Fresh House

Fresh House
Part 7. Pacar Alex





Siang ini sesudah kuliah, Diraz minta ditemani untuk mencari buku bacaan yang menarik karna Diraz mengalami titik jenuh, masih belum mendapat feel dengan kampus baru dan orang-orang yang ada di dalamnya.


Hanya Alex yang tidak ikut dengan alasan sudah ada janji dengan temannya. Hal ini makin membuat Luki penasaran. Yang lain juga penasaran tapi hanya sesaat saja tidak seperti Luki yang sebegitu penasarannya.


"Gue heran sama si Alex... ada apa ya dengannya?" tanya Luki yang duduk di belakang bersama dengan Rian di mobil Honda Jazz Diraz. Sebentar lagi mereka akan sampai di mal.


"Emang kenapa si Alex?" tanya Rian mengerutkan kening.


"Ya aneh aja... dia jadi jarang balik sama kita. Dan gue ngerasa ada yang lagi ia sembunyiin."


"Emang sih," gumam Rai, "Alex itu kan misterius... jarang banget buat ngobrol atau cerita, jadi wajar kalo ada beberapa hal yang ga kita tau tentang dia."


"Lo ngerasa ada yang aneh ga, Yan?" tanya Diraz melirik Rian sekilas, "Lo kan roommate-nya."


Rian terlihat sedang berpikir.


"Ga ada yang aneh sih... Yang gue tau dia itu susah dibangunin. Hmmm...."


Rian berusaha mengingat-ingat lagi semua hal tentang Alex.


"Ah kalo itu juga kita semua tau," tukas Luki.


"Oh!" ucap Rian tiba-tiba karna teringat sesuatu. "Gue ga tau apa ini mencurigakan atau engga, tapi Alex itu suka dapat telpon malam-malam."


"Ha? Dari siapa?" tanya Rai langsung menoleh pada Rian.


Rian angkat bahu. "Ga tau. Tiap kali ada yang nelpon dia, dia langsung ke balkon dan ngobrol di sana..."


"Nyokapnya kali," celetuk Diraz sambil membelokkan setirnya ke parkiran.


Rian menggeleng-geleng serius. "Gue pernah ga sengaja denger kalo Alex itu ngomongnya aku-kamu, dan kalo dia udah ditelepon sampai berjam-jam lho."


"Ah! Itu sih pasti dari pacarnya!" celetuk Luki membuat Rian kaget.


"Masa sih Alex udah pacaran, masa dia ga bilang-bilang?" ucap Rian tidak percaya.


"Tapi bisa jadi..." gumam Diraz mendukung pendapat Luki, "Siapa tau itu alasan dia slalu ga bisa pulang bareng kita karna dia mesti nganterin pacarnya."


"Ya bisa jadi," ucap Rai juga, "Nanti bisa kita tanyakan langsung ke orangnya. Sekarang kita sudahi aja dulu topik ini dan keluar mobil. Kita udah nyampe."


Mereka berempat pun sama-sama keluar dari mobil dan berjalan masuk menuju mal.


Di tengah-tengah mal ternyata sedang ada acara promo sebuah merk TV ternama dan Cangcuters yang merupakan bintang tamu menghibur para penonton dengan lagu mereka. Tak heran setengah dari pengunjung mal menyemut di panggung kecil untuk menonton penampilan Cangcuters itu dan setengah pengunjung lain menonton dari lantai-lantai atas.


"Wow..." ucap Rian melihat performa Cangcuters dari jauh dan mendengar lagu I Love You Bibeh. Rian malah menari-nari sesuai irama. Dan ternyata tarian Rian memang tidak terlalu buruk.


Rai tertawa saja melihat kocaknya Rian yang langsung menari itu.


"Good job, Yan.. so cute..."


"Woi udah oi," ucap Luki, "Malu nih diliatin sama orang..."


Tapi Rian sama sekali tidak mau berhenti menari hingga akhirnya kakinya yang lincah berhenti menari saat menginjakkan kaki di eskalator. Walau begitu tangan dan badannya masih saja meliuk-liuk menari.


"Lo itu... belum minum obat ya?" tanya Luki heran pada tingkah Rian yang begitu.


"Lo kayak baru kenal Rian aja," gumam Diraz, "Kalo di tempat umum begini dia emang suka nyari perhatian..."


Rai nyengir dan memeluk bahu Rian brotherly, "Lo mau nyari perhatian siapa? Cewek yah? Yang mana?"


Rian berhenti menari. Ia menoleh dan menatap Rai dengan aneh. "Cewek?"


"Mau nyari pacar juga ya kayak roommate lo?" Kali ini Luki yang menggoda.


Kening Rian makin berkerut. Dia sama sekali tidak punya niatan seperti yang dibayangkan oleh para sepupunya. Rian memang slalu ekspresif begini kalau di tempat umum, hanya sekedar aktualisasi diri saja.


"Wah ga nyangka Rian yang kekanakkan beranjak dewasa juga... Sudah mulai mengejar cinta." gumam Diraz yang membuat Luki mengekeh.


"Cinta?" Rian melongo, "Ih engga kok.. engga... Siapa juga yang lagi ngejar cinta. Gue ini a man who doesn't understand love."


Rai tertawa melihat Rian yang malah terlihat begitu bangga karna sudah mengaku pria yang tidak tau arti cinta.


"Yeah... lo itu bad boy..."


“Bad boy?" Rian sama sekali tidak mengerti dengan istilah bad boy.


"Maksud lo gue jelek?"


"Bukan, bro... Itu pujian..." Luki menepuk bahu Rian sambil nyengir. "Gue salut juga kalo lo itu bad boy."


Sementara itu di waktu dan di mal yang sama, Alex tengah berjalan bersama dengan Karin. Hari ini Karin minta ditemani untuk membeli beberapa pakaian.


"Lex, tau ga temen-temen aku ada yang ngeceng kamu lho." kata Karin pada Alex yang berjalan di sampingnya.


Alex hanya tersenyum.


"Dan saat mereka tau kalo aku udah jadi pacar kamu, mereka sirik berat. Mereka bilang mereka ga rela dan sebagai gantinya mereka ingin dikenalin sama kamu."


"Oh ya?" Alex tertawa pelan, "Kok mereka bisa suka sama aku?"


Karin tertawa kecil, "Ya kamu kan ganteng, baby... Aku aja masih ga nyangka ternyata akulah wanita pilihan kamu."


Alex tidak menyahut karna mereka sudah masuk ke dalam FO ternama di mal itu. Dan saat sudah masuk, Karin seolah lupa dengan topik pembicaraan sebelumnya. Ia mulai asik memilih-milih pakaian.


"Lex, yang ini bagus ga?" tanya Karin sambil menunjukkan blouse pink yang chic banget.


Alex menunjukkan jempolnya. "I think you will look more beautiful with that.”


Karin tersenyum, "Lex, buy me some, OK?"


Alex mengangguk saja walau sebenarnya sedikit keberatan juga. Dalam seminggu ini saja Karin sudah minta banyak dibelikan, mulai dari peralatan make up, flashdisk, MP4, dan pakaian-pakaian. Tapi Alex sama sekali tidak sanggup mengatakan tidak. Dia tidak ingin membuat Karin cemberut.


Karin menjadi smakin bersemangat. Ia sibuk mencoba-coba pakaian sementara Alex duduk di sofa, bengong saja.


Sejam kemudian akhirnya Karin menyudahi mencoba-coba hampir seluruh pakaian di toko itu. Alex harus membayar hampir satu juta untuk pakaian-pakaian yang dibeli Karin. Uang simpanannya makin menipis sudah. Ini sih dia harus minta lagi ke papanya.


“Thanks ya, My honey..." ucap Karin manja saat keluar dari toko.


Alex tersenyum, "Aku lapar, makan yuk?"


"Iya aku juga lapar nih... capek dan haus banget."


"Kita makan di sana aja ya," Alex menunjuk sebuah restoran nusantara.


Baru saat masuk ke dalam restoran itu, Rian yang juga sedang makan di sana bersama dengan sepupu yang lain langsung kaget melihat Alex masuk.


"Hah? Itu Alex kan?" tanya Rian sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


Diraz, Rai dan Luki menoleh dan sama-sama terkejut juga.


"Iya itu Alex..." Diraz menyipitkan mata, "Sama siapa tuh dia?"


"Alex!"


Luki langsung saja memanggil membuat Alex dan Karin menoleh ke sumber suara.


Alex terkejut bukan main melihat sepupu-sepupunya. Karna tak mungkin menghindar lagi maka ia pun mengajak Karin untuk bergabung dengan para sepupunya.


"Mau makan?" tanya Diraz tenang seolah sudah tau apa isi pikiran Alex saat ini.


Alex mengangguk ragu.


"Bareng aja...: ucap Diraz lagi, "Di meja ini masih banyak kursi. Kebetulan kami juga belum mesen."


Rian mengangguk-angguk, "Iya, makan bareng-bareng aja.."


Akhirnya Alex dan Karin pun duduk di sana bergabung dengan mereka.


"Sama siapa?" tanya Rai sambil sibuk membulak-balik buku menu.


Alex terdiam sesaat sementara Karin hanya tersenyum ramah pada yang lain.


"Kenalin... Karin... pacar gue..."


"Hah!" Rian spontan teriak. Karin saja sampai ngeri melihat reaksi Rian dan yang lainnya yang keliatan kaget itu.


Alex menghela nafas, "Sorry gue ga pernah cerita... Kami baru jadian sebulan yang lalu kok."


Luki menelan ludah dalam-dalam.


'Kan bener kan apa kata gue.. Diam-diam ternyata dia udah punya gandengan.' batin Luki.


Karin tersenyum lebar, "Kenalin nama gue Karin."


Alex mulai memperkenalkan para sepupunya pada Karin, Ini Rian, Rai, Diraz dan Luki.


Karin menyunggingkan lesung pipitnya memandangi para sepupu Alex. Dia tak menyangka kalau Alex memiliki sepupu yang ganteng dan keren seperti ini.


'Nah.. mereka juga pasti tajir kan...' batin Karin senang.