Ghanapurusa

Ghanapurusa
Kembali Menjadi Kacung



"Wut... brak!


"Wut... brak!


Suara itu terdengar kuat dan berirama, keluar dari halaman belakang rumah kayu beratap ilalang.


Tak jauh dari situ, terlihat asap putih membumbung tinggi ke udara keluar dari atap-atap pawon yang sedang memasak.


Pagi itu seorang pemuda kisaran umur 16 tahun, terlihat sedang asik membelah kayu bakar sebesar paha orang dewasa.


Terlihat kayu-kayu itu langsung terbelah dengan satu kali ayunan tangan. Seolah-olah kayu-kayu itu terbuat dari bahan yang rapuh dan empuk, padahal kayu-kayu itu sangat kuat dan keras.


"Wut... brak!"


"Wut... brak!"


Suara itu terus berirama, bersahutan dengan tra-tring-trungnya bunyi lesung yang sedang dipakai menumbuk padi tak jauh dari rumahnya itu.


Orang-orang dicikahuripan semuanya tidak ada yang tinggal diam. Bahkan anak kecil pun berlarian dengan tubuh telanjang, sementara terdengar dari mulutnya riuh bernyanyi dengan lagu-lagu riang dan gembira.


"Sampuran, sun..."


Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan memberi uluk salam didepan pekarangan rumahnya.


"Siapa?"


Sontak saja Pemuda tanggung itu menjawab dan seketika itu juga ia mengurungkan niatnya untuk membelah kayu. Telapak tanganya yang sudah diangkat tinggi-tinggi kembali diturunkan.


"Saya...!"


"Saya siapa? Kesini saja aku sedang bekerja, lagi tanggung..."


"Ya..."


Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Lingga Paksi yang sedang membelah kayu bakar itu, langsung terkejut ketika tahu siapa yang datang yang ternyata nyimas Lirih putri dari juragan Subali.


"Eh, nden lirih. Saya kira...?"


"Saya kira siapa, hayo?!" nyimas Lirih langsung menggoda, dan tersenyum manis membuat dada Lingga Paksi berdegup kencang, saat melihat senyumnya itu.


Ya, sudah lama sekali ia jarang bertemu dengan teman kecilnya itu. Kini setelah empat tahun berlalu, nyimas lirih menjadi gadis yang sangat cantik. Terhitung semenjak ia dipindahkan dari pekerjaannya menjadi tukang angon kuda.


"Hey, mengapa kau terus bengong? Apa kedatanganku mengganggumu?"


"Oh.. ten.. tentu saja tidak, nden. Hanya saja saya kaget, tak disangka nden mau datang kegubug reyotku ini..."


"Tidak usah merendah, kang Aling. Tapi.. sukurlah jika kedatanganku ini tidak mengganggumu..."


"Tentu saja tidak, tapi ada apakah gerangan sehingga nden mau datang ketempat ini?" kata Lingga Paksi sambil mengambil beberapa potongan kayu yang sudah terbelah. Lalu menjejerkanya ditempat yang panas agar tersinari cahaya matahari.


"Aku ada perlu, kang..."


"Oh iya, kalau begitu ayo kita masuk kedalam..."


"Tidak usah, kang. Silahkan saja sambil bekerja..."


"Baiklah..."


Sementara Lingga Paksi mulai membereskan kayu yang berserakan, sementara nyimas Lirih mulai menceritakan perihal kedatanganya. Ia menceritakan bahwasanya siArsan tidak mau lagi bekerja lagi sebagai kacung.


"Jadi kedatangan ku kesini atas perintah Rama Subali untuk menawarkan pekerjaan yang dulu sempet akang tinggalkan..."


"Apakah menjadi kacung kembali?"


"Ya, beliau berharap kau mau menggantikan kang Arsan.. kembali melayani saya dan, um.. kang Arya serta kang Turangga..."


"Mm.. kenapa siArsan bisa berhenti bekerja sebagai kacung? Tentu ada apa-apanya..." kata Lingga Paksi sedikit menguji kejujuran hati nyimas Lirih.


"Mungkin dia tidak terbiasa, kang. Ditambah lagi sikap kang Arya dan Turangga sedikit kasar dan keras! Kupikir itu yang menyebabkan kang Arsan tak kerasan bekerja sebagai kacung..."


"Lalu.. menurut nden, apakah aku akan kerasan?"


"Mm.. bukan begitu. Tapi... menurutku, akang sudah terbiasa bekerja seperti itu, jadi mungkin akan bisa meminimalisir kesalahan setiap pekerjaan..."


"Lalu.. bagaimana jika akang tidak mau?" sahut Lingga Paksi sambil balas menatap gadis jelita itu.


Nyimas Lirih tidak segera menjawab, terlihat ia sedikit memalingkan muka tergambar ada kekecewaan dalam raut wajahnya yang cantik itu.


Setelah terdiam cukup lama, barulah nyimas lirih kembali bicara.


"Jika akang tidak mau... mungkin aku harus mencari orang lain! Dan.. entahlah ada yang cocok apa tidak menjadi pelayan kami bertiga..."


"Bagaimana, kang? Apa akang mau?"


"Terus terang saja, nden. Aku sudah merasa betah menjadi pengembala, aku sangat senang bisa menggembala kuda-kudanya juragan Subali. Namun jika tidak ada pilihan lain, baiklah aku akan menurut. Namun..."


"Namun apa?"


"Namun sebelumnya aku harus berbicara dulu sama ibuku, bahkan mungkin aku akan berpamitan ke


pada mang Odon. Jadi saat ini, aku belum bisa memberikan jawaban sepenuhnya..."


"Kalau begitu baiklah, kang. Saya pun mengerti, namun jika akang sudah mendapatkan kepastian, datanglah besok untuk menghadap Rama Subali..."


"Ya, baliklah nden..."


"Jika begitu sekarang saya pamit, kang. Ada sesuatu yang harus dikerjakan..."


"Hey, mengapa tergesa-gesa? Minumlah dulu..."


"Tidak kang, terimakasih..." sambil melangkah untuk pergi. Lingga Paksi hanya terdiam, ada perasaan sesal ketika hendak ditinggalkan gadis itu. Entahlah perasaan apa ia pun tidak mengerti.


"Oh iya, ada yang saya lupa..."


"Tentang apa?"


"Sejak tadi aku mencari kapak..."


"Untuk apa?" Lingga Paksi belum mengerti kemana arah pembicaraan gadis itu.


"Tentu untuk membelah kayu..."


"Apa nden mau membantu?"


"Bukan begitu, hanya saja aku merasa heran. Dari tadi akang membelah kayu tapi kok tidak ada golok atau kampak yang bisa dipakai membelahnya. Apakah akang membelah kayu memakai tangan?"


"Itu.. itu.. tidak mungkin, nden. Masakan aku membelah kayu sekeras ini memakai tangan. Entahlah kalau nden dan den Arya..." sahut Lingga Paksi mencoba menghidar dari tatapan nyimas Lirih yang penuh selidik.


"Lalu... bagaimana caranya akang membelah kayu?"


"Itu... itu..." Lingga Paksi mulai kebingungan untuk mencari jawaban.


"Ling, ini... sudah..." terdengar Ratnainten berseru didalam pawon..."


"Sudah apa?"


"Ini..." sambil keluar dan membawa kapak. "Tadi emak pinjam. Eh, ada nden Lirih? Apa sudah dari tadi?"


"Tidak juga, mak..."


"Kenapa tidak kedalam?"


"Hanya sebentaran saja, mak..." jawab nyimas Lirih sambil tersenyum manis.


"Pantas dicari gak ada, toh emak yang meminjam. Sini mak..." sahut Lingga Paksi sambil mendekati ibunya. Lalu menerima kapak yang Ratnainten berikan.


"Oh iya kang, saya pamit saja. Mak.. saya pamit..."


"Ih, masuk dulu nden. Masa datang dan pergi begitu saja..."


Ratnainten mencoba menahan nyimas Lirih dengan bersungguh-sungguh. Karena tidak enak hati, akhirnya nyimas Lirihpun menurut. Lalu masuk kedalam, sementara Lingga Paksi menyapukan bubuk kayu yang berserakan.


"Bagaimana keadaan ayah dan ibumu, nden?" terdengar Ratnainten berkata, setelah berada didalam.


"Dia baik-baik saja, mak..."


"Syukurlah kalau begitu, sudah jarang saya bertemu. Semoga beliau selalu diberi kesehatan oleh sanghyangwidhi..."


"Amin, mak..."


"Oh iya, ada keperluan apa sampai nden datang kemari?"


"Aku membawa pesan dari Rama Subali, bahwasanya kang Aling diminta mengantikan kang Arsan yang berhenti bekerja. Namun sepertinya kang Alingpun tidak begitu menyukainya. Bahkan seperti ingin menolaknya..."


"Oh iya..."


"Bisakah emak membujuknya agar dia mau kembali melayani saya?"


"Baiklah, emak akan mencoba membujuknya. Tapi emak juga tidak berjanji..."