Ghanapurusa

Ghanapurusa
Rencana Angkawijaya



Dipuncak gunung manglayang.


Disebuah aula besar, terlihat Angkawijaya atau siRajakelong sedang duduk dikawal oleh para petinggi sekte. Satu diantaranya pria sepuh sebagai penasihatnya. Ia bernama kiAnjali yang meskipun sudah lanjut usia namun sosoknya masih terlihat bugar dan berenergi. Konon menurut cerita, selain merupakan penasihat ia juga merupakan mertua Angkawijaya itu sendiri.


Sedangkan tiga orang lainya yang duduk bersebelahan dengannya, merupakan tiga orang kepercayaanya dengan masing-masing jabatan sebagai tiga pilar sekte Kelelawar yang masing-masing diantaranya mengenakan topeng yang terbuat dari besi, perak dan kayu.


Menurut cerita, kekuatan tiga pilar sekte ini sudah sangat mengerikan. Konon masing-masing kekuatanya sudah berada ditingkat kelas satu, setaraf dengan para tetua padepokan yang berada dijawa Dwipa.


Sedangkan yang lainya, yang duduk berjajar rapi dihadapan para petinggi sekte adalah para bawahannya atau para prajurit perangnya.


Mereka semua duduk bersila dengan posisi wajah menunduk penuh hormat dan kepatuhan. Jumlahnya cukup banyak dengan rata-rata tingkat kepandaian pendekar kelas tiga.


Sedangkan dibelakang mereka semua terpampang beberapa cermin ajaib, itulah kaca benggala yang sudah terkoneksi dengan ilmu sorot kelongnya Angkawijaya.


Namun kini terlihat salah satu cermin itu dalam keadaan mati, tak seperti yang lainnya dalam keadaan hidup. Itu menandakan bahwa koneksi ke media nya telah terputus.


"Hhh! tidak kusangka ternyata mereka semua sudah tahu akan kelemahan semua bugang hapa, ku. Semua budak-budak ku habis terbunuh tanpa bisa ku bangkitkan lagi..." Angkawijaya atau siRajakelong menggerutu tat kala semua pertarungan telah usai dan berakhir dengan kekalahan dan mengakibatkan padamnya cermin ajaib tersebut.


"Ketua apakah kita akan terus balas serang kesana dan membunuh semuanya?" Mendadak si topeng besi yang merupakan wakil sekte bertanya.


"Tentu saja, karena jika dibiarkan akan menjadi duri didalam daging. Namun untuk sementara ini kita tunda dulu. Toh semua masih dalam pengendalian ku, jika aku berniat sangat gampang untuk membinasakan mereka semua.


Bagaimanapun juga, tujuan sebenarnya dalam pertarungan ku ini, hanya sebatas menguji akan ilmu pengendalian jarak jauh ku... "


"Baik ketua..."


"Nah sekarang kita tinggalkan dulu perkara anak itu beserta desanya, saat ini aku akan mempokuskan diri ke urusan yang lebih penting dari semuanya, suatu urusan yang selama ini telah kita lakukan secara cermat dan teliti..."


"Baik ketua, namun apakah urusan itu menyangkut dengan penaklukan kota raja?"


"Hm, haha... ternyata kau cerdas juga, topeng besi. Benar, aku akan menaklukan kota raja dan menyatukan kembali sunda galuh, seperti leluhurku dulu..."


"Baik, kami akan membantu hingga ketetes darah penghabisan..."


"Haha... bagus! Aku suka ini, dan aku berjanji jika aku berhasil menjadi raja di dua negara, maka hidup kalian semua akan menjadi mulia dan tentu saja menikmati semua kesenangannya..."


'Terimakasih ketua..."


"Hidup..." serentak para prajuritnya berseru.


"Hidup ketua..."


"Hidup..."


Keadaan menjadi hiruk pikuk, hingga aula besar tersebut bergetar-getar dengan hebat.


Maka sesudah Angkawijaya mengangkat tangannya keadaan kembali menjadi sunyi.


"Nah, sekarang aku ingin mendengar semua laporan tentang kegiatan selama beberapa bulan terakhir ini. Terutama para penyusup yang kita pasang didua kerajaan tersebut..." berbicara sampai disitu, mendadak Angkawijaya mengalihkan pandangannya kepada kiAnjali penasehatnya.


"Nah, penasihat. coba terangkanlah sudah sejauh mana tentang kesiapan kita untuk menguasai dua kerajaan tersebut..."


"Baik ketua..." jawab kiAnjali sambil membungkukkan badannya kepada Angkawijaya.


"Bicara tentang kesiapan, terus terang saja semua sudah siap hampir 70 persen. Orang-orang kita, sesungguhnya sudah menguasai pemerintahan Sunda-galuh. Dari mulai tingkat bawah hingga tingkat para perwira dan para pejabat kerajaan. Saat ini asal ketua memberi perintah, tentu mereka semua akan segera bergerak mengeksekusinya..."


"Haha... bagus-bagus! aku suka ini. Apakah semua rencana ku telah dilaksanakan? termasuk teror dan fitnah..."


"Tentu saja, ketua. Bahkan dibeberapa daerah, tepatnya di perbatasan Sunda-Galuh sudah beberapa kali terjadi perpecahan perang. Hanya saja..."


"Hanya saja apa?"


"hanya saja masih ada beberapa perwira yang masih sulit untuk diajak bekerja sama..."


"Perwira darimana?"


"Keduanya, ketua. Baik dari kerajaan galuh atau pun dari kerajaan sunda..."


"Apakah mereka mempunyai kesaktian? Apa perlu aku turun tangan menghabisinya?"


"Ya, selain sakti mereka juga sangat dekat hubungannya dengan keluarga raja. Kalau kita gegabah, bisa mengacaukan semuanya. Terutama perwira di kerajaan Sunda yang bernama kiWidura ..."


"Kiwidura?"