Fresh House

Fresh House
Rencana Luki




Alex berjalan di belakang sendiri sementara empat sepupunya berjalan di depan, sedang heboh dan tertawa-tawa sendiri dengan lelucon segar yang dibuat Diraz namun yang langsung hancur karena kegaringan Luki yang super duper tak termaafkan itu. Sia-sia saja memang lelucon Diraz tadi kalau ujungnya jadi terasa garing karna percikan bumbu tambahan Luki.


Alex seharian ini benar-benar tak banyak bicara. Dia memang menuruti Rian yang mengajak main PS atau game, tapi rasa ketidakpeduliannya malah smakin membesar.


Dia tidak mood untuk melakukan apapun. Sikapnya yang slalu perfectionis namun akhirnya diluluhlantakkan oleh sikap seorang wanita yang ia sayangi membuatnya slalu menyalahkan diri sendiri, mengintrospeksi diri berlebihan untuk tau apa kekurangannya sampai Karin tega betul mengkhianati dirinya.


Alex tidak berharap Karin kembali, sekalipun Karin memenuhi semua kriteria fisik wanita yang ia cari.


Semua ini terasa berat untuk Alex. Pikirannya makin berat, terguncang.


"Ah dasar penggaring," tukas Rai yang mengomentari lelucon Luki yang garing abis, "Kalo ada mesin penggaring makanan maka nama lo lah yang pantas!"


Rian terkekeh panjang apalagi saat melihat wajah Luki yang dongkol abis.


Diraz yang matanya tak sengaja tertuju ke arah lapangan parkir mobil, matanya tiba-tiba membesar dan ia langsung menarik bahu Rian supaya berhenti berjalan.


Rian berhenti dan memandang Diraz heran. Ia pun melihat ke arah yang dilihat Diraz dan matanya juga terbelalak.


Rai dan Luki heran melihat perubahan mimik Rian dan Diraz. Mereka juga melihat apa yang dilihat Rian dan Diraz. Sekarang giliran mata mereka yang melotot.


Alex yang berjalan anteng di belakang langsung berhenti juga karna 4 sepupunya berhenti. Alex mendongak antara acuh tak acuh namun mau tak mau ia juga melihat ke arah yang membuat para sepupunya itu menganga dan melotot.


Kedua alis Alex langsung terangkat melihat Karin dan seorang pria berjalan dari lapangan parkir sambil bergandengan tangan ke arah mereka. Keduanya sedang bercakap-cakap dan terkadang Karin menyandarkan badan pada lengan pria itu.


"Lex..." Rian melirik Alex yang wajahnya sulit ditebak.


Alex tak bergeming. Ia masih melihat ke arah Karin yang smakin mendekati mereka.


Mata Karin tak sengaja menangkap mata Alex. Sedikit terkejut lalu memalingkan wajah seolah tidak kenal.


Karin dan pria itu lewat begitu saja dan Karin sama sekali tidak mengucapkan apa-apa. Ia bahkan pura-pura tidak kenal pada Alex dan sepupunya.


"Astaganaga." tukas Luki pelan.


'Come on Alex... Let her. She is just history. Bad history.' batin Alex.


Alex malah melengos pergi duluan meninggalkan 4 sepupunya yang masih terbengong. Pemandangan barusan yang ia lihat makin membuatnya tidak mood. Hatinya berubah menjadi dingin.


Rian dan Luki saling pandang. Sepertinya acara merefresh otak itu memang harus benar-benar ada.


  ****


“Ada pemberitauan, Teman-teman...” ucap Luki yang tiba-tiba datang masuk ke ruang keluarga.


Di sana ada Rai yang sedang membaca majalah fashion, Diraz yang sedang WA-an (sama siapa lagi kalo bukan sama Sandra) dan Rian yang sedang membaca buku What is the love? (bacaan untuk kaum pemula).


"Pemberitauan apa?" tanya Diraz tanpa mendongak. Sedangkan Rai sama sekali tidak mendengarkan.


"Sabtu ini... tadi gue baru aja dikasih tau Nyokap... Sabtu ini kita mesti datang ke acara perusahaan keluarga kita."


“Again?" komentar Rian. Padahal rasanya seperti baru saja ia mengikuti acara seperti itu.


"Hmmm..." Hanya itu yang keluar dari mulut Rai.


Luki memandangi 3 sepupunya yang masih saja autis sendiri, mengabaikan semua perkataannya.


"Woii!! Ini acara penting. Kita mesti tampil terpelajar. Harus banyak persiapan nih."


"Gue udah ngerasa siap kok." gumam Diraz asal sambil membalas WA Sandra dengan mengikik.


Luki memandangi Diraz kesal. 'Orang yang jatuh cinta emang bisa jadi autis gitu ya... Si Rai juga... Dasar penggila mode. Rian baca buku apaan? Tentang cinta? Ah sampai pantat gue bisul juga dia mana ngerti soal cinta.'


'Ah liat aja nanti saat acara perusahaan keluarga sabtu ini, gue lah yang akan tampil paling memukau para tamu dengan kecerdasan dan pesona gue. Haha.'


"Alex mana?" tanya Luki karna tidak melihat Alex berada di ruangan itu.


"Di kamar," sahut Rian, "Tadi sih gue liat tidur."


"Ah emang Raja Tidur," gumam Luki. "Ya udah kebetulan orangnya juga lagi tidur, ayo kita bikin suatu acara yang bisa merefresh Alex untuk kembali seperti dulu lagi."


Rai dan Diraz kompak mendongak. Pembicaraan tentang Alex kini jauh lebih menarik.


'Pas gue bilang soal acara merfresh aja, baru merespon. Dasar!'


"Sadar atau ga sadar, yang jelas gue sadar, kalo Alex banyak berubah semenjak tragedi cintanya. Dia banyak melamun, sedikit bicara dan ga pedulian."


"Iya gue juga ngerasa." gumam Diraz.


"Nah itulah sebabnya gue sebagai Kepala suku Freshouse merasa penting sekali bagi kita bikin acara main yang siapa tau bisa memulihkan semangat Alex lagi."


Rian mengangguk-angguk semangat. "Bener banget! Ada yang punya ide ga dengan acara main ini?"


"Ya yang jelas, untuk merefresh otaknya si Alex kita mesti membuat acara yang disukai Alex, atau pergi ke tempat yang Alex sukai," ucap Rai bijak, "Setau gue Alex suka banget berenang dan ke pantai. Gimana kalo kita ajak dia ke pantai, biar moodnya ga buruk lagi?”


"Setujuuuu!!!" seru Rian.


Luki juga angguk-angguk. Pendapat Rai memang bagus sekali. "Oke... ide bagus. Hari apa ya kira-kira?"


"Acara perusahaan keluarga kita Sabtu jam berapa?" Diraz malah balik bertanya pada Luki.


"Jam tiga. Emang kenapa?"


"Nah! Kita ke pantai hari sabtu aja jam tiga."


Luki langsung mencibir. "Tidak boleh! Kita semua harus datang ke acara perusahaan keluarga. Titik."


Diraz hanya tersenyum hambar. Diraz memang paling malas kalau menghadiri acara-acara formal begitu. Baginya sangat membosankan.


"Ya udah hari Jumat aja. Jam empatan. Habis kuliah kita langsung cabut ke Ancol." sahut Rai.


Usul Rai itu langsung dipandang baik oleh yang lainnya.