Fresh House

Fresh House
Rian Kena Gampar Cewek



“Rian mana?” tanya Luki saat makan siang di kantin seperti biasa.


“Tadi katanya ada urusan bentar karna ada yang dm dia gitu...” sahut Rai datar.


Luki menggigit sedotan lemon teanya dengan lesu.


"Si Alex juga ga keliatan batang hidungnya... Dia mungkin makan di kantin fakultas pacarnya..."


Diraz sama sekali tidak terlalu memedulikan apa yang dibicarakan Luki dan Rai. Dari tadi Diraz sibuk bermain dengan Marcel, anak penjaga kantin di situ. Diraz berjongkok dan sibuk berceloteh dengan Marcel menanyakan mainan yang sedang dipegang Marcel yang terbuat dari sedotan.


Sementara itu Rian tengah berada di tempat parkiran yang sepi. Di sinilah tempat di mana ada seorang wanita yang mengajaknya untuk bertemu.


Rian sudah memastikan kalau itu bukan Karin. Rian sih tidak mengerti maksud dan tujuan wanita bernama Lana mengajaknya bertemu di sini.


"Hei, Kak..." sapa seseorang yang muncul tiba-tiba.


Rian menoleh melihat seorang cewek manis yang ia tau sebagai adik kelasnya di teknik indutri. Lana ditemani dengan dua temannya.


"Kamu ya yang namanya Lana? Kenapa, Lan?"


Lana tersenyum malu-malu sementara dua temannya terlihat mendorong-dorong memberi semangat. Sudah pasti ini adalah tanda-tanda wanita yang akan menyatakan perasaannya. Tapi hal yang mudah ini saja tidak bisa dimengerti Rian. Payah.


"Gini, Kak Rian," gumam Lana menunduk malu sesekali tersenyum pada Rian, "Slama ini Lana... ng, Lana... Lana suka sama Kak Rian..."


Mata Rian agak membesar. Wow, dia sendiri tidak menyangka kalau dia memiliki pengagum rahasia juga. Dan cewek yang menjadi pengagum rahasianya juga lumayan cantik, gaul dan populer di fakultasnya. Rian jadi teringat dengan Rai dan Alex. 'Ternyata aku ini juga setara dengan mereka ya... Hehehe.' batinnya sumringah.


"Ehem... iya.. terus?" tanya Rian sok serius.


Lana mengangkat kepalanya pelan-pelan dan memandang Rian, "Kak Rian.. emm, Kak Rian mau ga jadi pacar Lana?"


Rian menahan senyum, berusaha sok serius. Dia kembali ingat dengan pujian Rai dan Luki padanya mengenai bad boy. Bagi Rian julukan itu sepertinya patut dibanggakan dan menjadi standar tersendiri untuk lelaki.


Rian memperhatikan Lana. Dia memang tidak terlalu akrab dengan cewek walau memang pernah sesekali mengobrol karna urusan perkuliahan. Namun tetap saja Rian sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya love stuff. Rian lebih tertarik dengan PS dibandingkan dengan wanita cantik di depannya. Ini yang dia lakukan dari SMA sampai sekarang. Sementara laki-laki seumurannya sibuk mengeceng Rian malah main PS.


"Aduh, maaf, Lana, bukannya gue pengen nyakitin lo atau apa... tapi gue masih belum mau pacaran dulu.. karna lagipula gue ini seorang bad boy."


Lana yang awalnya bermuka sedih mendengar penuturan Rian mendadak mukanya langsung berubah warna saat mendengar Rian mengaku diri bad boy.


Kontan saja Lana langsung melayangkan tangannya dan menampar pipi Rian begitu saja. Suara tamparannya begitu keras dan Rian memang merasa pipinya panas, sakit dan perih.


'Buseeettt! Gue napa ditampar?'


Rian memandang Lana tak percaya sambil memegangi pipinya yang perih.


"Gue paling benci sama bad boy!" teriak Lana lalu langsung pergi disusul dua temannya yang juga berwajah kecewa pada Rian.


Kenyataannya ialah bahwa Lana pernah mengalami trauma dengan seorang bad boy saat SMA.


Rian menganga. Sama sekali tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja ia ditampar. "Lho bukannya dia baru aja nyatain cinta? Kenapa gue langsung digampar?? Emang bad boy itu apa?"


Rian meringis. Taulah ia kalau ia sudah ditipu Rai dan Luki mengenai julukan bad boy.


Awas ya mereka...!!


Rian langsung menuju kantin. Dia tau betul kalau jam segini para sepupunya pasti sedang di kantin menikmati jam makan siang dan waktu istirahat.


"Kaget tau! Lo dari mana baru nongol jam segini?"


Rian menatap Luki dan Rai sinis. Ia duduk di sebelah Diraz yang masih mengobrol dengan Marcel.


"Kalian itu ya..." gerutu Rian kesal, "Liat nih pipi gue."


"Pipi lo napa?" tanya Rai datar dan innocent.


"Ditampar sama adik kelas."


"Hah? Yang bener?" tanya Diraz yang langsung membalikkan kepala pada Rian.


Luki hampir menyemburkan tawanya yang langsung ia tahan karna pelototan Rian.


Rai menunjukkan cengirannya. "Kenapa ditampar? Lo ngintip?"


"Karna kalian juga gue ditampar! Tadi baru aja ada cewek yang nyatain cintanya ke gue di tempat parkir, tapi karna emang gue ga niat pacaran gue tolak dia baik-baik dan gue juga bilang kalo gue ini bad boy, eh gue langsung ditampar."


Tawa Luki, Diraz dan Rai langsung meledak seketika itu juga membuat beberapa orang memandangi mereka dengan heran karna tawa mereka begitu keras memecah suasana kantin.


"Ahahahaha... gila lo, Yan... Sarap!" tukas Luki sambil memukul-mukul meja karna tak bisa berhenti tertawa.


"Hahaha, gokil gokil..." komentar Rai sambil sesekali mengikik.


Rian menatap tiga orang itu dengan ganas. Nah kan bener! Pasti ada apa-apanya dengan kata bad boy!


"Bukannya kalian sendiri yang bilang kalo itu tuh pujian, tapi kenapa gue ditampar?"


"Lo itu terlalu polos. Polos banget!" ucap Diraz sambil menghapus air mata yang keluar karna tertawa.


"Rian..." ucap Rai dengan nada sok bijak, "Jadi selama ini lo emang ga ngerti dengan kata bad boy? Ckckck..."


"Emang bad boy itu maksudnya apa?" semprot Rian kesal.


“Bad boy itu sejenis playboy tapi agak lebih parah malah..." sahut Luki masih sesekali tertawa, "Cowok yang punya banyak gandengan dan hanya memiliki waktu yang singkat kalo pacaran dengan cewek. Cowok nakal gitu. Hahaha parah lu..."


“Heh, Bungsu, jelaslah tuh cewek nampar lo... Dengan lo ngakuin diri kalo lo bad boy sama aja artinya lo mau bilang ke dia kalo dia itu cuma mainan sementara." tukas Diraz, "Tobat lo, man."


Rian memegangi pipinya yang kena tampar. Masih sakit. Ia memasang tampang cemberut. Menyesal sekali kenapa dirinya bisa bodoh begitu menerima julukan bad boy yang ia anggap sebagai julukan untuk pangeran atau cowok berkharisma.


Rai mengangkat gelas orange juicenya dan langsung menempelkannya di pipi Rian yang kena tampar.


"Nah... biar adem..."


"Dasar kalian semua emang kelewatan!"


* status twitter *