
"Akhirnya tidur juga," ucap Luki sambil merebahkan badannya di atas kasur.
Diraz memukul pantat Luki. "Lo kalo tidur ingat kiri kanan dong, yang tidur di kasur ini kan bukan cuma lo aja."
"Iya... lagian lo kan yang nebeng di kamar ini," tukas Rai sambil melepaskan gelangnya dengan hati-hati.
Luki nyengir, "Untuk sementara aja.. Kalian tau kan kalo gue sulit beradaptasi di rumah baru."
"Bilang aja lo takut." Diraz melempar bantal ke muka Luki.
"Eits, siapa bilang? Gue ini tidak takut sama apapun." Luki duduk tegak, "Lo ga liat koleksi DVD gue? Semuanya horor!"
Rai mengekeh pelan. "Yahh... gue tau itu... Gue udah liat koleksi DVD horor lo yang bejibun itu."
Diraz memandang Luki setengah menghina, tidak percaya kalau Luki pecinta film horor. "Halah jangan-jangan lo cuma koleksi doang tapi ga lo tonton?"
"Siapa bilang? Gue tau semua alur cerita DVD horor yang ada di muka bumi ini. Sebut aja apa. Insidious? Paranormal Activity? Apalagi? Bahkan Dendam Nyi Pelet juga gue punya..."
Diraz dan Rai terbahak-bahak, agak terkesan juga ternyata kepala suku Freshouse penggemar film horor.
Tiba-tiba lagu As Long As You Love Me mengalun dari Iphone Rai. Ada panggilan masuk.
"Siapa tuh malam-malam begini nelpon?" tanya Luki.
Rai memandangi layar Iphonenya dengan alis mengernyit. Nomor asing. Berharap itu bukan dari cewek iseng, Rai pun menjawabnya, "Ya, halo?"
"Halo..." sapa seorang cewek yang suaranya lembut dari seberang, "Ini bener nomor Rai?"
Mata Rai menyipit makin tajam, "Ya. Ini siapa?"
Diraz dan Luki masih memperhatikan Rai dengan penasaran. Dalam hati mereka bertaruh kalau itu pasti dari salah satu pengagum rahasia Rai di kampus.
"Ini Karin... masih inget kan?"
Tenggorokan Rai langsung tercekat mendengarnya. Mau apa coba pacarnya Alex menelepon malam-malam begini.
"Ooh.. ya... kenapa memang?"
"Siapa?" tanya Luki tanpa suara pada Rai.
Rai hanya menjawabnya dengan memutar kedua bola mata.
Terdengar tawa Karin yang renyah. "Cuma pengen ngobrol aja... Ga ganggu kan?"
"Hmmm..." Hanya itu jawaban Rai. Dia langsung duduk di sofa kamar dengan tak sabaran, ingin tahu apa sebenarnya tujuan cewek itu menelepon.
“Aku mau tanya-tanya soal Alex."
Salah satu alis Rai terangkat, "Alex? Nanya soal apa?"
Akhirnya Karin menanyakan mengenai keadaan Alex yang pada kenyataannya hanyalah basa basi saja. Tujuan Karin sebenarnya adalah untuk menangkap hati Rai, tak peduli kalau dia masih pacaran dengan Alex. Namun pada akhirnya isi hati Karin ini bisa terendus juga oleh Rai yang memang peka sekali dengan maksud hati orang lain.
"Rai, besok kamu bisa temenin aku ke toko buku ga? Tadi Alex bilang kalau besok dia mau ada kerja kelompok gitu."
Rai tersenyum tipis, "Sorry ga bisa... Gue juga satu kelompok sama Alex.. Lo pergi sendiri aja ya."
Diraz dan Luki kini sudah duduk menempel di kiri kanan badan Rai. Menguping. Mereka tak menyangka kalau Karin menelepon Rai. Apa jangan-jangan Alex memang tidak tahu ya??
"Yahh..." ucap Karin dimanja-manjakan, "Ga bisa dicancel aja kerja kelompoknya?"
Rai memandangi layar handphone dengan kesal. 'Lo kira lo siapa nyuruh gue cancel acara gue?'
"Aduh ga bisa... Maaf ya..." sahut Rai akhirnya sambil rolling eyes.
"Hmmm... lain kali lo mesti bisa ya?"
"Lain kali?"
"Iya.... kalo gue ngajak lo nonton atau makan lo mesti bisa."
Rai mendengus dalam hati, Diraz menganga dan Luki terbelalak.
"Ya kalo bisa." tukas Rai malas, "Udah ya... gue udah mulai ngantuk..."
Rai menguap keras-keras membuat Luki menahan tawa.
"Oh gitu... Iya sih udah malam... Met tidur ya... Mimpi indah..." ujar Karin.
Rai sama sekali tidak menimpali karna ia langsung memutus komunikasi. Ia melempar Iphonenya di atas tempat tidur dengan setengah kesal.
"Apa-apaan tuh cewek?" tukas Luki akhirnya mengeluarkan suara setelah sekian lama menahan.
"Udah gue duga... feeling gue emang bener... Tuh cewek emang genit dan matre." sahut Diraz, "Gue ga habis pikir kok Alex bisa jadian ma cewek itu ya?"
Rai menatap ke depan lurus-lurus, "Gue rasa kita cuma baru tau sedikit dari cewek itu." Rai merasa kalau Karin saja yang baru mengenalnya bisa langsung menelepon begini, Rai curiga jangan-jangan Karin juga punya pacar yang lain???
"Trus gimana dong?" tanya Luki dengan nada khawatir, "Si Alex?"
"Besok harus kita kasih tau.." gumam Diraz dengan agak tak yakin.
"Ngasih tau Alex?" Luki menggigit bibir, agak tak tega kalau harus melihat Alex patah hati.
"Sebagai keluarganya, kita harus ngejagain Alex," ucap Rai bangkit berdiri dan pindah duduk di kasur. "Besok kita harus ngasih tau Alex."