rumah terus melakukan perbincangan, diluar justru keadaan semakin larut. Hingga akhirnya terdengar suara kentungan beberapa kali, menandakan waktu sudah tengah malam.


Hampir satu pekan kiGentas dan Kibagas berada dirumah juragan Subali, tepat minggu kedua maka mereka pun berpamitan dengan meninggalkan anak-anaknya untuk berlatih silat dengan juragan Subali.***


Para pembaca yang budiman, sampai episode ke 16 saya ingin mengucapkan terimakasih telah mau mampir dan membaca karya novel saya ini. Semoga para sahabat pembaca mau memberi saran dan kritiknya. Dan tidak lupa memberikan like nya. terimakasih.


Kereta itu melaju dengan santai, tidak ada pengawal yang terlihat disekitarnya hanya seorang kusir saja yang duduk dikursi depan. Namum dalam kenyataanya, dalam radius 10 meter beberapa orang dengan senjata busur lengkap dengan anak panahnya selalu mengawasi jalan dan keadaan disekitar kereta tersebut.


Tentu saja gunanya untuk menetralisir dari orang-orang jahat yang ingin merampok, atau menginginkan nyawa dua senapati kerajaan Galuh tersebut. Hingga pada suatu tempat, mendadak saja kuda meringkik histeris sambil mengangkat kedua kaki depanya hingga kereta berguncang hebat.


“Asnawi ada apa?" terdengar kiBagas bertanya dari dalam.


"Tidak tahu juragan, tiba-tiba saja kuda mendadak berhenti dan histeris..."


"Aneh..."


Terdengar kiBagas menggerutu. Sementara itu beberapa pengawal yang bersembunyi dibalik pepohonan yang bersenjatakan busur langsung menghampiri dan mendekat.


"kiAsnawi ada apakah? Kenapa tiba-tiba kau menghentikan laju kuda?”


"Entahlah Pengawal, kuda-kuda ini mendadak berhenti begitu saja...”


"kiSangga, coba kau periksa apa ada perampok atau begal yang menghadang?" Terdengar dari dalam kiBagas bertanya.


"Iya juragan..." Sahut pengawal itu yang bernama kiSangga sambil melirik kearah orang-orangnya.


kiSangga adalah kepala pengawal rahasia kiBagas dan kiGenta, ia jarang menampakan diri dimuka umum. Kecuali diperintah dan diperlukan, makanya meskipun terlihat kereta tanpa pengawal.. tapi dalam kegelapan, mereka terkawal dan terlindungi.


Sementara itu hampir lima orang terlihat berkelebat kesana-kemari, memeriksa situasi namun satu pun tidak menemukan apa yang ditakutkan.


“Bagaimana? Apakah ada yang mencurigakan?”


"Tidak ada apa-apa, Gusti. Situasi tetap aman dan terkendali..."


"Hm, aneh! Tidak ada apa-apa tapi kuda berhenti begitu saja. Asnawi, coba kau periksa mungkin kuda ini sakit atau bagaimana?"


"Baik..."


kiAsnawi  lalu bergegas memeriksa keadaan dua kuda penarik kereta tersebut. Namun ternyata kedua kuda itu baik-baik saja, hanya saja terus gelisah dan terus menerus meringkik.


"Bagaimana Asnawi?"


"Aneh kiSangga, kelihatanya kedua kuda ini baik-baik saja. Hanya terlihat gelisah seperti mencium sesuatu gelagat yang kurang genah..."


"Benar-benar aneh! Mungkinkah kuda-kuda ini kecapaian dan kelelahan?"


"Itu agak mustahil, sebab perjalanan dari cikahuripan ke sini belumlah cukup jauh..."


"Lalu apa yang membuatnya seperti ini..."


“Entahlah...” sahut kiAsnawi kusir kereta tersebut.


“Kisangga, bagaimana? Apakah diluar baik-baik saja?” terdengar dari dalam kereta kiBagas bertanya.


"Semuanya baik-baik saja gusti senapati, namun....”


“Namun apa?”


“Gusti, lebih baik diam dulu didalam...”


“Memangna kenapa?”


“Tidak apa-apa...”


Sementara itu, benda hitam yang berbentuk seperti awan tebal semakin mendekat. Terdengfar kiAsnawi bertanya, dengan nada yang bergetar.


"A.. apa itu?"


"Seperti awan..." seru yang lainya.


"Bukan! Itu bukan awan, tapii... burung... "


"Bukan! Itu bukan burung, tapi ratusan kelelawar..."


"Apa?!'


Kuda semakin panik dan meringkik keras terus meronta-ronta, seperti ingin lari meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian,


"Brull..."


Ketempat itu langsung diserbu ratusan bahkan ribuan kelelawar, disertai suaranya yang berdecit hingga mengeluarkan suara yang bergemuruh dan mengerikan..


"Apa-apaan?"


Para pengawal langsung sibuk memutarkan masing-masing busurnya untuk mengahalau. Namun anehnya tidak ada satupun yang mengena, ratusan kelelawar itu seperti bisa menghindar dengan cekatan.


Malah sebaliknya, mereka menyerang dengan buas menggigit dan mencakar, hingga kulit, daging para pengawal robek dan terkelupas.


"KiSangga suara apa itu?"


"Ah, ss.. ss... ah, ke.. kelelawar, se.. sebaiknya juragan tetap di... di... argh...didalam..."


"Kelelawar? Kelalawar apa?"


Tidak ada yang menyahut diluar, hanya suara yang bergemericit dan bergemuruhnya suara dari ratusan kepakan sayap kelelawar. Hingga akhirnya keadaan kembali sunyi tidak terdengar suara apapun.


"Sanga... sangga..."


Terdengar kiBagas berteriak memanggil para pengawalnya. Namun diluar tetap sunyi, hingga akhirnya mereka berdua sepakat untuk keluar.


Bukan main terkejutnya kiBagas dan kiGenta, manakala melihat apa yang terjadi diluar. Terlihat para pengawalnya sudah binasa dalam keadaah tinggal tulang belulangnya saja. Sedangkan kulit dan dagingnya sudah ludes seperti bekas dimakan sesuatu.


"Ini... ini apa yang terjadi?"


"Sepertinya mereka telah dimakan oleh kelelawar tadi.." jawab kiGenta sambil bergidik ngeri.


"Benar sepertinya begitu. Tapi kemana perginya sekarang ratusan kelelawar itu?"


"Hahaha..."


Mendadak saja terdengar suara orang tertawa dibalik sebuah pohon besar. Dan terlihat seseorang telah berdiri dengan mengenakan topeng kelelawar hitam.


"Siapa kau?"


"Aku siRajakelong..."


"siRajajelong?" kiBagas menatap wajah dibalik topeng kelelawar itu, ia mengira orang itu belum terlalu tua.. bahkan bisa disebut masih muda.


"Apakah semua pengawalku kau yang membinasakannya?"


"Mm..ya, bisa dibilang begitu..."


"Kurang ajar, apa yang kau inginkan?"


"Kepatuhan dan kesetiaanmu..."


"Kesetiaan apa? Dan pada siapa?"


"Haha... tentu saja kepada ku..."


"Tapi untuk apa?"


"Hm, hahaha..."