Fresh House

Fresh House
Meluruhkan Hati Alex




Sore ini para anak Freshouse sedang tersebar di rumah dengan kegiatan yang berbeda-beda. Diraz sedang lari sore sekitar perumahan. Rai membuat jus mangga campur jambu batu (dia memang paling senang eksperimen dan slalu Rian yang menjadi kelinci percobaan). Rian dan Alex sedang main PS 2 di ruang keluarga. Rian ekspresif karna kalah mulu, Alex hanya terkekeh tenang. Akhirnya karna kalah terus, Rian dongkol lalu beralasan untuk membantu O Mama Rai yang sedang di dapur. Sedangkan Luki pergi ke luar entah ke mana.


Setengah jam kemudian Diraz sudah kembali ke Freshouse dengan badan yang sudah keringatan. Diraz memang paling senang menjaga kesehatan, aset masa depan katanya.


"Lho kok main sendirian?" tanya Diraz heran melihat Alex main PS sendirian di ruang keluarga. "Tadi bukannya sama Rian?"


Alex angkat bahu dan hanya menunjuk dapur sebelah dengan stik PS-nya.


Diraz mengernyit lalu mendengar teriakan Rian dari dapur yang berkata, "Ga mau, O Mama... Ga mau..."


Diraz masuk ke dapur dan melihat Rai yang tengah memaksa Rian menghabiskan segelas jus berwarna oranye kental.


"Kalian apa-apaan?"


“Minum jus supaya badan Rian yang kempis dan lembut ini sedikit berisi seperti kita." sahut Rai mengangkat gelas jus kolaborasi wortel dan seledri.


"Ga mau!" Rian menutup mulut dengan kedua tangan. "Ga enak! Jijik."


"Lo mesti habisin. Sayang nih..." tukas Rai.


Diraz memandang gelas yang masih terisi tiga perempat jus kolaborasi Rai.


"Sini deh gue yang minum."


Diraz langsung merebut gelas itu dan meminumnya habis tanpa berhenti. Rai dan Rian saja sampai ternganga takjub. Memang betul ya kalau Diraz ini olahragawan sejati.


"Enak kok." komentar Diraz pendek, meletakkan gelas lalu pergi untuk mandi.


"Lidahnya tuh udah kebal kali ya sama makanan alami dan sehat..." Rai bergumam sendiri.


"Inget ya, Rai. Gue hanya mau dikasih jus campur yang buah-buahan. Yang sayur mayur ga akan gue terima. Masa sayur mentah dijus, gila apa."


"Elo tuh yang pengetahuan kulinernya paling minimalis. Nonton TV dong. Makanan alami tanpa minyak sedang ngetren tau."


Rian mencibir saja lalu ngeloyor pergi karna mendengar suara mobil di luar. Sepertinya Luki sudah pulang.


Rian ingin membanjiri Luki dengan segudang pertanyaan karna tadi Alex menduga kalau sepertinya Luki pergi ke rumah Rosa.


Namun saat di depan pintu dan melihat Luki keluar dari mobil juga seorang yang lain yang keluar dari mobil, mata Rian terbelalak.


Luki terkekeh melihat Rian. "Mana Alex? Dia kedatangan tamu nih."


Dela, cewek yang keluar dari mobil itu, hanya tersenyum simpul dan mengikuti Luki masuk ke dalam rumah setelah menyapa Rian dengan sopan.


"Hai, Alex, sepupu gue yang agung..." sapa Luki saat melihat Alex di ruang keluarga, "Lihat nih gue bawa siapa."


Alex menoleh, alisnya terangkat saat melihat Dela. Ia tentu masih ingat dengan cewek itu. "Hmm."


Luki tersenyum garing melihat reaksi Alex yang sungguh biasa itu. Luki kan sudah berniat akan menjodohkan dua orang ini walau dia bilangnya hanya minta Dela untuk menjadi teman cewek Alex sampai Alex benar-benar pulih sakit hatinya.


Luki duduk di sofa di belakang Alex dan mempersilakan Dela juga untuk duduk.


"Namanya Dela, Lex..."


"Ohh..." sahut Alex datar dan masih bermain.


Rai dan Rian turut bergabung duduk di sana. Mereka berdua ini memang sudah mengendus niat 'mulia' Luki. Mereka sih dukung-dukung saja karna sepertinya Dela cewek baik-baik.


"Mainnya udahan dong, Lex..." gumam Rai, "Ada tamu nih."


Akhirnya Alex pun menyudahi gamenya, menuruti permintaan Rai dan Luki itu. Ia masih duduk di karpet namun kali ini badannya sudah berbalik pada sepupunya dan Dela.


"Lex, inget Dela kan yang di pantai waktu Jumat lalu??"


Alex mengangguk, "Inget kok."


"Nah si Dela ini temen SMA gue. Haha, ga nyangka gue bisa ketemu sama dia di pantai."


"Iya waktu itu lagi main juga sama keluarga." sahut Dela ramah.


Alex tersenyum wajar sambil memperhatikan Dela. Cewek itu manis sih tapi memang sejak awal Alex sudah tidak tertarik duluan karna cewek itu bukan termasuk kriteria cewek idealnya yang harus memakai gaun atau baju girly atau yang memakai high heels. Seperti sekarang saja, Dela memakai baju gombrang polkadot dengan kalung panjang. Jelas sekali kalau Dela seperti ABG jaman sekarang, bukan seperti it girl tipe idealnya Alex.


Diraz yang baru selesai mandi dan hendak bergabung dengan yang lainnya, tercengang juga saat melihat Dela hadir di sana.


"Wah ada tamu ya..." ucapnya sambil duduk di sebelah Rai.


"Nih Dela yang waktu itu di Ancol. Dia temen SMA gue nih."


Diraz menyeringai pada Luki yang canggih juga. 'Tuh anak pasti mau nyomblangin Alex ma cewek itu deh. Dasar.'


"Del, Del, ceritain dong, gimana si Luki waktu SMA." celetuk Rian tiba-tiba.


Dela terkekeh pelan. "Luki? He's very smart!"


"Oh ya?" Diraz pura-pura keliatan tidak percaya. Ia memelototi Luki. "Masa sih??"


"Eh! Gini-gini gue tuh juara umum kalii." sahut Luki dongkol.


Rai tersenyum hambar pada Luki. "Tapi kok kalo bicara sama lo, lo lola banget, Ki? Ga praktis...”


"Eh kurang ajar, siapa yang lola. Kebetulan aja kali gue lagi ga konsen."


"Ah lo juga garing banget, Ki..." sela Diraz membuat Rian mengekeh keras.


"Tapi jangan salah lho," ucap Dela, "Waktu SMA banyak lho cewek yang pengen jadi pacarnya Luki. Bahkan banyak adik kelas yang minta gue comblangin."


"Ha masa?" tanya Rian ga percaya.


Luki tersenyum songong. "Oh iya dong... Gue ini populer tau dan gue juga sangat sangat romantis. Makanya banyak yang mau deket sama gue. Hahaha..."


Diraz mendengus. "Slalu aja tuh anak ngaku diri romantis."


"Gue ini emang yang paling romantis dari antara kalian semua. Akh kalian ga tau sih sejarah keromantisan gue."


"Cih... Dibandingkan elu, gue lebih romantis." tukas Rai.


Rian mengekeh. "Bener tuh... Keliatannya Rai lebih romantis. Rai kan jago masak. Cewek-cewek pasti senenglah dimasakin sama cowok kayak Rai."


Luki memonyongkan bibirnya pada Rian sang pengkhianat itu. "Tanya si Dela... gue ini waktu SMA romantis abis kali. Ya gak, Del?"


Dela mengernyit, keliatan agak ragu untuk mengiyakan.


Diraz terbahak. "Tuh liat, Dela aja ga yakin gitu."


Kali ini Dela yang dipelototi Luki. "Lo ga inget apa kalo di antara temen segank, guelah yang paling baik ke cewek, suka nganterin lo dan yang lainnya pulang dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun??"


Dela langsung berlagak sudah ingat. "Oh!! Oh yang itu.. Ya ya ya, Luki emang yang paling romantis... Iya.. Hehe."


"Tapi buat gue kalo cuma nganterin cewek pulang bukan romantis tapi emang tanggungjawab cowok." sela Alex yang dari tadi diam.


"Betul itu." Diraz juga setuju.


"Nah bener kan kalo di rumah ini yang paling romantis itu gue?" ucap Rai nyengir penuh kemenangan terhadap Luki.


"Kalo gue sih ga terlalu peduli kalo gue ga dapat poling romantis di rumah ini." gumam Diraz.


"Aaarrgh!!"


Akhirnya Luki jadi stres sendiri karna pembahasan mengenai siapa yang paling romantis tidak seleai-selesai. Tadi kan dia sudah berniat akan meninggalkan Dela dan Alex berdua untuk mengobrol.


"Ya sudah... Rai, lo bikinin minum atau jus buat Dela. Rian, lo beresin tuh kamar lo, berantakan banget. Sedangkan gue mau buang air besar dulu."


Rai melongo namun kemudian mengangguk-angguk mengerti, tau maksud tujuan Luki yang tiba-tiba mengomandoi semuanya. "Oke, siap, Bos!"


Rian juga mengangguk sambil menahan kekeh.


"Trus gue?" tanya Diraz yang tidak mau menjadi orang ketiga di antara Dela dan Alex yang Luki comblangi.


"Ya lo ngapain kek... olahraga sore lagi aja lo." tukas Luki langsung bangkit berdiri.


Sebelum pergi, ia mengerling pada Dela, "Del, lo disini dulu ya sama Alex, gue kebelet nih."


Dela hanya nyengir tipis. 'Ni anak yaaa... Awas lu!'


Diraz memonyongkan mulutnya sebentar lalu mengikuti yang lainnya untuk escape dari tempat ini dan membiarkan Alex-Dela tinggal berdua saja.


Alex menghela nafas melihat sepupu-sepupunya yang konyol. Ya mau tak mau dia kan mesti berbasa-basi juga dengan Dela.


"Lo kuliah jurusan apa?"


"Statistika."


"Oo..."


Mereka berdua kemudian hening cukup lama. Dela sih sudah punya beberapa pertanyaan menarik yang ingin dia ajukan pada Alex untuk mengisi obrolan tapi melihat Alex yang keliatannya tidak niat, Dela mendadak canggung juga. Namun Dela jadi ingat dengan apa yang dikatakan Luki mengenai Alex yang baru saja putus cinta, diduai dengan kejam. Lagi-lagi Dela merasa kasihan tiap kali melihat Alex. Sepertinya memang benar luka hati Alex belum sembuh.


"Lo suka main PS ya?" tanya Dela akhirnya.


"Yah lumayan... Lo mau ikut main sama gue? Yahh.. daripada kita cuma diem-dieman kan."


Dela mengangguk dengan senyum manis. "Oke gue mau coba."


Akhirnya mereka berdua malah bermain PS. Alex yang menduga Dela masih pemula ternyata mahir juga namun tetap saja Alex selalu unggul. Tapi dibandingkan dengan Rian, Dela rasanya bermain lebih baik.


Tentu saja, Dela yang kedengaran lebih berisik dibandingkan dengan Alex. Dela sesekali berseru yes atau berteriak-teriak saat mendapat perlawanan dari tokoh yang dimainkan Alex. Sedangkan Alex lebih santai, terkadang tanpa ekspresi, bengong atau pandangan kosong. Tapi terkadang juga mengekeh pelan sebentar atau hanya memberi seulas senyum saat menang dari Dela.


"Kok mereka malah main PS sih." gumam Luki tidak puas sambil mengintip dari balik tembok yang menghubungkan ruang keluarga dengan taman belakang. "Gue kan pengennya mereka saling suka gitu."


"Kebanyakan makan sinetron lo..." tukas Diraz pelan, "Ya biarin aja kali... Namanya juga baru kenal. Emang bisa instan."


"Oh harus instan dong," balas Luki, "Di jaman sekarang, yang instan itu sudah ga aneh lagi."


"Ya contohnya perjodohan lo dengan si Rosa itu ya?" sindir Rai mengekeh pelan.


Rian dan Diraz ikut-ikutan tertawa. Luki hanya tersenyum masam pada Rai. Mendengar ucapan Rai dia jadi ingat kalau Mamanya meminta Luki ikut datang Kamis ini ke rumah Rosa untuk dijamu makan malam. Gimana jadinya ya...