Ghanapurusa

Ghanapurusa
Berita duka kembali datang



"Ya benar. Menurut cerita, orang ini sempat meninggal dalam pertarungan disebuah kadipaten, namun entah bagaimana ia berhasil dihidupkan kembali oleh seorang tokoh tua yang berada di dasar jungkrang sumur. Bahkan orang ini telah mewarisi ilmu dari tokoh tua tersebut yang bernama siInjukkawung. siInjukkawung sendiri langsung binasa, setelah semua kekuatannya berpindah kepada orang tersebut..."


"Hmmm...."


Angkawijaya tercenung, membayangkan sepak terjang orang tersebut yang bernama ki Widura. Bahkan sebelum menjadi siRaja kelong, ia pernah bertemu beberapa kali. Namun saat itu ia masih belum menjadi apa-apa.


"Terlepas benar tidaknya orang tersebut titisan siInjukkawung aku tak perduli, bahkan aku tidak akan segan-segan untuk mengahabisinya jika ia menghalang-halangiku. Yang aku herankan, mengapa dia bisa berada dilingkungan kota raja kerajaan Sunda?"


"Mungkin kita harus selidiki lebih jauh ketua..."


"Hm, itu betul. Baik kau atur beberapa telik sandi, selidiki mengapa kiWidura berada di kerajaan Sunda. Sebab yang aku dengar, ia pergi berkelana bersama anak kandungnya dari dewi ular..."


"Baik. Semua yang ketua perintahkan akan kami laksanakan..."


"Hm, bagus..."


Tepat saat itu, mendadak saja terdengar suara aneh dari sebuah cermin ajaib yang terpampang di dinding aula, sontak saja semua orang mengalihkan pandangannya.


Maka terlihat, salah satu cermin tersebut mengeluarkan bunyi aneh seperti sebuah peringatan.


"Buka..." terdengar Angkawijaya memerintah, mendadak saja suatu adegan gambar hidup terlihat dari cermin ajaib tersebut.


"Apa itu?" tanya siTopeng besi.


"Kita lihat saja. Yang jelas, sinyal ini muncul dari salah satu budak ku di kota galuh. Hmm..."


Beberapa kali Angkawijaya berusaha memperbesar gambar tersebut, maka makin jelas terlihat.. ternyata gambar tersebut menampilkan sosok pria yang sedang bertarung.


"Kibagas..." gumam Angkawijaya.


"Ketua, bukan kah ia kiBagas yang telah menjadi budak setia ketua..." tanya siTopeng Besi.


"Itu memang benar. Tapi mengapa dia bertarung dengan prajuritnya sendiri. Apakah identitasnya telah terbongkar..."***


Penangkapan Senapati Bagas


"Kalian semua minggir...!!"


Seru kiBagas, sambil menatap para prajurit yang kini sedang mengepungnya.


Beberapa kali ia berhasil menghindar dan memukul mundur para prajurit yang kini sedang mengepungnya. Jika ia berniat, sekali mengeluarkan jurus andalan tentu para pengepungnya itu akan tewas.


"Maafkan kami juragan senapati, kami hanya melaksanakan perintah..."


"Omong kosong! siapa yang berani memerintah penangkapan ku?" kata senapati bagas sambil menatap satu persatu para prajurit yang mengepungnya itu.


"Aku..."


Mendadak saja terdengar seruan orang dari barisan belakang para prajurit, disusul berkelebatnya sesosok bayangan putih dan langsung menyerang kiBagas.


"Buk-buk! Duk! Blegh..."


Terdengar suara benturan kaki dan tangan menggetarkan area pertempuran.


"Nini...."


Seru kiBagas sambil menatap tajam si penyerang yang ternyata kiDurgandini, penasihat Sang Ratu Hyang janapati.


"Ya, ini aku..."


"Kenapa kau ingin menangkap ku?"


"Cih! jangan berpura-pura dungu, aku tahu siapa kau sesungguhnya. Kau adalah mata-mata kerajaan Sunda!"


"Siapa yang bilang begitu? dan mana buktinya..."


"Kau masih berpura-pura!? ini apa?" nyiDurgandini mengacungkan sebuah botol bambu seukuran ibu jari.


"Itu..."


kiBagas tercenung mana kala melihat botol bambu tersebut. Dalam hati ia membatin, bagai mana caranya botol tersebut bisa berada ditangan siPenasihat Ratu. Botol itu adalah obat penawar jaram kelong, yang jika tidak diminum ia akan berubah menjadi Bugang hapa atau mayat hidup.


"Kenapa diam? apakah kau membutuhkan botol ini?"


"Serahkan botol itu kepadaku. Dan mengapa botol itu bisa berada ditangan mu?"


"Botol ini aku dapatkan dari seseorang, yang saat itu mengendap-ngendap datang kerumahmu. Dan setelah ku tangkap ia mengaku suruhan Raja Sunda, yang hendak menyerahkan botol penawar ini kepadamu. Nah sekarang, berterus teranglah jika kau menghendaki botol ini..."


"Itu..."


KiBagas kembali terkejut, ia tak menyangka bahwa utusan siRajakelong akan mengatakan hal seperti itu. Yang artinya, jawaban tersebut hanyalah untuk mengadu domba antara kerajaan Sunda dn kerajaan galuh.


Empat tahun setelah tragedi keluarga kiGenta tewas, keadaan kiBagaspun untuk selanjutnya tidak menjadi jadi lebih baik.


Hampir setiap saat ia mengalami kegelisahan, bahkan diwaktu-waktu tertentu ia harus menahan rasa sakit dan menekan pergerakan-pergerakan aneh diluar kesadarannya.


Beberapa kali ia sempat terbakar, mengakibatkan kulit dan dagingnya langsung melepuh tatkala tersorot sinar matahari.


Belakangan ini, jaram kelong yang menguasai dirinya semakin menggila, kiBagas harus dengan susah payah berjuang untuk tetap berada diatas kesadarannya. Ia tak ingin peristiwa yang terjadi pada sahabatnya menimpa kembali pada keluarganya. Untuk itu, ia mencoba tidak membuat siRaja kelong menjadi marah.


Namun belakangan, utusan siRajakelong yang harusnya sudah datang membawa penawar, sudah 3 hari belum kunjung tiba. Kini terjawab sudah, ternyata utusan itu tertangkap oleh pihak kerajaan.


"Nah sekarang ada dua pilihan yang aku tawarkan kepadamu. Yang pertama, kau menyerah dan berterus terang kepada ku. Dan pilihan yang kedua binasa ditangan ku sebagai penghianat negara..."


Bergolak darah senapati Bagas, bagaimanapun juga ia adalah seorang patriot sejati, sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi prajurit sunda. Dan setelah bergabung, sudah ribuan kali bertempur dimedan laga bersama dengan kigentas sahabat yang audah gugur itu. Kini ia mendapat ancaman seperti itu, bukan main marahnya ia. Nenek tua dihadapanya itu, baru kemarin sore diangkat menjadi penasihat Ratu. Yang tentu, kesetiaan ya masih perlu diragukan.


"Hh! sebetulnya aku hendak menyerahkan diri kepada Sang ratu dan ingin bertanya langsung akan apa yang terjadi, namun setelah mendengar ancaman mu itu. Aku menjadi ingin sebaliknya. Baik, jika kau ingin mendapatkan jasa dan imbalan dari sang Ratu.. namun langkahi dulu mayat ku..."


"Hahaha! bagus. Majulah..."


KiBagaspati tak berkata lagi, mendadak saja terdengar suara berkerotok di seluruh tubuhnya. Ia sudah bertekad akan mengeluarkan jurus pamungkasnya, meskipun jiwa taruhanya.


Terlihat semua urat dan otot kiBagas mengelembung, bahkan tinggi badannya pun sudah bertambah hingga beberapa senti.. kini tenaganya sudah meningkat hingga 90 %. artinya. Jika kekuatannya terus ditingkatkan ia akan berubah menjadi denawa. Dan tentu setelah itu, ia pun akan mati dengan sendiri nya. Inilah yang disebut dengan ajian tiwikrama..