Ghanapurusa

Ghanapurusa
Pencarian 2



Namun setelah sekian lama mencari dan memanggil-manggil kesana-kemari Rastiti tak kunjung menyahut apalagi keluar.


"Pak bagaimana ini, siRastiti disinipun tidak ada..." kata siArsan kepada bapaknya, sedangkan langit sudah mulai gelap menyisakan lembayung senja yang sudah mulai suram.


"Aling bagaimana ini, katanya siRastiti berada disini?"


"Iya mang, biasanya aku dan siRastiti selalu bermain disini jika ada waktu luang. Entahlah sekarang dia kemana? Sebenarnya tadipun aku sangsi, karena saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat ini.. karena lihatlah bunga-bunga yang belum bermekaran..."


"Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya, aling? Kemana lagi kita harus mencari?"


"Iya ling, lihatlah haripun mulai gelap aku khawatir adiku kenapa-napa. Apalagi desa kita sedang dalam keadaan genting-gentingnya..."


"Begini saja, lebih baik mamang dan kang Arsan pulang kedesa untuk memberitahukan juragan Subalj atau ke perangkat desa lainya. Sedangkan aku, akan terus mencoba mencarinya..."


Sejenak mang Odon terlihat agak ragu, namun tak lama akhirnya ia pun mengiyakan.


"Aling mesikipun kau anak cerdas dan pemberani, namun sebaiknya kita pulang dulu bersama. Aku sangat takut kau kenapa-napa..."


"Iya ling, lebih baik kita pulang dulu..." siArsanpun tidak setuju.


"Hilangnya siRastiti dikarenakan aku, maka sudah sepantasnya aku bertanggung jawab. Percayalah, aku akan sangat hati-hati..."


Setelah cukup lama berdebat dan Lingga Paksi keukeuh dengan pendirianya maka akhirnya mang Odonpun menyetujui.


"Baiklah, Aling. Tapi kau musti berhati-hati, karena seperti yang kau ketahui saat ini desa kita sedang dalam keadaan bahaya..."


"Iya mang, itu sudah pasti..."


"Kalau begitu baiklah, paman pergi. Arsan, ayo..."


"Iya, pak..."


Maka tak lama berselang mang Odon dan siArsan kembali kedesa. Bahkan mang Odon langsung menuju ke kediamanya juragan Subali yang saat itu kebetulan sedang memberi arahan dan petunjuk kepada anak muridnya.


Tentu saja mendengar tentang laporan itu, bukan main kagetnya juragan Subali dan ketiga muridnya itu.


"Apa? Jadi anakmu menghilang? Kenapa bisa begitu? Bukankah sudah diwanti-wanti agar jangan keluar jauh dari desa?"


"Maafkan saya juragan..."


"Dan kenapa kau baru laporan sekarang? Bukan dari tadi saat hari masih terang?"


"Hilangnya siRastiti baru ketahuan saat kami baru pulang dari mengembala. Tadi kami dan Lingga Paksi mencoba mencarinya, namun belum membuahkan hasil..."


"Hmm..." terlihat juragan Subali manggut-manggut, "Lalu kemana Lingga Paksi sekarang? Apakah dia masih mencari diluaran sana?"


"I.. iya juragan..."


"Hhh.. kau ini sungguh gegabah, Odon! Kenapa kau tidak ajak pulang dulu sekalian? Jika sudah begini, bukankah yang dalam bahaya itu jadi bertambah?"


"Saya sudah beberapa kali mengajaknya, namun dia tetap keukeuh pada penderianya..."


"Hh! Anak itu dari dulu memang keras kepala..."


"Ramaguru, lebih baik kita harus cepat-cepat mencarinya, aku khawatir kang Aling kenapa-napa..." mendadak saja nyimas Lirih ikut berbicara, dari nada suaranya jelas dia sangat menghwatirkan bekas kacungnya tersebut.


"Ya, jika sudah begini kita harus bergerak cepat. Arya, Turangga dan kau nyimas.. pergilah kalian bertiga kerumah tuwa kampung dan Jagabaya lembur, suruh mereka mengumpulkan orang-orang yang kuat untuk mencari anak mang Odon..."


"Jangan lupa, suruh mereka membawa obor dan senjata. Kita akan mencoba menyusuri sungai cimahpar dan sekitarnya..."


"Iya..."


"Dan kau Odon, Arsan jika masih kuat ayo kita cari sekarang..."


"Baik juragan..."


Setelah menyiapkan segala sesuatunya, dengan berbekal obor ditangan maka saat itu juga juragan Subali dan mang Odon beserta siArsan mulai mencari Rastiti. Mereka bertiga, langsung bergegas menuju sungai cimahpar, mengapa ia pergi kesitu karena yang ia takutkan nyiRastiti ditangkap oleh mahluk penguasa hutan.


Sementara itu, Arya Turangga dan nyimas Lirih pergi kerumahnya Tua kampung.. tidak lupa menjemput dua jaga baya lembur dan mengumpulkan beberapa orang yang diaanggap kuat dan mempunyai keberanian.


Lalu tak lama, seisi kampung mulai ramai dengan orang-orang yang mulai mencari keberadaan Rastiti. Mereka semua mulai berteriak manggil-manggil nama nyiRastiti.


"Rastiti..."


"Rastiti...


"Aling..."


Begitulah mereka mulai mencari dibawah bulan separo diantara gelapnya malam yang mulai pekat.


Sementara itu jauh dicikahuripan, Lingga Paksi terus mencari dan mencari tanpa henti dan tanpa kenal lelah.


Ia datangi tempat-tempat yang diangap tersembunyi. Mulai dari pinggiran hutan, rerimbunan pohon hingga goa-goa yang mustahil orang cari. Namun sudah demikian jauh, nyiRastiti tetap saja belum berhasil ia temui.


_'Duh, kemakah kau Rastiti? Dimanakah kau bersebunyi?'__ Lingga Paksi mulai mengeluh. Matanya yang tajam terus mencari, pendengaranya yang sangat kuat terus ia gunakan.


Dalam sepinya malam dari jarak yang cukup jauh, ia mulai mendengar teriakan-teriakan orang yang mencari nyiRastiti.


--'Ternyata orang desapun sudah mulai mencari, dan mungkin mereka pun takan berhasil menemukanya. Jika sudah begini, terpaksa aku harus mencari ke dalam hutan Kalajongrang, bahkan jika perlu kebukit Kalapitung. Sebab siapa tahu siRastiti nekad pergi kesena. Ya, mungkin aku harus mencarinya kesana...'__


Maka setelah menetapkan hati, Lingga Paksi mulai berjalan menyesuri sungai cimahpar. Ia tahu, sepanjang sungai itu binatang-binatang mulai terinfeksi oleh sesuatu yang berasal dari Buganghapa. Iya tahu dari ibunya, bahwa bugang hapa adalah mayat hidup yang dibangngkitan oleh suatu Jaram Kelong yang dimiliki oleh ayahnya.


Mengenai bagaimana cara Buganghapa itu berada dikampungnya, beginilah awal mulanya yang ia ketahui.


Beberapa tahun yang lalu, tak lama setelah ia dan ibunya menetap diciKaruhipan. Mendadak saja dipinggir desa muncul beberapa mahluk yang mengerikan. Mahluk itu seperti mayat hidup dan langsung menyerang beberapa orang warga yang melintas hingga tewas, namun beberapa saat kemudian warga desa yang tewas tersebut bangkit dan pergi bersama Buganghapa menuju ketengah pekampungan.


Beruntung juragan Subali segera mengetahui dan berhasil mengatasinya, sebelum mahluk itu memakan korban jiwa yang lebih banyak. Namun sayang saat itu juragan Subali tidak bisa membinasakanya, ia hanya mampuh mengurung tepatnya dipemujaan kuno yang


berada ditengah hutan Kalapitung. Pemujaan kuno tetsebut sebuah pagoda yang sudah sangat tua dan tak terpakai hingga hampir keseluruhanya ditumbuhi akar belukar hingga sepintas menyerupai bukit yang menjulang tinggi.


Nah diatas pagoda kuno itulah para bugang hapa berhasil dikurung oleh juragan Subali, namun ternyata mahluk itu memang tidak bisa mati meskipun tidak diberi makan. Bahkan semakin ia lapar, semakin ia berbahaya. Tak jarang mahluk-mahluk itu mengerang mengeluarkan suara-suara yang mengerikan hingga terdengar ketengah perkampungan.


Pernah suatu ketika, satu diantaranya ada yang berhasil lepas dengan cara menaiki jendela yang tak berpintu. Lalu Buganghapa itu langsung memakan warga desa yang kebetulan sedang mencari kayu bakar, hingga menyisakan pakaian dan tulang belulangnya saja.


Nah dari situlah asal mulanya, mengapa bukit Kalapitung dipamalikan oleh Juragan Subali yang tujuanya ialah untuk mencegah korban yang tidak diinginkan.


Beberapa hari yang lalu, tanpa disengaja Arya, Turangga dan nyimas Lirih justru berhasil membunuhnya dengan cara dipenggal kepalanya. Inilah suatu keuntungan buat juragan Subali, yang sebenernya sudah mempunyai rencana untuk membinasakan semua Buganghapa yang berada dihutan Kalapitung. Namun tentu saja membutuhkan persiapan yang sangat matang. Mengingat akhir-akhir ini, binatang disekitarnya sudah mulai terinpeksi oleh Jaram Kelong.


Namun sayang, sebelum rencananya mulai dilaksanakan terjadilah hilangnya nyiRastiti yang entah kemana. Diculik atau pergi begitu saja masih belum diketahui alasanya.**


Sampai disini para pembaca yang budiman, saya ucapkan terimakasih banyak sudah mau mampir dan membaca karya saya ini, dan tidak lupa memberikan like bahkan saran atau kritikanya.


Saya sadar sepenuhnya masih jauh dari kata sempurna. Sekali lagi, mohon tinggalkan jejak like dan komenanya. Salam sejahtera, semoga tuhan terus memberikan kita kesehatan**.