
Ditempat lain, disebelah barat perbatasan kerajaan Galuh Galunggung, tepatnya dipuncak Gunung Manglayang. Terlihat beberapa orang bertopeng sedang memandangi sebuah kaca besar yang menempel disebuah dingding batu. Kaca itu layaknya sebuah layar cctv yang terbagi-bagi beberapa tempat, wilayah beserta adegan orang yang sedang bergerak melakukan aktipitas. Ya.. Itulah Kaca Bengggala ukuran besar, yang berhasil dilokat oleh siTopeng kelelawar hingga bisa mengkoneksikan ilmu Sorot Kelongnya dengan orang-orang yang sudah menjadi budak atau abdi setianya seperti yang terjadi pada kiGenta dan kiBagaspati.
Nampak disekitar ruangan, beberapa orang bertopeng lainya sedang menyaksian apa yang sedang terjadi dikeraton kerajaan Galuh Galunggung. Tak lama pertemuan dikeraton selesai, terdengar seorang pria sepuh berkata.
Pria inilah yang menjadi penasihat gerombolan tersebut, sekaligus yang menjadi mertua siRaja Kelong. Pria sepuh ini bernama kiAnjali.
"Ketua, nampaknya keberadaan ketua sudah mulai terendus..."
"Benar, aku tidak menyangka bahwa keberadaan ku akan terendus secepat ini. Siapa sebenarnya perempuan tua itu?" berkata Raja Kelong kepada kiAnjali
"Dia adalah Wikuni dari Talaga, yang berhasil direkrut dan dijadikan penasihat keratuan Galuh Galunggung. Bahkan dia pun berhasil membawa beberapa murid kepercayaannya dan dijadikan pasukan balamati..."
"Hmm, jadi begitu, ya?"
"Apakah ketua punya rencana?"
"Untuk saat ini, belum. Tapi apa yang barusan mereka bicarakan sungguh menarik. Haha..."
"Sebaiknya ketua berhati-hati pada Whikuni dan murid-muridnya itu. Konon katanya kekuatanya sudah mencapai tahap whiguna. Tidak jauh dengan kekuatan empat pilar kita ini..." Terdengar kiAnjali mengingatkan.
"Tentu saja penasihat, selamanya aku akan selalu berhati-hati..."
"Menurut kabar burung bahwa selain Whikuni itu ada beberapa pendekar tua juga yang berhasil direkrut oleh Ratu Galunggung..."
"Oh iya..."
"Iya, diantaranya siIblis Kembar digunung lawu...."
"siIblis Kembar digunung lawu?" mata Raja Kelong mendelong, alisnya sedikit menaik.. terlihat dari balik topeng Hitamnnya yang berbentuk kelelawar.
"Betul ketua..."
"Hmm... beberapa tahun yang lalu saat ilmu Raja Kelong ku belum sesempurna ini, dia berhasil kupukul mundur hingga salah satu diantara mereka ada yang terluka parah..."
"Kalau begitu, mungkin bukan suatu masalah mengingat kini Ilmu Rajakelong ketua hampir 90% terkuasai..."
"Yaya... tapi aku pun yakin, selama ini dia tidak tinggal diam. Yang kuherankan, untuk apa Ratugalunggung merekrut para pendekar tua dan jago-jago silat sebanyak itu? Mungkinkah dia ingin melaksanakan ambisinya? Ingin menaklukan sainganya yakni siLalangbumi?"
"Itu bisa jadi ketua, mengingat dendam dan sakit hatinya selama ini..."
"Hm, ini sungguh menarik. Dan aku ingin melihat, dua kerajaan itu bertempur habis-habisan hingga keduanya hancur luluh dan binasa. Hahaha! Dan saat itulah aku akan menjadi penguasa dua kerajaan sekaligus seperti kakek buyutku sri Jayabhupati Manahen Whisnumurti. Dan akan kubuat Prasasti yang lebih besar dan menarik, melebihi Prasasti Sanghyang Tapak dan Geger Hanjuang diRumantak. Haha..."
"Semua bisa diatur dan terlaksana, asal kita semua bersatu dengan baik. Dan setelah itu, tidak melupakan jasa-jasa hamba..." sahut kiAnjali dan lainya menyemangati dan tentu saja dengan harapan suatu hari nanti ia pun bisa ikut menikmati hasilnya.
"Haha! Betul-betul.. dan aku pun berjanji, semua pengikutku akan mendapatkan imbalan atas apa yang telah dilakukan selama ini. Haha..."
"Semoga ketua panjang umur dan berkuasa didua kerajaan! Hiduupp..! Semoga ketua panjang umur dan berkuasa didua kerajaan! Hiduupp..."
Terdengar suara gegap gempita, keluar dari mulut para pengikut gerombolan Kelelawar Hitam. Menggema keseluruh pelosok puncak gunung, hingga terdengar kesuatu tempat yakni suatu kebun yang sedang berbunga berwarna-warni. Tepatnya disebelah utara masih berada diseputaran puncak gunung manglayang.**
"Ibu.. suara apakah itu?"
Seorang anak perempuan berusia 5 tahun bertanya sambil menghentikan langkah kakinya.
"Tidak apa-apa anaku, kau kembalilah bermain..."
Sepintas gadis kecil itu biasa saja, namun jika diperhatikan dengan seksama ada beberapa keanehan yang membikin orang heran melihatnya. Kulitnya putih dan ditumbuhi bulu-bulu yang halus, sepasang telinganya lancip sedang yang membikin bergidik sepasang bola matanya berwarna dadu. Dan jika tertawa, nampak giginya tajam bertaring mengerikan.
Terlihat gadis kecil itu berlari-lari mengejar beberapa ekor kelinci, namun setiap kali hampir berhasil kelinci-kelinci itu dapat meloloskan diri.
"Uh, kelinci nakal..." seru sibocah, sambil terus berlari tanpa lelah. Dan... "Hup..." Suatu ketika, akhirnya diapun berhasil menangkap Kelinci dan dijewer kedua telinganya sambil cekikikan.
"Hihi... Ibu, lihatlah kelinci ini sudah berhasil kutangkap..."
"Bagus anakku, kau semakin pandai. Sekarang lepaskan kelinci itu, dan bermain lagi..."
"Iya..." Sahut sigadis kecil yang ujudnya aneh itu, dan diluar dugaan mendadak saja leher kelinci digigit lalu diminun darahnya.. hingga kelenci malang itu mati. Melihat kejadian tersebut, siperempuan hanya meleletkan lidah sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hh! Tidak disangka, anak satu-satu nya ini malah begitu..."
Perempuan cantik yang tidak lain dari ibu siGadis kecil membatin sambil memperhatikan kembali anak nya yang terus berlari mengejar-ngejar kelinci kembali. Tak lama berselang, mendadak sesosok mahluk melayang dari udara dan turun kehadapanya. Ternyata si Raja Kelong yang baru saja selesai dari pertemuanya.
"Nyimas, dicari kesana-kemari rupanya kau disini?"
"Iya, kakang. Putri kita ingin keluar dan bermain disini..." siLelaki yang barusan datang itu manggut-manggut lalu duduk diteras rumah, dan membuka topeng kelelawarnya.
Nampak lelaki yang selama ini selalu mengenakan topeng itu ternyata belum terlalu tua, umurnya pun belum genap 45 taunan.
Dia bernama Angkawijaya, masih keturunan Rajasunda, namun karena ayahnya memberontak maka dia turut dikejar dan dicap sebagai pemberontak. Padahal saat itu umurnya baru berusia 7 tahun dan belum tahu apa-apa, namun tetap saja ia akan tetap ikut menerima hukuman gantung dari sang Prabu Darmaraja.
Beruntunglah sebelum hukuman dilaksanakan, ibunda tercintanya sempat menyuruh para pengawalnya pergi dan melarikan anak tersebut agar selamat dari hukuman yang tidak adil.. namun tidak dinyana, justru diantara para pengawalnya tersebut ada yang berhianat dan hendak membunuh disuatu hutan.
Namun ternyata sang hyangwidhi berkehndak lain, saaat akan dibunuh munculah seorang resi yang kebetulan saat itu sedang melintas. Lalu iapun diselamatkan oleh Resi tersebut hingga diangkat mernjadi murid, belakangan ia menjadi mantunya.. karena berhasil mempersunting Ratnainten putri satu-satunya.
Hampir seumur hidupnya Angkawijaya terus dikejar-kejar oleh pihak kerajaan yang manggap suatu hari nanti dirinya akan menjadi suatu anmcaman, hingga akhirnya beberpa tahun yang lalu ia beserta istri pertamanya menemukan satu kitab Sakti Yakni Kitab Raja Kelong.
Dari situlah, kepribadian dia mulai berubah jadi telengas dan ambisius serta ingin membalas dendam atas apa yang telah dilakukan oleh raja sunda tersebut.
Karena kitab Rajakelong suatu ilmu yang mhikung atau sesat, akhirnya siistri pertama yang bernama Ratnainten memilih pisah dan kabur.. keluar dari perkumpulan seperti yang diceritakan pada awal cerita. Sekarang istri cantik yang berada disampingnya adalah istri kedua, dan anak perempuan yang sedang mengejar-ngejar kelinci itu anak dari perumpuan cantik itu.
"Apakah dia masih suka minum darah?"
"Iya kakang, dan barusan pun begitu..."
"Hm, mungkin ini sudah takdirnya..."
"Tapi aku merasa iba, kasihan dia anak perempuan dan berwujud tidak seperti manusia lainya..."
"Kita akan carita tahu, mungkin ada jalan keluarnya agar dia normal seperti manusia biasa..."
"Semoga saja kakang..."
"Nyimas, kemarilah. Ayo kita pulang kerumah, hari sudah petang..."
"Iya ayah..."
Sahut gadis kecil itu penuh kepatuhan. Dan terlihat diapun berlari mendekati sang ayah.
Lalu sigadis naik kegendongan sang ayah, sedangkan istrinya yang bernama Kenanga Arum berjalan disampingnya.***