Fresh House

Fresh House
Perjodohan (1)



“Cepetan semuanya... nanti kita telat..” seru Luki keras-keras dari ruang keluarga.


Luki sudah siap pergi ke acara perusahaan keluarga mereka. Dia memakai tuksedo hitam pekat dan dasinya juga sudah terikat rapi. Sedangkan empat sepupunya yang memang tidak seniat dirinya, sedang sibuk memakai jas di kamar atas.


Luki berdecak tak sabaran melihat Diraz yang turun dan belum memakai jas. Kemejanya pun belum terkancing semua.


"Lo niat ga sih, Raz? Lo itu anak dari salah satu pemilik perusahaan ternama. Masa pake pakaian kayak gitu?"


"Iya nanti gue rapihin." tukas Diraz kesel juga karna Luki yang mendadak cerewet.


Beberapa saat kemudian Rian juga turun. "Gue siap! Gue yakin gue yang akan terpilih."


"Terpilih apa?" tanya Diraz heran sambil membuka kulkas dan mengeluarkan softdrink.


Rian malah angkat bahu. "Ga tau tuh... Kata Luki kita harus mempersiapkan diri dengan sangat sempurna hari ini karna sepertinya akan ada pemilihan penting."


"Betul banget!" ucap Luki berapi-api, "Walaupun kita berlima ini sepupu tapi sebenarnya kita ini juga sedang bersaing lho..."


Rian mengangguk. "Gue juga ga mau kalah."


"Kalo lo ga mau kalah, pake baju lo dengan benar." tukas Rai dari anak tangga sambil memandang Rian dengan galak.


"Eh apa? Gue udah pake baju gue dengan rapi kok."


Rai mendesis lalu mendatangi Rian dengan gemas. Dia yang memang tidak pernah kehilangan citra mode sedikit pun dan kali ini juga memang tampak paling keren dibandingkan yang lainnya, memandang dasi Rian yang tidak terikat rapi itu.


"Dasi lo ga beres.. Bisa pake dasi ga sih?"


"Ah, Omaa." gerutu Rian karna Rai langsung memasangkan kembali dasi Rian sesuai dengan ketentuan. "Sama aja kan?"


Rai langsung menarik dasi Rian kencang-kencang sampai leher Rian terasa tercekik.


"Aduh aduh... ampun, O Mama, ampun..." ucap Rian.


"Ih gue berasa ngeliat pengantin muda aja." tukas Luki pelan sambil membaca sebuah buku perbankan.


Diraz melirik Luki yang sepertinya paling semangat dengan acara hari ini. "Lo kenapa sih semangat banget, Ki? Gue liat kayaknya lo nyembunyiin sesuatu deh. Apa jangan-jangan hari ini ada pemilihan pewaris tahta?" sindir Diraz.


Luki menoleh dan mencibir. "No secret in this home. Tapi kita bukan anak kecil lagi. Kita mesti menunjukkan sisi profesionalisme kita. Di luar kita bisa boyish tapi di depan keluarga apalagi sangkut paut dengan perusahaan kita mesti dewasa. Duhh, gue slain romantis, bijak juga."


"Romantis dari Hongkong!" tukas Rai yang tidak percaya kalau orang seperti Luki romantis.


"Lo itu lola lagi..." gumam Rian sambil mengikik dan disambut Rai dengan high five.


"Ah berisik kalian semua... Liat aja, kalian akan liat kalo gue yang lebih dipercaya para tetua kita."


"Yuk kita berangkat!" ucap Alex yang tiba-tiba sudah muncul dari tangga. Dia sih tidak tau apa-apa mengenai yang diobrolkan 4 sepupunya itu.


 .


“Wah megah juga ya acaranya...” gumam Rian yang berdiri dekat panggung utama hotel ternama di Jakarta.


Sore ini hotel itu sudah penuh dengan para undangan yang borjuis yang rata-rata datang dengan mobil sedan mewah dan memakai stelan merk ternama.


"Katanya sih emang ada investasi besar-besaran." gumam Diraz enteng sambil memandang satu per satu tamu yang masuk ke dalam ruangan megah itu.


"Tahun ini meningkat ya." ucap Alex pendek.


"Tuh liat si Luki..." tukas Rai pelan sambil menunjuk Luki dengan gelas anggurnya. "Semangat banget tuh anak."


Rian memandangi Luki yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu undangan dan sesekali tertawa. Sepertinya Luki langsung exist di kalangan bisnisman. "Gue juga mau dong exist..."


"Ya udahlah... Lagian ga enak juga bersaing dengan sepupu sendiri. Biarkan Luki yang maju duluan, kan dia yang banyak usaha..." sahut Diraz.


Beberapa saat kemudian Luki datang dengan senyum lebar. "Woi kalian... ngapain aja di sini? Nikmati dong acaranya. Gue udah banyak ngobrol sama tamu-tamu. Tau ga, gue dibilang anak cerdas dan ganteng. Haha."


“Wah hebat lo," puji Rian, "Dari tadi gue perhatiin nyokap lo ngeliatin lo terus dan manggut-manggut gitu."


"Eh yang bener?" tanya Luki langsung semangat.


"Iya.. tadi juga gue liat kok.." gumam Alex ikut menambahkan.


Luki terkekeh agak keras. "Hahaha... gue pasti dianggap pantas dan terpilih di perusahaan keluarga ini."


"Waduh, slamet ya... gue ikut senang..." gumam Diraz datar.


"Kalian juga harus semangat dong," tutur Luki, "Kayak gue dong... banyak ngobrol, aktif... kan demi perusahaan keluarga kita juga. Di tangan kitalah perusahaan ini."


"Lo lebih semangat, Ki.. percuma gue berusaha juga... Kan lo yang terpilih..." sahut Rai menahan tawa.


"Ah lu bisa aja deh, Rai." Orang yang bersangkutan malah merasa dipuji padahal Rai hanya bercanda.


Ibunda Luki datang mendekati 5 sepupu itu. Beliau menepuk bahu Luki dari belakang.


"Kalian di sini rupanya... Gimana, udah banyak kenal?"


Diraz hanya tersenyum tipis dan mengangguk sekenanya. Rian garuk-garuk kepala sedangkan Rai tersenyum menunjukkan gigi putihnya.


"Udah lumayan, Ma... sekarang banyak yang Luki kenal..." jawab Luki.


"Ayo kalian berlima ikut..." ucap wanita cantik yang tetap terlihat awet muda itu. "Ada yang mau Mama kenalin..."