
siTopeng Kelelawar tertawa dingin. Nampak sepasang matanya membara, kuku-kuku lenganya memanjang dan berkilawan laksana jari-jari belati. Dengan suara mulai berat siTopeng Kelelawar berkata.
"Aku menginginkan kau menjadi budak untuk memata-matai dikerajaan Galuh Galungung..."
"Hh! Enak saja kau bicara. Memangnya siapa kau ini berani bicara seperti itu?"
"Betul! Lebih baik mati daripada menjadi budak mu..."
"Haha! Jika kalian berdua menginginkan kematian, baiklah akan ku kabulkan..."
"Kurang ajar, hiaahh..."
Terang saja kiBagas dan kiGenta marah, bagaimanapun juga dia adalah senapati kerajaan yang sudah cukup merasakan bagaimana asam garam pertarungan. Baik bertarung secara berkelompok, maupun bertarung terbulka satu lawan satu atau papatutungalan.
Dengan sebat keduanya langsung menerjang siTopeng Kelelawar. Nampak dua kelebatan sinar pedang menghunjam ke arah leher dan dada siTopeng Kelelawar.
"Hm, haha..."
Dengan suara yang menggeram, siKelelawar hitam mengangkat kedua tanganya. Dia tidak menghindar sama sekali, kedua serangan kiBagas dan kiGenta yang mematikan itu langsung disambut oleh kedua tanganya yang dipenuhi kuku-kunya beracun.
"Trang! Trang!" Terdengar dentangan senjata beberapa kali, disertai bunga api yang berpijar-pijar.
"Apa-apaan?"
Seru kedua senapati Galuh kaget, sambil meloncat kebelakang. Masing-masing tanganya tergetar hebat, setelah masing-masing pedangnya terhalau kuku-kuku siTopeng Kelelawar yang tajam dan kuat.
Setelah menginjakan kakinya kembali, keduanya menarik napas sambil mengalirkan tenaga dalam kemasing-masing pedangnya. Setelah pedang mengeredep kemerah-merahan penuh aliran tenaga dalam, keduanyapun langsung menyerang kembali.
"Jurus Hujan Badai..."
"Gelombang Laut Kidul..."
Keduanya berseru, nampak keduanya berkelebat sedangkan masing-masing senjatanya berkeredepan menghunjani sekujur tubuh sikelelawar hitam. Namun dengan entengnya siKelawar hitam memainkan kedua leunganya, menakis dan menyampok serangan-serangan dua senapati Galuhgalunggung.
Dalam beberapa tarikan napas, tiga bayangan sudah berkelebat kian kemari dan sudah bertukar serangan sampai belasan jurus. Hingga pada suatu kesempatan, mendadak saja siKelelawar hitam berhasil menyarangkan satu goresan kuku dimasing-masing dada kiBagas dan Kigenta.
"Wus, breth-breth! Aah..."
Keduanyapun nampak terhuyung, sedang masing-masing luka goresan didadanya langsung menghitam.
"Aa... augh..."
"Ahh.. augh..."
"Haha! Mulai saat ini kau akan menjadi budak ku yang paling setia. Haha..."
kiBagas dan ki Genta tidak menjawab, keduanya merasakan sakit yang tidak terkira. Keduanya sampai berguling-guling menahan sakit, hingga seluruh uratnya membesar dan tersembul keluar.
"Dengarkan aku! Jika kalian berdua ingin tetap hidup, meminumlah segera obat ku ini niscaya kalian berdua akan baik-baik saja. Sebaliknya, jika memang kematian yang kalian inginkan maka abaykan obat ku ini. Hahaha....” Kata siKelelawar hitam sambil melemparkan dua buah botol kecil dari bilah bambu.
Terdengar siKelalawar hitam tertawa, dan tak lama mendadak saja tubuhnya melebur menjadi ribuan kelelawar, hingga tempat itu bergemuruh dan berdecit sampai sesak oleh kelelawar jelmaan siRaja Kelong.
Brul..." ratusan kelong itu terbang keudara, makin lama makin jauh bagai segumpal awan yang melayang. Tinggalah kiBagas dan kiGenta yang masih merintih kesakitan. Luka goresan kuku didadanya terasa panas dan perih, semakin lama semakin panas... hingga terasa masing-masing badanya seperti dikubur dalam bara api.
"Ah, panas... panas..."
"Auhh..."
Terdengar keduanya merintih sambil bergulingan, beberapa kali keduanya mencoba mengalirkan hawa murni untuk menekan suatu pergerakan aneh yang berasal dari dalam tubuhnya, sesuatu pergerakan diluar keinginanya sendiri.
“Hahaha!” terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak diangkasa.
"Le.. lebih.. baik, kita... kita minum dulu obat ini, urusan lain belakangan..."
"I.. iya, bagaimana pun kita harus tetap hidup....”
KiBagas dan kiGentapun merangkak, mendekati dua botol dari bilah bambu yang tergeletak. Lalu mengambil dan mengeluarkan isinya yang ternyata dua buah pil yang berwarna hijau terang.
"Haha.. Bagus.. bagus! Ternyata kalian berdua takut mati juga, ya. Hahaha...”
kiBagas dan kiGenta tidak menjawab, serta merta keduanya menelan masing-masing pil tersebut. Dan aneh, seketika itu pula rasa sakit dan pergerakan aneh dalam tubuhnya langsung lenyap.
“Ingat! Jika dalam 30 hari kau tidak minum pil tersebut, maka kau akan menjadi Buganghapa. Hahaha...!”
"Si... siapa yang bicara?"
“Tentu saja aku, tuan mu...” kiBagas dan kiGenta mendongakan masing-masing kepalanya angkasa, nampak ribuan kelelawar masih berputar-putar disekitarnya, bak awan hitam dipermainkan angin.
“Mulai saat ini dan seterusnya, kau adalah budak ku dan Aku adalah tuanmu. Ingat dalam waktu 30 hari sekali aku akan datang memberikan penawar Jaram Kelong yang kini sudah bersarang dalam tubuh mu itu. Dan tentu saja aku akan datang sambil meminta semua informasi yang kubutuhkan....”
KiBagas dan KiGenta hanya tertunduk lesu. Sambil memperhatikan luka sayatan yang kini sudah mengering, namun tetap saja menghitam dan disekitar luka tumbuh urat kebiru-biruan.
“Nah sekarang aku akan pergi dan aku akan meninggalkan kelelawar sebagai pengintai kalian beredua. Hahaha...”
Setelah berputar-putar sejenak, maka ribuan kelong tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menyisakan dua kelelawar hitam yang terus menerus mengawasinya. Kedua kelelawar itu tak ubahnya kelelawar biasa, hanya saja matanya menyala seperti bara api.
Maka setelah keadaan kembali sunyi, mereka berduapun segera pergi dengan membawa luka dan kesedihan hati. Ia sedikitpun tidak menyangka, jika kejadianya akan seperti itu.
"Bagas, bagaimana tindakan kita selanjutnya?" terdengar kiGentas bertanya sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang cukup curam.
"Entahlah, lebih baik kita pulang dulu. Lalu kita tanya kepada guru kita, apa yang sebaiknya harus kita lakukan..."
"Ya kurasa begitu..."
Keduanya terus berjalan kaki, hingga di suatu desa ia membeli kuda dan melanjutkan perjalanannya.***