
Selama ini, Lingga Paksi bukan tidak pernah berlatih ilmu silat. Dulu sewaktu masih kecil Lingga Paksi memang sempat dilarang berlatih silat, karena saat itu ia dianggap berbahaya bila berlatih silat kepada sembarang orang.. apalagi berlatih tanding bersama orang lain.
Makanya saat juragan Subali mendesak agar berlatih silat untuk menemani anaknya, dengan halus Lingga Paksi menolaknya karena teringat akan pesan ibunya.
Menurut ibunya, khusus buat Lingga Paksi ilmu silat baginya sudah tidak terlalu berguna. Kenapa? Karena sejak lahir Lingga Paksi sudah mempunyai kekuatan yang maha dasyat, tenaganya hampir tak terhingga. Kecepatan geraknya melebihi kilat diAngkasa. Bahkan kulit dan dagingnya sangat keras, melebihi baja sekalipun. Hanya satu yang diperlukan oleh Lingga Paksi, yakni ia harus bisa mengendalikan itu semua.
"Yang kau butuhkan saat ini, kau harus bisa mengendalikan kekuatan mu itu Lingga.." Masih segar dalam ingatan ibunya memberikan wejangan sambil berdiri disuatu lapangan diatas bukit kalajongrang. "Sebab jika tidak, kau akan melukai banyak orang tanpa kesengajaan. Karena itulah kau jangan sembarangan berlatih kepada orang..."
"Tapi juragan Subali sangat sakti, bu. Bukankah ibu sendiri sudah mengetahuinya?"
"Ya, itu memang benar. Tapi akan sangat berbahaya jika kau sampai berlatih adu pukulan bersama nyimas lirih. Jika kau tidak percaya, sekarang coba perhatikan batu-batu besar yang sejak tadi kau bawa dari sungai...."
Lingga Paksipun lalu memperhatikan batu-batu besar yang ia bawa sejak tadi pagi dari dalam sungai, batu-batu itu sangat besar bahkan diantaranya ada yang sebesar rumah.
"Memangnya ada apa dengan batu-batu itu?"
"Cobalah kau pukul batu itu, dengan satu syarat jangan sampai hancur, kau cukup melubanginya dengan telapak tangan mu..."
"Tapi untuk apa, bu?"
"Lakukan saja..."
"Kalau begitu, baiklah..." jawab Lingga Paksi sambil mendekati batu besar itu.
"Tunggu..."
"Apa?"
Ratnainten tidak menjawab, namun terlihat badanya menyelinap kebelakang sebuah pohon besar.
"Sekarang lakukan, buatlah lubang sedalam pergelangan tangan mu itu..."
"Iya, baiklah..."
Lalu Lingga Paksi memukulkan telapak tanganya, dengan tujuan untuk membuat lobang.
"Blarr..." terdengar suara ledakan hebat, disertai hancurnya batu besar itu hingga berkeping-keping.
Asap membungbung tinggi, getaranya hingga terdengar ke seluruh pelosok bukit Kalajongrang.
"Nah, bagaimana? Apakah kau bisa?" terdengar ibunya berkata, sambil keluar dari balik pohon besar.
"Ti..tidak bu..."
"Nah begitulah, jika kau berlatih silat diluaran sana. Orang yang kau pukul tanpa niat yang jahat bisa hancur seperti nasib batu itu..."
"I.. iya bu..."
"Sekarang, ayo. Mulailah berlatih menggunakan tenagamu itu..."
"Iya, bu..."
"Dengarkan ibu, jika orang lain melatih kekuatan bertahap dari tingkat bawah ke tingkat atas dengan tujuan menambah dan meningkatkan kekuatan, justru kau harus sebaliknya. Kau harus bisa mengatur kekuatan mu dari yang paling kuat hingga yang paling lemah.
"Buatlah lubang pada batu besar itu, dari mulai sedalam pergelanganmu hingga sedalam sikut leungan mu. Apa kau mengerti?"
"Iya bu, saya mengerti!"
"Hm, baguslah..."
Nah sejak saat itulah siAling terus giat berlatih mengendalikan tenaganya itu, bahkan sesekali ia mulai dilatih ilmu silat oleh ibunya.
Butuh waktu berminggu-minggu Lingga Paksi berlatih mengendalikan tenaganya itu, hingga akhirnya diapun bisa membuat lubang seperti apa yang diperintahkan ibunya. Bahkan, Lingga Paksi bisa mengukir sebuah batu hanya cukup menggunakan jari-jemarinya dengan ke akuratan yang sangat tinggi.
Namun mendadak saja Lingga Paksi terkejut, mana kala melihat masing-masing telapak tangan ketiga pemuda-pemudi itu mulai mengeluarkan uap panas disertai dengan suara berdesis seperti suara serangga.
Meskipun Lingga Paksi tidak tahu jurus apa itu, namun ia sudah bisa menduga bahwa jurus itu sangat berbahaya. Ia pernah mendengar dari ibunya bahwa ilmu itu mengandung hawa sengat yang dapat mengancurkan sebuah pohon besar.
"Tidak disangka, kekuatan den Arya sudah sedemikian hebatnya..." Lingga Paksi bergumam.
"Wus.. wus... ngengg..."
"Beus! Beus!"
Mendadak suara yang berdesis itu diakhiri dengan suara bergemuruh, tatkala ketiga orang itu memukulkanya dari jarak lima meter kesebuah karung pasir yang bergantungan. Nampak sebuah tapak menghitam dipermukaan karung pasir tersebut.
"Bagus! Bagus..."
Dari pinggir pekarangan juragan Subali memuji dengat disertai suara tepuk tangan.
Setelah melakukan pendinginan, terlihat juragan Subali melambaikan tanganya. Maka ketiga remaja tersebut dengan segera menghampirinya, Lingga Paksi tidak luput ikut serta lalu dengan cekatan iya langsung menuangkan air kedalam muk masing-masing ketiga remaja tersebut.
"Terimakasih, Ling..." kata Turangga sambil tersenyum.
"Tidak usah berterimakasih, itu sudah kewajiban saya, den..."
"Hmm..."
Turangga mengangguk, sedangkan Arya melengoskan kepala sementara Juragan Subali hanya manggut-manggut, puas akan kerja nyata Lingga Paksi. Bahkan nyimas Lirihpun ikut mengulum senyum. Dan tidak lama diantaranya terdengar juragan Subali mulai membuka percakapan.
"Begini anak-anak, ada yang ingin saya bicarakan..."
"Tentang apa, ramaguru?" Seperti biasa, Arya selalu yang paling pertama menanggapi.
"Tentang seseorang yang beberapa hari menolong mu itu..."
"Oh iya betul, ama. Apakah sudah ada kabar tentang orang misterius itu?" kali ini nyimas Lirih yang menyanggah.
"Justru itu, nyimas. Orang misterius itu sampai kini belum diketahui siapa dia sebenarnya. Orang itu sangat berhati-hati sekali..."
"Apakah dia dari golongan putih, Ama?"
"Hmm.. entahlah, namun melihat naga-naganya yang selalu menolong mungkin ia memang dari aliran lurus..."
"Kalau begitu, mudah-mudahan saja rama..."
"Yang saya herankan, mengapa ia hanya muncul didesa kita?" Turangga menampakan rasa heranya.
"Hm... inilah yang mengherankan ku juga. Jangan-jangan orang itu berasal dari desa kita. Sayang sampai saat ini, Rama belum pernah menjupainya. Oh iya.. apakah menurut kalian bertiga orang itu masih muda atau sudah tua? Laki-laki ataukah perempuan?" kata juragan Subali diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Kalau mendengar Suaranya, ia masih muda, Rama. Dan yang mengejutkan, seolah-olah dia sudah mengenal kita semua, termasuk kepada Ramaguru..."
"Hm, benarkah?" nampak kening juragan Subali mengerinyit.
"Rama, bagaimana jika orang itu kita Undang?"
"Hmm... bagaimana caranya?"
"Kita pasang selebaran keseluruh pelosok desa. Siapa tau orang itu mau menampakan dirinya, toh tujuan kita baik. Ingin menyampaikan rasa terimakasih kita atas kebaikanya tempo hari yang lalu. Nah, bagaimana Ramaguru?"
"Hmm, itu usulan yang bagus. Kalian bertiga boleh mencoba nya..."
"Baik rama guru..."