
🌼 Jangan lupa like dan comment ya 🌼
“Nanti di sana kamu ajak Rosa mengobrol ya..” ujar Mama entah keberapa kalinya untuk Luki.
Luki menghela nafas. Mereka baru saja tiba di depan rumah Keluarga Arya, keluarganya Rosa. “Iya, Mama Cantik. Kayaknya udah sepuluh kali Mama bilang kayak gitu ke Luki."
Mamanya malah memberi cengiran, "Biar kamu ga lupa. Inget ya, kamu harus memperlakukan Rosa dengan baik."
Luki memutar kedua bola matanya. "Iya, iya. Ayo, Ma, sekarang kita masuk aja, Luki udah lapar nih."
Keduanya pun masuk ke dalam rumah bergaya timur itu. Mereka langsung disambut Rosa dan orangtuanya. Yang tidak Luki percaya ternyata penampilan Rosa sama saja seperti penampilannya saat kuliah : stelan kantor! Rosa memakai blezer ungu aksen bunga mawar dipadu dengan rok span selutut berwarna hitam. Dan rambutnya.... tetep digelung. Tapi ada satu peningkatan sih.. Rosa sudah tidak memakai kacamata lagi. Mungkin dia memilih memakai contact lens.
'Bahkan untuk makan malam ini dia tetep pake baju gituan. Apa kata dunia! Payah.' batin Luki.
Tapi ia balas senyum saat matanya beradu dengan Rosa. Dengan sopan cewek itu mempersilakan Luki dan mamanya untuk langsung makan malam di ruang makan.
Akhirnya kedua keluarga itu pun menikmati sajian nusantara yang sungguh menggoyang lidah. Rasanya tidak kalah dengan restoran-restoran ternama. Dan setelah makan Mama menyuruh Luki dan Rosa untuk menyingkir, terserah ke mana, asal tidak mengganggu obrolan orangtua (padahal sebenarnya Luki sudah tahu ini rencana mamanya untuk mendekatkannya dengan si Rosa).
Rosa pun akhirnya mengajak Luki ke ruang baca.
"Nah ini adalah tempat yang paling gue suka di rumah." ujar Rosa membuka topik pembicaraan.
"Seneng baca buku ya brarti."
“Very much!" Rosa tersenyum, "Kalau cewek seumuran gue pada seneng shopping, jalan-jalan, tapi gue suka baca buku. Bayangin aja cewek jaman sekarang ada yang suka baca buku geografi, sejarah, atau psikologi."
Mata Luki membesar. Dilihatnya lagi buku-buku tebal di rak buku yang kebanyakan buku sejarah dan geografi. "Jadi buku-buku itu lo yang baca?"
Rosa mengangguk.
"Gue kira itu buku kakak lo..."
"Gue anak tunggal kok."
Luki memandang Rosa tak percaya. Tak menyangka kalau cewek ini suka baca buku sejarah, geografi atau psikologi. Kebetulan, Luki juga memang sangat senang baca buku. Hanya saja Luki lebih tertarik pada teknologi dan science.
"Trus kenapa lo ga ngambil kuliah sejarah atau geografi aja?"
Rosa tersenyum manis dan menggeleng. "Gue cuma baca bukunya. Hanya mempelajari sendiri itu sudah merupakan kepuasan tersendiri, yah sekalipun ga akan ada orang yang tau."
Luki makin tercengang. Ternyata Rosa memiliki kepribadian aneh yang sangat unik. "Gue juga suka baca buku."
"Oya? Baca buku apa?"
"Gue seneng banget sama dunia teknologi, lingkungan dan pengetahuan umum. Tepat seperti apa kata lo, ada kepuasan dan kesenangan tersendiri saat habis membaca semua buku-buku itu walau sebenarnya ilmu itu hanya kita yang nikmati. Ga ada ujian atau praktikum kayak di kampus."
Rosa tertawa pelan. "Di jaman sekarang sudah terbilang jarang lho orang-orang yang suka baca buku. Lebih banyak yang suka instan, seperti nonton film, fotografi dan musik. Kita yang aneh atau dunia yang aneh?"
"Ga ada yang aneh," sahut Luki sambil terkekeh, "Mereka ga aneh dan kita juga ga aneh. Tapi memang baca buku itu sudah kurang populer lagi. Lo kenapa suka baca buku sejarah? Jarang lho cewek yang suka baca buku sejarah."
Rosa nyengir, bagi Luki tampak seperti anak kecil tidak seperti cewek kantoran. "Sejarah itu menarik kali... Buat gue sih kayak baca cerita dongeng."
Luki terbahak. "Baca dongeng?"
Rosa mengangguk-angguk. "Kalo cinderella, snowhite atau peri cantik kan udah bosen. Tapi kalo kisah Hitler, penjajahan Belanda di Indonesia atau sejarah Korea Utara, itu kan lebih menarik."
Luki hanya bisa terkagum-kagum. Rosa mungkin memiliki kepribadian yang menarik lebih dari apa yang ia bayangkan selama ini.
"Trus kenapa suka baca geografi? Apa bagi lo baca geografi seperti baca komik?"
Rosa tersedak lalu tertawa. "Ya enggalah... Baca geografi itu menarik banget. Pokoknya tiap baca geografi pasti deh gue berimajinasi, ngebayangin gimana terbentuknya pelangi, ngebayangin apa yang terjadi di luar angkasa dan lain-lainnya. Seru lagi."
"Kalo psikologi?"
Rosa langsung tertawa. Luki harus menunggu semenitan dulu sampai Rosa berhenti tertawa. Luki awalnya menyangka Rosa gila juga, ga ada yang lucu tiba-tiba saja langsung tertawa.
"Gue suka baca psikologi supaya bisa nambah pengetahuan aja. Kan seru bisa menyelidiki kepribadian orang-orang di sekitar. Tapi bukan berarti jadi peramal, hanya saja jadi lebih peka dengan tingkah laku manusia. Gue bisa tau kalo temen gue lagi BT karna tau dari buku psikologi lho."
Rosa agak kaget. Kepalanya mundur beberapa senti. "Ha, maksudnya?"
"Ya gue pengen tau kepekaan lo sejauh apa."
Rosa tersenyum geli. Baginya cowok yang satu ini aneh juga ya. Kok malah minta dicek. "Ya gue mana taulah... Kan harus ada tes tersendiri untuk mengenal kepribadian orang."
"Lho, katanya lo jadi tambah peka???"
Rosa meringis. Dipandanginya Luki yang parlente itu.
"Hmm,, ini pendapat gue ya sejak pertama kali ketemu lo. Tau kan slalu ada kesan pertama saat kenal dengan orang? Dan, yahhh... gue sih cuma nebak, kalo salah jangan marah."
"Nyantei aja.. Ayo tebak..." sahut Luki tak sabaran.
“Menurut gue, lo itu... smart tapi kayaknya sulit bergaul.... Ng, mungkin lo itu lain di mulut lain di hati, tapi ini perkiraan gue aja lho, kalo salah jangan marah. Trus kayaknya juga lo pekerja keras."
Luki menahan nafas. Ada beberapa kata yang membuatnya syok, antara tak percaya karna Rosa bisa menebak sejauh itu, juga ada perasaan malu. Luki berusaha tetap cool. "Yeaahh..."
Rosa meringis lagi, agak canggung. "Nah sekarang lo yang cerita kenapa suka baca buku teknologi."
"Ya gimana ya... Sebenernya sejak kecil itu udah jadi makanan sehari-hari gue. Lo tau ga, dari SD kelas 2 gue udah les privat di rumah. Dan yang gue pelajari bukan kayak membaca atau berhitung tapi kayak belajar materi SD kelas 6, materi IPA. Kelas 2 SD gue udah diajarin Corel, Photoshop."
Rosa ternganga. "Hah? Yang bener??"
Luki mengangguk, menahan senyum. "Kelas 1 SMP gue udah ngerti pemograman... Awalnya gue menderita banget dilesin sama guru yang ngajarin semuanya ke gue. Tapi gue belajar terima aja karna keinginan bokap nyokap. Eh ga taunya orangtua gue aja ga tau kalo ternyata gue diajarin begituan. Mereka ngira gue diajarin hal standar. Emang sableng tuh guru."
Rosa tertawa terpingkal-pingkal, kegelian. "Gokil amat.."
Luki nyengir melihat Rosa yang tertawa. Dia tergoda untuk memberi cerita lucu lain yang akan membuat cewek itu makin terpingkal.
"Ya gitu deh... Dan bahkan saat temen-temen main ayunan, gue udah ngebayangin gaya, kecepatan, atau gravitasi!"
Rosa terkekeh-kekeh, tak kuasa membayangkan bagaimana wajah Luki dulu yang masih polos namun isi otaknya Einstein abis.
"Tapi ga sia-sia kan semua ilmu itu? Bermanfaat kan sampai sekarang?"
"Pastinya." Luki tersenyum bangga. Dia tidak memungkiri kalau sebenarnya dia sangat berterimakasih pada guru les privatnya yang sekalipun aneh.
Rosa akhirnya berhenti tertawa juga. Ia bangkit berdiri dari sofa. "Capek nih ketawa mulu. Lo haus ga? Gue bikinin jus, mau?"
"Ya bolehlah..." Luki ikut bangkit berdiri, Gue bantu lo ya."
Rosa tersenyum dan mereka berdua pun sama-sama ke dapur untuk membuat jus.
"Mau jus apa?" tanya Rosa sambil membuka kulkas.
"Ada apa aja?"
"Lengkap lah... Maklum gue ini penggemar bauh-buahan."
"Ya udah terserah lo aja deh mau bikin jus apa." sahut Luki sambil bersandar pada rak dan memandangi Rosa yang sedang mengambil buah-buahan di kulkas.
"Gue bikinin jeruk stroberi ya." ucap Rosa sambil nyengir. Cewek itu mulai menyiapkan semuanya dengan lincah. "Ini salah satu rasa kesukaan gue."
"Jeruk stroberi? Gue belum pernah nyoba tapi kayaknya enak." Luki mendekati Rosa dan memperhatikan apa saja yang dilakukan cewek itu.
Rosa menyalakan MP3 di atas kulkas. Lagu yang di telinga Luki seperti lagu 90-an pun terdengar.
"Kayak gini udah menjadi tradisi di keluarga gue," gumam Rosa sambil mengupas jeruk dengan lincah, "..kalo kami masak di dapur pasti sambil dengerin lagu 90-an."
"Kenapa?"
Rosa angkat bahu. "Tapi emang asik aja, ga tau kenapa. Kebiasaan ini dari nenek gue.”
Luki hanya tersenyum. Aneh juga sih... Tapi ya ga masalah, toh lagunya lumayan enak didengar juga.