Fresh House

Fresh House
Part 2. Freshouse



Luki berdehem, berusaha acuh tak acuh saja setelah kegaringan yang ia buat.


"Yah oke... gimana kalo kita kasih nama rumah ini? Mm, apa ya... Luki and friends' House, gimana?"


Rian menggeleng ogah, "Engga ah... kayak nama serial anak-anak..."


Diraz mengekeh pelan, "Iya kayak nama acara anak-anak yang dimainin sama boneka dinosaurus atau panda atau juga teletubbies..."


Alex dan Rian tertawa pelan.


Luki memandang Diraz kesal, "Ya terus namanya apa dong?"


Diraz tersenyum lebar, "Gue ada ide yang lebih baik... Relax House gimana?"


Luki terlihat berpikir, "Bagus sih tapi agak ganjil ya..."


"Fresh House aja!" tukas Rai tiba-tiba.


Rian memandang Rai dengan mata berkedap kedip. "Fresh-House?"


"Engga ah... kayak banci," tukas Luki.


"Gue bilang Fresh House, ya Fresh House!" ucap Rai mengotot.


"Gue kepala sukunya, jadi gue berhak dong yang nentuin namanya. Dan gue ga suka nama itu."


Diraz mendengus, merasa perdebatan ini akan panjang dan lama sekali.


"Fresh House! Pokoknya Fresh House!" tukas Rai benar-benar keras kepala.


"Tapi Rai... Luki kan emang kepala rumah ini..." gumam Rian polos.


Rai mendelik sewot. "Fresh House!"


Alex menguap keras-keras, merasa perdebatan mengenai nama rumah itu sama sekali tidak penting. Dia mengantuk dan ingin sekali berbaring di tempat tidur.


Luki melotot pada Rai, sepupunya yang satu itu memang mempunyai karakter keras kepala, kalau sudah mengatakan A harus dituruti, tidak boleh dibantah. Mau ga mau sih memang Luki yang harus mengalah karna kalau tetap mengotot maka perdebatan sepele ini tidak akan pernah selesai sampai kapanpun juga.


Luki menarik nafas dalam-dalam. "Oke oke... Skarang udah malam... mendingan kita tidur. Di rumah ini ada tiga kamar. Rian dan Alex di kamar deket balkon. Diraz dan Rai di kamar tengah sedangkan gue di kamar utama."


Rian menganga. "Ha? Enak banget lu di kamar utama!"


"Gue kan kepala suku..." Luki nyengir puas.


Masih dengan merenggut akhirnya Rian bangkit berdiri dan mulai menaiki tangga menuju lantai dua tempat tiga kamar itu berada, diikuti oleh Luki, Alex, Rai kemudian Diraz. Semua pakaian dan barang kelima pria ini sudah dipindahkan sejak tadi pagi di lantai dua, jadi mereka tinggal menggotong barang masing-masing masuk ke dalam kamar.


Luki membawa masuk kopernya ke dalam kamar utama dengan cengiran puas membuat Rian sangat iri.


"Nah... Its my room!" Luki tertawa sendiri di dalam kamar itu. Dengan cekatan ia membereskan semua pakaiannya ke dalam lemari. Kalau sepupunya yang lain sudah tidur terlelap, Luki masih membereskan semua pakaiannya. Luki memang tipe orang yang tidak akan mau tidur kalau semuanya belum teratur.


Ia menghela nafas menyudahi kegiatan beres-beres kamar barunya. Sekarang sudah hampir jam dua belas malam. Luki menguap lebar, rebahan di ranjangnya yang sangat besar itu. Ia menatap langit-langit.


"Yes... aku tidur sendiri di kamar ini sedangkan yang lain berdua.. hihi... Sendiri... Eh.. Sendiri??"


Mata Luki agak membesar, entah kenapa pikirannya langsung teringat pada sinopsis-sinopsis cerita horor yang pernah ia baca. Luki langsung memejamkan mata rapat-rapat dan menyelimuti semua tubuhnya. Namun entah kenapa dia makin ketakutan, tidak bisa tertidur. Takut kalau di bawah tempat tidur ada sesuatu... takut kalau ternyata rumah baru ini ada penunggunya...


Takut...


Dengan brutal ia langsung keluar dari selimutnya, mengambil bantal dengan cepat lalu bergegas keluar kamar. Tanpa berlama-lama lagi ia masuk ke kamar Rai dan Diraz yang untungnya tidak dikunci. Luki lebih baru merasa berani kalau berada di ruangan yang ada orangnya dibandingkan sendiri dalam ruangan asing.


Ia tersenyum hambar melihat ranjang yang hanya cukup untuk dua orang pria dewasa saja itu. Dengan perlahan ia mendekati Diraz yang tertidur pulas dengan mata setengah terbuka.


Luki terkekeh pelan baru ia menggeser badan Diraz untuk memberikan space baginya agar bisa tidur di ranjang itu.


"Ukhh.. susah amat..." Luki sama sekali tidak mampu menggeser badan Diraz sedikit pun, seolah badan Diraz dilem di ranjang itu. Luki memandang Diraz dengan sebal. "Dasar tukang tidur!"


Karna merasa tak ada harapan lagi, Luki melirik Rai yang tertidur di ranjang yang sama dengan Diraz. Bahkan posisi Rai saat tidur lebih aneh lagi. Rai tertidur dengan badan lurus mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Benar-benar seperti mayat dan wajah Rai yang tertidur begitu datar seolah pingsan.


Luki mengikik. "Akh orang-orang aneh semuanya..."


Dengan gaya slow motion Luki menyelinap di antara selimut Diraz dan Rai. Berhasil agaknya, dia bisa tidur di antara mereka walau jadi makin sempit dan panas.


Luki memejamkan mata sambil menyunggingkan senyum damai.


"Nah... sekarang udah bisa tidur..."


*****


BONUS GAMBAR


Cuitan Luki malam itu....