
"Lalu kemanakah perginya?"
"Kemungkinan sudah pulang kedermaga..."
"Gerrr..."
"Grerr..."
Sementara itu terlihat hampir lima belas ekor serigala mulai terpancing dan mulai mendekati.
"Sret-sret!"
Dengan segera mereka bertiga menghunus masing-masing pedangnya. Dan...
"Serebet... serebet..."
Tak ayal lagi dengan cepat serigala-serigala setengah monster itu mulai berlarian dan mulai menyerang. Dan ternyata, gerakan -gerakan mereka sangat cepat dan gesit.
"Siut! Brukh.. brukh..."
Para serigala itu hanya bisa menerkam tanah kosong karna Arya, Turangga dan nyimas Lirih dengan cepat menghindar.
"Hati-hati! Jangan sampai tergigit atau terkena cakarnya..." Arya terdengar memperingati. Dan tetakhir dia menendang kepala serigala itu hingga terpelanting.
"Kaing! Grrr..."
Serigala itu menyeringai, lalu dengan cepat bangkit berdiri dan kembali menyerang.
Untuk beberapa saat Arya, Turangga dan nyimas Lirih terus berjibaku melawan serigala-serigala itu, sesekali goloknya berhasil melukai binatang liar tersebut. Namun meskipun terluka, binatang itu seperti tak memperdulikanya.
"Nyimas awas dibelakang mu..." terdengar Turangga memperingatkan, sedangkan saat itu diapun sudah sibuk menghadapi hampir tiga serigala sekaligus.
"Wus... gurilap!"
"Pras-pras duk..."
nyimas Lirih berhasil menghindar dan memotong dua kepala serigala sekaligus, namun yang terakhir goloknya masih menancap disebelah tulang iga seringgala, sedangkan dari samping seekor serigala lainya sudah melompat hendak menerkam wajah.
"Ih..." nyimas Lirih hanya mampuh menjerit, kaget bukan kepalang namun beruntung Arya bergerak dan sebuah tebasan hebat mengakhiri serigala itu hingga kepalanya terpotong.
"Kang, terimakasih..."
"Jangan dipikirkan..." sahut Arya sambil berkelebat dan menghindar karena saat itu juga dari arah samping kanan dan kiri, dua ekor serigala menyerang.
Kali ini, dia melompat tinggi keudara sambil melepaskan pisau terbangnya.
"Crap! Crap!"
Dua pisau itu tepat mengenai kepala dua serigala yang menyerangnya barusan. Namun setelah terjerembab dan mengeluarkan suara yang menggeram, kedua serigala itu kembali bangkit dalam keaadaan terpantek dua pisau terbang.
"Harus dipotong kepalanya, kang..."
Nyimas Lirih memperingati sambil memutar badan dan menebaskan goloknya beberapakali, hingga tiga serigala langsung terkapar tanpa kepala.
Arya menggangguk, sambil menjejakan kaki lalu memutarkan goloknya disertai tenaga dalam hingga goloknya mendengung-dengung.
"Pras! Pras! Pras..." Terlihat golok Arya berkeredepan, dan berhasil membunuh serigala-serigala itu.
Akhirnya tak begitu lama, belasan serigala-serigala itu mati dengan kepala terpotong. Dan setelah dihitung jumlahnya hampir 15 ekor.
Namun sebelum mereka menarik napas lega, dari dalam hutan kembali terdengar suara yang menggeram disertai dengan suara langkah-langkah kaki yang sangat berat.
"Bug! Bug! Bug! Srok...”
Arya, Turangga dan nyimas Lirih kembali saling pandang, lalu menyapukan pandanganya kearah datangnya suara tanpa berkedip.
Tak lama, samar-samar dari dalam hutan terlihat lima Buganghapa yang tadi ia temui didalam hutan mendatanginya, kali ini disertai beberepa binatang lainya seperti harimau, serigala, babi hutan bahkan menjangan pun ikut berdatangan dengan mata merah menyala.
"Celaka, ternyata hutan ini sudah terinfeksi sesuatu, kang...”
“Tapi terinfeksi apa?”
“Entahlah, yang jelas semua binatang yang mati dalam keadaan utuh bisa bangun dan bangkit kembali dalam keadaan kerasukan..."
"Lalu bagaimana kita keluar dari hutan Kalajongrang ini..." kata nyimas Lirih mulai cemas.
“Mungkin kita harus berenang...”
"Ya, mungkin itu jalan satu-satunya. Ayo..."
"Tunggu..." Mendadak Turangga berseru.
"Ada apalagi?"
"Lihat..."
Turangga menujukan jarinya kedalam sungai. Terlihat beberapa ular besar dan buaya sudah menunggu. Sekali ini mereka bertiga sampai meleletkan lidah, hatinya mulai dihinggapi ketakutan.
"Serebet... serebet..."
"Celaka!"
Terdengar Arya mengeluh, namun tentu saja percuma satu-satunya jalan adalah bertarung hingga semua binasa.
"Pras! Pras! Duk...!"
Dilain kejap ketiga pemuda-pemudi itu langsung berhasil menebas dan menendang beberapa binatang penyerangnya, pertarungan mereka berlangsung cukup lama dan bangkai binatang liar mulai terkapar dipinggiran sungai.
Namun karena telalu banyak, hingga akhirnya merekapun mulai terpojok.
"Celaka! Tak kusangka kita akan mati hari ini..." Kata Arya mulai putus asa, sedangkan yang lainya bersiap-siap dengan saling berpunggungan.
Namun dalam keadaan segenting, itu mendadak diatas permukaan air sungai ada yang berkelebat sangat cepat, dan langsung bergulungan menghanjar para penyerang termasuk mayat hidup hingga berterbangan.
Arya, Turangga dan nyimas Lirih hanya mampu bengong melihat kekuatan orang yang menolongnya itu. Sebelum mereka bertiga sadar, mendadak saja masing-masing tangannya ada yang memegang.
"Wus... Bligh!"
Dengan tenaga yang sangat besar, bayangan itu langsung menjejak tanah hingga berlubang dilain saat ketiganya langsung melambung tinggi diudara. Lalu melayang seperti terbang, melewati aliran sungai yang sangat lebar.
Sesaat mereka lupa bernapas, terlihat dibawah ular besar dan buhaya berputar-putar.
"Jligh!" Dilain kejap, mereka bertiga sudah berada disebrang sungai.
"Dengarkan kalian bertiga harus melaporkan tentang apa yang terjadi dihutan KalaJongrang kepada gurumu..."
"Ta.. tapi siapa kau?" Arya bertanya penasaran.
"Tidak perlu tahu siapa aku! Yang jelas kalian bertiga harus mendengarkan perintahku kalau tidak, seluruh penduduk desa akan binasa kerasukan..."
"Baiklah kalau begi..."
Wuss..."
Sebelelum Arya selesai bicara, bayangan itu sudah menghilang menyisakan sambaran angin yang sangat kencang menerpa wajah mereka bertiga.
Untuk sementara waktu, Arya, Turangga dan nyimas Lirih berdiri sambil terlonggong-longgong. Kejadian barusan seperti dalam mimpi.
"Kang Arya, apakah aku sedang bermimpi?" Terdengar nyimas Lirih bertanya.
"Tentu saja tidak nyimas..."
"Tapi orang tadi?"
"Mungkin dia pendekar hebat, nyimas..." Turangga ikut angkat bicara.
"Mungkinkah kekuatanya begitu hebat?"
"Entahlah, aku.. tidak tahu?" jawab Turangga pendek.
"Lebih baik, ayo kita pulang..."
"Iya, ayo..."
Dengan peluh yang masih membasahi tubuhnya, lalu merekapun pulang. Sesampainya didermaga, terlihat rakit mang Dinta sudah berada disitu.
"Lihat, itu rakit mang Dinta..."
"Iya, ternyata dia sudah berada disini. Jadi dugaan ku benar, bahwa mang Dinta pergi menyelamatkan diri..."
"Sukurlah kalau begitu..."
Arya, Turangga dan nyimas Lirih terus berjalan mendekati bangunan kecil tempat mang Dinta biasa menunggu orang yang mau menyebrang. Namun tampak didalam gubuk kecil itu kosong tidak ada siapa-siapa, kecuali terdengar dari dalam semak-semak seseorang yang sedang memotong rumput.
Kembali Arya, Turangga dan nyimas Lirih saling pandang. Belum apa-apa mereka langsung teringat buganghapa yang berada didalam hutan sana.
"Suara apa itu, kang?" Terdengar Nyimas Lirih bertanya.
"Entahlah, tapi kedengaranya seperti orang yang sedang memotong rumput..."
"Aku takut..."
"Takut apa?" Arya menaikan alisnya.
"Aku takut orang itu sejenis dengan orang-orang yang kerasukan didalam hutan sana?"
"Tidak mungkin, hutan itu terhalang aliran sungai yang sangat lebar dan dalam..."
"Lalu siapa itu?"
"Mungkin mang Dinta..." Turangga angkat bicara.