
Maka keesokan harinya, apa yang telah mereka rencanakan lalu dilakukan. Arya, Turangga dan nyimas lirih bahkan Lingga Paksi ikut mulai menempelkan selebaran di bilik-bilik rumah atau di batang-batang pohon. Sedangkan isinya merupakan undangan kepada orang misterius yang telah menolong Arya bertiga dari serangan Buganghapa dan sebangsanya.
Namun sayang setelah beberapa hari ditunggu, orang misterius tersebut tidak mau muncul bahkan tidak ada tanda-tanda untuk menampakan diri. Itu mengapa? Karena, memang Lingga Paksi yakni orang misterius tersebut masih ingin menyembunyikan identitasnya.
Dianggap rencana nya tidak berhasil, maka beberapa hari kemudian, berkumpulah Arya Turangga, menghadap juragan Subali sekaligus melaporkan apa yang menjadi pengalamanya.
"Nah begitulah, guru. Jadi pekerjaan kita bertiga menjadi sia-sia, karena orang tersebut tidak ingin identitasnya ketahuan..."
"Hm, itu memang sudah kuduga..." terdengar juragan Subali menanggapi apa yang dikatakan muridnya, "Jika orang itu berniat, tak mungkin dulu dia datang menolong sambil mengenakan topeng..."
"Iya ama, sekarang aku mengerti..."
"Hm, baguslah..."
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
Sebelum menjawab, terlihat juragan Subali menatap ketiga muridnya satu persatu. Setelah itu, terdengar ia pun berbicara dengan pandangan nanar.
"Masalah orang misterius tersebut, kita abaikan saja dulu. Sebab menurut ku, orang tersebut tidak berbahaya. Bahkan bisa dibilang sebaliknya, ia ada dipihak kita..."
"Baik ama..."
"Nah, besok kalian bertiga, ikut dengan ku ada sesuatu yang harus dikerjakan..."
"Kalau boleh tau pekerjaan seperti apa rama guru?"
"Begini, seperti yang sudah kalian ketahui. Belakangan ini, desa kita sedang dalam masalah besar. Yakni, sering diserang oleh mahluk mengerikan disebrang hutan sana. Beruntung desa kita terhalang sungai yang cukup lebar dan dalam, sehingga mahluk tersebut tidak bisa masuk kedesa kita ini..."
"Namun kendatipun demikian, kita harus tetap berhati-hati dan membuat penangkal agar desa kita tetap aman. terutama dari serangan-serangan mahluk air, seperti ular dan buhaya..."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Besok, kalian bantu aku dan orang desa bergotong royong membuat pagar kayu..."
"Baik, rama guru..."
Maka keesokan harinya, seluruh rakyat desa yang sehat dan berbadan kuat ikut bekerja bakti membuat pagar tinggi mengelilingi desa. Bahkan tepian sungai pun dialangi cucuk berduri dari pohon cangkring, dan lain sebagainya agar tidak bisa dilewati binatang hutan yang sudah terinfeksi virus yang sangat berbahaya.**
Sementara itu ditempat lain, di puncak gunung manglayang.. Nampak beberapa orang sedang berkumpul, mereka tidak lain dan tidak bukan yakni Si kelelawar hitam disertai beberapa anak buahnya.
menilik naga-naganya yang serius jelas mereka sedang membicarakan hal yang sangat penting.
Nampak tiga pilar gerombolan seperti; Si topeng Perak, sitopeng besi, dan si topeng kayu sedang bercerita, sedangkan yang lainya hanya mendengarkan saja.
"Nah begitulah, ketua pengalaman hamba.." terdengar siTopeng perak berkata. "Jadi kekuatan siRaden sangat hebat, hingga aku pun terpaksa mundur karena takut kesalahan tangan..."
"Hmm... Sebenarnya, apa yang kau ceritakan sebagian besar aku telah mengetahui melalui kaca benggala ku ini. Namun secara lengkap dan detailnya aku baru tau..."
Jawab Si Kelelawar Hitam sambil mengusap-usap dagunya yang tak teralang topeng.
Nampak sorot matanya semakin tajam, dan gerak tubuhnya semakin serius mengahadap masalah itu.
"Ketua apakah sudah saatnya desa itu kita hancurkan?"
"Belum. Namun aku ada rencana..."
"Silahkan saja ketua perintahkan...."
"Ya, sebaiknya ketua perintahkan saja agar kami semua bisa melaksanakanya..."
Sahut yang lainya penuh dengan semangat dan kepatuhan.
"Aku akan mencoba menghancurkan desa itu, namun tidak secara langsung. Aku akan mengendalikan para bugang hapa dari sini, sekaligus menguji seberapa hebat orang yang bernama siSubali itu. Apakah dia mampu menangkis para bugang hapa ku..."
"Baik ketua, kami semua akan mendukung mu..."
"Hm, hahaha..."
Setelah itu dia duduk secara bersila, semua orang langsung terdiam tak ada yang berani mengganggu.
Tak lama secara samar, mendadak saja wujud si kelelawar hitam berubah bentuk menjadi si raja kelong. Masih dalam posisi bersila, terdengar ia merapal beberapa mantra untuk memerintahkan para budaknya di hutan kala jongkrang untuk menghancurkan desa Cikahuripan.***
Sontak saja terdengar suara lolongan anjing dari dalam hutan kala jongkrang, suaranya begitu nyaring dan melolong menakutkan. Bahkan bukan hanya lolongan anjing, suara-suara lainya pun ikut terdengar menakutkan.
Penduduk desa yang saat itu sedang bekerja gotong royong langsung bergidik ngeri, bahkan juragan Subali yang firasatnya sangat kuat langsung mengerinyitkan keningnya sambil menoleh kedalam hutan.
"Rama guru, suara apakah itu?" terdengar Arya bertanya sambil mendongakkan wajahnya ke angkasa.
Waktu menunjukan sudah sore, desa sudah berhasil dilindungi oleh pagar kayu yang kokoh dan kuat. sebelum juragan Subali menjawab pertanyaan Arya, terdengar lagi suara lolongan anjing, bahkan terasa begitu dekat.
"Aunnggg..."
"Kita harus segera kembali kedalam desa. Semuanya, ayo kita pulang..."
Juragan Subali langsung memerintahkan warga desa, agar segera masuk kedalam. Sebab saat itu, orang-orang sedang masang cucuk berduri dari pohon cangkring dan sebagainya, agar binatang air tak bisa melintas dengan mudah.
"Ayo-ayo, cepat..."
Maka orang desa pun langsung berkemas, dan beramai-ramai meninggalkan tempat itu. Mereka langsung masuk kelawang kori dan menguncinya dari dalam.
Setelah berada dibale desa, terdengar juragan Subali berkata.
"Dengarkan, hari ini aku mendapat firasat yang sangat buruk. Bahwa malam ini akan ada bahaya yang mengancam desa kita..."
"Juragan, apakah bahaya tersebut datang dari para perampok?" seseorang bertanya, ia bernama Cakil berperawakan kekar dan masih muda. Ia terkenal akan keberanianya namun sayang ia hanya pemuda desa biasa yang tak memiliki ilmu silat.
"Hhh! bisa dikatakan iya, malah bisa dibilang lebih..."
"Juragan apakah perampok itu sangat banyak? Dari tadi kita terus berbenah terus..." yang lainya ikut bertanya.
"Hm, ya, betul sekali. Oleh sebab itu, kita harus sangat berhati-hati dan tetap waspada...."
"Baiklah, juragan..."
"Nah, sekarang segeralah pulang dan beristirahat, katakan ke masing-masing keluarga kalian agar segera berkemas kalau-kalau kita harus mengungsi..."
"Baik juragan, saya mengerti..."
Akhirnya warga desa bubar, lalu pergi kerumahnya masing-masing dan tentu saja membicarakan apa-apa yang sedang terjadi.
Sementara juragan Subali dan ketiga muridnya pun kembali kerumah. Begitupun Lingga paksi ia ikut pulang kerumah juragan Subali, namun sebelum sampai juragan Subali menyuruhnya pulang dan berpesan kepada kacungnya.
"Ling pulanglah, jaga ibumu dirumah. katakan kepadanya, apa-apa yang tadi sudah saya katakan..."
"Baik juragan, namun sebelumnya bolehkah hamba mengajukan sebuah pertanyaan..."
"Kalau begitu, tanyakanlah..."
"Apakah yang mengancam desa kita ini ada hubunganya dengan penghuni hutan kala jongrang?"
Juragan Subali hanya menghela napas, kemudian ia pun menjawab.
"Betul sekali, ling. Ini erat sekali hubunganya dengan mahluk yang ada di luar desa kita ini. Namun jangan takut, mereka takan bisa keluar dalam hutan sebab terhalang sungai yang cukup lebar dan dalam..."
"Kalau begitu, baiklah juragan saya paham dan mengerti..."
"Bagus! Nah, pulanglah pukul kentongan, kalau-kalau ada bahaya yang mengancam ..."
"Baik juragan, kalau begitu, saya permisi..."
"Hm...."