
Rai yang masih mengekeh itu langsung berhenti tertawa saat melihat seseorang di meja yang agak jauh dari meja mereka. Rai menyipitkan matanya dan langsung terbelalak saat yakin dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia tak menyangka walau sudah sebulan menjadi mahasiswa baru di kampus ini, Rai baru tau kalau Sandra juga kuliah di sini.
"Raz!" Rai langsung menarik lengan baju Diraz membuat badan Diraz ikut tertarik.
"Apaan?" tanya Diraz sambil mengomel pelan karna bajunya yang nyaris robek.
"I-itu.. bener dia kan?" Rai menunjuk meja paling ujung yang berada di kantin besar itu.
"Hem?" Diraz menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rai. Untuk sesaat Diraz tidak mengerti namun matanya langsung terbelalak saat memperhatikan dengan benar.
"Sandra?"
"Itu Sandra temen SMP kita kan?" ulang Rai.
Rian dan Luki yang tidak mengerti apa-apa dan yang memang tidak satu SMP dengan mereka hanya bisa melongo dan menonton saja. Topik mengenai kesialan Rian yang ditampar itu pun seolah menguap.
Nafas Diraz tertahan. Darah mengalir di sekujur tubuhnya dan jantungnya berdegup cepat. Itu memang Sandra...
"Ga nyangka kalo ternyata dia kuliah di sini juga... Fakultas mana dia ya? Jangan-jangan anak teknik industri juga??"
Diraz sama sekali tidak menghiraukan celoteh Rai. Ia langsung bangkit berdiri dalam diam dan berjalan menuju ke sana.
Rai memandang Diraz takjub.
Diraz berjalan mendekati meja Sandra. Cewek itu sedang asyik mengobrol dengan 3 temannya sampai tidak sadar kalau ada orang yang intens menatapnya.
Diraz sendiri tak menyangka kalau cewek yang slama ini lose contact dengannya semenjak lulus SMP justru satu kampus dengannya. Apa jangan-jangan kuliah di kampus baru ini juga merupakan hikmah untuk bertemu dengan teman lama?
"Sandra emang siapa?" tanya Luki pada Rai sambil terus memandangi Diraz yang berjalan menuju meja Sandra.
Rai nyengir halus, "Sandra itu cinta pertama Diraz..."
"Haaaahhh???" Rian menganga tak percaya.
"Sandra..." gumam Diraz setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa detik sebelum sampai di meja Sandra.
Cewek yang disapa menoleh dan matanya langsung membesar melihat Diraz. Sandra bangkit berdiri dan berseru nyaring, "Diraz??! Lo Diraz waktu SMP kan?"
Diraz mengangguk menahan tawa. "Long time no see..."
Mulut Sandra masih setengah membuka, antara masih tak percaya dan ingin tertawa. Dengan tangan Sandra menutup mulutnya.
"Gue masih ga percaya... Gue ketemu sama lo, Raz... In here?!”
Diraz mengekeh. "Aku juga emang ga percaya. Gue baru sebulan dipindahin orangtua untuk kuliah di sini..."
Sandra tersenyum lebar. "Lo teknik industri ya?"
Diraz mengangguk, "Lo?"
"Gue bukan dari fakultas sini... Gue ambil sastra inggris."
Diraz dan Sandra masih terus berpandangan, sulit mengeluarkan kata-kata karna masing-masing masih tak menyangka dengan pertemuan mendadak ini.
Namun karna mulai tak enak 3 teman Sandra terlihat menunggu dan tidak mengerti akhirnya Sandra mengeluarkan HP-nya dan meminta nomor Diraz.
"Tar gue kirimin nomer gue ke lo ya?" gumam Sandra setelah saving nomor Diraz.
Diraz mengangguk, senyumnya masih belum pudar. Dia terlalu bahagia sekarang sampai kehilangan kata-kata.
'Ini bukan mimpi kan? Aku memang bertemu dan bicara dengan Sandra kan?'
"Iya ya..." gumam Luki masih memperhatikan gelagat wajah Diraz yang berjalan menuju mereka, "Mukanya merah gitu dan senyam senyum terus..."
Rian nyengir, "Wah... sekarang Diraz yang lagi jatuh cinta."