
Semakin lama, kedua orang itu semakin jauh dari tempat persembunyian Lingga Paksi dan nyimas Lirih. Suaranya pun, makin lama makin sayup-sayup dan akhirnya tak terdengar.
Setelah kedua orang itu tidak nampak dari masing-masing pandanganya, lalu keduanya pun keluar dari persembunyianya.
"Bukankah kedua orang itu Jagabaya kampung kita, nyimas?" terdengar Lingga Paksi bertanya dengan penuh keheranan.
"Iya kang, mereka berdua memang jagabaya Kampung kita. Namanya bah Sugala dan bah Suya..."
"Lalu mau apa mereka berdua kemari?
"Entahlah kang, namun kelihatanya mereka berdua mau mengerjakan sesuatu..."
"Itu benar, nyimas. Dan menurut pembicaraan mereka berdua tadi sepertinya mereka mau memberi makan sesuatu..."
"Apa mungkin mereka mau memberi makan mahluk yang terlihat oleh ku tadi?"
"Entahlah, nyimas. Namun apapun yang ingin mereka lakukan, sebaik nya kita berdua cepat-cepat pergi meninggalkan tempat ini..."
"Tanggung atuh, kang. Lebih baik, ayo.. kita ikuti mereka, biar rasa penasaran kita berdua terpuaskan. Ayo..."
"Tapi itu.. itu..."
Sebelum Linggapaksi menolak, nyimas Lirih sudah berlalu tanpa menghiraukannya lagi.
Linggapaksi sampai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, namun ia tidak dapat berpikir panjang lagi. Segera ia pun menyusul, karena khawatir akan keselamatan nyimas Lirih.
Setelah berjalan cukup lama sambil mengikuti Bah Suya dan Bah Sugala Tak lama berselang, nyimas Lirih dan Linggapaksi sampai ditempat tadi.
Terlihat Bah Sugala dan Bah Suya sedang berbincang-bincang dengan dua orang penunggu bangunan kuno.
Bahkan terdengar satu diantaranya sedang berbicara.
"Apa kau yakin dijalan tidak melihat siapa-siapa, Suya?"
"Tentu saja aku yakin, toh jalan menuju kemari hanya satu-satunya. Memang ada apa?"
Sebelum menjawab, terlihat siPenunggu bangunan melangkahkan kakinya menuju Arca singa yang sedang mendekam.
"Lihatlah, leher arca singa ini ada yang menyambit. Coba perhatikan, tenaga lontaranya sungguh dahsyat. Hanya orang-orang bertenaga dalam tinggi saja yang dapat melakukanya..."
"Hm, coba kulihat..."
"Silahkan..."
Bah Suya dan bah Sugala menjadi penasaran, lalu setelah menyimpan barang yang ia bawa, mereka pun mulai memeriksa.
Benar saja, terlihat leher Arca singa yang terbuat dari batu cadas itu berlubang cukup dalam.
Teranglah bagi mereka, bahwasanya ketempat itu sudah datang jago sakti yang entah darimana datangnya, dan tujuanya untuk apa.
Sementara itu, dari kejauhan nyimas Lirih mengerinyitkan kening. Sebab yang ia tahu, kacungna tadi menimpuk secara biasa-biasa saja, ia yakin kacung nya menimpuk sekenanya.
Namun menilik apa yang dibicarakan oleh empat orang itu sungguh tidak masuk diakal.
Sedang tak lama dari itu terdengar Ajid sang penunggu bangunan kuno itu berkata pula,
"Bagaimana? Apa kau percaya?"
"Ya, sekarang aku percaya. Tapi.. yang jadi pertanyaan, siapa di kampung kita ini yang mempunyai tenaga dalam sedemikian hebat!"
“Benar! Di desa kita ini, hanya orang-orang juragan Subali yang mempunyai kepandaian. Dan mustahil, salah satu dari mereka melakukan hal seperti ini...” sambung bah Sugala menegaskan apa yang rekanya ucapkan.
"Bagaimana kalau kita cari bersama-sama? Siapa tahu pendekar sakti itu masih berada disekitar sini?"
"Ya, akupun berpikiran demikian. Ayo kita cari..."
Mendengar pembicaraan orang-orang itu bukan main kagetnya nyimas lirih beserta Lingga Paksi. Setelah saling berpandangan, keduanya mengangguk lalu dengan perlahan-lahan mereka berdua mulai beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Namun naas, karena kurang hati-hati nyimas lirih malah menginjak batu bulat sebesar telur, tak ayal lagi ia pun terjatuh hingga mengaduh. Sialnya, karena menahan dengan pergelangan tangan, gelang yang ia pakai ikut pecah hingga berantakan.
Bukan main kaget nya kedua bocah tersebut, apalagi nyimas lirih raut wajahnya terlihat pucat sebagai mayat.
"Hey! Siapa disitu?" kembali siPenjaga membentak, namun untuk mengejar agak ragu.
"Nyimas, apa kau bisa berjalan?" terdengar Lubgga Paksi berbisik.
"Kaki ku sakit kang aling..."
"Kalau begitu, ayo aku gendong..."
"I.. iya..."
Nyimas lirih bangkit, lalu naik ke punggung kacungnya yang sudah berjongkok. Tak lama dari itu, ia pun sudah dibawa pergi sambil memejamkan kedua matanya. Kaki kirinya terasa sakit sampai nyut-nyutan.
Karena tidak ada sahutan, keempat orang itu saling pandang. Lalu setelah sepakat diam-diam, dengan serentak mereka berempat mengendap-endap mendekati ketempat dua bocah tadi berada.
Namun baru saja beberapa tindak, terlihat dalam semak-semak ada suatu pergerakan cepat seperti tiupan angin menerpa dedaunan hingga beterbangan.
Sontak saja mereka berempat kaget, langkah kaki nya pun terhenti seketika.
Masing-masing matanya terbelalak melihat kearah pergerakan cepat tadi.
"A.. apa itu?"
"Se... Seperti hembusan udara..."
"Tidak! Aku yakin, mungkin dialah pendekar yang menyambit leher arca ini. Ayo, kita kejar..."
Tak ayal lagi mereka pun segera berlarian untuk mengejar, namun sayang tak terkejar.. jangankan bisa mengejar sosoknyapun tak pernah mereka lihat sama sekali.
Akhirnya, mereka berempat hanya bisa celigukan kian-kemari sambil bertatap satu sama lainya. Hingga akhirnya, Ajid menemukan sesuatu.
"Lihat, apa ini?"
“Seperti pecahan gelang..." rekanya menegaskan.
"Tadi aku mendengar seperti ada seseorang yang terjatuh dan kesakitan, suara seperti anak kecil yang merintih. Mungkinkah pendekar itu..."
"Mustahil! Masakan ada anak kecil sesakti itu. Coba periksa dengan teliti, apakah kau pernah melihat sebelumnya gelang ini?"
"Tidak kang..."
"Ingat-ingat dulu, baru bicara..." Kata Ajid tegas.
Bah Suya dan bah Sugala terlihat merenung, mencoba mengingat-ngingat dimana bisa melihat gelang seperti itu.
"Oh iya, aku baru ingat..."
"Benarkah?"
"Iya! Sugala, bukankah gelang ini sama persis dengan gelang yang biasa dipakai oleh nden lirih Putrinya juragan Subali?"
"Hmm...” bah Sugala manggut-manggut lalu katanya, “Betul, aku pun baru ingat! Iya benar, gelang ini sama yang biasa dipakai oleh anak itu. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah yang datang kemari nden Lirih? Atau gelang lain yang kebetulan sama dipakai oleh orang sakti itu?”
"Hm, bagaimanapun juga kejadian hari ini harus kita laporkan kepada juragan Subali. Terutama siapa orang sakti yang mendatangi tempat ini, sebab siapa tahu meraka bermaksud jahat kepada desa kita ini seperti yang sudah-sudah..."
"Betul, saya setuju..."
"Kalau begitu, ayo kita kerjakan. Kalian berdua, pulanglah untuk melapor. Sedang kita berdua, memberi makan para Bugang Hapa jangan sampai kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali..."
"Baiklah kalau begitu..."
Maka setelah mereka semua mupakat, keempat orang itu pun berpencar dengan maksud mengerjakan semua yang telah disepakati.
Ajid dan rekanya masuk kedalam bangunan kuno sambil membawa dua buah kantung besar yang dia tadi okeh jagabaya kampung.
Tak lama berselang terdengar raungan dasyat diatas pagoda kuno, seperti suara monster yang merasa puas setelah diberi makan. ***