
"Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya! Menurutku siAling itu anak yang pemberani, namun sayang dia punya etika dan tidak mengenal tata krama. Buktinya ia berani memakai kuda tanpa sepengetahuan majikanya. kalau dikota raja, jangankan berani memakai, membuat kuda sakit saja bisa-bisa jiwa melayang, setidaknya hukuman cameti sudah menanti. Oh iya, Arsan apakah kau pernah melihat dia memakai kuda guruku lagi?"
"Ti.. tidak den, sejak dilarang hari itu dia tidak berani lagi memakai kuda juragan..."
"Hm, baguslah kalau begitu..."
Saat itulah tiba-tiba, dari arah jalan desa ada beberapa orang yang datang. Dan ternyata mereka adalah jagabaya desa, bernama Bah Sugala dan bah Suya.
"Selamat sore, paman..." nyimas Lirih langsung menegur, sambil tersenyum.
"Selamat sore, nyimas. Dan juga den Arya, den Turangga. Lagi santai ya?"
"Iya, paman, sehabis latihan langsung main-main kesini....." Arya pun tak luput menjawab, sambil memberikan senyuman.
"Apa gurumu ada dirumah?"
"Ada paman..."
"Kalau begitu terimakasih. Suya ayo..." bah Suya hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Baledesa menuju rumah juragan Subali yang tidak seberapa jauh dari situ.
"Sebenarnya apa tugas mereka selain jadi jagabaya desa, nyimas. Datang kesini hanya sesekali..."
"Itu.. aku tidak tahu..."
"Kelihatanya mereka itu punya tugas lebih dari menjaga desa..."
"Mungkin juga, kang..."
Sahut nyimas lirih, dia tidak berani terus terang. Mengingat dulu pernah ditegur dan diperingati oleh ayahnya. Tentang apa yang telah dilihat dengan siAling beberapa waktu yang lalu. Nyimas lirih, sadar kalau Arya mengetahui tentang apa yang dilihatnya tentu pemuda itu akan mengajaknya dan melihatnya kembali. Berpikir sampai disana, segera nyimas Lirihpun mengalihkan pembicararaan.
"Oh iya, kang. Bagai mana menurut akang tentang ilmu yang akan besok diturunkan oleh Rama Subali..."
"Tentu saja akang penasaran, nyimas. Ingin segera mempelajarinya..."
"Ilmu pernapasan ini katanya mampuh menambah tenaga dalam hingga berlipat-lipat dalam waktu satu tahun. Kukira pasti cukup sulit..."
"Sesulit apapun aku akan mempelajarinya, nyimas. Sebab aku mempunyai tugas yang sangat penting. Yaitu menyelidiki apa yang terjadi atas keluargaku! Karena aku tidak percaya jika ayahandaku tega melakukan apa yang dituduhkanya..." Terdengar Turangga menegaskan dengan nada yang berapi-api.
"Kau benar Turangga, kau harus mampu menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi. Karena akupun sama tidak percaya akan apa yang telah terjadi pada keluargamu itu..."
"Lebih baik kita harus mempersiapkanya, kang..." Sementara mereka terus mengobrol, tak terasa matahari mulai tenggelam. ***
Betapa kaget dan kecewanya Arya, Turangga dan nyimas Lirih ketika mendengar kabar bahwa gurunya pergi karena ada kepentingan mendadak. Kata ibu nya, tadi sore juragan Subali pergi dengan dua orang jagabaya kampung.
"Terus kapan pulangnya ibu?"
"Mungkin satu sampai dua hari, kata Ayahmu meskipun demikian kau teruslah belajar jangan sampai berhenti..."
"Iya bu..."
Keesokan harinya, entah apa yang terjadi pagi-pagi sekali siArsan kembali mendapat siksaan, masalahnya kali ini siarsan tidak bisa tepat waktu saat mengisi air ditong. Beberapa tamparan, bahkan cambukan sempat mengenai wajah dan pungungnya.
"Kang Arya ada apa ini? Mengapa kau menyiksanya?"
"Lihatlah nyimas, matahari sudah merangkak naik keatas air didalam tong masih kosong! Memang dia itu bekerja dibapaknya, apa..."
"Ma.. maafkan sa.. saya den, saya kesiangan..."
"Ctar! Ctar..."
Terdengar ledakan cambuk dua kali, seketika itu pula siArsan menjerit dan merintih. Terlihat punggungnya mengeluarkan darah.
"Sudah cukup kang, kasihan...." Nyimas lirih tidak tega.
"Hh! Aku sedang kesal, ditambah ini kacung kerjanya tidak becus..."
"Hhh! Sekarang kau pulanglah kembali, dan renungkan.. anggap ini sebagai peringatan terakhir! Kalau tidak kau akan ku pecat langsung..."
"I.. iya den, ma.. mangga..."
Setelah memanggutkan kepala beberapa kali, lalu siArsanpun beringsut pergi sambil membawa luka yang sangat pedih dan menyakitkan.**
Ternyata akibat kejadian kemarin kali ini siArsan benar-benar kapok dan tidak mau bekerja lagi. Bukan main kagetnya mang Odon melihat kejadian seperti itu.
"Apa? Kenapa kau ingin berhenti bekerja?! Memangnya kau punya pilihan untuk itu?"
"Abah, aku sudah tidak tahan. Lihatlah tubuhku yang penuh dengan luka cambukan. Bukan sekali dua kali den Arya menyiksaku seperti ini..."
"Tapi jika kau tidak teledor seperti kemarin kau takan mungkin mendapat hukuman dan disuruh pulang lagi!" bentak mang Odon penasaran, karena menganggap anaknya banyak alasan.
"Aku sudah tidak kuat abah, aku ingin berhenti. Aku yakin juragan Subali akan mengerti..."
"Hh! Mengerti ndas mu. Sudah, lebih baik hari ini kau beristirahat biar aku yang bicara pada juragan Istri..."
siArsan tidak menjawab, dia hanya meringis kesakitan.. Sedang Rastiti adiknya hanya berlinang air mata, melihat luka cambukan yang diderita kakaknya.
Gadis yang dulu masih cilik, kini diapun sudah menjadi gadis remaja dengan kisaran umur antara 12-13 tahunan. Meskipun berkulit sawo matang, namun dia terhitung gadis cantik dengan mulut dan hidung yang kecil serta dagu meruncing.
"Sampura sun..." Terdengar dari luar orang yang uluk salam, sontak saja semua saling berpandangan dan menghentikan perdebatan.
"Coba kau lihat, Rastiti. Bukankah dia siAling?"
"I.. iya ayah..." sahut Rastiti sambil mengangguk sekaligus menyembunyikan pipinya yang mendadak merah.
"Kang Aling, ayo masuk..."
"Tidak, terimakasih. Toh hanya mau mengajak mang Odon untuk mengangon..."
"Tapi..."
"Lingga, kemarilah..."
"Baiklah..." Jawab Lingga Paksi sambil melangkah dan menaiki glodok tangga rumah.
"Hei, minggirlah. Apa kau mau berdiri disitu terus..." seru Lingga Paksi setengah menggoda Rastiti. Rastiti semakin memerah, lalu dengan cepat kembali dan duduk disamping mang Odon ayanya.
"Ada apa mang? Biasanya juga sudah siap berangkat..."
"Begini..." Mang Odon lalu menceritakan apa yang terjadi pada diri anaknya, hingga akhirnya siArsan tidak mau bekerja lagi.
"Hm, mereka itu kadang keterlaluan. Lain kali kau harus lebih berhati-hati dan lebih giat lagi, Arsan. Dimanapun kau bekerja jika kesiangan tentu akan mendapatkan sangsi atau hukuman. Coba kulihat, seberapa parah lukamu itu..."
siArsan hanya mengangguk, dia tidak mau berdebat dengan sahabatnya itu. Bagaimanapun juga, Lingga Paksi sering kali menolong dirinya yang sedang dalam kesulitan, bahkan Lingga Paksi pernah menolong penduduk lainya yang sekarat, akibat dipatuk ular.
"Jangan kuatir Arsan, besok lusapun luka ini akan mengering. Coba balikan badanmu, biar ku taburi bubuk obat buatan ku..."
"Tapi tidak perihkan?"
"Yang namanya obat pasti perih, tapi hanya sekali. Ayo jadilah lelaki, jangan cengeng..."
Lalu Lingga Paksi mengeluarkan ruas bambu kecil, yang didalamnya terdapat beberapa pil obat. Setelah dibubukkan, lalu obat itu mulai ditaburkan ke arah luka bekas cambukan.
"Ah, aw.. aduh..."
Terdengar siArsan merintih kesakitan, namun tak lama ia pun diam lalu tertidur pulas sambil tengkurap.
Obat yang ditaburkan oleh Lingga Paksi memang bukan obat sembarang, obat tersebut hasil racikan ibunya sendiri yakni Ratnainten.
"Aling, terima kasih telah mengobati luka siArsan..."